SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
bab 20 Semoga Mereka Semua Kena Karmanya


__ADS_3

yang gila harta, termasuk Mira dan teman – temannya itu, Elin adalah dalang dari semua ini, bukan hanya Elin, tapi juga vania”, kata Indah bercerita panjang lebar.


“Orang – orang, mengira apa yang di sebarkan oleh akun fans lovers, Irfan itu adalah suruhan dari Irfan dan mama Vinda, karena mereka mengatas namakan Irfan dan mama Vinda, untuk menyuruh memposting berita yang kurang enak dari Irfan, untuk memposting juga saat Irfan sedang berbagi dengan orang di jalan, padahal itu bukan sama sekali dari Irfan, saya tahu hal itu, kecuali memang yang memposting itu adalah dari akun pribadi Irfan sendiri, dan saya sendiri di antara ini semua, saya sudah menjadi budak mereka, dan boneka mereka, Mbak Rianti mau bawa pengcara atas masalah keluarga Mbak Rianti, yang melibatkan juga Om mbak, dan Irfan juga, fans Irfan, silahkan, justru saya bisa jadi saksi, di sisi masalah fans lovers itu, biar semua oknum yang bersangkutan karena karmanya”, nada suara Indah terdengar dia sangat emosi, dan kemudian dia menangis, tapi entah kenapa, aku punya perasaan, aku tidak mudah percaya begitu saja, dengan sikapnya di depanku, bisa saja hanya acting !.


“Indah kamu benar – benar mengaku jujur di depan aku, apa karena kamu cuma acting karena sekarang di depan kamu juga ada Irfan”, ? tanyaku tegas, Irfan menggosok pundakku, dan dia menimpali kata – kataku.


“Kalau pengakuan kamu ini benar, saya rekam sekarang dan nanti saya mau kasih ke pengacara”, timpal Irfan.


“Yah Irfan paham sendiri kan, juga keadaan secara pribadi aku seperti apa”, sahut Indah.


“saya paham Indah, kamu orang yang butuh uang, untuk mengurus anak kamu, dan ibu karena kamu enggak punya suami dan papa kamu juga sudah tiada, dan saya paham kamu seperti apa, bukan yang seperti lainnya, sebenarnya saya juga paham, kalau kamu di antara mereka hanya di jadikan boneka saja, demi keuntungan ego pribadi”, kata Irfan kemudian.


“Kalau kamu tahu itu Irfan, silahkan rekam suaraku, aku enggak akan melakukan apa – apa, bahkan kalau sampai diri saya terlibat masuk penjara juga, saya enggak masalah”, nada suara Indah berubah menjadi orang tegas, daripada sebelumnya.


“Oke kalau begitu”, aku juga menyahut lebih tegas daripada Indah, dan aku yang merekam pembicaraan Indah dengan kami berdua.


“Kamu siap ketemu dengan pengacara Irfan suatu saat nanti”, ? tanyaku lagi, dia menganggukan kepala, dan setelah itu, aku dan Irfan, tidak lama – lama berada di situ, sekitar jam setengah 9 kurang, kami sudah meninggalkan rumah Indah, dan meneruskan perjalanan ke arah kantor Notaris untuk bertemu Notaris Tio, teryata pada saat di sana, Tio juga sudah siap untuk bersama – sama meminta tanda tangan mamaku, dia akan ke rumahku, akhirnya perjalanan di teruskan menuju pulang ke rumah.


Dan ketika sudah tiba di rumah, aku dan Notaris Tio, langsung masuk ke dalam kamar mama dan papa, untuk meminta tanda tangan tersebut, dan ketika mamaku, mulai baru saja memberikan tanda – tangan, aku sudah menduganya Om Hasan, sudah tahu dari awal, rencana kami semua, untuk menjual tanah kami di Depok, dia masuk dengan brutal ke dalam rumah, bahkan membawa Desi sepupuku juga, dan di sana ada musuh besarku juga yang dari awal rasanya aku ingin balas semua perbuatannya karena dia membuat mamaku jadi stroke yaitu Tania.


