SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERNIKAHAN


__ADS_3

Pernikahan pun terjadi. Tiga minggu waktu yang sangat singkat. Rio telah mengucap ijab kabul dengan menggenggam tangan Herman selaku ayah angkat dan wali dari Ariya Triatmodjo.


"Saya terima nikah dan kawin Ariya binti Triatmodjo dengan mas kawin uang sebesar lima belas juta seratus dua puluh ribu dibayar tunai!" serunya dalam sekali helaan napas.


"Bagaimana para saksi, apa sah?" tanya penghulu.


"Sah!' seru Dahlan dan Budiman sebagai saksi kedua mempelai.


Ariya menitikkan air mata. Mereka menikah di mansion Herman. Pernikahan yang begitu sederhana.


Gadis itu mengecup punggung tangan pria yang telah sah jadi suaminya. Rio mengecup pelan kening gadis itu. Lalu mengusap pucuk kepala Ariya dan berdoa di sana.


Keduanya sungkem di depan Herman. Ariya tak berhenti menangis dan berterima kasih pada pria yang sudah menjadi dewa penolongnya.


"Ayah ... terima kasih ayah!"


Herman mengecup kepala wanita yang telah terbungkus hijab itu. Ariya memilih menutup auratnya sehari sebelum ia menikah. Rio memeluk kaki Herman dan menciuminya.


"Nak ...."


"Aku tak punya ayah dari aku kecil. Aku baru merasa memilikinya ketika aku ada di sini. Terima kasih!"


Bart dan Virgou juga memberi restu pada sepasang pengantin itu. Keduanya kini pun bersanding di pelaminan.


K-WeddingArt adalah wo yang disewa oleh Herman. Kean pemiliknya.


"Virgou, kau ajari putramu ini. Masa aku harus bayar full untuk jasanya. Padahal dia suka sekali diketiakku!" keluh Herman pada Kean.


"Ayah, usahaku ini baru merintis. Belum ada untungnya!" kilah Kean sebal.


'Sayang, sudahlah itu usaha putramu. Kenapa kau malah perhitungan begitu!' peringat Khasya.


"Iya ya bunda ... masa ayah gitu!" Kean meledek Herman.


Pria itu mengacak rambut remaja nan tampan. Kean tertawa dan langsung merengek. Ia tak mau lepas dari kepitan tangan Herman.


"Ayah cape sayang," keluh pria itu baru lah Kean mau dilepas.


Pesta pernikahan itu sangat ramai dengan manusia. Seluruh halaman mansion nyaris penuh oleh manusia.


"Astaga, kenapa anak buahmu kau suruh ke sini semua?" ujar pria itu sebal.


"Ayah," rengek Rio manja.


Herman hanya bisa menghela napas. Pria itu sungguh tak pernah memanjakan semua pegawai. Tetapi rupanya, mereka sudah menganggapnya sebagai seorang ayah yang tak pernah mereka miliki.


"Sasayamunanaatitum lalomahtulohi papalatatuh!" seru Arsh di atas panggung.


Rion di atas sana sudah memainkan keyboard. Azizah dan wanita lainnya tampak duduk menikmati pertunjukan. Bayi sebelas bulan itu sudah tampak heboh di atas panggung.


Bokong Arsh naik turun seirama musik yang mengalun. Widya tampak menghela pasrah. Putra bungsunya itu memang sangat mirip ketuanya yang kini tengah tertawa sambil memainkan keyboard.


"Atuh au sodet!" seru para bayi semua naik panggung.


Jika dirunut dari usia. Gino paling tua diantara semua bayi. Tapi tubuhnya kecil sama dengan Ari.

__ADS_1


"Ah, Gino kakak ya?" ujar Azizah.


"Kalau dikelompokkan jadi usia empat tahunan dipegang oleh Harun, Bariana, Azha, Arion dan Arraya," lanjutnya.


"Iya lalu disusul yang usia tiga tahun Della, Ari dan Aminah juga Lilo," sambung Seruni.


"Yang dua tahun, Maryam, Aisya, Fatih, Al dan El Bara Seno dan Firman. Satu tahun Alia dan Dita," lanjut Seruni.


''Jangan lupa Fathiyya, Aaima dan Arsyad," sela Rahma.


"Ah .. aku hampir lupa!" kekeh Azizah.


"Baru deh bayi yang paling jago Arsh!' kekehnya lagi.


"Fael, Angel, Arsh, Zizam, Izzat, Meghan seumuran tuh!" kikik Rahma.


"Jangan lupain Xierra Umi," ujar Sari lagi.


Bayi perempuan itu juga di atas panggung ikut bergoyang dengan kakak-kakaknya.


