SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MASIH RUSUH


__ADS_3

"Tu menayis ... beumpayan tan ... beutapa teujamna dilimu pada dilitu ... tau duwatan sinta imi ... tau peuldi selamana ... huuuwooo ... tu menayis!"


Maryam menyanyikan lagu dengan sepenuh hati lagu yang sering ia dengar di layar televisi jika para maid menonton.


"Tu menayis!" sahut Fathiyya ikut-ikutan.


"Eh ... lada yan palu ladhi woh ladhuna!" sela Arraya.


"Menayis tu teuluta pati tu telima pemua teuputusan yan peulna tau puat ... zatu yan halus tau pahu ... tumenanti tau tut teumbali!" pekik Arraya menyanyikan salah satu lagu viral yang sering dicover banyak orang.


"Huwwwooo ... wwwo ... huuuwwooo ... tindal tan pemua bisimi!"


Arraya menyanyikan dalam nada yang tepat, bahkan nada tingginya tak meleset sama sekali.


"Tu menayiiiss ... peumpayan tan ... peutapa teujamnya dilimu lada dilitu ... halus tau pahu ... atulah yan pelah tau satiti!" sahut Maryam melanjutkan lagunya.


"Toton pepet sansa ... ansa bi duwali ... pona binta bansa ... pansa embat tali ... solon lilili ... solon nanana ... lalalaalaaa ...."


"Solon te butan nolon bambutan pitejal-tejal pama wowan butan!" sahut Azha dan Harun terkikik geli.


Kedua bayi itu memotong lagu potong bebek angsa yang dinyanyikan oleh El Bara, Fatih juga Fathiyya.


"Pemana ladhuna tayat dithu?" tanya Fatih dengan mata bulat.


"Eundat lah ... pasa ladhu ada yan diteuzal wowan butan!" sahut Bariana.


"Ih ... atuh tan puma beuljanda Baby Baliana!" sahut Azha.


"Ata' Tean pulu judha banyi bedhitu!" lanjutnya kesal.


"Assalamualaikum!" Aini datang bersama dua adiknya.


Mata wanita itu basah dengan air mata. Seruni yang menyambutnya langsung khawatir dan mengambil alih Arsyad dari gendongan Aini. Jangan tanya di mana Aliyah. Bayi itu ada di tangan Khasya dan Puspita, dua wanita itu bergantian menggendong bayi cantik itu.


"Wa'alaikumusalam, kamu kenapa sayang?" tanyanya.


"Mami ... hiks ... hiks!" isak Aini.


Ditya dan Radit di suruh langsung masuk dan bermain bersama anak-anak yang lain. Arsyad yang masih tertidur sedikit terganggu. Bart mengambil alih Arsyad dan menggendongnya ke kamar.


"Duduk sayang, ada apa?" tanya Terra yang juga khawatir.


"Mama ... minta Mas Gio untuk pindah dan cari rumah dekat sini Maa!" rengek wanita itu.


"Kenapa ada apa?" tanya Terra.


"Tetangga Aini ngatain kalau Mas Gio pake tuyul biar cepet kaya ... huuaaaa!" tangisnya kencang.


"Astaghfirullah!"

__ADS_1


Terra memeluk Aini. Fitnah yang begitu kejam diberikan pada ibu muda itu. Gio memang pasti kaya raya, karena pekerjaannya sebagai bodyguard, terutama ia adalah ketua pengawal dari Terra, selain Budiman, Dahlan dan juga Gomesh.


"Masa Mas Gio sampai disuruh sumpah pocong jika tuduhan itu tak benar Ma!" keluh Aini lagi.


"Ini nggak bisa dibiarkan. Kita akan laporkan tuduhan palsu itu ke kepolisian sekarang juga!" ujar Terra tak terima.


Gio masih mengawal Lidya bersama Felix dan Hendra. Rata-rata bodyguard menikah dengan anak angkat Herman. Kecuali yang anak angkat laki-laki.


Terra menelepon pengacaranya, ia akan membuat laporan atas tuduhan pencemaran nama baik dan juga tuduhan palsu. Ia juga menelepon Gio masalah itu.


"Sudah, jangan sedih. Kita akan urus lambe tak punya pendidikan itu!" sahut Terra menenangkan Aini.


Sementara di kebun belakang. Anak-anak mengerubungi Radit dan Ditya. Mereka bertanya apa yang terjadi.


"Mas Gio dituduh piara tuyul sama tetangga," jawab Radit sedih.


"Puyul?" Aaima sampai miring kepalanya.


"Memana puyul ipu wewan pa'a?" tanyanya.


"Atuh balu pahu talo lada wewan puyul?" sahut Harun juga tak mengerti.


"Tuyul bukan hewan Dik," sahut Ditya.


