SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH PERISTIWA 2


__ADS_3

"Selamat siang, maaf saya ingin bertemu dengan orang tua yang mengangkat tiga anak saya sebagai anaknya," ujar Santo setengah merendahkan wanita yang menyambutnya.


Herman tentu tidak ada di rumah. Pria itu sudah berangkat bekerja. Khasya sangat tersinggung dengan pandangan dua orang yang melihatnya sebagai manusia rendahan.


'Ck ... tau tadi pake gamis buatan IG,' gumamnya penuh sesal dalam hati.


"Anda sedang berhadapan dengan ibu dari Lana, Leno dan Lino!" tekan Khasya melipat tangannya di dada.


Keduanya menatap tak percaya. Khasya sangat tersinggung sekali, ia melihat baju yang dikenakan pria yang berdiri menatapnya saja harganya jauh lebih murah dibanding yang ia pakai.


"Silahkan keluar jika anda tidak percaya!" usir Khasya sengit.


"Eh ... babu jangan belagu deh!" hina Delia pada sang nyonya rumah.


"Jaga ucapan anda Nyonya!" peringat Anindya salah satu pengawal yang menemani Khasya.


"Maaf Nyonya, apa perlu saya seret mereka keluar?" tanya gadis itu pada Khasya.


Santo begitu malu, padahal baju yang ia kenakan jauh lebih buruk dari wanita yang kini menatapnya sinis. Sedang Delia bungkam seribu bahasa.


Keduanya duduk di sofa yang begitu lembut dan pastinya mahal. Sofa dengan ukiran kayu bercat emas dan perak belum lagi meja dilapis marmer dan kaca tebal. Ada hiasan bunga anggrek di atas meja itu.


"Silahkan Tuan, Nyonya!" ujar maid meletakkan dua cangkir teh di atas meja.


"Astaga cangkirnya cantik sekali!" desisnya.


Khasya keluar kini dengan gamis yang harganya di atas lima puluh juta, gamis dari bahan sutra berkualitas. Wanita itu kini menunjukkan kelasnya sebagai kaum borjuis. Khasya duduk dengan anggun di kursi single layaknya ratu.


"Bisa jelaskan maksud dan tujuan anda ke kediaman saya?" tanya Khasya.


"Saya kemari ingin mengambil tiga anak saya, Lana, Lino dan Leno!" ujar Delia begitu percaya diri.


"Anak anda? Ibu mereka sudah meninggal dunia!" sahut Khasya langsung membungkam Delia telak.


"Maaf, tapi ini adalah istri saya. Jadi dia adalah ibu dari tiga anak saya," ujar Santo menengahi.


"Setelah lima tahun anda meninggalkan mereka tiba-tiba ingin mengambilnya?" tanya Khasya begitu menusuk hati Santo.


"Yang saya tau, Ayah triple eL adalah seorang nelayan yang menghilang ditelan ombak lima tahun lalu. Apa bukti anda adalah ayah mereka?" tanya Khasya yang membungkam Santo.


"Saya yakin jika tiga anak saya mengingat ayahnya!" seru Delia lagi-lagi percaya diri.


"Oh ya?" tanya Khasya menatap sinis pada wanita yang begitu angkuh di depannya tadi.


Sungguh Khasya tidak ingin membalas keangkuhan wanita yang mengaku sebagai ibu sambung dari tiga anak angkatnya itu.

__ADS_1


"Mana bukti jika suami anda adalah ayah dari ketiga anak saya!" tekannya dengan sangat berani.


Sementara itu, Herman mendapat kabar jika ayah dari tiga eL datang ke tempat tinggalnya. Pria itu langsung meninggalkan semua pekerjaannya, Kean ikut dengan pria itu.


"Kamu gantiin Ayah ya," pinta Herman yang langsung ditanggapi gelengan Kean.


"Nggak mau! Lana, Leno dan Lino adik Kean. Enak aja ada yang datang ngaku-ngaku bapak Babies!"


Kean langsung menelusuri siapa Santo itu. Tentu saja data diri pria yang mengaku sebagai ayah dari tiga kembar itu sudah ada di tangan Herman. Herry tadi mengambil identas Santo itu ketika memasuki mansion.


Kean tersenyum miring ketika mendapat banyak bukti pria yang memang ayah dari tiga eL itu. Tak akan mudah bagi Santo mengambil Lana, Leno dan Lino dari tangan Herman bahkan bisa jadi hak asuh ketiganya jatuh di tangan pria tua yang memasang wajah yang ditakuti semua orang itu.


Virgou lebih cepat sampai di hunian paman dari adik sepupunya itu. Pria dengan sejuta pesona turun dengan begitu mempesona, pria itu bersama dengan pria raksasa. Satrio juga ikut bersamanya, mereka masuk setelah mengucap salam.


