SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BAR-BAR NYA ANAK PEREMPUAN


__ADS_3

Maisya memang jadi sosok bunga yang mekar dan sangat cantik. Banyak kumbang datang silih berganti, tetapi tak ada satupun berhasil mendekati.


Bahkan ada beberapa yang mendekat langsung mati akibat tanaman pelindung yang memiliki racun sangat mematikan.


Diibaratkan, Maisya ada sekuntum mawar indah nan langka. Namun di sekelilingnya terdapat banyak semak belukar yang akan melilit dan menjerat siapapun yang datang.


Maisya Afsyun Black Dougher Young, sembilan belas tahun. Rambut hitam bergelombang, dengan postur tinggi 169cm dengan bobot 59kg. Iris mata hitam kelam milik sang ibu ada padanya. Kulitnya eksotik seperti milik ibunya. Sosok introvert, pendiam dan tak banyak tingkah sama seperti kembarannya.


"Mai!" gadis itu menoleh.


"Ya?!"


Ignatius Wirawan, seorang pengusaha ternama. Masih muda dan tampan. Pria itu baru saja memenangkan tender besar di perusahaan Piterest Black Steel company milik Virgou.


Maisya datang sebagai perwakilan dari perusahaan yang menangani pendataan pembukuan. Virgou mempromosikan anak-anak di sana pada semua perusahaan yang ada.


"Jadi jika ada kekeliruan pada pendataan pembukuan, kami selaku pemberi jasa pelayanan pendataan ulang. Selama itu didampingi kuasa hukum baik dari pihak perbankan dan juga pihak perusahaan itu sendiri," jelas Dimas selalu CEO di PT Tridhoyo (SaveAcounting).


Maisya menatap sosok tampan yang memanggilnya. Pria itu hendak mendekat sebelum tubuh besar tinggi menjulang menghalanginya.


"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Gomesh dengan senyum mengerikan.


Ignatius menelan saliva kasar. Pria itu mundur teratur sebelum dirinya diinjak tak berbekas oleh raksasa tampan di depannya.


Mai yang memang tak pernah menggubris apapun tak peduli dengan apa yang terjadi. Gadis itu pergi ke toilet ia rasa harus mengganti pembalutnya.


"Ck ... pake dapet pas puasa lagi. Males banget ganti puasanya!" keluhnya kesal.


Setelah membersihkan diri dan membuang pembalut di tempat sampah. Gadis itu hendak kembali ke ruang di mana semua berada.


"Nona," Santo mengawasi pergerakan nona mudanya.


"Papa," keluh gadis itu.


Terbiasa dengan para perusuh paling junior yang memanggil semua pria pengawal adalah papa. Maka semua anak memanggil para pengawal mereka dengan panggilan sama.


"Nona, ayo kembali!" ajak Santo.


"Pa, aku mau makan. Lapar ... kan nggak lagi puasa," rengeknya.


"Nona, ini baru jam sebelas siang. Nggak ada warung yang buka!" sahut Santo.


"Kita pulang ya," ajaknya lagi.


"Lama Pa," rengek Maisya mengelus perutnya yang memang lapar.


"Gara-gara toleransi dan menghormati yang puasa. Jadi yang nggak puasa dipaksa puasa!" gerutu Maisya kesal.


"Nona ...."


"Ih bener Pa. Mestinya kalo udah merasa beriman mampu menahan godaan. Masa batal hanya gara-gara liat orang makan. Kalo udah niat mah!" lanjutnya mendumal.

__ADS_1


"Nona ... tidak semua berpikiran sama. Menghormati orang puasa dengan sengaja menggoda mereka untuk berbuka dengan menghidangkan makanan di depan mata itu salah!" jelas Santo.


"Maksud dari larangan berjualan ketika waktu berpuasa adalah untuk mencegah orang-orang untuk berbuat mudhorot pada sesama yang tengah berpuasa," lanjutnya menjelaskan.


"Terus kita yang memang tak berpuasa gimana Pa? Apa harus mengalah?" tanya Maisya kesal.


"Tentu Nona. Kan mengalah hanya sebulan ini saja. Sebelas bulan berikutnya, Nona bebas jajan di mana saja tanpa ada yang melarang," jawab Santo yang akhirnya membuat Maisya diam.


"Gimana kalo musafir Pa?"


"Musafir harusnya tau ini bulan apa. Jadi semestinya ia tak melakukan perjalanan jauh. Lagi pula ini jaman sudah modern. Cukup sembunyi di tempat tertutup dan makan diam-diam. Tak ada yang melarang itu," jawab Santo lagi.


