SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KENCAN ALA SATRIO


__ADS_3

Tiga gadis remaja tengah jalan bergandengan di selosor mall besar. Mall ini inventaris Dominic, bangunan lima lantai itu menampung setidaknya tiga ribu toko, ratusan ribu outlet besar dan kecil. Sebenarnya Dougher Young juga memiliki Mall hanya saja tempatnya jauh dari lokasi kastil Dougher Young.


"Mas, kita ke sini ya?!" pinta Kaila menunjuk salah satu outlet baju Harajuku.


"Masuk saja," sahut Satrio.


Remaja itu berjalan di belakang bersama tiga pengawalnya, semua pramuniaga tentu mengenal Langit, karena pemuda itu kemarin yang membeli beberapa pakaian, tas dan sepatu dari branded ternama.


Mereka masuk, Kaila mengambil beberapa kemeja putih dengan bawahan yang ia padu padankan, begitu juga Dewi. Sedangkan Adiba langsung membola ketika melihat harga satu sapu tangan cantik yang ia lihat.


"Jika kau mau, kau ambil saja sa ... maksudku, Dik," hampir saja remaja yang sudah menjadi pemuda itu kelepasan bicara.


"Nggak Mas," tolak Adiba.


"Ambil saja sayang," suruh Satrio dengan nada lembut.


Adiba mau empat belas tahun, tentu bukan gadis ingusan yang tak mengerti apa-apa. Adiba langsung merona ketika ada kata-kata sayang dari orang yang memang sudah ia pegang janjinya itu.


"Nggak Mas, aku masih mikir yang lain," cicit gadis itu lalu meninggalkan Satrio.


Remaja itu tersenyum simpul, sengaja ia bersuara pelan, tiga pengawal ada di luar butik jadi mereka tak mendengar.


Satrio mendekati dua adik dan satu gadis yang akan ia ikat nantinya.


"Sudah pilih-pilihnya?" tanyanya.


"Udah Mas, aku ambil dua baju ini deh," ujar Kaila. "Karena nggak ada ini pasti limited colection."


"Beberapa kemeja dan bawahan seperti rok panjang dan celana dibeli dan kini mereka masuk ke sebuah restauran. Satrio mengaku lapar.


"Kita makan seafood aja ya, soalnya hanya itu yang halal di sini!" saran Satrio.


"Iya Mas, minta keping saus tiram sama lobster ya!" pinta Dewi antusias.


Satrio duduk di sisi Adiba, remaja itu benar-benar sengaja mengambil posisi yang pas. Tiga pengawalnya mengapit dua adiknya. Makanan terhidang, Satrio membantu Adiba membuka kulit udang, dua adiknya juga diperlakukan sama. Tak ada yang curiga.


Satrio menyuapi Dewi terlebih dahulu lalu Adiba. Gadis itu membuka mulut dan menerima suapan dari remaja itu. Tak ada yang sadar, jika yang dilakukan Satrio adalah modusnya mengencani Adiba.


"Mas aaa!" Kaila memberi suapan besar pada kakaknya itu.


"Adiba kok nggak suapin Mas?" tanya Satrio.


Adiba dengan ringan dan tanpa beban dan menyuapi Satrio. Remaja itu senang sekali, hatinya berbunga-bunga ketika tangan Adiba masuk mulutnya.


"Bang Lang ... aaa!" Dewi menyuapi Langit.


Langit hendak membuka mulutnya, tetapi ia melirik Satrio. Remaja itu menatap datar pria tampan yang duduk di sebelah adiknya itu. Dewi yang kesal karena Langit tak membuka mulut, memaksa pemuda dengan menyorongkan makanan ke mulutnya.


"Buka!" paksa Dewi.


Akhirnya Langit membuka mulutnya, lalu gadis itu menyuapi Ricky dan Hendro.

__ADS_1


"Aku disuapin sih!" pinta Kaila.


Ricky menyuapi nona mudanya, Kaila senang bukan main. Akhirnya acara makan dan saling suap selesai. Mereka pulang karena Darren menelepon mereka.


"Cepat pulang!" suruh pria itu.


Mereka pun pulang dengan banyak membawa paper bag. Adiba akhirnya membeli salah satu gamis buatan designer asal Indonesia. Satrio yang membelikan gamis itu untuknya.


"Wah ... enak amat sih kalian bisa jalan-jalan!" protes Kean.


"Salah sendiri nggak jalan-jalan," sahut Kaila.


"Daddy," rengek Kean.


"Ya sudah ... kita semua jalan-jalan!" ajak Virgou pada akhirnya.


