
Semua orang memenuhi villa di mana masjid yang didirikan Virgou beberapa tahun lalu.
Selama sebulan penuh Virgou dan keluarga membagikan takjil gratis.
"Enak ya sholat di sini?!" ujar salah satu jamaah.
"Iya ... setiap jumat waktu belum puasa. Ada bagi-bagi makanan, tiap bulan bagi-bagi sembako," ujar yang lainnya.
"Mudah-mudahan kali ini kita dapat lagi ya," sahut lainnya.
"Aamiin ya rabbal alaamin!' sahut lainnya.
Terra sedikit kesulitan mencari tukang jualan karena sebentar lagi lebaran. Akhirnya ada lima tukang bakso, dua tukang mie ayam dan dua tukang ketoprak hadir di halaman.
"Kasih separuh porsi aja ya Mang, biar cukup!" ujar Terra.
"Iya Neng Haji!' sahut para penjual makanan itu.
'Aamiin, mudah-mudahan aku bisa naik haji tahun ini juga!' harap Terra dalam hati.
Seruni, Lastri dan Sean ikut andil dalam memenuhi kuota makanan untuk berbuka puasa.
Kaila bermuka masam. Masalahnya ia mendapat siklusnya padahal tinggal tiga hari lagi lebaran.
"Eh kenapa mukanya gitu?" tanya Dinar.
"Haid!" Kaila cemberut.
"Eh ... itu kodrat! Jangan disesali sayang ... apa kamu mau nggak haid selamanya?"
"Ih Bibu!" Kaila cemberut.
"Kan tinggal bayar sayang. Nanti sama Bibu ya. Bibu utangnya malah sepuluh hari," ujar Dinar lalu mengusap kepala remaja cantik itu.
Semua anak-anak sedang bercengkrama. Adiba membantu para ibu menyiapkan makanan untuk semuanya.
"Sayang, nanti kita bayar zakat berapa ya?" tanya Satrio pada istrinya.
"Ya bayar kita aja Mas. Kan baru ada kita," jawab Adiba.
"Nggak ambil sebagian adik kita bayar gitu?" tanya Satrio lagi.
"Grandpa masih sanggup sayang!" ujar Bart.
Sedang dalam masjid, Kean, Calvin, Sean, Al dan Daud tengah mengkhatamkan Al-Qur'an. Mereka membaca kitab suci itu bergantian.
Banyak mata memandang mereka dengan penuh kekaguman. Calvin risih, ia memberi instruksi untuk berhenti sebentar.
'Kita pindah yuk!" ajaknya.
"Kenapa?" tanya Al.
"Nggak enak dilihatin," jawab Calvin.
Mereka pun beranjak ke belakang mimbar. Setelah yakin tak dilihat orang. Calvin kembali mengaji karena kini gilirannya.
__ADS_1
Hal itu membuat beberapa jamaah yang hadir kecewa. Mereka langsung menuduh jika ke lima pemuda itu sangat sombong.
"Sombong amat sih. Baru gitu aja!"
"Mungkin maksudnya biar nggak dibilang riya'," ujar lainnya membela.
"Riya' apaan. Orang kita kan cuma lihatin doang! Dasar aja emang sombong!" sahut orang itu kekeh.
Virgou yang ada di sana sangat kesal sekali. Ingin sekali dirinya menodongkan pistol ke mulut pria yang lemes itu biar tau rasanya nyawa di ujung tanduk.
"He ... udah nggak apa-apa," ujar Andoro menenangkan pria di sebelahnya.
Remario duduk dengan tenang, pernikahan Satrio membuat ia sedikit shock. Ia belum mendapatkan jodohnya. Semua anak angkat Herman masih kecil. Ia tak mungkin menunggu Lana yang baru berusia sebelas tahun.
"Ayah nggak punya anak lain kah?" tanyanya pada pria yang tengah berdzikir di sebelahnya.
"Ck!" Herman hanya berdecak dan melirik sebal pada Remario.
"Ate ... ate!" Ryo berjalan ke arah mereka.
Bayi itu duduk dipangkuan Remario. Herman mengganggunya dengan menggosokkan tasbih yang ia pegang.
"Ate!" pekik Ryo marah.
Pria itu tertawa, lalu menciumi Ryo. Gelak tawa terdengar. Semua bayi laki-laki langsung bersama mereka.
Herman menyerahkan zakatnya juga membayar zakat mal. Virgou, Remario, Andoro, David, Haidar, Gabe, Frans dan Leon melakukan hal yang sama.