“Prakkkkkkk”


Satu tanganku, sudah langsung menampar wajah Tania, sedangkan Om Hasan marah – marah dengan perbuatanku, bahkan ingin memukulku juga, tapi Irfan langsung mencegahnya, dia bertindak seperti orang gila berteriak – teriak, dan berusaha mengambil sertifikat rumah, dia mencomotnya dari tangan mama, tapi aku langsung mendorong Om Hasan.


“SAYA AKAN LAPOR POLISIIIIIIIIII, KALAU KALIAN MELAKUKAN KEKERASANNNNNNNNN DI SINI”, !!! bentak Notaris Tio, dan di saat semua lengah, rupanya, diam – diam Desi berhasil mengambil sertifikat rumah, yang belum terjual dan di simpan di lemari baju, kemudian memberikannya kepada Om Hasan, aku menjerit, menangis, melihat apa yang mereka lakukan semua padaku, benar – benar keluarga biadap, iblis, yang di cari bukanlah kasih dan sayang, serta berbuat kebaikan tetapi harta dan materi.


Awalnya memang Om Hasan, memaksa aku, menyerahkan sertifikat tanah yang di jual kepada Irfan, namun tidak berhasil dan Irfan malah sudah berhasil di beli oleh Irfan, tapi sertifikat yang di curi oleh Om Hasan, sekarang sudah di rumah Om Hasan, dan itu adalah sertifikat rumah yang ada di Tangerang Selatan.


Dengan adanya masalah ini semua, karena pada akhirnya, aku sudah punya uang untuk membayar pengacara perantara Irfan yang bernama Rendy, hari ini, jam 12 siang, aku dan Irfan bertemu Pengacara Rendy untuk menceritakan masalah ini semua, di restoran KFC di Mall Kota Kasablanka.


Aku dan Irfan duduk bersebelahan, sedangkan dia duduk di kursi yang menghadap ke arah aku dan Irfan.


“Kalau saya dengar dari cerita Irfan, bahkan di satukan dengan masalah di luar masalah keluarga Rianti, juga Om Hasan, itu fans lovers Irfan itu adalah orang – orang yang cari untung saja, karena ingin harta, ingin uang, dan orang yang tergila – gila dengan paras orang lain, karena obsesi, makanya mereka melakukan hal itu, tapi intinya masalah Om Hasan mengambil sertifikat di Tangerang Selatan, kami sedang berusaha untuk ke BPN dan memblokir sertifikat itu di BPN”, kata pengacara Rendy.


Aku mendengarkan, apa yang di katakannya, dan kemudian, aku mengangguk lalu menengok ke arah Irfan.


“Kalau begitu, apa saya sementara di rumah Rianti dulu satu, karena di sana juga, sudah ada Mbak Atin yang jadi ikut terbawa di teror juga, paling enggak, pada saat mereka kerumah dan berusaha untuk meneror, ada saksi yang berpihak pada Rianti, untuk melihat kejadian itu semua, dan merekam aktivitas mereka, selama di rumah”, kata Irfan.


“Kalau menurut saya sebenarnya yang jadi dalang ini semua awalnya memang Tania, saya diam – diam sadap media social semua, milik Tania, dan terlihat pembicaraan pribadi dia dengan siapa saja, dan memang, yang membuat kuat Mira, Elin dan fans Irfan itu, adalah Tania yang emang kenal dekat dengan mereka, bahkan kenal juga, dengan penonton bayaran yang sengaja di bayar, buat merusak acara Irfan, di sini juga, Tania membuat gossip tentang artis lainnya, dia bilang manager Widi Arianti, managernya Alisa, adalah orang yang sombong dan menyebarkan ke semua, bahkan dia memutar balikkan fakta permusuhannya dengan teman satu profesinya dulu yang namanya Riri”, kata pengacara Rendy.

__ADS_1


“Dia bilang Riri itu, membully dia, padahal faktanya justru sebaliknya, dan dia ngomong hal itu di belakang Riri ke semua orang di media social, sudah Tania sendiri adalah orang seperti apa, dan yang menjadikannya kuat adalah uang, dan uang itu dari Mama Eci, Mama Tania, dan uang itu dari mana, mama Eci, pernah melakukan penipuan di acara Jumpa Fans Tania dan melakukan kecurangan juga di sana, sebenarnya itu juga yang membuat nama Tania jatuh sebagai artis, karena mereka akhirnya menjadi orang yang di benci, dan yang sebenarnya orang di benci, banyak hattersnya adalah Tania”, kata pengacara Rendy.


