
Semuanya duduk di sebuah ruangan khusus. Saf juga ada di sana, begitu juga Lidya, Gio dan Hendra.
Dua insan tengah duduk di tengah berhadapan dengan sosok yang paling ditakuti setelah Virgou, yakni Herman Triatmodjo. Pria itu memandang gusar dua orang beda jenis kelamin itu.
"Ayah," panggil Lidya dan Saf penuh kelembutan.
Keduanya mendudukkan pria yang masih berwajah kesal pada Sari dan Felix.
"Jelaskan apa yang terjadi tadi!" titah pria itu dengan datar dan dingin.
"Saya jatuh cinta pada putri anda tuan!" aku Felix akhirnya bersuara.
Pria itu menekan kata-katanya penuh keyakinan. Ia lalu menatap netra lamur milik paman dari atasannya itu. Di situ letak kekuatan pria itu. Tatapan penuh kekuatan laksana seorang raja yang seperti memiliki bilah besi kuat yang bisa membelah siapa pun yang menentang dirinya. Felix tetap pada tatapan besar dan penuh keyakinannya. Ia memastikan Herman jika ia adalah pria yang pantas untuk salah satu putri kebanggaannya itu.
"Ayah ...," suara lembut Sari nyaris membuat Herman menangis.
Sari, si gadis kecil yang dulu begitu kurus. Khasya merawat ke tiga puluh anaknya sendirian termasuk almarhumah Anwiyah. Dua tangan mengasuh tiga puluh anak kecil bahkan dulu ada yang seusia Rion waktu itu.
"Ayah, Sari juga mencintai Bang Felix. Sari yakin akan Bang Felix mampu menjadi imam bagi Sari," aku gadis itu juga jujur namun dengan suara tercekat.
Herman menitikkan air matanya. Ia tergugu seketika. Saf dan Lidya memeluknya, ikut sedih.
"Ayah, Tante Sari sudah cukup usia untuk menikah," ujar Lidya.
Wanita itu mengecup dan mengusap air mata lelaki tua itu.
"Tuan Herman, saya sangat mencintai nona Sari tuan, ijinkan saya mengambil tanggung jawab itu dari tangan tuan," pinta pria itu penuh permohonan.
Herman makin menangis. Ia tak menyangka akhirnya bisa menikahkan salah satu putri kebanggaannya. Sari merupakan panutan semua anak-anak.
"Jika kau memang begitu menginginkan putriku Sari menjadi istrimu. Persiapkan diri dan lamar dia dengan baik di depanku!" titah pria itu luluh pada akhirnya.
Sari langsung bersimpuh di kaki pria yang selama ini merawat, mendidik dan menyayanginya. Padahal anak dari Herman banyak, tapi kasih sayang pria itu sama rata pada semuanya.
"Ayah ... terima kasih ayah huuuu ... ayah adalah ayah yang terbaik di dunia, Sari begitu beruntung memiliki ayah ... hiks ... hiks!"
Herman jadi menangis tersedu-sedu. Ia memeluk anak gadisnya itu dan. mengecup lembut keningnya.
"Sayang, kau adalah putri kebangganku, Felix juga pria terbaik yang pernah aku temui, jadi ayah yakin kau akan bahagia dengannya putriku!"
Keduanya berpelukan. Gio dan Hendra bernapas lega. Akhirnya salah satu bodyguard lepas lajang sebentar lagi.
"Tuan, nona Anyelir apa boleh buat saya?" pinta Hendra tiba-tiba.
"Kau mau kubunuh Hendra!" teriak pria tua itu yang membuat Hendra bungkam.
"Tenangkan dirimu bro. Jangan buru-buru," bisik Gio.
__ADS_1
Anyelir Triatmodjo juga salah satu putri angkat Herman. Gadis itu juga salah satu putri terbaik milik pria itu. Memiliki tiga outlet butik and spa khusus wanita. Anyelir juga memiliki therapy khusus kecantikan, gadis itu berusia sama dengan Sari.
"Anak-anak ayah hebat-hebat semua," puji Hendra.
"Diam kau!" sentak Herman tak suka.
Hendra mengerucutkan bibirnya. Ia memang sudah bertemu dengan Anyelir beberapa kali ketika mengantar nona mudanya ini. Bahkan ketika ke panti untuk mengantar bahan sembako pada panti di mana Anyelir berada bersama yang lainnya. Semua anak angkat Herman sukses tapi tak ada yang mau pergi dari panti itu.
"Aku menunggumu tiga hari paling cepat dan satu minggu paling lama untuk melamar putriku!" titah Herman.
"Baik Tuan!" sahut Felix dengan senyum bahagia.
