
Daud pulang dengan wajah lelah. Remaja itu memberi salam ketika masuk rumah. Terra dan lainnya sedang mengurusi para bayi yang makin aktif.
"Sayang, ganti baju ya," suruh Layla yang menyambutnya.
"Iya Umi," jawab Daud.
Layla mengusap peluh yang mengucur di dahi Daud. Kening wanita hamil itu mengerut.
"Kamu hangat Baby?" ujarnya penuh perhatian.
"Mba Te, Daud anget!" adu wanita itu langsung.
Terra langsung menghampiri. Wanita itu meraba kening, memang Daud sedikit hangat.
"Baby, ayo cepat ganti baju," Terra menggandeng salah satu putranya itu ke kamar.
Kamar Daud didominasi warna biru dan putih. Tak ada corak bahkan lukisan tidak ada untuk menghias kamar itu. Sesuai karakter Daud yang tenang dan diam, berbeda dengan Sean dan Al, terlebih Nai.
"Mama ...," rengek Daud.
"Mama seka ya sayang," Daud mengangguk.
Wanita itu menggantikan seluruh baju putranya. Ia sangat yakin jika sebentar lagi semua putra akan datang dan merengek manja seperti Daud.
Belum lima menit Terra berpikiran itu. Satrio datang, lalu disusul Kean, Al, Calvin dan Sean. Kelima remaja itu mengeluh hal yang sama. Demam.
"Subhanallah ... kalian kok sakit barengan?" ujar Haidar ketika meraba semua kening putranya satu persatu.
"Nggak tau Mas. Baby Daud pulang juga pucet, eh terus Baby Trio, Baby Al, Baby Kean, Baby Sean sama Baby Cal juga datang dalam keadaan demam," jawab Terra.
Herman, Virgou, Khasya dan Puspita menyerahkan semua putra mereka pada pengurusan Terra. Dari mereka bayi hingga besar mereka berlima itu memang seperti kembar plus dua anak perempuan yang kini sudah bersuami.
"Baby Trio sakit kenapa Yah?" tanya Virgou.
"Loh, mana aku tau. Kan dia bekerja padamu!" jawab Herman sengit.
"Anakku Calvin juga sakit, kau apakan Demian?" tanya Herman.
"Sumpah Yah! Dem nggak apa-apain. Tadi dia marah-marah sama cewe yang ngikutin dia," jawab Demian dengan muka panik.
"Baby Al dan Baby Sean juga sakit, padahal kerja sama Papanya," sahut Khasya.
"Ion juga sakit Bunda," rengek bayi besar yang tiba-tiba duduk di sela-sela mereka.
Virgou memeluk Rion sedemikian rupa. Bayi besar itu tergelak, karena digelitiki oleh ayahnya.
"Kamu sakit apa Baby?" tanya pria sejuta pesona itu gemas.
"Ion masih mual tau Daddy. Tapi Papa paksa Ion kerja," adunya mencebik.
Haidar tentu tak terima. Virgou melirik pria itu sebal, begitu juga pandangan Herman pada Haidar.
"Dia harus kerja Ayah! Kasihan Baby Sean!" sahut Haidar membela diri.
"Tuh, buktinya Baby demam kan?" lanjutnya.
Rion memang tukang drama. Bayi besar itu menurunkan kepalanya di pangkuan Herman. Meminta pria itu memijit kepalanya.
"Ayah, Ion pusing," akunya.
Tak lama Darren pulang bersama istri, adik dan adik iparnya. Keempatnya kaget mendengar jika lima remaja sakit bersamaan.
"Kok bisa sakit sayang?" tanya Lidya memeriksa kelima remaja manja itu.
"Nggak tau Kak," jawab Satrio lemah.
__ADS_1
Adiba sedih melihat mas kesayangannya sakit. Sayang, Adiba tidak bisa memperlihatkan kekhawatirannya ditakutkan semua marah.
"Ya Allah, sehatkan Mas Satrio," doanya penuh harap.
Imbas sakit kelima remaja pria menurun pada dua saudara kembar lainnya. Nai dan Arimbi.
"Mama," rengek Nai ketika datang. Begitu juga Arimbi.
"Subhanallah, kenapa istri kalian?" tanya Terra pada suami putri-putrinya.
"Nggak tau Ma. Padahal tadi makan banyak kok," jawab Reno benar-benar tidak tau.
"Aku juga nggak tau jeng, Nai nggak mau dirawat sama aku," keluh Luisa sedih.
Semua remaja tengah beristirahat. Terra memasak bubur untuk yang sakit.
"Amah ... satsat pa'a?" tanya Arsh sok kepo.
"Masak bubur buat kakak Baby," jawab Terra.
"Pulpul, spasa yan syatit Mama?" tanya Firman.
"Kakak-kakak semua sakit Baby," jawab Terra.
"Amah ... tuh udha atit," keluh Arsh tiba-tiba lemas dan membaringkan dirinya di lantai.
"Baby," semua tentu panik.
Widya langsung mengangkat bayinya. Arsh mengintip ibunya. Tak hangat atau pucat.
