SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DEWI


__ADS_3

Dewi tengah mengawasi Kaila. Gadis yang seusia hanya beda bulan saja dengannya.


Perbedaan mencolok tentu terlihat. Kaila berkulit kemerahan ala bule terlebih mata biru dan rambut kemerahan. Kaila adalah Virgou versi perempuan.


Sedang Athena Dewi Triatmodjo, berkulit kuning langsat, wajahnya sangat ayu dengan rahang lebar. Pupil hitam nan tajam alis laksana kepakan sayap. Dewi adalah jiplakan Herman versi perempuan.


Selama Kaila ada di sisi Dewi. Maka tak ada satu anak laki-laki yang menggoda gadis cantik itu.


"Dew ... kamu dipanggil kembaran kamu tuh!' ujar Cipto salah seorang anak laki-laki mendekati Dewi.


"Ngapain?"


"Ya nggak tau!" sungut Cipto kesal.


"Nggak, ngapain Dewa nyuruh kamu? Emang kamu kacungnya dia?" tanya Dewi.


"Ya kagak lah!" sahut Cipto sengit.


"Lah ... terus? Kenapa kamu mau disuruh Dewa?" tanya Dewi dengan seringai menyebalkan.


"Ya gua lagi baik hati aja Dew!" sentak Cipto menjawab.


"Cipto ... Cipto!" geleng Dewi tertawa mengejek.


Matanya terus mengawasi Kaila yang tengah bermain bersama teman-teman perempuannya.


"Ila udah gede kali. Biar aja dia main," ujar Cipto.


Remaja berusia enam belas tahun ini baru kelas satu SMA. Dewi, tetap mengawasi keponakannya itu.


"Dew!" sentak Cipto kesal karena Dewi mengindahkan permintaannya.


Padahal Dewa tak pernah menyuruhnya. Ia ingin mendekati Kaila dan menyatakan perasaannya.


"Lu mau gue tonjok?" tanya Dewi lalu mengepal tangan kirinya.


Dewi adalah atlet pencak silat dengan sabuk hitam dan strip dua putih di ujung sabuknya. Dewi sudah menjadi pelatih pencak silat nasional jika gadis itu diperbolehkan oleh ayahnya.


"Serahin Kaila sama aku. Kamu nggak mungkin jagain dia terus," ujar Cipto mencoba membujuk Dewi.


"Nggak!" tolak Dewi langsung.


"Selama Kaila masih dalam pengawasan. Gue yang akan ngawasin keponakan aku!" tekan Dewi menatap Cipto tajam.


"Lagian, Lu kok yakin banget bisa ngibulin gue?" sindir Dewi lagi.


"Ngibul? Siapa yang ngibul!" teriak Cipto tak terima.


"Eh ... lu kira gue kaga tau siapa kembaran gue?" kekeh Dewi sinis.


"Gue itu satu perut Ama Dewa. Jadi gue tau bener Dewa kek apa!" tekan Dewi yang membuat Cipto menelan saliva kasar.


"Dew ...."

__ADS_1


Cipto mencekal lengan Dewi. Tentu saja cekalan itu jadi masalah. Dewi memutar lengannya dan balik mencekal lengan Cipto lalu memutar lengan kurus itu hingga tubuh Cipto berbalik dengan lengan terpelintir ke belakang punggungnya oleh Dewi.


"Do not ever! To think!" desis Dewi lalu mendorong kuat tubuh kurus dan jangkung milik Cipto.


Remaja itu nyaris terjungkal jika saja tubuhnya tak ditangkap oleh Angga dan kawan-kawan.


"Bu'lek!" Kaila mendekati Dewi dan langsung disembunyikan di belakang tubuh Dewi.


Kaila memang lebih tinggi dan besar dari Dewi. Namun, kekuatan Dewi tak ada yang bisa menandingi. Angga mendekati gadis yang menatapnya datar.


Dewi melipat tangannya di dada. Angga benar-benar jatuh cinta pada mata tajam yang menusuknya.


"Kamu itu cantik jika kalem Dew," rayunya lembut.


"Oh, aku juga dengan itu ketika kau mengatakan hal sama pada Sabila!" sahut Dewi ketus.


"Oh kau cemburu ya?" Angga adalah seorang yang bisa mempermainkan kata. Dewi bukan tandingan remaja tampan itu.


"Aku cemburu?" tanya Dewi bingung.


"Sama cowok keresek ikan peda?" lanjutnya menyindir.


Sayang, Angga lupa siapa Dewi. Gadis itu memang bar-bar dan tak suka berkata banyak, apa lagi harus berdebat. Tetapi Dewi sangat paham bagaimana menghadapi sosok Don Juan abal-abal macam Angga.


Angga mengepal tangannya kuat-kuat. Dewi menggandeng Kaila. Dua gadis itu melewati Angga.


