SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEDATANGAN BENALU 2


__ADS_3

"Adiba!" teriak Razak memanggil gadis kecil itu.


"Kak!" cicit Alim.


"Ada yang manggil Kak," ujar Lana.


Adiba terus melangkah, sedang Razak mulai kesal. Pria itu berlari mengejar anak perempuan yang ia yakin adalah keponakannya.


"Adiba!"


"Lari Dik!" pekik Adiba pada tujuh adiknya.


Ajis, Amran, Alim, Ahmad, Lana, Leno dan Lino lari kencang. Herman yang sudah memberikan uang pada salah satu pengurus keluar bersama Kean. Ia membelalak ketika melihat Adiba ditarik oleh pria yang mengaku pamannya sedang adiknya yang lain lari.


"Ayah ... tolongin Kak Adiba!" teriak Ajis.


Herman langsung berlari dan menghajar Razak. Pria yang mengaku paman itu langsung terjungkal. Ahid, Tohir dan Handi langsung menyerang Herman. Kean langsung menendang mereka bertiga dengan telak.


"Nak, menyingkirlah," pinta Herman pada Adiba yang shock.


Empat pria terjatuh dan langsung diringkus oleh para pengawal. Mendengar Herman berkelahi di panti membuat panti itu penuh dengan manusia. Virgou berang bukan main.


"Siapa tadi yang Ayah pukul?" tanya pria itu dengan kilatan mata sadis.


"Nak, sudah!" peringat Khasya.


"Kami hanya ingin mengambil enam keponakan kami!" teriak Handi berani.


"Adiba, jangan diam saja. Kau harus ikut paman!" lanjutnya.


"Nggak mau. Kalian sudah dapat apa yang kalian inginkan bukan?!" teriak Adiba.


Azizah yang baru sampai langsung meloncat dari dalam mobil sampai Darren berteriak pada gadis itu. Azizah yang murka langsung datang.


"Semuanya minggir!" teriak gadis itu.


Azizah merangsek ke depan satu tamparan melayang, sayang Virgou langsung menarik tubuh gadis itu dan memeluknya.


"Sudah sayang ... sudah!" ujarnya.


"Nggak mau Daddy, dia sudah merampas semua harta Amak dan Apak!" teriak Azizah.


"Harta itu bukan milik kalian!" teriak Razak.


"Lalu mau apa kalian datang ke sini berengsek!" maki Azizah berang.


"Kalian tak memiliki ikatan darah dengan kami!" lanjutnya.


"Aku pamanmu, seperti itukah balasanmu pada Paman yang menyayangimu Nak?" pekik Tohir.


"Sayang apa! Kalian mengusir kami dari rumah Apak dan tak peduli!" teriak Azizah.


"Aminah sakit waktu itu, aku sudah menghiba ... tapi kalian tetap mengusir kami!"


"Aku tidak pernah mengusir kalian. Kalian sendiri yang memilih pergi!" elak Handi.


Azizah mengeluarkan ponselnya. Ia membunyikan satu video ketika empat pria bersama istrinya mengusir Azizah dan enam adiknya dengan umpatan kata-kata kasar.


"Kalian!" berang Bart marah.


"Apa kita laporkan saja mereka ke polisi?" tanya David.

__ADS_1


"Tidak!" seru Virgou.


"Terra!" panggilnya.


"Ya Kak?" sahut wanita itu.


"Buang mereka ke tengah laut sana!" titahnya dengan seringai sadis.?


"Oke!" sahut Terra menyeringai begitu mengerikan.


"Lepaskan mereka!" titah Virgou.


Keempat pria itu dilepas. Budiman, Gomesh dan Dahlan menggiring keempatnya sampai keluar pagar.


"Kita laporkan ini ke polisi Bang!" ujar Tohir kesal.


"Ini kekerasan, kita minta visum biar mereka tak sembarang pukul orang!"


Keempatnya mendatangi kantor kepolisian terdekat. Mereka tidak tahu jika data diri mereka sudah terhapus.


"Pak, kami datang minta visum. Kami mendapatkan kekerasan di panti Kasih Bunda, Pak!' lapor Tohir.


"Maaf, bisa minta identitasnya?" pinta polisi yang bertugas.


Tohir menyerahkan KTPnya. Polisi mengetik nama pria itu. Sayang, data pemilik identitas tidak ada alias dihapus dari data masyarakat Indonesia.


"Wah, anda adalah manusia tanpa identitas!" seru polisi.


"Apa?" teriak keempat pria itu.


Tak lama dinas kependudukan datang bersama petugas menangkap kesempatan pria itu.


"Maaf Bapak-bapak semuanya. Anda adalah manusia tanpa identitas. Kami harus membuang kalian ke laut lepas. Sampai ada negara yang membuka suaka untuk kalian!" jelas petugas.


"Jangan ... kasihan istri-istri kami Pak!" teriak keempat pria itu.


Mereka dibawa ke sebuah pelabuhan kecil. Ke-empat pria itu dinaikkan di dua perahu dengan berbagai alat di dalamnya. Dengan motor speed boat kedua perahu ditarik ke tengah laut dan ditinggalkan begitu saja.


