SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BERKUMPUL


__ADS_3

Mansion Virgou penuh dengan manusia, ayah dan ibu Budiman juga datang dan menyaksikan keramaian anak-anak.


"Mana yang kemarin jadi tamengnya Papa Gom?" tanya Fery


Arfhan maju, Arsh baru tau ceritanya ketika kemarin semua anak heboh menceritakan petualangan Sky dan Bomesh.


"Kamu hebat sekali sayang," puji Fery, Mia mengangguk setuju.


"Apa bahunya masih sakit?" lanjutnya bertanya dengan nada khawatir.


"Sedikit Kakek," jawab Arfhan. "Tapi entar lagi kata dokter juga sembuh kok."


Arsh ingin sekali melihat bekas luka yang ada di bahu kakak barunya itu.


"Pan Fan, hat utana," pinta bayi itu.


Arfhan memperlihatkan luka yang sudah tertutup rapi. Jahitan masih terlihat. Tampak begitu lebar dan mengerikan.


"Lutana peusal seutali?" cebik Aisya.


'Imi syatit Apan?" tanya Fathiyya perhatian.


Semua bayi berkumpul hanya untuk melihat bekas luka yang di jahit. Terra sampai meringis melihat luka itu.


"Subhanallah ... pasti dalam ya itu?" tanyanya sambil bergidik.


Gomesh mencium bekas luka tusuk. Sungguh ia sangat menyayangi Arfhan.


"Sudah-sudah ... Abang Arfhan-nya sudah baik-baik saja," ujar Arimbi.


Anak-anak pun bermain kembali. Para orang tua kembali mengobrol. Bram dan Herman jadi merasa punya teman seumuran jika bersama dengan Fery dan Beny. Sedang Kanya merasa punya teman jika bersama Mia, Leni dan Sriani.


"Iya jeng. Tinggal di sini aja, nggak usah kemana-mana," ujar Kanya pada Sriani dan Leni.


"Anak-anak memang sangat menggemaskan. Walau saya jarang ngumpul, karena saya suka sakit jantung jika melihat mereka bermain terlalu aktif," ujar Mia sambil tersenyum.


"Iya, saya juga jarang ngumpul mereka karena ya itu. Semua terlalu aktif," sahut Kanya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam!" balas semua memberi salam.


Zhein muncul bersama istri dan dua anaknya. Bram tentu kegirangan luar biasa. Semua berpelukan.


"Raka mana sayang?" tanya Kanya pada putrinya.


"Raka sebentar lagi datang kok Ma," jawab Karina penuh kerinduan.

__ADS_1


Anak-anak yang baru lahir tentu belum mengenal mereka. Zhein minta maaf karena jarang membawa Karina berkumpul dengan keluarganya.


"Assalamualaikum Mama Teyya!" pekik Raka.


"Sayangku!" teriak Terra.


Wanita itu memeluk keponakan kesayangan suaminya. Raka akan mengangkat dirinya tinggi-tinggi seperti biasa hingga membuat wanita itu tertawa lepas.


Haidar memeluk Raka juga erat. Ia sangat rindu dengan keponakannya itu.


"Kamu nggak pernah ngumpul-ngumpul!' cebik Haidar.


"Jangan khawatir Om. Kami sebentar lagi juga akan berkumpul lagi. Perusahaan Raka udah Raka pindah ke sini," ujar Raka.


"Apa benar itu? Zhein?" Bram menatap menantunya.


"Benar Papa. Ini perusahaan Raka sendiri. Kemarin kami memang tidak memberitahu jika perusahaan Papa kolabs dan semua keluarga banyak menuntut. Raka dan istrinya saja hampir bercerai karena hasutan keluarga. Jika kami tidak melihat keluarga Terra dan lain-lain yang malah tambah banyak. Kami mungkin sudah bercerai-berai," jelas Zhein panjang lebar.


"Kenapa nggak bilang Papa sayang!" gemas Bram.


"Nggak Kakek. Mereka menganggap aku yang autis menjadi kolabs perusahaan. Makanya aku bangun perusahaan sendiri selama dua tahun dan berhasil!" jawab Raka.


"Alhamdulillah," seru Bram.


Virgou datang menggendong Aminah. Raka langsung memeluknya. Pria yang menolongnya selama diam-diam. Ia menangis dipelukan pria itu hingga membuat semua orang terheran-heran.


"Sayang ... Daddy gendong Aminah ini," ujar Virgou lembut.


"Mom," Kanya memukul gemas Virgou.


Karina memberitahu semuanya. Semua menatap Virgou. Satu kebaikan yang tak pernah terungkap akhirnya semua tau.