“Jadi karena ini semua, Tania ingin berebut harta dengan keluarga lainnya saya”, kataku kemudian.


“Mira dari pihak fans lovers Irfan, juga mengambil keuntungan dari sini, karena dari sini Tania nulis, nanti kalau sertifikat rumah Rianti bisa di gadaikan, kamu juga akan dapat uang dari sana, bahkan dia sendiri juga bisa dapat uang lebih dari penipuan dan kecurangan di luar masalah keluarga Rianti, yaitu melakukan kecurangan di acara jumpa fans Irfan”, kata pengacara Rendy.


Aku mendengarkan sambil menyuap makananku, begitu juga Irfan, dan ketika sudah selesai mengobrol dengan pengacara Rendy, aku meneruskan pembahasan tersebut di mobil bersama Irfan mengenai tanah yang sekarang ini sudah di beli oleh Irfan secara prosedur yang benar, dan sudah balik nama Irfan.


“Untungnya tanah di Depok sudah kamu beli”, kataku.


“Dan kamu bisa menang di situ, karena Om Hasan enggak akan bisa mau ambil sertifikat itu, karena sertifikatnya sudah di aku, dan sudah nama aku, malah aku bisa serang dia untuk di penjarakan”, timpal Irfan.


“Makasih yah Irfan”, kataku.


“Kamu udah selamatkan apa yang harus aku pertahankan itu dari Om Hasan dan lainnya dengan kamu beli tanah aku di Depok”, kataku kemudian.


Baru saja selesai bertemu dengan pengacara Rendy, Irfan aku dengar mendapat telepon lagi dari orang lokasi syuting sinetron.


“Jadi gimana Mas Radit”, ? tanya Irfan, dan suara Radit terdengar dari Hp Irfan, apa yang di katakan Radit kepada Irfan.


“Yah sore ini kita lanjut syuting sinetron episodenya yang sinetron laga”, kata Radit.


“Jadi sekarang kita langsung ke lokasi syuting aja yah, aku juga mau bahas mengenai, apa yang tadi kita omongin, dengan pengacara Rendy”, kataku.


“Ini namanya sudah kasus, juga kekerasan, karena Om Hasan, sudah mulai melakukan kekerasan untuk pemaksaan dengan apa yang dia mau, begitu juga yang lain, bahkan yang lainnya juga ambil untung dari ini semua”, kataku.


“Insya Allah, kalau emang ada perubahan sedikit dari mama, dan kemajuan, semua enggak akan seperti ini, kemajuan mama baru sampai di situ saja, belum benar – benar bisa jalan”, kataku lagi.


Keresahan dalam diri aku, di lihat oleh Irfan, dan entah kenapa, dia seperti ada sesuatu dari penglihatannya yang ingin di sampaikannya kepadaku.


“Untung saja yang di Depok aku yang beli”, Irfan memulai kata – kata pertamanya.


“Kalau yang lain, terus – terang, bahkan rumah yang di Jakarta Selatan yang sekarang kamu tempati itu, juga banyak yang minat mau beli, kalau kamu jual dan pindah rumah, rumah itu bisa laku 9 milyar, apalagi yang rumah kamu di Depok yang komplek Mawar II itu, dan yang jaraknya agak dekat dengan tanah kamu itu yang aku beli, terus – terang, keluarga kamu itu mau menghalangi semua rezeki kamu, termasuk jodoh kamu Rianti, karena itu, mereka mengatur hidup kamu dengan memaksa, kalau sudah mereka tahu, kamu punya hubungan dengan orang lain, dan yang orang itu bagi pandangan mereka, akan membongkar aib mereka ke luar”, kata Irfan panjang lebar.


“Aku punya firasat hal itu pemicu mereka mau pecah belah hubungan baik kita, takut aku bongkar semua aibnya, dan si dalang Tania, takut ketahuan dia orang yang membuat scenario ini semua dari awal”, Irfan melanjutkan kata – katanya, dan aku hanya diam, tidak bergeming, sampai akhirnya mobil yang mengantar ke lokasi syuting, berhenti di halaman parkir, tidak jauh dari tempat kami berdua akan syuting sinetron itu.


