SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERISTIWA


__ADS_3

Dominic datang melamar Dinar. Ia membawa Lidya dan Demian juga Jac serta putri dan tiga cucunya.


"Kedatangan kami kemari adalah ingin melamar Bibu Dinar untuk Daddy Dominic ayah," ujar Demian sebagai juru bicara.


Lidya menatap paman dari ibunya itu penuh harap. Herman berdecih pada Dominic yang sangat pintar membawa pasukan. Terlebih Aaima yang kini berada di pangkuannya. Pria itu benar-benar mati kutu.


"Anak sialan ... bocah tengik!" umpatnya pelan dengan sorot mata tajam pada Dominic.


Pria itu hanya santai, ia sangat tahu jika ayah angkat dari gadis pujaannya itu mencaci maki dirinya. Netra biru milik Dominic menatap lembut manik gelap milik Herman.


"Yaaah!" panggil Aaima protes karena pria itu tak menepuk bokongnya, bayi cantik itu ingin tidur.


"Mo popo ... pok-pok!" pintanya bossy sambil memegang tangan Herman menepuk bokongnya.


Pria itu gemas bukan main. Khasya dan Dinar hanya tersenyum. Tapi mereka menunggu tanggapan pria itu. Herman menatap Dinar yang penuh harap padanya.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku. Namun seluruh kehidupannya adalah pilihannya, jadi semua terserah dia," ujar pria itu pada akhirnya sambil menghela napas panjang.


Dinar tersenyum indah pada ayah angkatnya. Kini Jac yang bertanya kesediaan gadis itu.


"Bagaimana bibu, apakah bibu setuju menerima pinangan dari pria duda beranak dua dan bercucu tiga ... eh sekarang cucunya banyak deng!" selorohnya.


Dinar tertunduk. Ia menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang. Ia mengucap basmalah untuk memantapkan hati.


"Iya, saya bersedia," jawabnya lirih.


Lidya dan Putri mengucap hamdalah. Lidya langsung memeluk Herman yang menitikkan air mata.


"Ayah ... bibu pasti bahagia bersama Daddy," ujar wanita bertubuh mungil itu.


Herman mencium Lidya dan menenangkan Aaima karena pergerakan pria itu. Kini bayi cantik itu berada di gendongan ayahnya. Al dan El Bara juga mau di gendong Herman. Dua bayi tampan itu, membasahi pipi pria tua itu dengan liurnya. Pria itu terkekeh.


Semuanya pulang dan mansion kembali sepi. Hanya ada Dinar di sana duduk di hadapan ayah angkatnya. Jujur, jika ingin memilih, gadis itu ingin Herman adalah ayah kandungnya.


'Nak, ketika kau menikah maka baktimu hanya pada sang suami," nasihat pria itu.


Dinar mengangguk mendengarkan. Gadis itu begitu beruntung mendapatkan orang tua asuh seperti Khasya dan Herman.


"Terima kasih bunda, aku mendapat ayah yang begitu baik dan sangat luar biasa," gumamnya.


"Ayah, apa tak menjemput Dewi? Bukankah hari ini dia masuk semi final?" tanya Khasya melupakan putrinya.


Dewa sang saudara kembar sudah pulang dari tadi. Remaja tanggung itu tak suka dengan olah raga kekerasan, ia berkutat dengan gambar-gambarnya.


"Kan ada pengawal bun," jawab Herman memutar mata malas.

__ADS_1


"Ya masa, anak bertanding nggak dilihat," ujae Khasya.


"Apa bunda lupa, dua tahun lalu ketika ayah beri semangat?" tanya pria itu meminta sang istri mengingat sebuah kejadian.


Putrinya didiskualifikasi gara-gara melempar lawannya hingga TKO dan dirawat di rumah sakit.


Khasya terkekeh. Ia mengingat hal itu. Putrinya terlalu semangat paa lagi jika Virgou yang datang. Gadis kecilnya itu akan menang tanpa ada yang mau melawannya.


"Dinar boleh ikut?"


"Ayo ikut semua!" ajak Herman.


"Dimas ... panggil adikmu Dewa!" titah pria itu.


Dimas langsung naik ke lantai dua, ia memanggil adik bungsunya itu. Dengan muka malas Dewa turun.


"Kenapa wajahmu?" tanya Herman gusar.


"Nggak ayah," jawab Dewa menormalkan ekspresinya.


"Kalau nggak mau ya sudah ... sana ... ayah mau ajak semua nanti makan di luar masalahnya," ucap Herman tenang.


"Ikut ayah ... ikut!" Dewa langsung memeluk ayahnya.


"Selesai jemput Dewi, kita jemput Mas Sat dan Mba Arimbi ya!" ujar Dimas.


