
Saf dan Lidya berlari menuju rumah di mana Arraya tidur. Tentu tidak semua karena ada pesta. Terra yang begitu merasakan sesuatu yang tidak baik terjadi pada dua anak kembarnya mengikuti menantu dan putrinya bersama Virgou. Herman ingin sekali ikut tapi tamu banyak datang dan menyalami pengantin.
"Bun ... Terra Bun!" bisik Herman.
Haidar dan lainnya menenangkan anak-anak, Bariana, Azha dan Harun yang paling ingin ikut pergi. Rion dan Azizah membantu ayah mereka mengatasi anak-anak.
"Babies ... Adiba!" pekik Saf.
Hoooaaa!
Suasana terlalu siang jika harus mendadak seram dan mencekam. Awan tiba-tiba mendung suasana mendadak gelap. Lidya langsung memegang tangan kakak iparnya.
"Uma!"
"Tenang sayang!" Saf lalu membaca doa.
"Robbi a’uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin wa a’uuzu bika robbi ay yahdhuruun. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung pula kepada-Mu ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku"
Hoooaaaa! Sebuah angin kencang menerpa keduanya. Seakan sulit mendekati pintu kamar di mana Arraya, Arion dan Adiba berada. Lidya menggenggam erat tangan Saf, ia juga membaca doa yang sama.
"Allahumma inni a'dzubika minasy syaithoni min hamazihi wa nafkhihi wa naftsihi. Artinya: "Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan, dari kesombongannya, tiupannya dan hembusannya." Rabbi a'udzubika min hamazatisy syayathini wa a'udzubika rabbi ay yahdlurun!"
Saf masih ditekan, sebuah panci yang tergantung di dapur seperti dilempar ke arah kedua wanita itu.
Prank! Saf melindungi Lidya dengan menjadikan tubuhnya sebagai benteng. Saf membaca doa lagi, kali ini doa dari Nabi Luth Alaihi Salam.
"Robbi najjinii wa ahlii mimmaa ya'maluun. Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan."
Brak! Brak! Brak! Semua barang dilempar ke arah Saf dan Lidya. Sepertinya mahkluk itu marah dengan doa-doa yang diucapkan wanita bermanik abu-abu itu.
Darren yang melihat istri, adik, ibu dan salah satu ayahnya berlari ke rumah paling ujung, ikut berlari bersama Gio dan Felix. Semua pengawal menjaga anak-anak angkat Herman yang mulai menangis. Mereka terus beristighfar, sudah dari kemarin para anak perempuan mengatakan keanehan di rumah yang mereka tempati. Tapi semua orang tua tak menanggapi, mereka hanya mengangguk saja.
Darren melihat Daddy-nya melindungi Terra dari lemparan barang-barang. Baru kali ini pertama kali pria itu melihat kekuatan lain. Bahkan suhu udara di rumah itu mendadak pengap.
Darren juga melihat jika semua benda menyerang adik dan juga istrinya. Pria itu mulai emosi, ia melangkah dengan bertakbir tetapi seperti dorongan kuat tak mampu menembus benteng tak kasat mata.
Jarak antar rumah dan tempat pesta memang jauh, ada sekitar 300 meter. Memang rumah bekas peninggalan Belanda itu besar dan luas halamannya. Makanya apa yang terjadi jauh dari orang banyak terlebih rumah yang ditempati Arraya dan anak-anak perempuan lainnya berada agak sedikit menjorok kebelakang dan ditumbuhi pohon-pohon tua yang usianya ratusan tahun. Sangatlah tepat untuk suasana angker.
Darren terus berusaha menembus dinding yang tak terlihat itu. Felix dan Gio sampai mendorong tubuh tuan mudanya agar mampu menembus apa yang tidak terlihat.
Herman yang dari tadi gelisah meminta ijin untuk pergi. Ia memanggil David untuk menemani istrinya.
Herman langsung pergi setelah Dav menggantikan dirinya. Pria itu berlari, Rion hendak ikut tapi Herman melarang.
__ADS_1
"Kamu jagain yang lain ya Baby," pinta pria itu.
"Ayah," rengek Rion.
"Baby!' Herman meminta pengertian bayi besar itu.
Rion menurut, walau hatinya gundah dari kemarin tapi ia tak bisa mengungkapkan kegundahannya.
Herman setengah berlari menuju rumah itu Gomesh mengikuti Herman. Pria raksasa itu baru kali ini juga merasakan satu kekuatan besar menghalanginya. Ia melihat bagaimana Darren didorong begitu rupa oleh dua pria sama besar. Tapi tak mampu bergerak sedikit pun.
Herman merapal doa.
'Wa qur rabbi a'ụżu bika min hamazātisy-syayāṭīn. Dan katakanlah "Ya Tuhanku aku berlindung kepada dari bisikan-bisikan syaitan!" (Q.S. Al-Mu'minun:97-98).