Aku turun lebih dulu, dan Irfan menyusul, kediamanku, adalah sebuah perasaan aku yang galau, mendengar pernyataan dari Irfan itu, aku duduk di kursi yang kosong, tempat sutradara duduk di sana, dan kebetulan dia sedang tidak di kursinya, sedangkan Irfan berdiri di sebelahku, memerhatikan aku dengan mata yang sangat mengerti apa yang aku rasakan.


“Aku ngomong gitu, biar kita sama – sama untuk hadapinya”, kata Irfan.

__ADS_1


“Tania jadi dalang, dan orang yang mengawali scenario semua cerita ini, karena dia orang artis yang gagal, artis yang mau pansos, dan sombong, bahkan menjunjung tinggi harta, bukan Allah, aku tahu, sebenarnya waktu dia di terima audisi, mamanya itu main dukun, biar anaknya di terima audisi jadi penyanyi, itu yang aku lihat dari mata batin aku”, kata Irfan.


“Aku baru tahu soal itu”, kataku akhirnya menyahut ucapan Irfan dengan singkat.


“Dan secara kebetulan memang keluarga yang lain juga mau hartanya mama kamu, termasuk Om Hasan, dan Om Hasan itu sendiri, sering main dukun, yah intinya mereka semua, mau menutup rezeki apapun dari keluarga kamu itu, termasuk jodoh dan hubungan dengan orang lain, agar enggak ada penghalang dengan niat mereka semua”, Irfan menjelaskan panjang lebar.


“Aku tahu, kamu bela banget aku di saat ada netizen yang ngatain itu, pikiran kamu, adalah karena membela aku karena menganggap aku, seperti keluarga dan saudara sendiri, bahkan sahabat kamu, yang kamu pikirkan juga, karena apa yang sudah kamu temukan, enggak akan mungkin bisa di dapatkan lagi, dan aku tahu alasannya apa”, kata Irfan.


“Yah emang itu benar, duniaku yang lain enggak peduli sama aku kecuali harta, teman – teman aku, waktu kuliah cuma anggap aku angin, seolah aku enggak pernah ada, dan mereka datang kalau ada perlu dan maunya saja, keluargaku yang di cari terhadap aku, adalah harta, bukan mau memeluk aku dengan kasih dan sayang”, air mataku menetes sedikit saat mengatakan hal tersebut.


“Aku merasa sendiri, dan orang yang mau menemani aku susah, bahkan sama – sama susah itu kamu Fan”, kataku singkat.


Kami akhirnya mulai untuk syuting kembali, dan pada saat break, aku mendapat telepon dari Mbak Atin dan rasanya ini adalah telepon penting aku langsung mengangkatnya.


“Iyah Mbak Atin kenapa”, ? tanyaku, karena mendengar suara Mbak Atin seperti orang yang ketakutan.


“Tadi Pak Hasan sepertinya ke sini, dia gedor – gedor rumah, karena di gembok dan enggak tahu abis itu kemana, saya takut Mbak”, kata Mbak Atin.


“Iyah nanti saya ngomong sama Irfan”, kataku mengakhiri teleponnya.


Pada saat break syuting, aku langsung mengajak Irfan ke Starbucks Coffee, dengan tidak sabar, dan ketika di sananya, rasnaya aku ingin menumpahkan semuanya dengan menangis, di depan Irfan, dan Irfan menenangkan aku.


“Mudah – mudahan kita bisa ketemu jalan keluarnya, katanya Mbak Atin mama di rumah juga udah lagi stress untuk di tenangin sama papa, dan mudah – mudahan keduanya panjang umur dan sembuh sama penyakitnya, agar semua bisa normal kembali, aku merasa tertekan dengan keadaan ini semua Fan”, kataku panjang lebar.


