SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KEPUTUSAN


__ADS_3

Akhirnya Kean, Sean, Calvin, Al, Daud dan Satrio sembuh. Mereka sudah mau makan lagi walau tak banyak dan masih milih-milih. Bukan hanya itu, enam remaja itu manjanya ngalahin para perusuh junior.


"Mama ... jangan baby aja diurusin, Kean juga!" rengek remaja bermata biru itu.


Terra gemas dengan putra dari kakak sepupunya itu. Kean yang tampan dan menawan, masih berlaku bocah jika bersama orang tuanya. Remaja itu menolak usianya yang sudah besar di banding adik-adik bahkan keponakannya.


"Kak Kean itu udah besar. Please deh, jangan ngalahin Babies!" sahut Samudera sedikit kesal.


"Biarin lah ... kamu nggak suka?!" sungut Kean.


"Baby!' peringat Rion.


Kean langsung diam begitu juga Samudera. Tak ada yang akan membela mereka jika kakak panutan mereka sudah bersuara seperti itu.


"Kak Kean manja banget Kak!" keluh Samudera.


"Kak Kean jarang minta diperhatiin loh!" ujar Azizah.


"Sam juga jarang minta diperhatiin!"


"Benua juga!"


"Kaila juga!"


"Halo ... apa kabar kami?" sahut duo R.


"Papa nggak pernah kok bedain kasih sayang sama kalian!" sahut Haidar tidak suka cara anak-anak berbicara.


"Kalian nggak manja, karena kalian tau jika ada yang mesti didahulukan Baby," sahut Seruni.


"Kami tidak pernah membedakan kasih sayang kami. Hanya saja, ada yang lebih kecil dan mereka butuh kami," lanjutnya.


"Emang kita nggak butuh gitu Mi?" kali ini Ella yang bicara.


"Apa Mami pernah mengabaikan kalian?" Ella menggeleng.


Semua ibu mencium anak-anak mereka. Terlalu banyak anak memang susah membagi kasih sayang. Tapi jika mereka hanya punya satu, pastinya kurang.


Terra memeluk duo R. Dua putranya itu memang berbeda dari anak-anak yang lain. Bahkan Arion dan Arraya juga tak begitu menyusahkan dirinya sebagai ibu.


"Pokoknya kalian tau, Mama dan Papa itu sayang sama kalian. Mengerti?!"


"Mengerti Ma, tapi sesekali kita boleh lah manja kek gini," sahut Sean.


"Iya ... mau disuapin, mau dipeluk-peluk, dicium apa lagi digendong," sahut Satrio.


"Ayah bisa gepeng gendong kamu, Nak!" celetuk Herman yang disertai tawa para perusuh.


"Ate epen tayat pipit inton!" sahut Arsh.


"Kau katai apa kakekmu?" Bram gemas dengan bayi sembilan bulan yang memaksa bicara itu.

__ADS_1


"Ate ipit inton!" seru Arsh galak.


Gelak tawa bayi itu pecah ketika Bram menyembur perutnya. Semua ingin diperlakukan sama.


"Apa Baby juga mau Daddy sembur perutnya?" gemas Gabe pada Kean.


"Ampun Daddy!" tolak Kean.


Remaja itu kabur dan kini semua kejar-kejaran. Anak-anak Bart juga ikut kena gelitik. Adik-adik Azizah juga. Aminah diangkat Haidar tinggi-tinggi hingga berteriak. Ari juga digelitiki Safitri. Satrio menangkap Adiba, hanya dua mata memandang. Remaja itu melepas pelukannya dan meminta maaf.


Nai bersembunyi di balik pohon, gadis itu terengah. Dua ayahnya ingin menggelitiknya. Herman dan David mencari keberadaan Nai. Langit yang ada di dekatnya hendak melapor. Tapi tangan gadis itu langsung membekap mulut sang pengawal tampan itu.


Deg ... deg ... deg!


Untuk pertama kalinya, Nai memeluk laki-laki selain ayah-ayahnya. Langit menatap netra coklat terang milik gadis yang ia cintai. Telapak tangan Nai masih setia membekap mulutnya.


"Maaf Kak!" ujarnya lalu melepaskan diri.


Gadis itu langsung keluar dari persembunyiannya. Ingin sekali Langit menarik tangan gadis itu dan mengecup bibir Nai yang begitu ia idamkan.


"Ah ... astagfirullah!" ujarnya lalu memukul kepalanya yang berpikiran mesum.


Namun sejurus kemudian. Pemuda itu menarik sudut dua bibirnya ke atas. Nai tertawa ketika David menangkapnya dan menggelitiknya.


"Anda cantik sekali Nona," pujinya.


"Kau memuji siapa?" sebuah suara yang membuat seluruh tulangnya rontok.