"Bunda," Virgou mengecup perempuan kesayangannya itu.


Lagi-lagi Delia nyaris meneteskan air liurnya. Wanita itu menatap tiga pria dengan ketampanan luar biasa terutama pada Virgou yang begitu kharismatik lalu pada Satrio yang sangat belia.


"Siapa dia Bunda?" tanya Virgou duduk di lengan sofa yang diduduki Khasya.


Bukan hal baru jika Virgou datang. Khasya sangat yakin jika nanti huniannya penuh dengan manusia.


"Saya adalah ayah dari Lana, Lino dan Leno!" ujar Santo dengan suara bergetar.


Sungguh nyali pria itu ciut berhadapan dengan sosok tampan yang duduk dengan pesonanya. Delia tak bisa berkata-kata, wanita itu sibuk memuja ketampanan pria di depannya. Bahkan kini intinya sudah basah, pikiran mesum terus menggelayuti otaknya.


"Virgou masuk ke dalam!" perintah Khasya tegas.


"Bunda,"


"Masuk, ajak adikmu!" begitu tegas.


Virgou terdiam, baru kali ini Khasya begitu tegas padanya. Tampak raut wajah wanita itu sangat marah pada sosok wanita lain. Virgou menoleh, kini ia mengerti apa maksud Khasya.


"Masuk Virgou, bawa Baby Sat dan Gomesh ke dalam sebelum Bunda mencongkel mata wanita itu!" ancamnya tak main-main.


Virgou paling suka dengan hal itu. Ia jadi terharu bagaimana Khasya melindunginya.


"Congkel saja matanya Bunda!" seru Satrio memprovokasi.


Delia yang disindir tidak sadar, mulutnya terbuka sempurna dan mengeluarkan erangan erotis tanda pelepasan. Khasya benar-benar murka.


"Bangsat beraninya kau berpikiran mesum terhadap putraku!"


Khasya menjambak Delia dan menyeret wanita itu. Santo langsung menahan laju Khasya dengan menahan tarikan wanita itu.

__ADS_1


Melihat ibunya hendak dilukai, Satrio langsung menarik pria kurus itu dan melemparnya keluar bersamaan dengan datangnya Herman.


Delia menjerit kesakitan dijambak sedemikan rupa oleh Khasya yang menyeretnya.


"Sayang ... hentikan," Herman langsung menangkap tangan istrinya.


'Dia kurang ajar pada putraku!" teriak Khasya sampai terisak.


"Berani-beraninya dia berpikiran mesum!" lanjutnya dengan napas tersengal.


Virgou menenangkan Khasya dengan memeluknya. Wanita itu menangis dan mengelus wajah pria sejuta pesona itu.


"Sayang ... Bunda tidak terima siapa pun yang melecehkanmu,' ujarnya sambil terisak.


Virgou mengangguk, ia kini makin sayang dengan istri dari paman adik sepupunya itu.


"Ini adalah Lino, Lana dan Leno," ujar Herman.


Tiga anak itu bersembunyi di belakang pria yang menjadi ayah mereka selama dua tahun ini. Santo merentangkan tangan, tentu saja tiga anak kembar itu tak ingat siapa ayah mereka.


"Tidak apa-apa sayang," ujar Herman bijaksana.


"Dia ayahmu baik buruknya tetap ayah kalian Babies," lanjutnya.


Perlakuan Khasya pada Delia dan Satrio pada Santo membuat Herman sedikit melunak. Terlebih lagi Kean memberi banyak bukti jika Santo tak akan bisa mendapatkan anak-anaknya.


"Maafkan ayah, Nak ... huuuuu ... maafkan ayah!"


Tangisan Santo pecah ketika Lana, Lino dan Leno memeluknya. Delia sudah menunduk takut, Haidar mengancam perusahaan yang ditangani kini oleh Santo akan gulung tikar jika memaksa kehendak mereka.


"Jika Lana menikah, kau yang akan jadi walinya Santo!" ujar Herman datar.


Santo mengangguk, ia memang tidak bisa mengambil tiga anaknya lagi. Semua bukti jika ia meninggalkan secara sengaja bahkan berita bohong hilangnya dia ditelan ombak dapat diungkap oleh Kean. Santo tidak berkutik sama sekali.


"Maafkan Ayah ya Nak,"


"Kami memaafkan Ayah. Tapi, kami tidak mau ikut Ayah!" ujar Lana begitu menyakiti Santo.


Rion lega, mimpi buruknya tidak terjadi, memang ayah ketiga adiknya datang. Tapi tidak untuk mengambil mereka bertiga.


"Alhamdulillah, triple eL masih sama kita!" ujarnya lega.


Bersambung.


Ah ... lega ...

__ADS_1


Next?


__ADS_2