Herman tau masalalu pria yang menginginkan putri angkatnya itu. Semua sama, ditinggalkan oleh orang tuanya, sama dengan Sari.
Herman pun pergi dari sana, tujuannya tadi hanya ingin melihat-lihat rumah sakit milik putri kandungnya itu. Siapa sangka ia malah mendapat satu kejadian yang nyaris membuatnya sakit jantung.
"Om Felix saya kasih cuti sampai dua minggu mendatang!" ujar Lidya.
"Terima kasih nona!" Felix membungkuk hormat.
Kini semua kembali bekerja. Felix masih menjaga keamanan Lidya bersama dua rekan lainnya. Sementara yang menjaga Safitri tak ada di tempat karena wanita itu meminta mereka untuk menunggu di luar rumah sakit saja.
"Uma enak ya, nggak dijagain ketat seperti Iya," keluh wanita itu.
"Nona," tegur tiga pria yang jadi pengawalnya.
Saf terkikik geli. Ia sangat tau betapa posesifnya ketiga pengawal itu terlebih saat Demian mendekati adik iparnya itu.
Sore menjelang. Lidya sudah kembali ke rumah sakit tiga jam yang lalu. Saf mulai membenahi semua data ibu-ibu hamil. Besok perawat bernama Rania menjadi asistennya. Perlahan ia mengusap perutnya yang masih rata. Usia kandungannya baru berjalan lima minggu, tentu ia harus menjaga agar diri tak terlalu lelah.
"Assalamualaikum!" ujar salam di ambang pintu.
"Wa'alaikumussalam!" sahut Saf dengan senyum lebar.
Darren masuk dan menutup pintu ruangan. Budiman sudah berdiri di sana menunggu.
Sebuah kecupan Darren layangkan di bibir sang istri. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang dalam.
"Mas," panggil Saf lembut.
Napas keduanya menderu, Darren lalu mengajak istrinya pulang.
"Yuk pulang, Abah ingin jenguk dede di dalam malam ini," ajak pria itu dengan suara serak.
Saf mengalungkan lengannya di lengan sang suami. Wanita itu bergayut manja pada pria itu. Budiman menyapanya dan Safitri lalu merangkul juga lengan ajudan sang suami.
"Baba, besok Saf minta bikinin nasi goreng dong," pinta wanita itu merajuk.
__ADS_1
"Baik sayang," sahut pria itu.
"Makasih baba,"
"Sama-sama,"
Sedang di rumah Terra. Wanita itu sibuk memberi makan semua perusuh. Lima bayi kembar menjadi rusuh bersama kakak-kakak mereka.
"Ta ... nevevuanjeyfbsjusnwkis!" seru Maryam mengoceh tak jelas.
"Je hsgwnjshgsnjwusnsu njshhshdbhz!" sahut El Bara menimpali saudarinya.
"Baby, talian janan beulantem don ... pidat bait!" nasihat Bariana pada dua bayi yang berseteru.
"Benjsnsbhanjshmsnhshjnejh!" sahut Fatih kini.
"Baby ... janan bedithu ipu dilalan ya!" kembali bayi cantik itu menasihati.
"Ohteh!" sahut kelima bayi lalu mengangguk.
Terra hanya membiarkan kericuhan itu. Semua tiba-tiba berbahasa layaknya sandi Morse. Haidar, Virgou, Bart, David, Leon dan Najwa terhibur dengan bahasa anak-anak.
"Kalian ngomong apa sih?" tanya Virgou gemas.
"Dada ... kenhdbhwuenhduwnsuu!" jawab Aisyah kini.
"Ah ... apa pun katamu baby," sahut pria sejuta pesona itu gemas dan menciumi mereka hingga tergelak.
Semua kini pulang. Rumah Terra mendadak sepi. Terra menghela napas panjang ketika semua bayi pulang kecuali Arion dan Arraya.
"Besok juga rame lagi sayang," ujar Haidar lalu memeluk istrinya dari belakang.
Terra bersandar di dada suaminya. Keduanya kini duduk di sofa ruang tengah, saksi bisu curhatan Nai, Arimbi dan Daud.
"Apa kasih sayangku terlalu berlebihan sayang?" tanya wanita itu.
"Tidak, itu sudah pas. Bukankah Seruni telah menjelaskan tadi pagi?" Terra mengangguk.
"Selamat malam tuan!" keduanya menoleh.
"Felix ada perlu apa malam-malam begini?" tanya Haidar.
"Tuan bisakah membantu saya melamar nona Sari pada Tuan Herman?!"
"Apa?!" teriak suami istri itu tak percaya.
bersambung.
__ADS_1
rileks Te ... Dar. udah direstui Herman kok.
next?