SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MOOD MANJA PERUSUH SENIOR


__ADS_3

Pagi hari, semua kembali dengan kegiatan masing-masing. Sean mengantar adik-adiknya ke sekolah. Sedang para bayi kembali dititipkan pada Terra. Arshaka belum pulang, menurut rencana mereka akan pulang setelah pernikahan ulang Rion yang akan diadakan dua bulan lagi.


"Encat ... encat ipindin ... iam-iam yayayap ... tantan totol mumut ... hap ulu sitantap!"


Arsh menyanyikan lagu cicak di dinding, Arraya mengajari bayi delapan bulan itu. Tentu saja liriknya berubah di mulut dua bayi berbeda usia itu.


"Teput tanan Baby," suruh Arraya.


Arsh bertepuk tangan sambil bersorak meriah, Widya membantu Terra di dapur bersama Seruni dan Maria. Para bayi yang baru lahir satu bulan kemarin tengah tidur di boks mereka di kamar. Sedang anal-anak bermain di taman belakang. Sedang Izzat ada di rumah bersama ibunya.


Harun, Azha, Arion, Arraya, Bariana tengah mengemong Arsyad, Aaima, Maryam, Aisya, Fatih, El Bara, Al Bara juga Fathiyya dan paling kecil Arshaka. Delapan bayi yang baru berumur delapan belas bulan itu juga minta diajari menyanyi seperti Arsh.


“Oteh setalan pita beulpanyi ya,” ajak Harun.


“Pita atan beulbanyi ladhu yan pendet-pendet aja,” lanjutnya.


“Pintan teusil ...,” Harun memulai lagunya.


“Itutin ya,” ajaknya.


“Bintan peusil ...,” sahut delapan bayi.


“Tantan pisil!” tiru Arsh.


“Pi lamit yan pilu!”


“Pi nanit yan pilu!”


“Anit nit nit lu!” tiru Arsh.


“Banat banat pensias tansasa!”


“Anat-anat sias-sias lansasa!” seru Maryam dan lainnya.


“As-as-as-as!” sahut Arsh meniru.


“Atuh inin!” sahut Harun.


“Atuh ninin!”


“Uh in-in!” sahut Arsh.


“Peulban lan lemali!”


“Lepan semelami!” sahut Maryam dan saudaranya yang lain.


“Apan lali!” sahut Arsh.


“Pauh pindi petentat tau peulada!” ujar Harun lagi.


“Auh blindi selentat sau selada!” pekik para bayi delapan belas bulan.


“Seulamdnjehsjkamdndndnk lada!” Arsh berusaha mengingat kata-katanya tapi itu yang keluar dari mulutnya.


“Badhus setalan pita banyi peulsama ya,” ajak Harun.

__ADS_1


“Lintan semil ... li pamit yan lipu ... lamat samat ... sepian tasasa ... atuh sinin ... seulpan lan semali ... sauh lindi selempat tau selada!”


Maryam, Al, El Bara, Fatih, Fathiyya, Aisha, Aaima dan Arshad bernyanyi dengan nada yang benar, hanya saja lirik lagu bintang kecil jadi berubah total. Sedang Arsh kini mulai mengikuti lagu tersebut.


“Santan lisil .. pasalit san sipu ... samat-samat, sempias salasa ... nauh sindimsnnsnnennaksjhkdlmi ... jkhekkkallakjsjdbhejejmi ... jdhjehjeukakajhdhehjbushk su lalala!” Arsh menyanyikan dengan bahasanya sendiri.


“Holee!” Bariana, Arraya, Azha, Arion dan Harun bertepuk tangan sambil memuji, “talian bebat!”


Semua bayi ikut tepuk tangan sambil bersorak dan melompat kegirangan. Mereka meminta lagi kakak mereka mengajari lagu yang sama. Ella, Bastian, Billy dan Martha hanya tersenyum lebar sambil merekam semua kegiatan semua adik-adiknya.


Billy mendekati semua ibunya yang tengah berkutat di dapur. Bocah laki-laki itu ingin ke kafe milik kakaknya nanti sore.


“Mom, nanti sore boleh ya, aku dan kakak ke kafe kak Sean?”


“Tentu Baby. Minta ijin sama Daddy terus sama kak Sean nya ya,” ujar Widya.


Billy mengangguk dengan senyum senang. Gabe tengah pergi ke perusahaan adik sepupunya itu, ia pergi bersama Darren dan Budiman. Darren tentu saja senang dengan kedatangan ayahnya itu. Ia akan bermalas-malasan di kantor dan meminta pria yang mestinya kakak sepupunya itu mengurus semua berkas.


“Apa-apaan ini?” tanya Gabe ketika Darren menyerahkan setumpuk berkas di hadapannya.


“Daddy yang kerjain semua,” rajuknya manja, “ya, ya!”


Pria itu menaik turunkan alisnya. Gabe berdecak kesal, bibir Darren mengerucut, ia masih ber-mode manja pada pria itu, sampai Gabe menyerah dan mengambil berkas yang membuatnya pusing kepala itu.