Keempat pria itu termenung. Mereka memegangi perahu agar berdekatan.


"Bang ... kita benar-benar dibuang ...."


Razak masih tak percaya, hingga ombak membawa kedua perahu itu makin ke tengah lautan lepas.


"Bang?"


Razak masih diam. Ketiganya termenung, andai mereka tak kemaruk dengan Azizah yang sukses. Ingin mengambil kembali sumber tambang emas dan mengetuknya hingga ke tulang sumsum.


"Bang ... ngomong kenapa jangan diam aja!" sentak Handi mengagetkan Razak.


"Kita benar-benar dibuang, karena keserakahan kita Dek," ujar Razak.


"Setidaknya jangan sampai kita berpisah. Berharap semoga ada negara yang membuka suaka untuk kita nanti," ujarnya lirih.


Kembali ke panti. Azizah menangis tersedu. Rion baru saja tiba dari luar kota, ia bersama Al memang masih begitu sibuk dengan proyek yang baru saja mereka menangkan.


"Sayang ... kau tak apa?" tanya Rion khawatir.


Pemuda itu langsung memeluk calon istrinya, walau semua hati begitu berat melihat romantisme itu. Semua hanya bisa pasrah, Azizah memang butuh pelukan dari Rion.


"Mas ... kita nikah sekarang yuk!" ajak gadis itu sambil tersedu.

__ADS_1


"Ke—kenapa?" Rion mendadak gugup diminta seperti itu.


"Azizah nggak mau adik-adik diambil oleh mereka Mas. Jika Azizah menikah, maka kekuatan hukum berpegang teguh pada Azizah," jelas gadis itu.


"Mau ya Mas, kita nikah sekarang ... huuuu ... hiks!"


Rion tau jika Azizah mengatakan itu karena panik dan penuh ketakutan. Ia memeluk sang gadis erat dan menenangkannya. Virgou menatap semua orang dewasa di sana.


"Sepertinya apa kata Azizah benar," ujarnya.


"Kita harus segera menikahkan mereka. Dengan begitu Azizah memiliki kekuatan hukum merawat semua adiknya!" lanjutnya.


"Terra?" panggilnya.


Wanita itu sudah menangis. Terra begitu berat melepas bayi besarnya menikah begitu cepat. Tapi apa kata Virgou barusan adalah benar. Walau Razak hanya kerabat jauh dari gadis itu, tetapi mereka memiliki kekuatan hukum karena telah berkeluarga terlebih mereka memiliki rumah walau kecil.


"Haidar?" panggil Virgou kini.


Pria empunya nama menghela napas berat. Ia mengangguk setuju, Bart juga ikut mengangguk. Satu tetes air bening jatuh di pelupuk mata pria sejuta pesona itu. Ia sendiri berat melepas bayi besar kesayangannya itu.


"Kalau begitu, menikahlah dengannya sekarang Rion!" perintah Virgou dengan nada tercekat.


Rion menatap ibunya, kakak yang membesarkannya, pemuda itu meminta persetujuan wanita itu.


"Ma?"


Terra menangis, ia mengelus kepala adiknya itu.


"Menikahlah Baby, kau harus melindungi Azizah," ujarnya dengan nada tercekat.


Rion menatap Darren. Kakak yang selalu menggendongnya kemanapun, kakak yang selalu menyembunyikan dirinya dan juga Lidya ketika Firsha marah dan menjadikan tubuh Darren sasaran pukulan wanita gila yang sekarang sudah mati itu.


"Kak?"


"Menikahlah Dik, Kakak merestuimu!" sahut Darren penuh ketegasan.


Azizah memakai kebaya putih milik Sari. Baju kebaya wisuda ketika menjadi dokter, wanita itu tengah mengandung delapan bulan. Kini ia merias Azizah dengan riasan sederhana.


Rion berhadapan dengan Herman sebagai wali. Pria itu menenangkan dirinya karena tak kuasa menangis.


"Ayah, jika tak kuat biar David saja yang jadi wali Azizah," ujar Khasya menenangkan.


"Tunggu dulu!" teriak Bram dari luar.


Semua menoleh, pria itu menarik Kanya. Mereka baru tau jika Rion cucu kesayangan mereka dinikahkan hari itu juga.


Sepasang suami istri lanjut usia itu duduk dengan napas terengah-engah. Sepuluh adik Azizah menangis haru. Terutama Adiba dan Ajis.


"Gio saja yang jadi wali dari Azizah," pinta Herman yang ternyata tidak kuat. "Wali harus yang bukan pertalian darah dengan Baby.".


Pria itu menangis karena dia menangis melihat bayi besarnya menangis. Rion menjabat tangan Gio. Ajis masih dibawah umur, ia tak bisa menjadi wali dari kakaknya sendiri.


"Saudara Rion Permana Hugrid Dougher Young, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya bernama Azizah Putri binti Sabeni almarhum dengan mas kawin uang seratus ribu rupiah dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawin Azizah Putri binti Sabeni almarhum dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


bersambung


Sah!


next?

__ADS_1


__ADS_2