Herman melangkah dengan santai dan menepuk bahu tiga pria yang saling mendorong. Darren, Gio dan Felix sampai jatuh ke tanah. Gomesh langsung menangani ketiganya.
"Pa, kaki Darren gemetaran Pa!" adu Darren yang kakinya seperti lemah dan gemetar.
Gomesh menangis melihat kaki tuan mudanya tremor. Darren menarik napas rakus karena dadanya yang tadi seperti terhimpit mendadak lega setelah ditepuk oleh paman dari Terra, kakaknya.
Herman masuk barang-barang berterbangan. Bahkan kursi sofa seperti hendak terangkat ketika pria itu sampai di depan pintu.
"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir! artinya YA Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu!"
Rumah sudah seperti kapal pecah. Semua benda tidak terletak pada tempatnya. Saf menatap kekacauan itu, lalu teringat tujuannya. Ia pun langsung menuju kamar di mana Adiba dan dua adik ipar kembarnya itu berada.
Semua menatap dengan bulu tengkuk berdiri. Terra berada di sisi Herman melihat dua anak kembarnya digandeng oleh seseorang di kanan dan kiri. Adiba seperti patung di sana kaku tak bergerak.
"Babies!" pekik Terra.
Arraya menoleh dan tersenyum pada Terra. Ia melambaikan tangan pada sang ibu.
"Dada Mama!"
"Babies!" teriak Terra menerjang ke depan hendak merebut dua anaknya.
Wanita itu terpental kebelakang dengan sigap Herman menangkap tubuh keponakannya.
"Ze zijn van mij!" (Mereka milikku!) ujar wanita itu dengan tetesan darah di matanya.
"Laat ze los. Ze komen niet uit jullie midden!" (Lepaskan mereka. Mereka bukan dari kalanganmu!) perintah Herman.
Darren, Virgou, Gomesh, Felix dan Gio menatap bagaimana Arion dan Arraya sedang menggandeng seseorang. Tetapi yang digandeng tidak kelihatan. Mata Arion tampak bingung dan seperti tidak ingin pergi. Sedang Arraya sudah bukan seperti dia lagi. Batita cantik itu tersenyum sambil melambai tangan.
__ADS_1
"Berengsek! Unjukkan dirimu!" bentak Virgou mencabut pistol dari balik bajunya.
Herman memutar mata malas. Terra yang menangis berteriak memanggil dua anaknya. Belum lagi Darren yang juga ikut ribut menantang mahkluk tak kasat mata itu.
"Berisik kalian!" bentaknya kesal.
Semua terdiam. Terra yang masih sesenggukan. Wanita itu terus meminta agar siapapun yang menggandeng dua anak kembarnya dilepaskan.
"Lepaskan anakku ... huuu ... uuu ... aku mohon!" pintanya menghiba.
"Het zijn mijn kinderen!" (Mereka anak-anakku!) sebuah suara tanpa rupa menggertak Terra hingga bungkam.
Herman mengambil garam kasar yang selalu ia kantongi dalam sakunya. Mulutnya bergerak membaca doa dan meniup garam itu lalu menebarnya pada makhluk yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Aaaaaaa!" teriakan keras menggema.
Suara teriakan itu terdengar hingga pesta. Orang-orang sampai menoleh pada asal suara. Mereka menerka-nerka apa yang telah terjadi.
"Eh ... siapa yang teriak siang-siang begini?" tanya salah satu tamu undangan.
Nasi di piringnya tampak menggunung dengan berbagai macam lauk. Ia membuka lebar mulutnya ketika menyuap sendok yang berisi nasi dan lauknya itu.
"Entah lah, mungkin stress karena sekarang tanggal tua. Mau datang kondangan malu nggak bawa duit," sahut salah satunya yang juga makan entah keberapa kalinya.
Kembali ke tempat di mana Arraya, Arion dan Adiba disekap oleh jin paling kuat yang pernah ada. Tiga anak itu terjatuh di lantai. Terra langsung menghampiri dua anak kembarnya dan memeluknya erat. Ia menciumi wajah Arion dan Arraya dengan air mata berlinang.
"Mana ... mana perempuan itu!' teriak Virgou masih marah.
Saf dan Lidya menangani Adiba yang lemah. Arion menatap Daddy-nya yang marah dan menunjuk dinding.
"Bi sipu Daddy!"
Virgou yang marah meninju tembok itu dengan begitu kuat.
Brak! Pluk! Dinding jebol ditinju oleh Virgou. Kepala tengkorak terkulai ke depan hingga mengagetkan pria itu.
"Astagfirullah!"
"Tuh ... tembak lah itu tengkorak!' ketus Herman kesal.
Bersambung.
Ah ...
__ADS_1
Next?