Kanya menangis dipelukan Virgou. Ia mengucap banyak terima kasih pada pria sejuta pesona itu.


"Sudah lah Mom. Raka adalah keponakannya Haidar, suami dari adikku Terra. Sudah semestinya aku menolongnya bukan?" ujarnya lembut.


Kanya dan Bram tak bisa berkata apa-apa lagi. Bart begitu bangga, ia sangat yakin pengaruh Terra dan Lidya begitu besar dapat merubah monster itu.


Kini semua berkumpul lagi. Anak-anak langsung lengket satu dan lainnya. Bahkan lima puluh anak angkat Bart juga lengket dengan Raka, istri dan semua anak-anaknya.


"Tau nggak Te," ujar Karina pada Terra yang menggelayut manja pada kakak iparnya itu.


"Kami memang keluarga besar di sana. Tapi anak-anak tak ada yang begitu sedekat ini. Bahkan kami nyaris tak mengenal satu dan lainnya. Kami saling pamer kekayaan," keluh Karina.


"Masa sampai begitu sih Kak?" tanya Terra tak percaya.


"Benar sayang. Andai saja Daddy Vir nggak datang waktu itu, mungkin aku juga lupa membesarkan anak seperti apa seharusnya," jawab Karina lagi.

__ADS_1


"Memang Daddy berapa lama sih membantu Kakak?" tanya Terra kesal.


"Kayaknya Daddy nggak pernah kemana-mana!' lanjutnya.


"Daddy itu datang ketika awal perebutan saham di pasar global. Semenjak mertua kakak meninggal dunia. Semua anak berebutan harta. Harga saham merosot tajam. Beruntung Raka memiliki kedudukan kuat sebagai ahli waris satu-satunya karena anak yang lain perempuan. Daddy datang dan memborong saham dengan harga yang sangat rendah lalu melemparnya secara gratis dipasaran. Daddy jahat banget waktu itu,"


Karina menceritakan betapa Virgou benar-benar membuat mereka belajar jika tak ada yang tidak mungkin.


"Jadi Raka memilih memberi semua harta dan tak mau menggubris mereka?" Karina mengangguk.


"Raka memilih jalan yang Daddy Vir beri. Putramu itu sangat cerdas luar biasa. Kini setelah dua tahun kami kembali berjaya atas kerja keras Raka sendiri walau secara tak langsung Daddy Vir yang membantu kami," jelas Karina lagi.


Terra menatap bangga pria dengan sejuta pesona itu. Kini ia ingat jika dulu mendiang ayahnya pernah menyanjung satu saudaranya yang sangat genius dan memiliki hati yang sangat baik. Terra juga ingat penukaran nilai tertinggi di salah satu event beberapa puluh tahun lalu.


"Kakakku memang yang terbaik," ujarnya bangga.


Terra pun berdiri lalu menyambangi kakaknya. Entah kenapa sifat manjanya keluar, ia lalu kini naik ke punggung Virgou.


"Hei ... apa yang kau lakukan Terra!" seru pria itu.


"Gendong!" rengek Terra.


"Kau berat ... memang kau Aminah apa!" omel Virgou kesal.


Tapi Terra malah mengeratkan pelukannya. Ia tak peduli dengan ocehan sang kakak. Bahkan Puspita juga mengomelinya sekarang.


"Turun dari punggung suamiku!" serunya kesal.


"Nggak ...weee!' tolak Terra malah meledek.


"Papa Idal ... dendon atuh!" perintah Harun.


Haidar berdecak kesal, tapi pria itu gemas malah bermain dengan mengangkatnya terbalik. Harun tentu berteriak seru, semua anak menyerbu Haidar.


Karina menatap suaminya. Keduanya tersenyum bahagia.


"Raka benar ... jika kita memilih Virgou, kita akan menemukan kebahagiaan sesungguhnya," ujar Zhein lirih.


Kanya mendengar hal itu. Lalu tatapannya memandang gerombolan manusia yang saling sindir menyindir dan gelak tawa anak-anak. Kembali ia menarik dua sudut bibirnya. Ia memeluk sang suami.


"Aku bangga memiliki mereka semua sayang," ujarnya lirih.


Bram mengangguk setuju. Bart mendatangi mereka lalu memberi pelukan hangat. Sebuah pelukan yang mengatakan jika keluarga selalu ada untuk mereka.


Bersambung.


Forever Familly ... familly forever.

__ADS_1


ba bowu Readers you are my best famillies 😍😍😍😍❤️❤️❤️❤️


next?


__ADS_2