SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
AKSI


__ADS_3

Sabtu pagi, hari sedikit mendung. Kean, Calvin, Sean, Satrio, Al, Daud, Affhan, Maisya. Raffhan, Setya, Davina tengah berolah raga di depan mansion Herman.


Mereka semua kini menginap di hunian mewah pria tua itu.


Samudera, Billy. Ella, Bastian, Ditya, Radit, Sky, Domesh dan Bomesh menjaga para bayi yang berusia empat bulan. Mereka ditaruh di rumput. Zaa berteriak ketika kaki telanjangnya menyentuh rumput yang baru dipotong itu. Bayi cantik itu marah-marah.


"Ntit apah!"


"Nggak Baby," ujar Billy meletakkan Tante bayinya di rumput.


Hanya sebentar saja, maka semua bayi kini merangkak. Gelak tawa terdengar. Hampir seluruh personil pengawal menjaga pagar mansion agar para awak media tak dapat mengambil gambar satu pun.


"Ck, ini mau ngambil gambar para bayi susah amat sih!" gerutu salah satu wartawan.


"SavedLived memang sudah ditembus. Kita seperti berhadapan dengan tembok baja!" sahut wartawan lainnya.


"Ayo bawa masuk!' teriak Kanya.


Semua bayi diangkut. Para anak angkat Bart juga menggandeng adik-adik mereka.


"Apan Fafan, Azha dendon!' Azha meminta gendong pada Arfhan.


Bocah itu dengan sigap menggendong Azha yang tubuhnya setengah lebih kecil dari badannya.


"Mama lelenan!' Fael sudah mencebur dirinya ke kolam renang.


Para bodyguard kalah cepat dengan bayi satu itu. Vio sampai ikut tercebur karena tubuhnya sudah condong ke kolam.


"Ayo berenang!" Kean berlari lalu melompat ke kolam.


Byur! Semua anak pun ikut terjun. Kolam jadi penuh dengan anak-anak.


"Sayang, kalo kita bawa anak-anak ke water park gimana?" Azizah memberi saran.


"Wah ide bagus itu!" seru Rion.


"Guys ... kita ke waterpark yuk!'


"Ayoo!' seru Kean.


Semua keluar dari kolam. Para orang tua tidak bisa berkutik. Budiman dan Gomesh langsung meminta anak buah untuk mengamankan satu wahana bermain itu.


"Alsh au ain sososotan!' pintanya galak.


"Iya Baby, nanti kamu sama Papa ya!"


"Oteh!" angguk bayi itu.


Para ibu dan anak-anak perempuan membantu menyiapkan semuanya.


"Wahana sudah disiapkan ketua!" lapor Rio.


"Oke, makasih Rio!"


Dengan menggunakan bus yang disewa, mereka pun menuju wahana bermain itu. Para bayi hanya diletakkan di kereta dorong mereka.


Terdengar teriakan-teriakan para anak-anak yang meluncur dari atas. Sebenernya Arsh belum boleh untuk main seluncuran.


"Harus di atas lima tahun Pak," ujar petugas.


"Alsh edhe!" pekik bayi itu marah-marah.


"Kalo di kolamnya aja boleh," ujar petugas itu.


Akhirnya Arsh bermain di perosotan kecil. Bayi itu tampak antusias ketika dipangku Azlan dan meluncur ke dalam kolam.


"Hati-hati Baby!" peringat Widya.

__ADS_1


Herman menerima sebuah pesan singkat. Pria itu menepuk keningnya.


"Dinar!" panggilnya..


"Iya Yah,"


"Kau lupa dengan saudarimu, Ariya!" Dinar terdiam sesaat.


"Ariya yang dulu diadopsi sama Tuan Boxter?" Herman mengangguk.


"Siapa Yah?" Khasya mendatangi suaminya.


"Ariya datang sayang!" seru Herman.


"Ariya?" Khasya lupa dengan salah satu putri angkatnya itu.


"Katanya dua hari lagi dia pulang. Orang tua angkatnya meninggal dunia. Semua keluarga berebut warisan. Ariya hanya ingin minta dipulangkan ke negara asalnya," jelas Herman.


"Anak itu menanggalkan nama keluarga yang mengadopsinya," lanjutnya.


"Ya sudah, nanti Dinar suruh Aldo yang jemput," ujar wanita itu.


"Tidak, biar ayah yang jemput," sahut Herman.


"Siapa yang pulang Yah?" tanya Terra.


"Ariya," jawab Herman.


"Ariya? Bukankah dia sudah diadopsi?"


"Keluarga adopsinya menolak kehadirannya. Gadis itu diminta pergi dan menanggalkan nama keluarga," jelas Herman.


Selesai bermain, mereka makan siang di sebuah restoran ternama. Setelah itu mereka pun pulang.


