
Hari yang ditunggu-tunggu Daud tiba. Remaja berusia delapan belas tahun lebih itu kini berdiri di sisi ayahnya. Ia tengah diwawancarai oleh para wartawan.
"Tuan Muda Pratama, selamat atas peresmian rumah sakitnya! Bagaimana perasaan Anda?" tanya salah satu wartawan.
"Alhamdulillah, saya merasa senang luar biasa, pencapaian ini saya dapatkan karena dukungan dari ayah dan ibu saya," jawab remaja itu.
"Anda juga sudah menjadi dokter jantung termuda. Bagaimana tanggapan anda?"
"Sekali lagi saya bersyukur dengan semua berhasilan ini!"
"Tuan Pratama, anda selaku orang tua tentu bangga atas keberhasilan putra dan putri anda, bagaimana tanggapannya?"
"Tentu saja saya merasa bangga. Semua putra dan putri saya berhasil di bidangnya masing-masing!"
"Tuan, seperti yang diketahui jika kedua anak anda yang bergelar dokter memiliki rumah sakit sendiri. Apa ini sudah anda rencanakan?" tanya wartawan lagi.
"Benar sekali. Kami ingin putra dan putri kami memiliki tanggung jawab sendiri," jawab Haidar datar.
Rumah sakit Jantung Harapan, itulah nama rumah sakit milik Daud. Bangunan mewah ini telah dilengkapi banyak alat-alat medis yang canggih dan terbaru. Bart dan Herman menggelontorkan banyak uang untuk melengkapi semuanya. Bahkan sistem keamanan data terjamin semua didukung oleh perusahaan milik ibu dari Daud Nakandra Hovert Pratama.
"Selamat ya Dik!" ujar Darren memeluk adiknya.
"Makasih Kak!"
"Tuan Darren apa tanggapan anda?"
"Saya bahagia!" jawab Darren senang.
"Nyonya Safitri Dougher Young, bagaimana rasanya menjadi anggota keluarga biliuner?"
"Wah saya senang sekali! Bisa foya-foya setiap hari!" jawab Saf kesal.
Darren dan Daud ikut kesal dengan pertanyaan wartawan itu. Mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan khusus. Semua berkumpul di sana. Semua tertawa bahagia, hingga tiba-tiba Aini mencari keberadaan dua master rusuh.
"Baby Sky, Baby Bomesh mana?" tanyanya.
Semua diam. Mereka langsung panik seketika. Mereka menelepon para bodyguard siapa yang bersama dua perusuh itu.
"Tuan muda Sky dan Bomesh aman bersama kami, Nyonya!" ujar Dahlan.
Khasya lega dengan mengelus dada. Rion memang sedang tidak ada, ia lagi-lagi bertugas keluar kota. Pemuda itu ingin menghabiskan seluruh pekerjaannya.
"Ayo kita ke tempat perusuh itu!" ajak Virgou sudah gemas bukan main.
Memang duo raja rusuh itu berbeda dari yang lain. Sky dan Bomesh yang keingintahuannya tinggi menurun pada Harun, Azha dan Arion. Ketiga bayi itu juga sudah suka berjalan sendiri jika tak dinaikkan ke kereta dorongnya.
"Soba pita padhi jalan tati ... pita basti itut Ata' Sty pama Ata' Bomesh!" dumal Harun.
"Biya ... bayah nih wowan pua ... pita tan inin pahu judha!" gerutu Arion yang disertai anggukan Azha.
__ADS_1
"Babies, nggak baik ilang begitu, kami semua kan jadi panik dan takut sendiri!" peringat Lidya.
"Mama El pama Al judha bawu ilan don!" sahut dua bayi kembar Lidya.
"Astaga putraku!" sungut Demian kesal sedang Lidya menasihati putra kembarnya itu.
Mereka pun berjalan ke tempat di mana Sky dan Bomesh berada. Ternyata keduanya tengah menghibur anak-anak yang menderita gagal jantung atau memiliki penyakit kelainan jantung yang parah. Kebaikan hati keduanya membuat semua orang tua terharu sekaligus bangga.
"Kakak-kakak dan adik-adik semuanya. Kita akan bermain sulap ya!" ujar Bomesh lalu memainkan sulap ala dia.
'Lihat ini jadi ada berapa?" tanya mengacung dua jari ke atas.
"Dua!" teriak semua anak-anak.