Wajahnya masih murung, bagaimana tetangga yang iri itu menuduh kakak iparnya memelihara tuyul dan melapor pada RT setempat.


"Apa susahnya sih tinggal sumpah pocong aja kalo kamu tidak miara tuyul!" ujar tetangga iri itu.


"Suami saya tidak miara tuyul, untuk apa harus bersumpah!" teriak Aini saat itu.


"Apa perlu saya beri tahu penghasilan suami saya sebulan?!" teriaknya lagi.


"Duh ... Bu Aini, ikuti saja sih biar beres!" ujar ketua RT. "Yang waras ngalah aja!"


"Saya akan bawa ini ke ranah hukum!" teriak Aini pada semua orang.


Wanita itu mengusir semua orang dari rumahnya. Ia mengancam akan memenjarakan semua orang yang menuduh suaminya. Maka itu dia di sini di rumah Terra.


Tak lama rumah Darren penuh dengan manusia. Virgou kesal denga. tuduhan palsu itu. Ia membawa Gomesh dan Gio untuk melabrak tetangga iri itu.


Dengan membawa beberapa anggota polisi. Perumahan sederhana langsung sepi. Tak ada yang mau keluar bahkan ketua RT yang menyarankan Aini juga takut dan tak mau keluar.


"Keluar kalian semua. Berengsek!' maki Virgou.


"Pak ... sabar, jangan gegabah!" sahut polisi menenangkan pria dengan sejuta pesona itu.


"Assalamualaikum, Bu Fifi, buka pintu!" ujar polisi mengetuk pintu rumah yang menuduh Gio menggunakan tuyul.


"Keluar Bu ... mau tau saya tampang orang menuduh keluarga saya pakai tuyul!" teriak Virgou berang bukan main..

__ADS_1


Perempuan itu ketakutan setengah mati. Semua penghuni kompleks tak ada yang berani keluar. Tak seperti tadi ketika mereka beramai-ramai menuduh Aini.


Polisi dan beberapa pengawal masih menunggu di sekitaran perumahan itu. Semua penghuni benar-benar tak berani keluar.


Suami Fifi pulang tanpa mengetahui apa yang terjadi. Pria itu langsung diciduk oleh polisi jika Fifi tak mau keluar rumah.


"Kami terpaksa menahan bapak ke kantor polisi mengatas nama istri anda dengan tuduhan pencemaran nama baik dan juga tuduhan palsu!" ujar polisi.


Virgou tak melihat ketua RT keluar, pria itu berang bukan main. Ia mendatangi rumah berpagar itu dan meneriakinya.


"Ketua RT ... besok saya pastikan kau akan jadi pengangguran seumur hidup!"


Mendengar ancaman itu barulah Ketua RT keluar. Ia ketakutan setengah mati. Begitu juga Bu Fifi.


"Saya mau mereka dipenjara semua!" teriak Gio murka.


Anak Fifi menangis, mereka ketakutan dengan apa yang terjadi. Akhirnya suami Fifi meminta maaf atas kekurangan ajaran istrinya.


"Saya mohon Tuan, maafin istri saya. Saya janji akan mendidiknya lebih keras agar tak jadi manusia sirik lagi!" pinta pria itu menahan malu.


"Tuan?"


Virgou dan Gio memang tak bisa melihat anak-anak yang menangis dan ketakutan. Terlebih mereka masih kecil-kecil. Akhirnya semua diakhiri dengan damai.


"Kau harus pindah dari tempat ini Gio!" saran Gomesh.


"Terlebih putramu sama dengan ketuanya Bomesh dan Domesh, putraku," lanjutnya sedikit mencebik kesal.


"Iya Tuan, saya akan menjual rumah ini dan pindah ke rumah lain," sahut Gio setuju.


Mereka pun pulang. Sedang di rumah Fifi sang suami nyaris mengatakan talak pada istrinya jika saja tak mendengar tangisan dua anaknya yang masih balita.


"Aku akan membawa Eni dan Sandi ke rumah orang tuaku!" putus pria itu.


"Mas ... hiks ...!"


"Aku lelah, Bu. Kau tak pernah berubah, mungkin jika kau hidup sendirian kau bisa memikirkan semuanya!" putus pria itu.


Fifi menangis, ia berlutut pada suaminya. Ia memohon maaf atas semua kesalahannya. Karena rengekan putra dan putrinya, akhirnya sang suami memaafkan istrinya.


"Kita besok pindah ya, pulang ke kampung, kembali berladang," ajak pria itu.


"Aku ikut Mas ... huuuu ... aku ikut ke manapun kau pergi ... hiks!"


Bersambung.


rusuh beneran ini mah!


next?

__ADS_1


__ADS_2