SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BIANGLALA RAKSASA


__ADS_3

Perusuh junior menatap bianglala raksasa atau kincir angin besar. Satu kabin hanya bisa diisi paling banyak empat orang dewasa.


"Kita berbagi," ujar Kean.


"Aku sama Kaila, Affhan dan Al!" lanjutnya.


"Oke, aku Ama Dewi, Maisya dan Daud," ujar Sean.


"Aku Cal, Dewa dan Rasya juga Rasyid!" ujar Satrio.


Semua setuju, mereka menaiki kotak persegi yang mengangkat mereka ke atas. Semua berfoto di dalam kabin lalu mengunggahnya di insta story dan juga status Wa.


Nai dan Arimbi yang melihat semua saudaranya pergi tentu marah pada ayah mereka.


"Daddy ... kenapa diijinin!" ambek Nai.


"Daddy nggak tau!" sahut Virgou angkat tangan.


"Itu Babamu yang kasih ijin!" tunjuknya pada Budiman.


"Baba!" rajuk Arimbi kesal.


"Baby .. kamu sudah punya suami. Kalau mau kemana-mana ya harus sama suami kamu," ujar Budiman menatap malas pada ketuanya.


Nai dan Arimbi merajuk pada suaminya. Mereka juga mau naik bianglala.


"Kak,"


Reno dan Langit menatap semua orang terutama Virgou dan Herman.


"Bawa istri kalian jalan-jalan!" suruh Bart.


"Terima kasih Uyut," ujar Langit tersenyum.


"Kakak mau kemana?" tanya Samudera yang ternyata tak bisa tidur.


"Kakak mau ke bianglala. Mau ikut?" tawar Arimbi.


"Memang boleh gitu?" tanya Samudera sedikit menyindir.


"Boleh Baby!" sahut Bram.


"Kalo gitu boleh bangunin Benua, Domesh, Sky sama Bomesh?" pinta bocah delapan tahun itu.


"Kalau begitu kita semua kesana!" putus Virgou.


Akhirnya semua keluarga ke tempat wisata paling diminati di Eropa. Hanya dalam jangka waktu sepuluh menit, lokasi itu sudah disteril. Banyaknya pengawal berpakaian hitam-hitam. Semua perusuh junior dibangunkan.


"Mommy ... hoooaaam ... napain pibanunin?" tanya Harun.


"Kita jalan-jalan sayang," ajak Puspita menciumi bayi tampannya itu.


Arsh masih mengantuk ketika digendong oleh Gabe. Bayi itu langsung terang matanya ketika sampai di lokasi begitu juga bayi lainnya.


"Addy ... ni anah?" tanyanya.


"Kita naik ini Baby," tunjuk Gabe.


"Sayang dibagi ya," ujar Bart pada lima puluh anak angkatnya.


Beberapa pengawal menemani anak-anak yang naik wahana kincir raksasa itu. Semua antusias.


Rombongan Kean lebih dulu sampai dan mendapati rombongan terakhir dari keluarganya.


"Papa Felix?" panggilnya. "Papa di sini?"

__ADS_1


"Iya Baby," jawab Felix.


"Aku mau naik lagi ya!" ujar Kean.


"Bilang pada semua saudaramu agar naik lagi sayang," titah pria itu.


Kean pun melakukan panggilan video call di grup chat mereka.


"Nanti jangan turun ya, kita satu putaran lagi!" serunya. "Ada Papa dan Mama di sini!"


"Horeee!" pekik semua perusuh junior di layar.


"Adiba udah naik belum?" tanya Satrio.


"Adiba udah naik keknya. Soalnya di bawah tadi adanya Papa Felix sama Mama Sari dan anak bayinya juga Denara," jawab Kean.


"Emang kenapa nanya-nanya Adiba?" lanjutnya bertanya.


"Nggak ... aku nanya aja," sahut Satrio.


Remaja itu memang sedikit menyesal tidak membawa Adiba bersamanya. Tetapi jika ia lakukan itu. Maka pasti seluruh keluarga akan memarahinya.


"Belum tentu juga Adiba mau diajak," monolognya dalam hati.


Akhirnya rombongan Bart turun duluan bersama tiga anak angkatnya.


Pria itu mengajak mereka duduk di area sekitar lokasi. Mereka sudah berjanji berkumpul di lokasi itu.


"Papa ada arum manis," tunjuk Selia pada penjual kembang gula yang seperti kapas itu.


"Kamu mau sayang?" Selia mengangguk pelan.


"Angga!" panggilnya pada salah satu pengawal yang berjaga.


"Temani putriku membeli permen itu," titahnya.


"Kalau kalian mau, boleh beli," ujar Bart pada semua anak.