Sedang jamaah lain yang mengantri bayar zakat hanya dapat bengong mendengar jumlah fantastis yang dibayar oleh keluarga kaya raya itu.
"Kalo semua orang kaya bayar zakat seperti mereka. Kayaknya orang miskin bakalan banyak berkurang ya," ucap salah satu jamaah.
"Itu beras segitu banyak keknya buat satu propinsi juga cukup ya?!' sahut lainnya.
Azlan maju ke depan mik maghrib sebentar lagi datang. Sean dan lainnya telah selesai khatam.
Suara indah Azlan juga sangat menarik perhatian orang-orang. Azlan berusia lima belas tahun, ia juga sangat tampan dengan pipi kemerahan.
"Mashaallah tampan sekali!' puji beberapa jamaah.
"Pak itu anaknya siapa?" tanya beberapa jamaah.
"Itu salah satu anak angkat dari tuan Bart Dougher Young," jawab marbot masjid.
Tak lama bedug dan sirine berbunyi, Azlan membatalkan puasanya terlebih dahulu. Lalu adzan berkumandang begitu merdu.
"Mashaallah! Seperti mendengar syeikh dari Madinah ya!" puji para jamaah.
Dalam keriuhan jamaah. Sepasang mata menatap bocah yang tengah adzan. Matanya berkaca-kaca. Lima belas tahun ia mencari keberadaan putranya, kini ia mendapat anak laki-laki yang ia yakini adalah putranya.
"Nak ...."
Pria itu segera menghapus air matanya. Perlahan kepingan memori melintas. Ia mengingat bagaimana Azlan bisa lepas dari tangannya setelah lahir ke dunia.
"Maafkan aku sayang," ujarnya membelai sebuah foto cantik yang tersenyum.
__ADS_1
Pria itu sempat menolak kehadiran bocah yang masih melantunkan adzan. Ia mengusir wanita yang adalah istrinya dalam keadaan mengandung.
"Ini semua karena ulah mamaku!" gumamnya pelan dalam hati.
"Aku harus mendapatkan anak itu bagaimana pun caranya!"
Semua makan hidangan yang dipersiapkan untuk berbuka. Selesai membatalkan puasa, seluruh jamaah berdiri untuk menunaikan sholat maghrib.
Usai maghrib seluruh makanan inti dibagikan. Azlan keluar membagikan makanan untuk jamaah lain bersama beberapa saudara laki-lakinya.
"Nak!' pria itu mencekal lengan kecil Azlan.
"Eh ... Pak? Ada apa ya?" tanyanya lembut.
"Kamu adalah putraku ... aku ayahmu Nak!" ujar pria itu.
Azlan mematung, semua orang menoleh ke arah mereka. Deta memberitahukan pada Bart perihal yang terjadi.
"Apa kau bilang? Ada yang mengaku ayah dari putraku?!" sengit pria gaek itu.
Bart mendatangi di mana pria itu berada. Baik Azlan dan orang yang mengaku ayahnya sudah diamankan oleh Rio dan kawan-kawan.
"Dia putraku. Aku telah mencarinya selama lima belas tahun!" teriak pria itu ngotot.
"Apa buktinya?!" bentak Bart.
Azlan dipeluk oleh Gio. Ia ketakutan dengan pria yang mengaku ayah nya itu.
"Dia diculik ketika lahir oleh ibunya!" jawab pria itu.
"Anda bohong. Kau tau ... aku bisa mencari kebenaran ceritamu!" seringai Bart.
"Tes DNA aja! Dia pasti putraku!" teriak pria itu.
"Aku nggak mau!" tolak Azlan.
"Ibuku meninggal setelah melahirkan aku. Ibu Ratna yang menolongku dan membawaku ke panti agar tak diculik orang-orang!" teriak Azlan lagi.
"Kak Azizah yang membayar utang almarhumah ibuku!" lanjutnya.
"Kau di mana waktu ibuku sedang mengandung aku?!" teriak Azlan.
Pria itu terdiam, dia yang mengusir istrinya dan menuduh sang istri berselingkuh dan tak mengakui keberadaan bayi dalam kandungan sang istri.
Ia menikah lagi dengan wanita lain pilihan ibunya. Tetapi ia tak pernah mendapatkan keturunan dari dua wanita pilihan sang ibu.
"Aku ... aku mengira jika kau bukan anakku ... makanya aku mengusir ibumu waktu itu ...."
Bug! Satu bogem mentah dilayangkan Bart ke perut pria itu hingga tersungkur ke lantai.
Bersambung.
Eh ... ngadi-ngadi tuh orang.
Next?
__ADS_1