
Keluarga konglomerat itu bersantai di halaman belakang mansion Bram. Menyambut mentari pagi yang bersinar cerah.
"Uyut, punggungnya dihadapkan matahari. Itu akan membakar kolesterol," ujar Daud memberitahu.
"Buka baju aja Dad," Herman membantu Bart membuka bajunya.
Pria gaek itu membelakangi matahari. Peluh bercucuran, sementara para pria lain memilih untuk berlari kecil di halaman luas itu.
"Duh, udah lama nggak latihan ya!" keluh Demian.
"Mana makanan pada enak semua lagi!" lanjutnya.
"Perutmu buncit Jac!" ledeknya pada bawahannya itu.
"Anda juga Tuan," balas Jac malas.
Demian cemberut, ia meraba perutnya yang sudah hilang beberapa kotak ototnya.
"Kau tetap seksi sayang," ujar Lidya yang tiba-tiba mengecup perut suaminya itu.
"Sayang!" tegur Demian dengan suara serak.
Lidya terkekeh, ia mengelus perutnya yang berisi. Ada satu bayi di sana, Demian membalas mencium perut istrinya.
"Sehat ya Baby,"
"Aamiin Papa," sahut Lidya meniru suara anak-anak.
"Apah ... Apah!" teriak Fael.
Bayi itu merangkak cepat di rumput. Para bodyguard harus bersiap di pinggir kolam renang. Arsh ikutan berlari sambil membawa sutil penggorengan.
"Haaaah!" bayi tampan itu melempar benda ke dalam kolam.
Tapi gerakan Vio yang cepat menangkap benda itu agar tak jatuh ke dasar. Hal itu membuat bayi galak itu marah.
"Bom Bio!"
Arsh menerjang kuat Vio, tentu tenaga bayi bukan tandingan pria tampan itu. Vio langsung mengangkat Arsh tinggi-tinggi hingga membuatnya berteriak lalu tergelak.
"Ael au!" pekik Fael yang juga ingin diangkat.
Heru pun dengan senang hati mengangkat bayi tampan itu. Semua bayi merangkak. Para bodyguard kualahan.
Rafael Max Diablo, Terecia Angelica Diablo, Aliyah Rinjani Dougher Young, Muhammad Izzat Hugrid Dougher Young, lahir hanya beda bulan saja. Bayi-bayi itu memang hanya beda satu setengah tahun.
"Baby ayo makan buah!' seru Layla.
Wanita itu juga sedang mengandung. Juno menjadi kepala pengawal dari keluarga Rion dan Azizah. Dahlan ada di sana, pria itu kini jadi ketua pengawal Remario.
"Aku akan kehadiran banyak keturunan lagi!" seru Bram bangga melihat wanita-wanita hamil.
"Mama nyangka nggak sayang?" tanya pria itu.
"Nggak sayang, tapi Mama lebih senang karena Zhein dan Karina kembali," jawab wanita itu.
"Lima belas menit aja jemur punggungnya uyut," ujar Daud lalu menyeka peluh di punggung Bart.
"Thanks Baby,"
"Anytime GreatPapa," jawab Daud tersenyum.
Della yang selalu perhatian dengan lingkungan sekitar. Bayi itu selalu mendapat benda-benda berbahaya. Kali ini sebuah paku berkarat.
__ADS_1
"Papa imi pa'a?"
Dahlan mendekat dan cukup terkejut dengan temuan Della. Pria itu menemukan tumpukan kayu yang belum dipindah oleh beberapa maid laki-laki.
"Mang Parjo, itu kenapa nggak dipindahin?" tanyanya.
"Oh, maaf Tuan. Kemarin kan baru datang rumput jadi belum sempat," jawab pria itu.
Bram memang mendatangkan rumput sintetisnya dari luar kota. Jadi kemasannya terbuat dari kayu.
"Tolong bersihkan ya!" pinta Dahlan tegas.
"Iya Tuan!" Parjo membungkuk.
Ia dan beberapa temannya membersihkan area itu. Dahlan mengecup Della, ia telah mendapat laporan dari beberapa pengawal yang melatih ketangkasan bayi itu.
"Matanya jeli ketua, Baby Della bisa melihat benda kecil dan gerakannya juga sangat cepat," lapor Heru waktu itu.
"Baby jangan main jauh-jauh ya. Dekat sama adik-adik sana," pinta pria itu lembut.
"Biya Api," angguk Della.
Bayi itu berjalan dan mencegah bayi lain yang ingin mendekati tempat itu.
