
Rion tengah berjalan bersama dua adiknya, Sean dan Al. Dua remaja tampan yang kini beranjak menjadi pemuda.
Pesona ketiganya membuat semua karyawati pusing kepala. Terlebih, wajah imut Al dan Sean yang serupa.
"Astaga ... indah banget ciptaan-Mu Tuhan!" puji salah satu gadis yang menatap tiga laki-laki itu.
Empat pengawal yang tak kalah tampan juga menjadi sorotan. Langit tak bisa melepas Rion untuk ia jaga. Pria itu sudah nyaman menjadi pengawal kakak ipar yang mestinya paman dari sang istri, Nai.
Langit, Ricky, Dewo dan Hendro. Jika Langit dan Dewo mengurai beberapa karyawan yang hendak mendekat. Sedang Ricky dan Hendro bertugas mengamankan tiga atasannya.
"Kita ke Papa ya Papa Baby," ajak Sean.
"Oteh Baby," sahut Rion.
Ketujuh pria tampan itu naik mobil ke tempat Haidar. Jarak hanya satu kilometer saja, sepuluh menit mereka sudah sampai di perusahaan sang ayah. Haidar baru turun bersama Bobby. Asisten yang setia mengikutinya kemanapun. Setelah mendidik Rion, pria itu kembali bersama Haidar. Al menjadi asisten sang kakak penutannya merangkap wakil CEO bersama Sean.
"Papa pulang!" ajak Sean.
"Ayo sayang!" sahut Haidar.
Hari memang sudah beranjak sore. Bobby pulang dijemput istri dan putrinya. Mereka melambaikan tangan. Seperti biasa bayi jika bertemu Rion tak mau lepas. Seperti Vania bayi milik Bobby dan Sista.
"Eundat mawu!" pekik bayi cantik berusia satu tahun itu menolak keras diambil sang ibu.
"Baby, nanti Papa belikan boneka beruang besar warna pink loh!" rayu Bobby.
Akhirnya, bayi cantik itu mau ikut setelah mendengar janji sang ayah. Rion mencibir Bobby.
"Cis ... bisanya nyogok!"
Siska tersenyum, tapi memang seperti itu jika harus menjauhkan sang putri dari magnet Rion.
Mereka pun pulang ke rumah. Rion tak perlu menjemput istrinya karena Darren pasti bersama perempuan hamil itu. Sedang Saf akan pulang bersama adik iparnya, Arimbi.
Sampai rumah Terra. Barulah mereka menjemput anak dan pasangan mereka masing-masing. Rumah besar itu kembali sepi. Arraya dan Arion ikut Rion dan menginap di sana bersama perusuh lainnya.
"Rumah kita sepi sayang," keluh Terra pada suaminya.
Haidar mengangguk. Al, Sean dan Daud sudah pergi ke kamarnya masing-masing. Nai tentu pulang bersama suami dan ayah juga ibu mertuanya. Andoro belum memiliki tempat tinggal.
"Mas ... jalan-jalan yuk!" ajak Terra.
"Aku cape sayang!" sahut Haidar lemah.
Terra berdecak, ia ingin sekali keluar rumah. Wanita itu merasa bosan. Haidar memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
"Mas aku ke mini market sebentar ya. Mau beli pembalut!" teriak wanita berusia mau tiga puluh delapan tahun itu.
__ADS_1
"Iya sayang!" pekik Haidar menjawab dari kamar mandi.
Terra tersenyum senang. Ia sudah memakai celana plus jaket bahan jeans belel. Mengambil tas selempang berisi dompet dan uang tunai serta kartu debit. Ponsel juga masuk dalam tas warna hitam itu.
Terra ke garasi, beberapa pengawal menghadangnya. Wanita itu melotot tajam.
"Kupecat kalian kalau berani mengacau!" ancam Terra tak main-main.
"Nona, kami akan dimarahi Tuan Herman!" ujar Fio tentu dengan tatapan memelas.
"Ih ... jangan kasih tau lah!" sengit Terra.
Wanita itu menaiki kuda besi milik menantunya, Safitri. Motor bernama Joger itu sudah dihibahkan. Terra memasang helm lalu menyalakan mesin motor dan melaju menuju gerbang.
"Kita ikuti!" ajak Fio.
