
Jalan-jalannya perusuh senior membuat para ayah kesal dan sebal, terlebih Virgou, David dan Gomesh. Tiga pria itu kualahan karena Fabio dan Pablo pergi bersama Herman. Begitu juga Haidar, mereka mengadu pada Khasya,
“Bunda .. Ayah nggak ngajak kami,” adu pria sejuta pesona itu.
Hingga membuat istri Herman itu menelepon suaminya. Wanita itu menanyakan kenapa sang suami malah pergi dan tak mengajak semuanya. Herman menyuruh Kean yang menjawab pertanyaan istrinya.
“Bunda ... Kean nggak mau kerja. Mau dimanjaain Ayah, biar aja Daddy dan lainnya,” jawab remaja itu.
Khasya tak bisa berkata apa-apa, ketika makan siang. Darren ke rumah ibunya bersama istri dan juga Budiman serta Gabe. Rion datang bersama Azizah, mereka makan siang bersama. Rion tak melihat keberadaan Al dan Sean, Billy dan Bastian di rumah.
“Ma Babies yang lain mana?” tanyanya.
“Pergi bareng Ayah,” jawab Terra.
“Papa nggak diajak Ayah,” gerutu pria itu.
“Ini nggak bisa dibiarkan!” sahut Darren sebal.
Pria itu menelepon Herman, sayang panggilannya tak diangkat oleh pria itu. Para perusuh junior juga sudah mulai ribut terutama Ella yang tak diajak.
“Talo pemua anat lati-lati yan piajat. Atuh lati-lati tot pitindhal?” sahut Harun tak terima.
“Biya ... pita atan beupuntut Ayah Heyan talna pismilipasi!” sahut Fatih mengepal tangannya ke atas.
“Pita punjut lasa!” sahut Arsyad memprovoskasi.
“Mama kok nggak bilang Ion? Ion kan juga mau ikut!”
"Sam, Bomesh, Sky dan Benua aja nggak diajak!" sahut Samudera ikut kesal.
“Baby, kata Ayah yang sudah punya istri harus kerja karena harus bertanggung jawab,” jawab Terra. "Kalau kalian kan tadi belum pulang sekolah!"
“Mommy aja nggak diajak!” gerutu Widya.
Rion menelepon lagi ayahnya itu. Bayi besar itu meminta paman dari ibunya kembali dan mengajak mereka semua segera.
“Ayah Ion mau ikut!” sahutnya ketika sambungan terhubung.
“.....!”
“Iya wa’alaikumussalam!”
“....!”
“Iya, pokoknya harus jemput. Kalo nggak Ion ngambek!”
“.....!”
“Ya udah ... ayah ada di mana?” tanya Rion.
“.....!”
__ADS_1
“Ion susul sama semua orang ya!”
“......!”
“Wa’alaikumussalam!” Rion menutup sambungan teleponnya.
“Bagaimana?” tanya Darren penasaran.
“Ayah ada di wahana bermain di pusat kota. Kean mau ulang tahun delapan belasnya diadakan di sana,” jawab Rion.
“Astaga ... kita lupa kalo sekarang ulang tahun si kembar!” sahut Terra menepuk keningnya.
“Ya sudah kita ke sana. Ajak semua menyusul!” titah Haidar.
“Oteh Papa!”
Rion segera menelepon daddynya, kemudian Demian, Khasya, juga supirnya untuk menjempu semua adiknya yang dititipkan di panti. Azizah jarang menitipkan seluruh adiknya pada sang mertua.
“Terlelu jauh jika mesti ke sini Mas Baby,” begitu alasannya.
Kini mereka semua sudah berada di wahana bermain itu. Kekayaan Herman memang sangat tak bisa dianggap sebelah mata. Satu wahana ia borong semua karcisnya. Pria itu sudah menduga jika semua akan menyusul.
“Fabio, Pablo. Tunggu mereka di depan gerbang dan suruh masuk semuanya dan berikan tiketnya!” titah Herman.
“Baik Ayah!” sahut dua pria tampan yang masih betah melajang itu.
Keduanya hanya menunggu sekitar lima menitan. Semua datang dan langsung masuk ke wahana karena tiketnya sudah diborong oleh Herman jadi mereka tinggal masuk saja. Mereka duduk di sebuah restauran seafood.
“Happy Birthday Kean dan Calvin!”
“Makasih Ayah ... ba bowu!”
Herman hanya tersenyum penuh haru, ia bahagia telah membahagiakan salah satu keturunannya.