"Nggak Papa ... biar Selia aja," tolak Didan.


Selia datang dengan satu bungkus besar permen kapas warna pink. Ia membaginya pada semua saudaranya.


"Kenapa beli satu sayang?" tanya Bart.


"Kalau beli banyak takut nggak habis Papa. Jadinya mubazir," jawab gadis kecil itu.


Bart tersentuh, di mana-mana anak-anak pasti enggan membagi jajanannya. Tetapi semua anaknya malah memilih berbagi dengan semua saudaranya.


"Kakak, mau es krim stroberi!" pinta Lana pada Azizah ketika sudah turun dari bianglala.


Azizah membawa semua adiknya ke pedagang yang menggunakan mobil untuk berjualan. Kean mengikuti kakak iparnya dan minta dibelikan es krim rasa anggur.


"Aku juga mau Kak,"


Rion membiarkan semua adiknya manja pada sang istri. Kini semua duduk di taman bunga dengan menggelar alas lebar. Rion menarik kembali istrinya dan naik lagi ke wahana permainan itu.


"Adiba ... jaga adik-adik!" titah Azizah.


"Iya Kak!" sahut Adiba.


Reno dan Langit juga membawa kembali istri mereka masing-masing untuk menikmati keindahan kota Eropa hanya berdua saja.


Rion memeluk istrinya. Azizah bersender manja di dada sang suami. Bibir keduanya tak berhenti bertaut. Rion benar-benar candu akan kegiatan itu.


"Aku nggak tau kalo ciuman bisa seenak ini," ujarnya dengan napas menderu.

__ADS_1


"Ah ... andai bisa bercinta di sini," guraunya yang membuat Azizah merengek.


Sedang Reno juga tak berhenti menikmati bibir sang istri hingga membuat salah satu anggota tubuh itu bengkak.


"Kak ... bibir Rimbi jadi bengkak," rengek sang gadis.


"Maaf sayang, bibirmu manis jadi aku suka," ujar Reno.


"Kapan ini beres sayang?" tanyanya sambil mengelus inti istrinya.


"Ih!" pekik Arimbi terkejut ketika tangan nakal suaminya menyentuh area paling pribadi.


"Kakak," rengeknya memukul manja pada suaminya.


"Tunggu lima hari lagi," bisik sang gadis.


Dua bibir kembali bertaut. Reno benar-benar mengajari istrinya memainkan lidah dengan benar.


Sedang di bilik lain. Langit memeluk mesra Nai, istrinya. Tak ada kegiatan berarti hanya menatap keindahan ciptaan Tuhan.


"Sayang," panggil Langit..


"Ya sayang," sahut Nai berani.


"Mau susu," bisik sang pria mesum.


"Kakak ngaco deh!" sahut Nai kesal.


Gadis itu melepas pelukan suaminya. Langit lupa siapa istrinya yang super polos, pria itu memandang heran pada Nai.


"Sejak kapan Nai bawa susu ke sini? Kalo pun bawa ... gimana bikinny?" cecar Nai kesal pada suaminya.


"Lagian emang Kakak itu Baby Arsh yang masih menyusu!" lanjutnya mendumal.


Langit hanya bisa bengong. Nai ngambek karena suaminya minta susu di atas wahana. Gadis itu uring-uringan hingga turun. Semua sampai mengernyit bingung.


"Kau apakan putriku?" tanya Gomesh galak pada Langit.


"Nggak ngapa-ngapain Papa, suwer!" jawab Langit bersumpah.


"Terus kenapa mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Herman juga mulai kesal.


"Baby ... kamu kenapa sayang?" tanya Dominic mendekati Nai yang mendumal pelan.


"Nai kesel Daddy!" adunya makin merajuk.


"Masa di atas sana Kak Langit bisa-bisanya minta susu!"


Semua menoleh Langit. Para orang dewasa langsung mengerti arah permintaan Langit. Herman dan Haidar menggaruk kepalanya, Remario malah tak percaya jika Nai benar-benar sepolos itu.


"Kak Langit minta susu?" tanya Arimbi dengan mata bulat tak percaya.


Remario makin menjatuhkan rahangnya. Baik Nai dan Arimbi adalah dokter. Tidak mungkin mereka tidak tau bahasa-bahasa vulgar antar suami istri.


"Ata'Mamit nta cucu?" tanya Arsh sampai miring kepalanya.


"Ata'Mamit anatna Ata'Nai pampai binta tutu?" tanya Arsyad bingung.


"Sejat tapan Ata'Nai lahilin Ata' Mamit?" tanya Harun kini.


Bersambung.


Nah ... Loh ... kan susah kan? 🤭🤦


next?

__ADS_1


__ADS_2