SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEBERSAMAAN


__ADS_3

Ella sangat ingin jalan-jalan bersama kakak-kakak perempuannya. Namun banyaknya penjagaan membuat ia sedikit kurang ruang gerak.


"Ih Papa ... Ella cuma mau ke mini market!" protes gadis itu pada Hendi.


Hendi, Bayu, Setio, Deni, Rafa, Sintia, Dina dan Lala menjadi pengawal dari anak-anak Gabe dan Widya. Hendi yang menjadi ketua dari pengawalan.


"Baby ... biar Papa yang belikan. Mau beli apa?" tanya Hendi lembut.


"Papa ... Ella mau beli sendiri, kan deket!" rengek gadis itu.


"Biarkan dia Hendi!" ujar Widya.


Mereka memang menginap dari kemarin di mansion Herman. Semua anak sudah bangun, Maisya mendekati adiknya itu.


"Baby?"


"Kak ke mini market yuk beli pembalut," ajak Ella.


"Ayo, kebetulan punya Kakak stoknya menipis," sahut Maisya mengangguk.


"Nona ...."


"Papa Hendri boleh kok ngawal kita," sahut Maisya.


Hendi mengangguk, pria itu telah menikah dengan salah satu putri Herman. Hendi masuk Islam sebagai mahar pernikahannya.


"Kawal mereka Hendi!' suruh Virgou menengahi.


Dua anak gadis bergerak. Kaila dan Dewi tentu tak mau ketinggalan. Keduanya ikut dengan alasan yang sama.


Tak perlu keluarkan mobil. Mereka berjalan kaki dengan jarak sekitar dua ratus meter. Hari sudah beranjak sore, Ella tak bisa tidur siang karena perutnya bermasalah akibat datangnya siklus.


"Kak, Kak Nai juga minta belikan pembalut yang ada sayapnya," ujar Kaila sambil melihat layar ponselnya.


"Oteh!" sahut Maisya santai.


Sampai mini market, mereka bergerak ke ara rak berisi pembalut, makanan ringan dan juga minuman botol.


"Kak beli yang kotak aja kak. Kita se-RT loh banyaknya!" ujar Dewi mengingatkan.


"Ella mau ini boleh?" tanya Ella menyodorkan minuman dengan buliran jeruk.


"Boleh, kita beli ini juga banyakan kali ya?" sahut Maisya.


"Iya beli bangsa tiga pack. Terus beli minuman kotaknya beberapa dus," jawab Kaila.


"Susu murni juga?" tanya Ella.


"Yang besar aja rasa coklat sama strawberry. Ada kan?" Maisya menunjuk dua box besar susu murni dengan beda varian rasa.


"Ah ... jadi banyak belinya!" seru Maisya ketika melihat keranjang belanjaannya.


"Minta Papa Hendi suruh supir jemput kita aja!" ide brilian Kaila.


"Papa ...."


Hendi tentu sigap dalam segala hal. Tak lama satu mobil datang. Setelah membayar barang belanjaan dan menaikkannya ke bagasi mobil. Mereka pun masuk dan kendaraan itu bergerak perlahan.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut semua kompak.


"Banyak amat belanjaannya?" tanya Luisa ketika banyaknya barang yang dibawa ke dalam.


"Iya Mom, kita ingat banyak saudara jadi nggak bisa makan sendirian itu," jawab Kaila tersenyum.


Luisa tertular senyum, wanita itu ikut membantu para ibu menyiapkan kudapan untuk semua perusuh.

__ADS_1


'"Eh ... kita nonton film lagi yuk!" ajak Kean lalu mengambil satu flashdisk dari sakunya.


"Kemarin ada film bagus di internet jadi Kean ambil ...."


"Kamu nyolong Kean?" tanya Calvin.


"Enak aja!' elak Kean tak terima.


"Eum ... tapi bisa jadi gitu sih?!" lanjutnya setelah berpikir lama.


Calvin memutar mata malas. Rion tampak sibuk mengelus perut istrinya. Azizah memang sangat manja pada sang suami selama kehamilannya.


Semua duduk sambil menonton film. Tidak ada yang menarik. Para bayi memilih pergi dan bermain di halaman belakang.


"To mitado ... mitado, esta, estado pela-peli wan, tu, tli, fol!" seru Della menepuk tangan Bariana.


"Ata'sadhi halus teuluan!' ujar Della.


"Imi bain pa'a syih?" tanya balita cantik itu sewot.


"Woh ... peumana Ata' eundat pahu pita bain pa'a?" tanya Della tak percaya.


"Eundat Baby, Ata'eundat pahu!"


"Imi peulpainan anat tampun," jawab Firman kini.