"Baby?!" keluh Widya.
"Ommy plen!" gelak Arsh yang rupanya mengerjai ibunya.
Widya lega karena putranya tidak apa-apa. Tetapi kelakuan Arsh membuat ia pusing bagaimana mengajarinya.
"Paypi, syini deh!" ajaknya.
Tentu hal itu membuat semua orang dewasa kepo. Kelakuan para bayi memang jadi magnet sendiri untuk orang dewasa.
"Pa'a Ata'?" tanya Arsh.
"Paypi, janan tayat dithu ladhi ya!" peringat Della lembut.
"Apah?" tanya Arsh lalu melipat tangannya di dada.
"Banti Mommy eundat peulsaya Paypi ladhi talo suta bolon," jawab Della begitu bijak.
"Di dat loleh?" tanya Arsh sambil menggeleng dengan mata bulatnya.
"Pidat poleh ya," jawab Della.
"Pinta mamap syama Mommy," lanjutnya mengajak.
Della menuntun Arsh menyambangi Widya meminta maaf. Perempuan itu begitu meleleh bagaimana Della yang begitu dewasa pemikirannya padahal usianya baru tiga tahun.
"Ommy ucu!" pinta Alia.
Puspita menyerahkan botol susu pada bayinya. Izzat, Zizam, Angel Fael dan Aliyah juga mau susu.
"Ini Babies," Maria memberikan botol susu mereka.
Semua ibu mengangkut bayi mereka dan membawanya ke kamar. Hari masih terlalu sore untuk tidur. Tetapi kemanjaan para perusuh junior membuat semua bayi ikutan manja.
"Mama ... yang sakit kita!" rengek Calvin.
__ADS_1
"Dari tadi kita dicuekin loh!" lanjutnya kesal.
"Iya, mentang-mentang kita besar," sahut Kean.
"Babies!" peringatan Rion.
Semua diam jika Rion yang bersuara. Walau ibu mereka banyak, tetapi para bayi berhasil merebut perhatian.
"Kan ada Daddy, sayang," ujar Virgou.
Pria itu meraba kening salah satu putranya. Tak sehangat awal, tetapi wajah pucat masih terlihat jelas.
"Ini Mama sudah buatkan bubur ayam enak buat kalian!" ujar Terra membawa troli.
Haidar dan Virgou membantunya. Para remaja makan dengan lahap.
Terra menghela napas panjang. Ternyata para remaja ingin juga dimanja. Karena begitu inginnya dimanja, semua demam mendadak.
"Alsh otel au pitsa!" ujar Arsh.
Bayi itu digendong Demian. Arsh memegang stetoskop milik Lidya. Perempuan hamil itu memeriksa kembali semua adiknya. Arsh meletakkan ujung pipih stetoskop itu ke dada kakak-kakaknya.
"Bunyi apa Baby?" tanya Demian yang menggendongnya.
"Dat eunel pa'a-pa'a Papa," jawab Arsh.
Tentu saja Arsh tidak akan mendengar apa-apa karena ujung stetoskop yang untuk mendengarkan tak sampai di kedua telinga bayi itu.
"Kalau begini dengar tidak Baby?" tanya Daud ketika menempelkan salah satu ujung stetoskop ke telinga adiknya.
"Woh ... elas anet!" bayi itu mendorong kuat alat itu.
Memang detak jantung akan terdengar lebih keras jika memakai alat itu.
"Masih mau jadi dokter Baby?" tanya Kean terkekeh.
"Au ntit Ata' aja!" pintanya.
"Nggak mau disuntik!" teriak Daud tiba-tiba.
Semua menoleh pada remaja itu.
"Pokoknya Daud nggak mau disuntik!" tolaknya lalu menutup selimut seluruh tubuhnya.
Arsh tersenyum jahil, bayi itu mendekati ranjang Daud.
"Ata' Alsh ntit Ata'!" ucapnya dengan nada horor, entah siapa yang mengajari bayi itu.
Rion juga mengikuti Arsh, pria itu juga menakuti Daud.
"Mama!" teriak Daud.
Lalu terdengar riuh tawa di kamar itu. Akhirnya semua perusuh junior sehat seperti sedia kala begitu juga Nai dan Arimbi.
Luisa menatap menantunya yang tak mau lepas dari pelukan sang ibu. Wanita itu mendekat, ia tak mau sang menantu menjauhinya.
"Sayang, Mama juga bisa menyayangimu seperti Mamamu, jangan takut ya Nak. Mama juga sangat menyayangimu," ucapnya meyakinkan Nai.
Nai tersenyum, ia mengangguk. Lalu memeluk mertuanya. Terra sedikit iri, tetapi Nai memang bukan miliknya lagi. Anak perempuannya itu sudah menjadi tanggung jawab pria yang kini sibuk dikerjai pada bayi.
"Baby!" keluh Langit dan Reno.
Bersambung.
Nikmati saja ya ... maaf dari kemarin hanya satu up. Othor kurang semangat.
__ADS_1
Next?