
Dominic mengusap terus perut istrinya, setelah prewedding Rion kemarin, Dinar mengalami kram. Usia kandungan wanita itu sudah masuk trimester ke tiga. Demian mengecup perut ibu sambungnya, begitu juga Lidya, Jac dan Putri.
“Bibu kita ke rumah sakit aja ya,” pinta Demian. “Operasi cesar aja.”
“Iya Bu, operasi cesar aja,” ujar Lidya.
“Tapi, kata Bidan Saf Bibu nggak masalah lahir normal,” sahut Dinar.
“Sayang. Kita nggak mau kamu kenapa-kenapa,” kali ini Dominic yang meminta istrinya.
“Aku nggak apa-apa. Ini karena kemarin terlalu antusias melihat bayi-bayi kalian,” ujar Dinar.
Jangan tanya di mana Aaima, Al dan El Bara. Ketiga bayi itu menginap di mansion Herman bersama seluruh saudaranya. Mereka menolak pulang. Jadi hanya putra Jac yang belum diberi nama saja yang masih ikut dengan ibunya. Itu saja mereka kemarin ribut dulu dengan Herman.
“Peras saja susumu!” ujar pria tua itu yang menggendong bayi Jac.
“Ayah,” rengek Putri. “Nanti Boy nggak kenalin Putri ibunya!”
“Pelit!” gerutu pria itu ketika bayi beralih di tangan Putri.
“Bunda suruh hamil lagi aja Yah,” celetuk Jac yang langsung diberi pukulan oleh Khasya.
“Lalu guna kalian menikah apa?” sungut wanita itu.
“Itu Kak Sari juga mau melahirkan, belum Kak Anyelir, cucu Ayah akan ada lebih satu lusin!” sahut Putri.
“Selama tiga bulan ini, Ayah dapat cucu banyak!”
‘Iya-iya ... bawa Boy sana. Aaima sama ayah!” putus pria itu.
“Ayah,” rengek putri.
“Jangan bebani ayah ibumu menjaga Aaima. Nanti ibumu sakit seperti kemarin gara-gara putrimu yang tiba-tiba sudah ada di atas lemari!” peringat Herman.
Putri dan Jac akhirnya membiarkan putrinya. Entah dari mana kelakuan putrinya yang super aktif itu hingga mampu membuat kakek dan neneknya harus mengurut dada. Makanya Putri jarang menitipkan anak perempuan mereka pada ayah dan ibu Putri.
Perkiraan lahirnya bayi dalam kandungan Dinar hanya tinggal hitungan minggu. Mereka sudah mempersiapkan kamar bayi yang bernuansa serba hijau dan biru, warna kesukaan Dinar. Dominic memperkirakan setelah pernikahan ulang Rion dan Azizah istrinya baru melahirkan.
Benar perkataan Putri, Sari melahirkan putri pertamanya, Felix bahagia dengan hadirnya buah cinta mereka. Herman terharu, ia langsung menamai cucunya dengan Prajna Nararya Lixiera. Felix sangat senang dengan nama yang diberikan oleh mertuanya itu.
“Dia cantik sekali, sayang,” ujar Khasya mengecup bayi yang baru lahir enam jam lalu.
Baru lahir putri Felix, Bimo juga memberi kabar pada ayahnya jika baru saja memberi pria itu cucu laki-laki, yang diberi nama Arjuna Pramesta Triatmodjo. Herman diliputi kebahagiaan, begitu juga semua keluarga. Terra sengat mengenal semua anak angkat Herman. Mereka tumbuh bersama Darren, Lidya dan juga Rion.
“Oh ya, aku lupa memberitahu kalian,” ujar Bart.
“Apa grandpa?” tanya Haidar.
__ADS_1
“Semua anak panti sudah Grandpa angkat jadi anak. Kini mereka adalah Dougher Young!” ucap pria itu mengejutkan semuanya.
“Grandpa nggak lagi bercanda kan?” tanya Gabe tak percaya.
“Tidak!” jawab pria gaek itu tegas.
Ia masuk kamar dan memberikan surat sebanyak lima puluh lembar. Kini adik Virgou, Gabe, David dan Gisel bertambah jadi lima puluh orang. Gisel mengecup kakeknya itu. Ia senang dengan berita yang pasti membuat ayahnya di sana bersorak kegirangan.
“Apa nanti semua adik di bawa ke Eropa Grandpa?” tanya Gisel semangat.
“Tentu saja. Percuma beli pesawat kemarin, jika tak diisi bukan?” semua mengangguk setuju.