"Ata' ... Yiya auh atan adel-adel!" seru Alia.
"Oteh Paypi,"
Della mencuci tangannya di keran pendek. Setelah itu menyuapi adiknya agar-agar, Dita dan Verra juga mau disuapi oleh Della.
"Kak Kean mau Baby," Kean membuka mulut. Della menyuapi remaja itu.
"Makasih sayang," Kean mencium Della gemas.
"Papa besok ada pertemuan para wali murid. Apa Papa bisa hadir?" tanya Salsa pada Bart.
Gadis kecil itu membawa surat undangan sekolahnya. Azlan dan lainnya juga membawa surat itu.
"Tentu sayang. Papa pasti datang!" seru Bart.
"Papa Bram juga datang deh!' sahut Bram.
"Ah, sayang Ayah besok harus keluar kota bersama Baby Kean, jadi nggak bisa ikut," keluh Herman.
"Tidak apa-apa Yah," sahut Ratih tersenyum.
"Berarti Mama juga ikut dong!' sahut Kanya tak mau kalah.
"Iya Mama,"
"Aku diajak dong Ma," sahut Luisa.
"Minta ijin suamimu sayang," sahut Herman.
"Boleh sayang!" sahut Andoro mengacungkan jempol.
Semua anak angkat Bart tersenyum senang. Mereka memeluk semua orang tua.
"Kalian satu sekolah dengan Adiba kan?" semua mengangguk.
"Satu yayasan tapi beda gedung Mama," jawab Nabila.
"Oh ya Pa, Azlan didaulat suruh ikut porda antar sekolah," cicit Azlan.
__ADS_1
"Kenapa bicara takut seperti itu sayang. Papa tidak akan marah jika itu baik untukmu," sahut Bart.
"Azlan diminta menjadi perwakilan dari yayasan untuk ikut kejuaraan seni komputer Papa," sahut Jihan.
"Wah ... hebat sekali. Bukankah itu media baru di dunia tekhnologi?" sahut Darren.
"Iya Abah, kemarin Azlan mencoba kurikulum baru itu, karena waktu jadi hacker dadakan, Azlan jadi suka sama komputer," jelas Azlan.
"Wah, jadi acara kabur kemarin bawa berkah ya," seloroh Rion.
"Kapan-kapan kita kabur lagi!' seru bayi besar itu senang bukan main.
"Baby!" peringat semua orang tua.
Rion cemberut, Bart menatap Azlan yang begitu berharap. Pria itu mengangguk setuju.
"Azlan dapat poin tertinggi dari semua kontestan yang ikut!" lapor Jihan memberitahu.
"Kan pelajaran baru, jadi pastinya belum ada yang mahir," sahut Azlan merendah.
"Papa tetap akan mendukung kamu sayang. Asal, kamu bersungguh-sungguh," ujar Bram.
"Makasih Papa!" Azlan memeluk Bart.
Semua anak tentu senang. Radit dan Ditya ikut bertanya perihal seni komputer itu pada Azlan.
"Jadi kek gambar atau lukisan tapi pake komputer?" ujar Ditya memastikan.
"Iya, bisa pake Corel draw atau Photoshop buatnya," sahut Azlan.
"Biar Radit tebak. Kak Azlan pasti ambil seni kaligrafi?!"
"Kok tau?" tanya Azlan semringah.
"Pasti lah, secara background sekolah Kakak adalah berbasis agama Islam," jawab Radit.
Brat tidak pernah memaksa semua anak angkatnya untuk berprestasi. Menjadi anak yang baik budi, berakhlak dan sopan pada orang tua itu cukup.
"Alsh uga dado bambal!" aku Arsh tak mau kalah.
"Oh ya?' Remario gemas dengan bayi super itu.
"Ini coba gambar," Remario memberi kertas dan spidol warna-warni.
Semua bayi pun mau ikut menggambar. Arsh berhasil membuat mahakaryanya.
"Selselai!" pekiknya senang.
Dengan begitu percaya diri, Arsh memberikan kertasnya. Gambar bulatan dengan berbagai bentuk dan warna.
"Wah ... indah sekali!" puji Azizah yang ikut mengintip hasil karya Arsh.
"Wentu Amah!' angguk bayi itu begitu percaya diri.
Remario menggelitik Arsh hingga tergelak. Bayi-bayi menyerahkan hasil karyanya. Lukisan milik duo Bara yang paling bagus dari semuanya.
"Oh anak Papa memang pinter!" puji Demian bangga.
Bersambung.
Semua anak pinter Papa Dem.
Next?
__ADS_1