“Wah ... tuena enat!” puji perusuh.
Seluruh perusuh junior lupa akan unjuk rasa mereka pada pria paling tua di sana. Tak lama ponsel Herman berdering, Bram meneleponnya ia mengamuk karena tak diajak.
“Kau tinggal datang saja bodoh!” sahut pria itu marah.
“......!”
“Ya sudah tunggu di sana Fabio akan menjemput kalian!”
Fabio yang mendengar namanya langsung mengerjakan perintah tuannya tanpa nanti. Ia berlari ke depan gerbang tiket dan membawa Bram dan Kanya masuk ke dalam. Pria itu memberengut pada Herman.
“Mas,”
“Kau mau kupukul?” desis Herman kesal.
Seafood datang dan dituang di atas meja. Hal itu membuat semua perusuh heboh seketika. Adik-adik Azizah ikutan heboh.
__ADS_1
“Woh ... tot eundat pate lipin?”
“Pilin,” ralat Ari.
“Biya matsutna ipu,” sahut Azha.
“Pejana tan totol!” sahutnya.
“Tadi sebelum dituang sudah dibersihkan dulu Baby,” sahut Radit.
Azizah, Lidya, Aini, Safitri dan Putri membantu anak-anak memakan seafoodnya. Kandungan putri sudah menginjak delapan bulan, hanya tinggal hitungan minggu saja proses lahirannya.
Maria, Gisel, Widya dan Seruni juga sibuk membantu Samudera, Benua, Domesh, Bomesh , Sky, Billy dan Bastian yang belum bisa makan kepiting. Virgou juga membantu putra kembarnya yang mmasih mood manja. Sedang Herman melakukan hal sama pada putranya, Satrio.
“Ck ... kenapa kalian manja sekali sih!” ledek Nai kesal.
“Ini Baby, aa!” Terra menyuapi anak gadisnya.
Nai membuka lebar mulutnya, lalu Arimbi, Dewa disuapi Dominic. Sedang Dinar menyuapi Kaila dan Dewi. Semua anak disuapi oleh orang tuannya. Mereka berfoto bersama dengan ponsel mereka. Para pegawai di sana yang membantu mereka.
“Habis ini kita main lagi menuju wahan boneka!” ajak Kean semangat.
Berita tentang disewanya satu wahana paling besar di ibukota itu oleh satu keluarga kaya raya membuat semua orang berdecak, terlebih mereka mengetahui siapa yang menyewa tempat itu dan memborong seluruh tiketnya.
“Gila tuh ya. Apa duitnya tinggal gunting aja?”
“Busyet deh, satu tiket bisa sampe 350.000 per orang. Ini yang datang bejibun gitu!”
Herman santai melihat beberapa komentar netiz di kanal berita online tentang dirinya. Baginya kebahagiaan anak itu tak bisa ditukar dengan apapun. Selama ia masih mampu, maka ia akan mewujudkannya.
“Mama!” teriak Maryam menangis ketika didekati badut.
Demian dan Jac langsung meminta semua badut disingkirkan dari taman bermain ini. Semua bayi menangis didekati badut. Lidya memang sudah tak takut badut begitu juga Rion, tetapi dua orang itu enggan bersinggungan dengan salah satu penghibur itu.
“Baby, kamu masih takut?” tanya Herman.
Rion mengangguk begitu juga Lidya. Bahkan kakinya kini terasa lemas, Terra sedih melihat putri dan putranya belum hilang dari rasa traumanya. Azizah mendekati suaminya, ia menggenggam erat tangan pemuda itu.
“Jangan takut Mas Baby ... ada Azizah di sini,” ujarnya menenangkan.
Rion langsung memeluk istrinya. Azizah tentu sudah tau kisah kelam sang suami. Rion sendiri yang menceritakannya seusai menikmati malam pertama mereka. Para pengawal menangani para bayi yang menangis karena takut badut. Demian menyambangi dan memeluk istrinya.
“Sayang ... sayang,”
“Mas,”
Demian sedih, selama tiga tahun ia menikahi Lidya. Ia belum pernah mendapati istrinya begitu gemetar kembali setelah kejadian Satrio dan Dewi waktu itu. Tubuh Lidya gemetar hebat. Bayangan kelam itu memang sulit dihilangkan, Demian mengutuk keras pelakunya.
“Semoga dia mendapat hukuman yang setimpal dengan apa yang dia lakukan!” doanya penuh harap dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1
Aamiin ... Demian!
Next?