"Ini akan menjadi tiga. Lihat ya ... satu ... dua ... tiga!"
Bomesh menggoyang satu telunjuk kirinya dan ia tabrakan ke jari telunjuk kanan, dengan cepat ia mengacungkan jari tengahnya jadi tiga jari ada di sebelah tangan kanannya.
"Jadi tiga jari!" serunya.
Semua bertepuk tangan meriah. Para perusuh takjub luar biasa. Harun begitu antusias melihat pertunjukan sulap yang ditampilkan kakaknya.
"Ata' Bomesh bebat!"
"Ladhi Ata'!" teriak Azha semangat.
"Mawu pihat pulapna lepih detat!" teriak dua bayi itu.
"Baby, dilarang sayang. Di sana banyak anak-anak sakit dan rentan dengan virus yang kita bawa," larang Safitri.
"Uma ... pita bawu pihat ... hiks .. hiks!" ujar dua bayi itu mulai menangis.
"Nanti di rumah suruh Kakak main sulapnya lagi ya," bujuk Saf lagi.
"Iya, nanti di rumah suruh kakaknya lagi ya," kali ini Darren membujuk putra dan putrinya.
Pertunjukan selesai. Para anak-anak yang sakit mengucap terima kasih.
"Kak, minta doanya ya biar Lela cepat sembuh!" pinta salah seorang penderita kelainan jantung.
Lela menderita kelainan Katup atau Klep jantung. Penyakit yang terjadi gangguan pada katup jantung. Kondisi ini dapat ditandai dengan suara jantung bising atau tidak normal, nyeri dada, pusing, dan sesak napas. Katup jantung atau klep jantung merupakan organ pada jantung yang memiliki fungsi seperti pintu satu arah.
"Moga sembuh ya Dik!" ujar Sky memberi semangat untuk anak malang itu.
Kini semua keluarga bergerak menuju restauran milik Bram. Pria itu sudah membooking satu area eksklusif untuk semua keluarganya.
Bram dan Kanya menciumi Daud. Ia begitu bangga pada remaja satu itu. Di usia muda telah menjadi dokter spesialis jantung. Kanya begitu bangga pada cucu tampannya itu.
"Oma senang, kalian mendalami pendidikan sungguh-sungguh,"
__ADS_1
Mereka pun makan siang bersama, Rion melakukan video call bersama Al. Keduanya mengucap selamat pada Daud atas pembukaan rumah sakitnya.
"Makasih Kak Ion, Al!"
"Bagaimana di sana Nak? Apa sudah selesai?" tanya Haidar.
"Sebentar lagi Pa!" jawab pemuda itu.
"Ya, jika pulang hati-hati di jalan ya. Sepulang dari luar kota, kita akan membicarakan perihal lamaranmu pada Azizah!" ujar Haidar lagi.
Sambungan telepon ditutup. Ada momen sedih di sana ketika membicarakan pernikahan untuk bayi besar mereka.
"Dar ... apa Baby sudah sebesar itu?" tanya Bram dengan suara tercekat.
"Sayangnya iya Papa," jawab Haidar.
"Ah ... aku sudah tua ternyata," keluh Bram sedih.
"Apa tak tunggu satu tahun lagi Dar. Baby dan Azizah masih sangat belia, Mama takut jika nanti kita terlalu memaksa!" ujar Kanya berat.
"Iya Pa ... Kak Ion nggak usah nikah dulu, masih muda dan masih polos. Biar Satrio yang gantiin Kak Ion!" sahut Satrio dan hal itu membuat semua memarahinya.
"Baby aja kita larang buat nikah, apa lagi kamu Baby Satrio!" pekik Kanya kesal.
"Nggak ... Trio udh gede kok Oma, bener deh!" sahut remaja itu dengan seringai jahilnya.
"Mas Herman ... anakmu itu loh!" sungut Kanya pada ayah Satrio.
"Ya nggak apa-apa, kalau kalian berat menikahkan Baby untuk Azizah, biar Satrio menggantikannya. Aku tak keberatan!" sahut Herman kesal pada semua orang.
"Ayah ... Kean juga mau kalau gitu!"
"Sean juga bisa!"
"Dimas ...."
"Enak aja kamu!" sungut semua orang tua.
Bersambung.
ah ... Azizah memang jadi rebutan perusuh senior.
next?
yuk mampir di karya othor.
__ADS_1