“Aku merasa hidupku, sudah berubah, menjadi seseorang yang di penuhi dengan isi kepala yang stress, aku merasa hidup aku sudah enggak normal, dan aku bisa jadi gila karena ini semua, kalau enggak ada berhentinya, apa yang mereka cari dari aku, sampai harus nyakitin aku sampai sebegininya, mereka enggak peduli, masalah aku butuh uang, untuk hidup, mereka seenaknya ambil uang aku di ATM, dan itu yang di lakukan Om Hasan, bahkan kadang maksa minta duit di tas aku, ini namanya maling, mereka emang enggak peduli dengan keadaan kemanusiaan terhadap seseorang, karena gila harta, aku sudah benci banget sama keluargaku sendiri, aku enggak punya keluarga lebih baik daripada aku harus sakit hati terus begini, aku Cuma butuh kasih dan sayang”, air mataku menetes terus, dan Irfan mengenggam tanganku.


“Irfan, aku juga doakan, agar kamu sendiri tetap dalam keadaan baik – baik saja, dan sehat – sehat terus, dan terus di berikan juga umur yang terus panjang sama Allah, silaturahmi kita terus juga sampai tua, dan sekarang kita sama – sama tahu, kan sebuah alasan, dan penyebab, aku berpangku tangan, sama kamu, selama ini, karena enggak ada yang lain perhatian sama keadaan aku, selain kamu, teman – teman aku kuliah, kayak najis, aku lagi sakit dan stress, karena ada masalah mereka malah cuek, mereka hanya menganggap teman aku di saat senang, bukan susah, bahkan mereka menghubungi aku kalau ada perlu dan maunya, kalau aku butuh mereka, enggak pernah mereka tanggapi, seperti kamu ke aku, dan aku sudah benci dengan orang di sekitar aku semua kecuali kamu Irfan, aku percaya kamu, di banding lainnya, apapun kata mereka yang mau menjauhkan kita berdua, dan menghasut agar kita saling benci, jangan pernah kita goyah yah Fan”, kataku panjang lebar dan kemudian, menarik nafas dalam, aku menangis lagi mengenggam tangan Irfan dengan kuat.


“Rianti aku tetap sama kamu, apapun keadaannya, dan hal itu aku lakukan selama kamu juga masih percaya sama aku sebagai sahabat aku, cuma kamu juga yang enggak mandang aku karena ada apa – apanya, aku juga udah terlalu sakit dengan fans lovers yang sama gila hartanya, dan sebenarnya kadang aku pun juga merasa menyesal dengan pilihan hidup, aku mau jadi artis, ketika sudah terwujud, aku malah masuk perangkap buaya dengan fans loversku sendiri, tetapi sesuatu yang sudah di jalankan, dan terlanjur berjalan, enggak mungkin bisa berubah, dan aku percaya hikmahnya sebenarnya, hidup itu adalah di jalani saja, dan berserah kepada Allah, aku enggak peduli, apa kata orang, netizen, atau apapun itu yang termakan omongan orang yang salah, yang sebenarnya, mencari untung dari diri aku, bahkan memanfaatkan mereka, yang emang adalah orang – orang enggak begitu kenal aku, tapi apapun itu aku hadapi, yang tahu seperti apa hanya aku dan Allah, dan mereka yang enggak tahu, akan tahu sendiri, ketika Allah memperlihatkan siapa yang salah dan benar, netizen bukan orang yang salah tapi hanya orang yang enggak tahu, fans lovers aku seperti apa, dan mereka mencari untung dari ini semua, mereka enggak tahu, aku seperti boneka di manfaatkan di peralat, karena ketenaran aku”, kata Irfan panjang lebar.


“Mereka orang – orang yang mengangungkan manusia bukan Allah itu masalahnya, tapi dari sini kamu bisa ambil pelajarannya, berjalan saja, di jalan atas nama Allah, rezeki dan apapun itu datangnya juga dari Allah”, kataku memberikan nasehat oada Irfan, dan dia pun menganggukan kepala.


Baru saja selesai mengobrol, aku sudah mendapat telepon dari Mbak Atin dan dia menceritakan semua apa yang di alaminya di dalam rumah.


“Halo asalamualaikum”, sapa Mbak Atin.


“Walaikumsalam”, balasku.


“Pak Hasan, itu gedor – gedor rumah lagi kedengarannya”, adu Mbak Atin dengam suara panic, aku langsung dengan cepat mengakhiri telepon, dan mengajak bicara Irfan yang sedang berada di sebelahku.

__ADS_1


“Jadi ini gimana, Om Hasan semakin meneror”, ? tanyaku dengan suara pelan.


__ADS_2