“Ba bowu Daddy,” ujar Darren mengecup pipi Gabe.


“Ba bowu pu,” sahut Gabe yang memang tak bisa mengabaikan putra dari mendiang pamannya itu.


Sementara itu di perusahaan Herman, Kean sama malasnya dengan Darren, ia manja total dengan pria paru baya yang tak berhenti mengocehinya. Kean malas asik bergelung di bawah ketiak pria itu.


“Kau ini ... bagaimana jika kemarin kau yang menikah dengan Azizah!” gerutu Herman kesal.


Kean malah minta pangku dan merebahkan kepalanya di dada lebar paman dari Terra. Herman tentu berat dengan tubuh remaja yang lebih besar darinya itu.


“Berat anak manja!”


“Ayah ... hari ini Kean mau dimanja aja .. nggak mau kerja,” rengeknya.


“Astaga, bagaimana nasib semua karyawan jika kau tak bekerja Kean!”


“Kasih ke Om Fio dan Tante Sarah aja!” saran remaja itu.


Fio dan Sarah merupakan asisten dan sekretaris Herman, Fio bekerja bersama Herman selama tujuh tahun, tentu mengenal Kean dari usia sebelas tahun, sedang Sarah bekerja dua tahun menggantikan sekretaris sebelumnya yang resign menikah.


“Ya sudah, panggil mereka!” titah Herman.


“Om ... Tante!” pekik Kean.


“Astagfirullah Kean!” remaja itu tak peduli.


Sepasang manusia masuk, keduanya terkejut melihat bagaimana sosok besar Kean dipangku oleh Herman, seperti bayi yang menyelusup di ketiak ayahnya.


“Apa yang kalian lihat?!” sentak Herman kesal pada dua orang itu.


Keduanya membungkuk hormat. Herman memerintahkan keduanya untuk menggantikan dirinya bertugas.

__ADS_1


“Kalian gantikan semuanya. Aku mau memanjakan putraku!”


“Baik Tuan!” sahut keduanya.


“Ayo kita pergi,” ajak Herman yang sudah merasa kesemutan pahanya.


“Mau ke mana Yah?”


“Kemana pun kau mau Baby,” jawab Herman.


“Horee! Kita ke ....”


Kean begitu senang, ia memaparkan ingin kemana saja hari ini, pria itu mengangguk saja mendengarkan keinginan putra dari keponakannya itu.


“Kita jemput Calvin, Al, Daud, Satrio dan Sean, Billy dan Bastian ya,” ujar Herman yang ditanggapi anggukan oleh Kean.


Pertama kali mereka menjemput Calvin, remaja itu langsung menyerahkan semua kertasnya pada Jac. Demian dan Jac tentu cemburu apa lagi Dominic. Herman memelototi tiga pria dewasa itu.


“Ayah,” rengek Jac.


“Kalian bekerja! Ingat, istri-istri kalian adalah putriku!” sentak Herman marah.


Ketika menjemput Al, Haidar langsung melepas semua pekerjaannya dan ingin ikut paman dari istrinya itu.


“Apa-apaan kau!” Herman tentu melarang Haidar ikut bersama mereka.


“Ayah!” rengek Haidar.


“Kerja kau!” sahut Herman sambil melotot.


Haidar harus menurut, ia tentu tak mau dimarahi semua putranya yang memandangnya kesal. Setelah menjemput Al, mereka menjemput Satrio. Kali ini Virgou tak mau kompromi, ia mau ikut begitu juga David dan Gomesh. Hal ini membuat ayah dari Satrio itu memukuli ketiganya.


“Ayah!’ rengek ketiga pria itu.


“Kerja ... cari uang!”


“Ayah ... kami tak diajak?” pinta Fabio dan Pablo penuh harap.


Virgou akan mencekik mereka jika Herman mengajak dua pria kepercayaan. Pria paru baya itu berpikir keras lalu menatap para remaja. Satrio yang iba karena dua pria itu tak pernah bersenang-senang berbisik pada Herman.


“Kalian ikut!” sahut Herman.


Pablo dan Fabio nyaris melompat kegirangan jika tak melihat pelototan Virgou, David dan Gomesh.


“Ayah,” adu mereka.


“Apa kalian!” sahut Herman marah pada tiga pria itu.


Akhirnya dua asisten Virgou ikut, lalu mereka menjemput Daud, lalu pergi menjemput Sean, Bastian dan Billy. Semua ikut dengan Herman, mereka pergi ke panti dengan dua mobil lalu menuju bus sedang yang terparkir di sana sang supir sudah bersiap.


“Mari kita pergi!” sahut Herman.


Mereka pun bersorak senang, Herman beruntung ketika menjemput Sean dan dua adik laki-lakinya. Para perusuh sedang tidur siang bersama Ella dan Martha. Kini mereka ke sebuah tempat di mana Kean inginkan.


Bersambung.

__ADS_1


Rusuh senior lagi mood manja semua


Next?


__ADS_2