"Baru deh hadir bayi yang masih nyusu ini," lanjutnya sambil menciumi Nisa.


Bayi bermata biru itu baru berusia lima bulan. Ia suka memekik jika para ibu menciuminya. Zaa, Chira dan Aarav tak mau kalah. Disusul Aaric, Sena dan Alva.


"Atuh atan peunyanyitan ladhu!" ujar Lilo berani.


"Ali judha!" teriak Ari.


"Bayo panyi peulpuwaan!" ajak Lilo.


Kedua bayi memegang mik. Rion mulai memainkan keyboard. Sebuah lagu anak-anak pun mengalun.


Sebuah lagu berubah liriknya. Senyum lebar terukir di semua wajah.


"Babies ... makan!" teriak Dinar.


Semua bayi heboh. Mereka minta gendong para pengawal. Tentu saja semua pengawal sigap mengangkat mereka.


"Alsh au anyi pulu!" teriak bayi itu.


Arsh hendak memukul Deni yang ingin mengangkatnya dengan mik jika saja Della tak sigap.


"Paypi ... janan ya," peringatnya lembut ketika menangkap mik yang hendak menyambar kepala Deni.


"Alsh au anyi Ata'!"


"Babis matan pisa banyi tan?" bujuk Della lagi.


Arsh mengangguk setuju, bayi itu pun digendong oleh Deni sedang Della digendong oleh Hendro.


"Cepat sekali tangan Baby Del!" pekik takjub salah satu bodyguard wanita.


"Ih, Baby Dell cantik banget sih. Boleh aku bawa pulang nggak ya?" sahut lainnya.


"Enak saja main bawa anak orang!" sentak Puspita marah.

__ADS_1


Wanita itu melotot pada salah satu bodyguard perempuan. Gadis itu menunduk, ia memang gemas dengan semua bayi yang ada di panggung.


"Apa maksudmu mau menculik putriku!" bentak Puspita lagi.


"Tidak Nyonya ... mana berani," ujar gadis itu tentu membantah.


"Saya menyukai anak-anak," aku gadis itu lagi.


"Makanya kawin, biar punya anak!" bentak Puspita geram.


Perempuan itu meminta maaf pada Puspita. Gara-gara hal itu. Virgou langsung mencabut lisensi kepengawalan perempuan itu.


"Tuan, saya tidak pernah bermaksud untuk menculik Nona Baby Dell," ujar wanita bernama Sarah itu menyesal.


"Jaga ucapanmu sekali lagi Sarah. Ini adalah peringatan pertama dan terakhirmu!" tekan Virgou tak main-main.


"Saya berjanji Tuan atas nama ayah saya!' sahut Sarah membungkuk hormat.


Kini ia harus berhati-hati lagi dalam berucap. Sarah memang belum ditempatkan sebagai bodyguard di keluarga. Gadis itu harus bekerja di tempat lain untuk memperbanyak pengalaman kerjanya.


Sementara di atas panggung. Semua bayi kembali heboh. Mereka bergoyang pinggul karena ketua mereka bernyanyi dangdut.


"Api asmara yang dahulu pernah membara ... semakin hangat bagai ciuman yang pertama ...."


"Sel ... poha!"


Pesta berakhir dalam empat jam Sore menjelang, Rio membawa istrinya pulang ke sebuah hunian sederhana miliknya.


"Ini rumah kita sayang," ujar pria itu.


Ariya menatap bangunan satu lantai dengan halaman hijau. Hunian yang tak jauh dari rumah pengawal lainnya. Mereka tinggal satu komplek.


"Assalamu'alaikum!" sapa Ariya ketika masuk rumah itu.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!"


"Kamu suka sayang?" tanya pria itu lagi.


Ariya mengangguk tegas. Rio tersenyum dan memeluknya erat. Sebuah kecupan bibir terjadi. Keduanya hampir kelepasan jika saja tak mendengar adzan ashar.


"Lanjut nanti malam ya?" bisik Rio pelan.


Ariya hanya mengangguk dengan muka memerah. Ia tak lagi merasakan ketakutan ketika berciuman dengan suaminya. Rio melakukannya dengan lembut dan tanpa paksaan.


Sementara di hunian lain. Herman kembali menghisap cerutunya. Khasya sangat tau kegundahan hati suaminya. Ia memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


"Kita harus bersiap melepas semua anak-anak kita untuk menikah, Mas," ujarnya pelan.


Herman mematikan cerutunya. Lalu mengecup pelipis istrinya. Sebuah tatapan penuh cinta saling beradu. Kedua bibir pun bertemu dan saling memagut.


"Ba bowu sayang," ujar Herman setelah melepas pagutannya.


"Ba bowu pu,"


Bersambung.

__ADS_1


ah ...


next?


__ADS_2