"Kak, sudah siap semua untuk besok subuh?" bisik Leo pada Rion.


"Sudah sayang," jawab Rion. "Jangan khawatir!"


"Ya Kak Deta?"


"Kamu udah siapin semua?"


"Oh buat besok ya?" Deta mengangguk.


"Siap Kakak!"


Semua masuk mansion dalam keadaan lelah, semua anak diminta tidur siang.


"Jihan, Ratih, Anggi," tiga gadis kecil itu berkumpul.


"Ada yang lain nggak?" tanya Jihan.


"Kado Ama kue yang belum," jawab Anggi.


"Kita nggak mungkin beli di tempat Mami. Pasti ketauan," kini Ratih yang berbicara.


"Nggak jauh dari mansion ayah ada toko kue deh," ujarnya lagi.


"Keluarnya gimana?' tanya Anggi.


"Sama maid aja keluar. Pasti nggak diperiksa?!" sebuah ide keluar dari mulut Jihan.


"Ide bagus!" seru Ratih tercerahkan.


Benar saja, Ratih, Jihan dan Anggi keluar mansion bersama dua maid tanpa pemeriksaan atau pengawalan. Tiga gadis berjilbab itu berusia sepuluh tahun.


"Non mau ke mana sih?" tanya Bi Sur.

__ADS_1


"Ke toko kue yang ada di deket sini Bi," jawab Jihan.


"Bibi anter ya," tiga gadis itu mengangguk.


"Kue apa ya?" Jihan melihat beberapa tart yang terpajang di etalase.


"Ini ada yang promo Dek," ujar penjaga toko ramah.


"Mau yang gede ini berapa Mba?" tanya Jihan..


"Ini dua ratus ribu, jadi seratus tujuh lima. Ini dua ratus enam puluh jadi dua ratus tiga lima," jawab penjaga toko.


"Mau ini yang coklat gede ini sama ini yang vanilla," tunjuk Jihan.


Dua tart terbungkus rapi. Selain tart, Ratih juga membeli kue bolu lainnya. Mereka bahkan dapat mencicipi secara gratis.


"Enak!" puji mereka bertiga.


Mereka bertiga keluar toko, memang Surti hanya menemani mereka sampai toko saja. Wanita itu pulang sore setelah mencuci dan menyetrika bersama beberapa rekan kerjanya.


Ketiganya tertawa senang setelah mendapat apa yang mereka inginkan. Ketika pulang, tiba-tiba dua pria bertubuh besar menghalangi jalan mereka.


"Halo Dek, bawa apa itu?" tanya salah satu pria dengan codet di matanya.


Jihan, Ratih dan Anggi berhenti. Jalanan sepi, hari sangat terik jadi tak banyak lalu lalang orang keluar rumah.


"Om mau apa?" tanya Jihan begitu berani.


"Nggak mau apa-apa kok Dek. Mau bantuin boleh?" tawar pria itu sekaligus menjawab.


"Kita nggak butuh Om. Makasih," jawab Anggi ramah.


"Nggak boleh nolak dong Neng!" sahut satunya lagi yang menghentikan laju ketiganya.


Anggi, Ratih dan Jihan saling lirik. Ketiganya tak menyangka akan bertemu orang jahat.


"Keknya bawaan kalian enak," ujar pria itu.


"Ini suruhan nyonya saya, Om!" jawab Anggi berbohong.


"Iya Om. Kasihan kami, nanti orang tua kami malah disiksa kalo nggak bawa pulang belanjaan ini," sahut Jihan juga berbohong.


Dua pria saling pandang. Menyangka ketiganya anak orang kaya malah hanya anak dari asisten rumah tangga saja.


"Majikan kami galak loh!" ujar Ratih memberi info.


"Ratih, Anggi, Jihan!" sebuah teriakan besar di belakang dua pria yang menghadang tiga anak kecil.


Rio terlihat kesal pada tiga anak perempuan yang main keluar tanpa lapor itu. Pria itu lalu menyela dua orang yang menghalangi.


"Kalian sudah ditunggu!" ujarnya.


"Hei ... jangan kasar sama anak kecil!" teriak pria bercodet.


Netra Rio begitu tajam menusuk, pria bercodet sampai menunduk takut. Rio membawa ketiga anak perempuan itu tanpa kendala.


Sampai rumah Bart nyaris jantungan mendapat tiga putrinya bisa keluar rumah.


"Kalian dari mana?" tanyanya gusar.


Ketiganya menunduk. Kean langsung melindungi ketiga adiknya itu.


"Maaf Uyut, tadi Kean yang suruh,"


Bart menatap remaja itu. Ia hanya menghela napas panjang. Jihan menatap Rio.


"Makasih Om,' bisiknya lalu meletakkan telunjuknya di bibir.

__ADS_1


Bersambung.


Next?


__ADS_2