Sedang di aula gelanggang olahraga. Dewi baru saja memenangkan pertandingan dengan nilai telak. Gadis kecil itu melaju ke final tanpa perlawanan yang berarti.


"Wasit, kami minta pertimbangan untuk Nak Athena Dewi Triatmodjo didiskualifikasi!" pinta pelatih lawan.


"Loh, kenapa. Dari tadi Nak Athena bermain dengan baik, bahkan banyak poin bagus didapat akibat pukulannya yang telak dan terarah, tidak ada pelanggaran sama sekali!" sahut wasit.


Pelatih terdiam. Memang kekuatan Dewi yang dikenal dengan nama Athena, tak melakukan pelanggaran. Pria itu menatap gadis kecil yang kini diberi arahan oleh pelatih. Masih ada satu teman Dewi bertanding seni silat.


"Gadis kecil itu bertubuh jauh lebih besar di banding dengan semua kawannya," gumam pria itu.


Memang Dewi sudah tiga belas tahun, gadis kecil itu mulai memperlihatkan bentuk tubuhnya, dari dada, pinggul dan bokong. Wajahnya imut dan cantik khas remaja masa puber.


Sepasang mata itu menatap tubuh Dewi seakan ingin melahapnya.


"Pak!" panggil salah satu anak latihnya.


"Eh ... ya!" pria itu menyeka bibir yang nyaris mengeluarkan liurnya.


Dewi senang melihat keluarganya datang. Ia langsung minta ijin pada pelatihnya agar bisa pulang.

__ADS_1


"Tentu saja. Jangan lupa besok sebelum tanding kita kumpul dulu di aula barat ya, jam delapan pagi!"


"Baik Pak!" sahut Dewi lalu mengambil tasnya.


Dimas langsung mengambil tas yang dibawa adiknya. Gadis itu langsung mengucap terima kasih.


"Athena ... selamat ya ... kamu lawan aku besok!" teriak salah satu lawan tandingnya.


"Sip, Linia!" sahut Dewi mengacung ibu jarinya.


"Yah, besok Dewi datang pukul 07.00 ya, biar bisa latihan sebentar," pinta gadis kecil itu.


Herman mengangguk, ia akan meminta Azizah menemani anak gadisnya. Besok sabtu, pasti Azizah tak keberatan. Sepasang mata berkilat penuh rencana. Ia mengangguk dan menyeringai sadis.


Darren bahagia ketika adiknya berkata jika lamaran ayah mertuanya diterima oleh ayah. Pria itu mengucap selamat pada Dominic, pernikahan itu akan membuat ikatan keluarga menjadi lebih kuat. Terlebih anak-anak angkat ayah yang perempuan diambil istri oleh para pengawalnya.


"Ayah orang baik, makanya hartanya tak pernah habis," kekeh Darren melihat betapa banyaknya nanti pernikahan diselenggarakan di halaman panti.


Malam datang. Dahlan yang sudah selesai dengan tugasnya hendak pulang ke asrama. Ia benar-benar kelelahan.


Pria itu turun dari mobilnya menuju minimarket terdekat. Ia cukup lapar dan ingin membeli roti atau apa saja yang bisa ia makan.


"Semuanya tiga belas ribu rupiah, pak," ujar penjaga kasir mencuri-curi pandang.


Dahlan memang pria matang dan tampan. Tubuhnya gagah walau rambut mulai memutih. Ia menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah pada kasir. Setelah menerima kembaliannya, Dahlan memutuskan pergi.


Entah kenapa pria itu memilih duduk di pos kosong, ia memakan makanan yang ia beli di sana berikut meminum air yang juga ia beli barusan. Sosok gadis berhijab tampak berlari dengan tas kresek yang ia pegang. Gadis itu langsung masuk ke pos dan bersembunyi di belakang tubuh Dahlan dengan menundukkan tubuhnya ke lantai yang dingin.


"Mba .. mba ... ada apa?" tanyanya gusar.


"Mas ... saya mohon mas ... tolong," pinta sang gadis dengan nada memohon.


Dahlan akhirnya berlaku biasa dan memakan rotinya lagi. Beberapa pria besar tampak mencari sosok yang mereka kejar. Napas ketiga pria itu terengah-engah.


"Sial, kemana dia!" umpat salah satu dari mereka.


Gadis itu mengintip dari balik tubuh Dahlan. Tiga pria menangkap wajah gadis itu.


"Itu dia!" teriak mereka.


Sang gadis tak pikir panjang, ia menarik tangan Dahlan dan ikut lari bersamanya.


bersambung.


Lah ... main geret aja?

__ADS_1


next?


__ADS_2