SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
WELCOME BABIES


__ADS_3

Kelahiran tiga bayi membuat semua keluarga berkumpul. Dav meng-aqikah putrinya. Seratus anak yatim dihadirkan, enam adik Azizah dan juga Lana, Leno dan Lino ikut datang bersama anak-anak panti asuhan milik Khasya.


Sedang Gomesh akan mengadakan syukuran di rumahnya sendiri besok hari. Ia, istri dan ke empat anaknya datang meramaikan suasana.


"Assalamualaikum, dad," ucap Dav ketika Leon dan Frans meneleponnya.


Dua pria itu juga mengabarkan berita bahagia, istri-istri mereka juga tengah mengandung.


"Astaga ... keturunan Dougher Young akan bertambah!' gelak Bart.


Dominic menatap istrinya Dinar, mereka sudah setengah tahun menikah, namun tanda-tanda kehamilan belum tampak.


"Tidak apa-apa, terus berusaha!" sahut Demian pada ibunya.


"Iya, lagi pula, aku masih ingin bermesraan dengan istriku," celetuk Dominic yang membuat Dinar malu.


Aaliyah Rinjani Dougher Young sudah dicukur rambutnya. Bayi yang baru berumur seminggu itu terlelap di gendongan Dinar. Wanita itu bershalawat. Para perusuh kembali berbuat ulah.


"Sebentar!" Herman menghentikan pemberian bingkisan.


"Kalian ini!"


Herman memisahkan semua anak-anak untuk tidak ikut mengantri. Kean, Calvin, Sean, Arimbi, Satrio dan lain-lain langsung cemberut.


"Ayah ... sudah lama kita nggak dapat bingkisan!" rengek Kaila.


"Nak, ini khusus anak yatim piatu!" sahut Herman tegas.


"Berarti kami boleh dong?" sahut Lana.


"Kau punya ayah dan bunda," sahut Herman lagi.


"Kalau begitu kami ikut!" sahut enam adik Azizah.


Azizah belum datang. Ia ditugaskan Darren untuk menggantikan dirinya selama acara bayi berlangsung.


Akhirnya para anak yatim piatu dari panti sudah pulang dengan membawa bingkisan. Aminah tampak menguap lebar karena kekenyangan.


"Tata' ... peyut Mina puncit!"


"Baliana judha!"


"Alun judha!"


"Kalian emang gembul!" kekeh Kean mencium adik-adiknya.


"Adiba kok tadi nggak makan banyak?" tanya Arimbi pada Adiba.


Gadis usia mau dua belas tahun itu hanya duduk tak bergerak. Arimbi curiga. Ia mendekati gadis tanggung itu.


"Kenapa sayang?"


"Kak ... aku berdarah," bisiknya pelan.


"Apa?" Adiba menatap tak enak.


Gadis kecil itu sudah mendapat siklusnya. Ada genangan di sudut matanya, Adiba nyaris ingin menangis.


"Kamu sudah dapat bulan?' Adiba mengangguk.


"Ya, sudah yuk ikut Kakak," ajaknya.


"Takut," cicit Adiba.

__ADS_1


"Nai!" panggil Arimbi.


Nai mendatangai saudaranya. Arimbi berbisik, ia pun tersenyum lalu mengajak Adiba ke kamarnya.


"Tidak apa-apa, nanti Kakak ajarkan cara membersihkannya," ujar gadis itu.


Adiba berdiri, Nai melihat noda merah di gamis gadis tanggung itu. Ia pun menutupi dengan tubuhnya agar tak ada yang lihat, sementara Arimbi memeriksa sofa tempat Adiba duduk.


"Nggak tembus sampai sofa kok," gumamnya pelan sekali.


"Ata' Diba bawu pemana?" tanya Harun ingin tau.


"Udah ... anak kecil jangan pengen tau aja deh," sahut Arimbi.


"Arimbi!" tegur Rion.


"Kakak Diba lagi ikut sama Kak Nai ke kamar baby," ralat Arimbi.


"Apa susahnya menjelaskan?" sungut Rion tak suka.


"Maaf kak," cicit Arimbi


Sedang pada orang tua tengah mengobrol dan membiarkan anak-anak ditangani oleh Rion.


Selesai makan, semua disuruh tidur siang. Semua menurut, Darren tampak menelepon Azizah. Gadis itu selalu sigap dengan segalanya, hingga Darren merasa terbantukan. Rommy dan Aden akan pensiun sebentar lagi, Iskandar dan Jhenna masih setia bekerja di perusahaan tersebut.


"Jika sudah selesai dengan semuanya, kau bisa pulang cepat Zah!" ujar Darren sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kenapa kau tak membiarkannya libur Dar?" tanya Bart.