"Namana bain domitado," lanjutnya. "Banti yan teulahil sadhi peumenan."


"Ulani ladhi ya," ujar Della pada akhirnya.


"Sadhi pita syusun tanan tayat dhini,"


Dengan telaten Della menjelaskan bagaimana permainan itu. Akhirnya bayi perempuan pun bermain bersama. Harun, mengajak saudara laki-lakinya bermain berbeda.


"Main gatrik yuk!" ajak Radit.


"Ain na anah?" tanya Arsh juga mau main.


"Kayak gini Baby," Radit membantu Arsh memegang tongkat panjang.


Lalu Radit menggerakkan tangan Arsh mencungkil kayu kecil yang ditopang batu.


Tak! Bunyi kayu yang terpukul, lalu benda itu melayang jauh ke udara. Arsh tampak heboh bukan main.


"Teulpan ... teulpan!"


Ternyata permainan Radit dan yang lainnya menjadi magnet pada semua anak. Kini mereka menjadi dua kelompok.


"Ini mainan baru lagi?" tanya Raffhan semangat.


"Udah lama Kak, cuma kita jarang maininnya," jawab Samudera.


"Alsh au ain!" pekik bayi itu marah.


"Nanti kakak gendong kalo menang!" sebuah penawaran yang membuat Arsh mengangguk setuju.


"Awus eunan yah!' perintah bayi itu bossy.


Bayi-bayi berusia enam bulan menjadi tim sorak, begitu juga tim bayi perempuan. Rion ikut menonton bersama Azizah.


Permainan berlangsung seru. Gelak tawa tercipta di sana. Arsh selalu marah-marah jika tim jagoannya tertangkap kayunya.


"Anan antap yayuna!"


"Huuuu .... alah adhi ... alah adhi!" keluh bayi itu kecewa.


Namun ketika ada tim yang kalah. Bayi itu harus digendong.

__ADS_1


"Kan tim Baby kalah," goda Setya.


"Ata' ...beucusuebbbehsvdgshenshzukakabhauwkebsyshsusususu!" oceh bayi itu marah-marah.


"Paypi janan seupelti ipu!" peringat Bariana.


"Baby, gendong Baby Arsh!" perintah Zhein juga gemas dengan bayi galak itu.


"Anan asam-asam!' laga bayi bossy itu.


"Apa yang asam Baby?"


Setya sangat gemas, Arsh diangkat tinggi-tinggi. Gelak tawa terdengar. Semua bayi jadi ingin digendong.


"Ayo mandi!" teriak Dinar.


Semua bermandi peluh, baju sedikit kotor. Para bayi ditangani semua kakak-kakaknya mandi.


"Wanginya,"


Zhein menciumi mereka. Walau para bayi sedikit risih, lambat laun semua akhirnya mau dicium. Remario datang membawa banyak mainan.


"Papa robot itu kasih Kean!" teriak remaja itu.


"Imi bunya Patih!" teriak Al Fatih tak mau mengalah.


"Abah!" rengek Kean.


"Apah!' Fatih tak kalah merengek pada ayahnya itu.


Darren menggaruk pelipisnya. Virgou menangani putranya.


"Daddy nanti belikan sayang,"


"Mau yang dari Papa Rem,' cicit remaja itu.


"Sama saja Baby," sahut Rion yang membungkam Kean.


"Sayang, nanti Papa belikan lagi ya," ujar Remario menenangkan Kean.


"Sekarang ngalah dulu sama yang bayi," sambungnya meminta pengertian.


Kean mengangguk, walau berat hatinya untuk merelakan mainan yang telah mencuri hatinya itu. Puspita hanya menghela napas panjang.


"Ah ... kapan putraku besar jika seperti ini?" keluhnya bergumam.


"Kamu pikir Baby Trio sudah besar?" tanya Khasya.


"Tapi Baby Trio udah berani mengikat Adiba Bun," ujar Widya menimpali.


"Iya, bahkan kemarin jika Baby Ion nggak mau sama Azizah, Baby Sat maju ingin menikahinya," sela Seruni.


"Iya memang dia punya keinginan seperti itu. Tapi lihat itu," tunjuk Khasya pada bayi raksasa yang sibuk menggoda bayi-bayi lainnya.


Satrio sama saja, ia sedih karena tak mendapat mobil yang diincarnya. Mainan roda empat itu kini ada di tangan Samudera.


"Papa mestinya beli mainan banyak!" protes Dewi.


"Baby!" tegur Terra.


"Iya sayang. Maaf ya. Nanti lain kali Papa bawa mainan yang banyak," ujar Remario tak masalah.


Bersambung.


Ah ... gitu deh.


Next?

__ADS_1


__ADS_2