“Peulalti pita nait besyahwat ladhi?” pekik Azha senang luar biasa.
“Iya Baby, kita akan naik pesawat lagi,” sahut Dav yang ngeri mendengar kata pesawat di mulut bayinya.
“Holeee! Atuh pisa peultemu ata’ plamudali syantit!”
Semua berdecak mendengar kata dari Azha yang genit. Harun kembali mengumpulkan semua saudaranya. Pernikahan kakak panutan mereka sebentar lagi dilaksanakan. Harun menyiapkan semua saudaranya mempersembahkan penampilan yang terbaik.
“Janan banyi mulu don!” tolak Arsyad.
“Biya ... posen banyi ladhu ipu-ipu laja,” sahut El Bara protes.
“Tamu eundat peulnah beulpanyi Baby!” sahut Harun mengingatkan El.
“Ipu peulpuatan pidat pait Baby!” sahut Bariana menasihati.
“Pati atuh suta Ata’!”
“Pidat poleh ... banti Mama malah woh!” peringat Bariana.
El dan Al Bara menunduk, keduanya mengerucutkan bibir mereka. Arsh sibuk dengan makanan yang ada di meja, bayi itu tak berhenti mengunyah. Berita kelahiran para bayi terdengar oleh keluarga, semua senang. Kini keturunan mereka sudah hampir memenuhi seluruh halaman panti jika berkumpul.
“Ah ... anak banyak ... aku rasa kita sudah cukup punya anak sayang,” ujar Virgou pada istrinya.
Puspita mengangguk. Walau ia masih ingin diberi anak lagi. Tetapi kelahiran bayi-bayi akan membuatnya bingung. Terra pun sependapat, setelah pembuahan beberapa kali gagal, ia pun akhirnya pasrah saja. Toh anak dan cucunya sudah banyak.
Sedangkan di Eropa. Frans menggelar acara syukuran dengan kelahiran dua putri kembarnya. Tampak pasangan itu duduk dengan binaran kebahagiaan. Ayah dan ibu Lastri hadir di sana. Beberapa kolega berdatangan untuk berkenalan dengan Baby Zaa dan Baby Nisa.
“Ouh ,,, mereka mirip ayahnya,” ujar salah satu kolega.
“Ibunya tak diberi apapun, semua mirip ayahnya,” kekeh lainnya lagi.
Najwa dan Leon juga tengah menanti kehadiran buah hati mereka, kini keduanya menggendong dua bayi cantik itu.
“Jangan terlalu lelah Naj!” peringat Frans.
__ADS_1
“Iya Mas,” sahut wanita itu lalu meletakan Baby Zaa.
Lastri memakaikan baju berbeda pada dua bayi cantiknya. Zaa mengenakan baju rok kembang warna shock pink dan bandana putih. Sedangkan Nisa memakai rok kembang warna dusty pink dengan bandana sama dengan saudara kembarnya.
Sementara itu rion mencatat semua pasukannya. Ia memang hanya menambahkan saja nama-nama bayi.
“Ini nama-nama semua keturunan!” ujar pemuda itu
“Hanya tambah anak Gomesh dua, anak Putri satu, anak Seruni satu, anak daddy Frans dua,” sahut Virgou.
“Tuan!!” panggil Gomesh.
“Dahlan baru saja mendapat putra pertamanya!” lanjutnya.
“Alhamdulillah!” seru semuanya bersyukur.
“Siapa namanya?” tanya Bart penasaran.
“Muhammad Perkasa ....”
“Telepon anak itu!” titah Bart.
“Hallo Assalamu’alaikum! Grandpa ingin bicara padamu!” ujar Virgou.
“Halo Dahlan!”
“......!”
“Ganti nama putramu jadi Muhammad Meghantara Putra Dahlan!” titah pria gaek itu.
“......!”
“Bagus! Assalamua’alaikum!” Bart menutup ponselnya dan mengembalikannya pada Virgou.
Semua menatap pria gaek itu. Tak ada yang berani menyela, Rion menghela napas, ia kembali mencatat nama baru. Bayi besar itu membagi dua kelompok semua anak-anak. Tujuannya hanya satu. Jika mereka sudah dewasa. Rion akan menikahkan keturunan mereka dengan keturunan para pengawal.
“Apa sudah kau catat semua nama anak baby?” tanya Terra.
“Sudah Mama!” jawab Rion.
“Apa mau dengar semua?” mereka mengangguk antusias.
“Oke!”
Bersambung .
Perbanyak anak dan keluarga ... welcome babies!
__ADS_1
next?