Salah satu teman Angga tiba-tiba hendak mencolek dagu Kaila. Tentu saja Kaila menepis jemari jahil itu sebelum menyentuh dagunya.


"Ih sombong amat sih. Timbang colek doang!" ketus remaja itu.


"Kenapa? Elu mau gue colek juga?" kekeh remaja itu lalu tangannya terangkat dan hendak mencolek dagu Dewi.


"Aarrggh!" teriak remaja itu kesakitan.


"Lu mau apain gue?" tanya Dewi dengan tatapan membunuh.


"Dew ...."


"Diam lu pada, sebelum gue patahin jari bocah kurang ajar ini!" bentak Dewi menunjuk pada semua anak yang hendak mendekatinya.


Remaja itu semakin berteriak kesakitan. Jari telunjuknya ditangkap oleh Dewi dan hendak dipatahkan. Remaja itu sampai bersimpuh karena kuncian Dewi pada jarinya.


Beberapa guru menenangkan Dewi. Sampai kepala sekolah memohon pada gadis itu agar melepas salah satu anak didik mereka.


Remaja itu menangis bahkan hampir kencing di celana akibat ketakutan. Angga menunduk ketika Dewi menatap tajam padanya.


"Sekali lagi Lu dan temen-temen Lu gangguin gue dan ponakan gue ...!'


Dewi memotong kalimatnya lalu memberi kode dengan jemari yang menyayat leher. Dewa, Rasya dan Rasyid datang. Ketiga remaja itu memang tidak bersama saudara perempuan mereka.


Duo R memanfaatkan ketampanannya untuk mendapat traktiran dari seluruh murid perempuan yang jadi fans mereka. Begitu juga Dewa, remaja itu ikut makan gratis karena bersama duo R.


"Kamu kenapa lagi sih?" tanya Dewa kesal pada saudari kembarnya.

__ADS_1


"Dia mau colek aku Mas!" jawab Dewi kesal. "Mau nyolek Kaila juga!"


"Apa?" tiga remaja langsung menatap remaja yang masih menangis di ruang BK.


Tak lama Gomesh datang. Herman tak bisa hadir karena ada di luar kota. Virgou juga sedang malas keluar.


"Saya rasa putri saya melakukan pembelaan diri!' ujar pria raksasa itu.


Tentu semua setuju, bahkan orang tua dari remaja yang hendak dipatahkan jarinya oleh Dewi tak bisa melakukan apapun.


"Saya selalu ayahnya minta maaf atas kelancangan putra saya Pak Diablo!' ujar pria itu penuh sesal.


"Ajari anak Bapak untuk menghargai wanita. Jangan dengan kekerasan, tapi arahkan jika hal itu juga menyakiti saudara perempuannya," ujar Gomesh bijak.


Waktunya pulang. Baik, Duo R, Dewa, Dewi dan Kaila menatap Gomesh sedemikian rupa.


"Apa?" tanya pria itu .


Empat pengawal bersama mereka. Luki menjadi supir. Gomesh ke sekolah menggunakan taksi daring.


"Tumben Papa nggak marah-marah di kantor BK?' sindir Rasya.


"Ck!" Gomesh berdecak.


"Papa beliin Ila martabak manis keju!" teriak Kaila ketika melihat outlet penjual martabak manis.


Mobil berhenti tak jauh dari toko itu. Gomesh mengajak kelima remaja dan memilih martabak.


"Ada versi jumbo loh Pak. Satu kilo coklat almond dan keju mozzarella," tawar pramuniaga.


"Sebesar apa itu?" tanya Gomesh memastikan.


"Bisa untuk lima puluh orang. Ukuran potongannya juga besar kok!' jawab pramuniaga.


"Saya ambil lima loyang yang satu kilo. Lalu yang biasa tiga loyang. Minta martabak spesial juga sepuluh ya!" pesan Gomesh.


"Baik Pak ditunggu!" ujar pramuniaga senang.


Setelah membayar, Gomesh mengajak anak-anak pergi ke restoran terdekat untuk makan siang. Tentu martabak akan lama menunggunya.


Usai makan sebagian martabak sudah siap. Empat pengawal Yadi mengikuti Gomesh dan anak-anak. Semua kaum hawa tentu menyoroti ketampanan para pria dewasa di sana.


Martabak jadi semua. Mereka pulang. Anak-anak senang dengan kedatangan Gomesh.


"Papa bawa apa?" tanya Arfhan berbinar.


"Bawa martabak manis dan martabak telur spesial sayang," jawab pria itu tersenyum indah..


"Holee ... Papa, Alsh au tuwa ya!" ujar bayi galak nan tampan itu dengan mengacungkan tiga jarinya.


Bersambung.


Itu tiga Baby ... bukan dua. 😁🤭🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2