Herman menangkap gadis yang dipandangi pengawal tampan itu. Netranya langsung memandang horor Langit.


"Dia masih bayi!" tekan pria itu.


Langit hanya menelan saliva kasar. Sungguh berhadapan dengan Herman seperti berhadapan dengan seribu harimau lapar.


Namun, Herman menatap kesungguhan cinta dari Langit pada salah satu cucu cantiknya itu. Nai adalah cucunya, tetapi karena sama usia dengan putrinya Nai memanggilnya ayah. Bukannya tersanjung dengan tatapan Langit, Herman makin gusar.


"Dia masih bayi!" tekan pria itu.


Herman pergi dengan langkah kesal. Ingin sekali ia mengadukan itu pada Virgou dan membuat perhitungan dengan pemuda tampan itu. Tetapi, ia menatap dua remaja cantik yang kini tertawa lepas. Ia menggeleng pelan.


"Aku belum terlalu tua kan jika menikahkan mereka sekarang?" gumamnya pelan.


Herman adalah seorang ayah yang sangat peka. Bukan ia tak tau hubungan Satrio dengan Adiba. Bahkan cincin hitam yang melingkar di ibu jari Adiba adalah cincin pemberiannya pada sang putra. Herman sangat mengenali cincin itu.


"Ya Allah ... beri aku petunjuk. Jika memang usiaku tak lama lagi. Aku akan menikahkan putriku pada orang yang mencintainya dengan tulus,'' pintanya penuh harap.


"Ayah ... Daddy nya nih!" pekik Rasya yang tak tahan dikelitiki Virgou.


"Virgou!" peringat Herman.


Virgou mencebik kesal. Ia kembali mencium gemas pada salah satu keponakan kembarnya itu.

__ADS_1


"Katanya tadi nggak pernah diperhatiin, kok ngadu pas dicium?" sindirnya.


Rasya menggelayut manja, remaja itu meminta gendong di punggung pria sejuta pesona itu. Virgou bukan pria tua yang lemah. Ia masih kuat menggendong semua anak bahkan sebesar Satrio. Bayi raksasa itu bersama idolanya, Gomesh.


Sehabis bermain dan bercanda seluruh keluarga kini berbaring di karpet tebal dengan banyak bantal. Mereka menonton film kartun yang membuat semua tertawa.


"Tuan makan siang sudah siap!" ujar manager cottage.


Bart mengangguk, kini mereka semua makan dengan tenang. Usai makan, semua diminta tidur siang.


"Bunda ... mau bobo sama Bunda," rengek Arimbi tiba-tiba manja.


"Oke sayang," sahut Khasya tak keberatan.


Nai juga mau tidur bersama wanita itu. Dua gadis kini masuk kamar bersama Khasya. Ruangan kini hanya tinggal para pria.


"Vir, Haidar, Gabe, Dav, Budiman, Darren. Ayah mau bicara dengan kalian!"


Rion sedang menidurkan Arsh dan adik-adiknya yang lain bersama istrinya. Pria itu memang jarang berkumpul dengan para ayah.


"Ada apa Yah?" tanya Budiman.


Gomesh, Dahlan dan Gio berjaga-jaga di sekitar cottage. Ada beberapa drone tanpa awak masih berusaha mendekati dan mengambil gambar Keluarga besar itu. Tapi pastinya usaha itu akan sia-sia karena ketatnya penjagaan.


Herman menatap semua ayah yang kini anak gadisnya beranjak dewasa. Bart dan Bram datang dan langsung duduk.


"Lagi ngapain?" tanya Bram.


"Aku hanya ingin kalian mengikhlaskan putri kalian jika sudah waktunya nanti," ujar Herman langsung.


"Maksud ayah apa?" tanya Darren tak suka.


"Nai dan Arimbi sudah besar. Usia mereka sebentar lagi sembilan belas tahun. Sebaiknya kita nikahkan mereka," jawab Herman panjang lebar.


"Jujur, aku sudah terlalu tua untuk menunggu Arimbi dipersunting kekasihnya, secara gadisku tak memiliki kekasih," lanjutnya.


"Ayah masih sehat dan hidup lama!" tukas Gabe tak suka perkataan Herman.


"Jika kau ingat umur, apa kau lupa jika aku yang lebih tua dari mu!" sungut Bart kesal.


"Dad ... aku merasa hidupku tak lama lagi,"


"Diam kau Herman jangan mendahului kehendak Allah!" bentak Bart.


"Jika kau ingin menikahkan Arimbi dan Nai. Ayo kita nikahkan mereka dengan pria yang cocok!" lanjutnya. "Tapi jika kau merasa ingin mati. Aku akan mati lebih dulu!"


Bersambung.


Eh ... 🥲


next?

__ADS_1


__ADS_2