Empat pengawal naik dua motor berbeda. Mereka mengikuti Terra yang sudah memacu kecepatan motornya.
Kebut-kebutan terjadi. Terra benar-benar ahli walau telah lama tak mengendarai kuda besi itu.
Haidar yang baru keluar dari kamar mandi merasa tidak enak. Pria itu melihat baju tidur istrinya yang tergeletak di kursi begitu saja.
"Dia tadi pake apa?" tanyanya gusar.
Pria itu memeriksa lemari sang istri. Pakaian Terra memang tidak seperti pakaian para istri konglomerat yang harus memenuhi satu ruangan.
"Astaga dia mau jadi preman!" pekik Haidar kesal bukan main.
Haidar langsung menelepon sosok yang pasti membuat istrinya menurut.
"Assalamualaikum Ayah!"
Sementara di jalanan. Terra berhasil menyelip di antara mobil-mobil untuk menghindari kejaran para pengawalnya.
"Ck ... menyusahkan!" gerutunya kesal.
Lampu warna merah dengan hitungan detik 57. Motor dua pengawal sudah berada dekat di belakang motor Terra.
Wanita itu melihatnya di kaca spion. Tubuhnya langsung membungkuk, memposisikan diri sebagai pembalap profesional. Gas mulai digeber olehnya. Fio dan lainnya sangat tau jika sasaran mereka akan melarikan diri lagi. Fio mencari celah. Pria itu tidak bisa menyalip pada kendaraan yang mepet, itu sangat beresiko tinggi.
"Siap!" seru Terra pada diri sendiri.
Lampu berwarna hijau dengan detik dua puluh. Kuda besi warna hitam itu melesat kencang. Fio ikut menggeber gasnya dalam-dalam begitu juga salah satu rekannya.
Kebut-kebutan terjadi kembali. Terra ada di jalan protokol yang dilewati banyak kendaraan, hari mulai petang. Tentu kendaraan makin padat karena Maghrib akan datang.
"Eh!" Terra menekan remnya cepat ketika sebuah mobil melintas di depannya dan berhenti mendadak.
__ADS_1
"Brengsek!" maki Terra.
Wanita itu melotot ketika melihat siapa yang berani menjegal laju kendaraannya. Virgou turun dari mobil bersamaan dengan Herman. Terra menelan saliva kasar.
"Turun!" titah Herman.
"Ayah ...."
"Turun!" bentak Herman lagi.
Terra turun, dua pengawal pun langsung berhenti dan mengurai kemacetan yang dibuat Virgou. Gomesh membantu di sana.
"Helm!" pinta Herman dengan muka galak.
Terra mencopot pelindung kepala berwarna oranye dengan gambar Sinchan itu. Helm itu juga milik Saf ketika masih gadis.
Helm berada di tangan Herman. Virgou menggandeng adik sepupunya yang bandel itu ke mobil.
Herman melihat situasi. Dengan cepat ia memakai helm nyentrik tersebut dan menaiki motor besar milik Saf. Hanya sekejap, kuda itu pun melesat diiringi teriakan Virgou.
"Ayah!"
Kejar-kejaran kembali terjadi. Kali ini Herman adalah buruan mereka. Satu kota dibuat sibuk oleh aksi keluarga kaya raya itu. Bahkan kelakuan mereka masuk dalam siaran televisi.
Herman pulang ke rumah Terra dengan kuda besi milik Saf. Pria itu berhasil lolos dari kejaran. Semua orang sudah memenuhi hunian itu dan menunggu dalam keadaan cemas.
"Astagfirullah Ayah!" teriak Khasya ketika Herman melepas pelindung kepala yang tidak dikaitkan sama sekali.
Tak lama berselang Virgou sampai bersama Terra. Pria sejuta pesona itu ngambek dengan paman dari Terra itu.
"Sayang," Herman membujuk Virgou yang membuang muka.
"Hais ... Ayah juga mau bersenang-senang," ujar pria tua itu.
"Ayah nggak ajak aku!" sahut Virgou sambil manyun.
'Sayang," Herman memeluk pria sejuta pesona itu dengan gemas.
Terdengar rengekan manja dari pria yang ditakuti semua orang itu.
"Kupukul kau anak sialan!" teriak Bart cemburu.
"Grandpa!" teriak Terra kesal.
Bersambung.
Et dah ... 😁🤦
__ADS_1
next?