"Hari ini pihak Osaka ingin memperbarui kerjasamanya Grandpa," jawab Darren.


"Begitu?" Darren mengangguk.


"Enak sekali punya pekerja genius dan serba bisa seperti Azizah," sahut Virgou iri.


Terra terkekeh, memang putra dan putrinya semua genius, tetapi mereka terlalu manja dan masih bergantung pada orang tua. Padahal, jika pun mau, mereka semua bisa mandiri.


"kita terlalu memanjakannya, jadi jangan salahkan kalau mereka ya seperti itu," sahut Terra.


Semua mengangguk setuju. Tak lama sore menjelang. Azizah baru pulang, ternyata pihak Jepang masih ingin meminta kesediaan gadis itu menciptakan metode baru untuk mempermudah pengamanan data.


"Apa, jadi pihak Jepang ingin meminta metode baru?" Azizah mengangguk.


"Apa kau memberikannya?" tanya Terra khawatir.


"Tidak Nyonya, saya tentu mengerti maksud mereka," jawab Azizah.


Terra dan lainnya bernapas lega. Gadis itu membawa tiga bingkisan untuk para bayi. satu set pakaian hangat yang lucu dengan topi singa untuk Fael, Kelinci untuk Angel dan Aaliyah.


"Terima kasih sayang," ujar Seruni dan Maria bersamaan.


Azizah mengangguk, Arimbi mendekati kakak dari Adiba lalu berbisik.


"Benarkah?" tanya Azizah semringah.


Arimbi mengangguk membenarkan. Adiba diberi pelukan dan nasihat oleh kakaknya itu. Gadis itu mengangguk tanda mengerti.


"Memang ada apa sih sampai bisik-bisik gitu?" tanya Virgou penasaran.


"Adiba mendapat siklus pertama Dad," jawab Arimbi pelan.


"Oh ... kirain apa," sahut pria itu.

__ADS_1


"Adiba malu, jadi kami harus berbisik, untuk menghormati dirinya," jelas Arimbi lagi.


Virgou mengecup pucuk kepala salah satu putrinya itu. Arimbi bergayut manja padanya.


"Dad, Rimbi boleh bawa mobil sendiri ya," pintanya merayu.


"Tidak!" sahut Virgou, Terra dan Seruni berbarengan.


"Mama, Mami, Daddy!' rengeknya.


"Apa kau tidak kapok dengan kejadian Dewi waktu itu?" tanya Seruni gusar.


"Tidak ... mami nggak mau ada kejadian yang seperti itu!" tekan wanita itu.


"Ada apa?" tanya Bart yang tadi ngobrol dengan Darren dan Demian.


"Ini loh Pi, masa Baby mau nyetir sendiri!" adu Seruni.


"Baby?" peringat David.


"Ayolah Papi, Arimbi sudah besar!"


"No!" tolak semua ayah dan ibu.


"Nurut ya baby, please ... Lihat itu Kak Rion, dia juga nggak dikasih untuk nyetir sendiri kan?"


"Jangankan baby, Darren saja Mama masih larang!" sahut Terra sengit.


Arimbi menunduk. Padahal ide itu tercetus dari pikiran Nai. Dua gadis itu ingin sekali bisa menyetir mobil dan pergi jalan-jalan berdua.


"Apa sih ni?" tanya Haidar.


"Iya ... iya ... Arimbi nurut!" potong gadis itu sebelum ia dikenai omelan lagi.


'Baby ... kami begini ini karena terlalu menyayangimu!" tekan Virgou agar Arimbi mengerti.


"Iya Daddy, padahal ini idenya Nai loh!" ujarnya tak mau disalahkan sendirian.


"Nai!"


Gadis itu cemberut datang pada semua orang tuanya.


"Kami paham, kalian ingin bebas seperti gadis seumuran kalian," ujar Terra. "Tapi masalahnya kalian adalah keturunan, Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight!"


"Musuh kalian banyak, terlebih kalian memiliki rumah sakit, bayangkan penjahat di sana pasti mengincar kalian!" lanjutnya.


"Iya ma ... maaf," ujar keduanya.


"Ya sudah ... begini saja, jika kalian ingin pergi ke mall dan nonton, bisa ajak salah satu dari kami," putus Haidar.


"Nanti semua ikut," sahut Nai.


"Maaf baby, saudara kalian banyak, jadi terima oteh!"


"Oteh!"


Kini tiga bayi menjadi pusat perhatian semua orang. Angel digendong oleh Azizah.


"Baby, namanya siapa?"


"Baby Benjel ... ata' Zah!" jawab Harun tegas.


bersambung.

__ADS_1


Lah ... kan jadi beda namanya 🤣😭


next?


__ADS_2