"Holeee!" pekik Arsh kegirangan.


"Memang Mommy nggak pernah ngajak kamu jalan-jalan Baby?" tanya Sean.


"Ndat ... Ommy siput weyus ... siput ... siput!" oceh Arsh sampai memonyongkan bibirnya.


Widya hanya mencebik pada putranya itu. Sedang Sriani memilih tinggal di rumah bersama anak-anak yang sudah pergi tadi. Adiba menolak ikut lagi.


"Cape," keluhnya.


"Dewi juga,"


Akhirnya tiga gadis tinggal, Nai dan Arimbi tentu ingin ikut lagi. Kemarin mereka tak jadi berbelanja karena kasus diskriminasi salah satu pramuniaga.


Satrio juga memilih tak ikut karena tadi ia juga baru jalan-jalan, sedang Langit, Hendro dan Ricky kembali mengikuti atasan mereka.


Satrio menatap Adiba, remaja yang sebentar lagi menjadi pemuda itu hanya bisa menghitung waktu yang sepertinya berjalan lambat.


"Coba masih jaman dulu," gumamnya pelan.


"Di desa, gadis seusia Adiba sudah menikah," lanjutnya.


Satrio menggelengkan kepala untuk menetralkan kepalanya. Remaja itu sudah tak polos lagi. Ketika melihat Azizah, ia sudah merasakan cinta pertamanya. Namun ketika Rion mengambil Azizah menjadi istri. Satrio langsung mengambil Adiba menjadi miliknya.


"Nggak dapat kakaknya ... ambil adiknya," monolognya semangat.


Sementara di mall. Seperti biasa Sky dan Bomesh menghilang, Herman panik dengan memanggil dua perusuh itu.


"Babies!" teriaknya kalap.


"Ayah ... tenang, jika ayah panik begini Kami ikutan panik!" ujar Lidya.


"Halo!"


"......!"

__ADS_1


"Apa kau yakin!" teriak Budiman.


" ......!"


"Baiklah, kau ikuti anak dua itu. Aku ingin tau apa mereka sadar jika berpisah dengan keluarganya!" tukas Budiman.


"Apa ... ada apa?!" tanya Herman gusar.


"Dewo dan Lukman mengikuti mereka yang memang tidak melihat siapapun. Mereka berdua langsung masuk salah satu outlet baju anak-anak," jelas Budiman.


"Kita kesana!" titah Herman.


Budiman tadinya ingin membiarkan dua anaknya itu kebingungan. Tapi, Herman memiliki pemikiran lain, pria itu yakin akan ada orang jahat yang bisa mengancam dua anak itu.


Benar saja, Lukman dan Dewo harus berlari mengejar dua pria yang merampas tas Sky. Bocah delapan tahun itu didorong sedemikian rupa, tentu tenaga anak kecil tak sebanding dengan tenaga pria dewasa.


"Sky!" pekik Terra melihat putranya didorong.


"Bangsat!"


Virgou, Rion dan Darren juga Gomesh ikut mengejar dua pria bersama Lucky dan Dewo. Terra dan lainnya menghampiri Sky dan Gomesh.


"Babies ... Babies!"


"Mama ... hiks ... hiks!"


"Baby ... sini sayang!" Terra memeluk dua bocah itu.


"Sudah ayo kita pulang!" ajak Bram sudah pucat mukanya.


"Makasih ya Sky, kalo kamu nggak halangin, aku yang kena tadi," ujar Bomesh bersyukur.


Maria menciumi dua putranya. Mereka akhirnya pulang dan membiarkan Virgou, Rion, Darren, Gomesh dan dua pengawal mengurus penjahat itu.


Dua penjahat habis babak belur, Rion menghajar habis-habisan bahkan nyaris memecahkan dua bola mata mereka jika saja Darren tak memeluk adiknya.


"Berani-beraninya dia mendorong adikku!" teriak Rion.


Gomesh hanya berdecak, padahal ia ingin menyiksa keduanya sampai menjerit minta ampun. Tetapi Tuan bayinya memilih memukuli sampai wajah keduanya sulit dikenali.


"Padahal enak jika kita sayat tipis tangannya dan memeras air jeruk di atas lukanya," celetuk raksasa itu.


"Kalau begitu kita tunggu dia sadar, obati sampai sembuh ... lalu disiksa!" sahut Rion memberi gagasan yang gila.


"Ide bagus!" sahut Virgou, Gomesh dan Darren setuju.


bersambung.


Eh ... dah ... mafia dilawan.


Next?

__ADS_1


__ADS_2