Maisya mengikuti Santo dan kembali membawanya ke ruangan rapat. Di sana hanya tinggal Virgou, Affhan, Dimas dan Gomesh juga tiga pengawal lainnya.


"Nona lapar Tuan," lapor Santo.


"Ayo pulang, makan siang di rumah!" ajak Virgou.


"Daddy nggak lanjut kerja?" tanya Affhan.


"Ada Pa'lek mu yang mengurus!" jawab Virgou santai.


"Mashaallah Daddy, Pa'lek kan mau nikah sebentar lagi. Masa dikasih tugas terus sih!" protes Affhan.


"Biarin!" sengit Virgou keki.


Pria itu masih menganggap Satrio masih kecil. Padahal usianya sudah dua puluh satu tahun.


"Iya, Papa Pablo sama Papa Fabio juga kan mau nikah minggu ini. Masa disuruh lembur terus!" sahut Dimas lagi.


"Kalian ini ya ... berisik sekali!" sengit Virgou kesal.


Pria itu mengomel panjang pendek. Maisya memeluk erat lengan ayahnya.


"Eh ... itu Non Maisya beda Ama bapaknya ya?" bisik-bisik karyawati mulai bergosip.


"Iya ... nggak mirip sama sekali. Apa iya dia anak tuan Virgou yang gantengnya kek kelewatan itu?" tanya yang lain masih penasaran.


"Tuan Affhan mah masih ada memper bapaknya," lanjut lainnya.


Maisya memang sangat berbeda dengan keturunan Virgou. Gadis itu berwajah sang ibu yang Indonesia tulen. Sedang Affhan masih terpancar wajah bulenya walau warna pupil sama dengan sang ibu. Hitam pekat.


"Copet!" teriak salah satu karyawati di pinggir jalan.


Virgou dan lainnya ada di lobi. Maisya yang mendengar itu lari melesat. Virgou tak dapat mencegahnya. Gomesh dan Santo menyusul, Dimas dan Affhan tak sempat karena tiga pengawal langsung memegang mereka.


"Ah ... putriku!" keluh Virgou.


Di sana pencopet tertangkap oleh Maisya. Tubuh pria muda yang terangkat karena dicengkram kerah bajunya oleh Maisya.


"Heeeekkk!" pria itu mencoba melepas cekikan Maisya.

__ADS_1


"Nona, lepas Nona!" pinta Santo.


Gomesh mengambil alih pencopet itu. Maka cengkraman Mai terlepas.


Semua orang menatap Maisya takut. Bahkan para laki-laki di sana tak ada yang berani menatap gadis itu.


"Gimana sayang?" tanya Virgou.


"Seru Daddy ... besok-besok. Aku mau kek gini lagi!" jawab Mai semangat.


Virgou tersenyum, ia mengingat betapa istrinya dulu ketika gadis menghabisi preman-preman yang menghadangnya. Bahkan percakapan lucu antara dirinya dan sang ibu mertua perihal senjata.


"Kau sama seperti ibumu sayang," ujar Virgou mengecup kepala putrinya.


"Tentu, aku anak Mommy!" sahut Maisya.


"Kalo ada Bu'lek pasti lain lagi ceritanya!" lanjutnya makin antusias.


Virgou menghela napas panjang. Athena Dewi Triatmodjo, tujuh belas tahun. Gadis itu juga sangat bar-bar dan tak ada yang bisa menandinginya.


"Apa baby mau seperti Bu'lek?" tawar Dimas.


"Bu'lek master Aikido dan juga taekwondo tingkat nasional loh," ujarnya.


"Baby Dew akan pergi ke Rusia untuk ikut kejuaraan dunia. Baby akan jadi master bela diri termuda jika memenangkan acara itu," jelas Dimas.


"Astaga ... apa anak itu sudah sejauh itu berjalan?" tanya Gomesh takut.


"Papa ... Baby Bariana sudah mengikuti jejak Baby Dew," sahut Affhan malas.


"Apa yang terjadi?" tanya Virgou pura-pura tidak tau.


"Really?" semua orang menatapnya tak percaya.


Virgou berdecak, ia memang mengetahui semua langkah anak-anak. Kepekaannya sebagai seorang ayah memang terasah.


"Baby Bariana kemarin baru saja menjatuhkan bocah laki-laki yang mengejek rambutnya yang keriting," lapor Affhan.


Virgou tertawa, entah ia harus bangga, sedih atau apa. Semua keturunannya memang luar biasa. Ia tak sabar menanti petualangan-petualangan seru dari Harun, Azha, Bariana, Arraya dan Arion di sekolah dasar mereka.


Bersambung.


Memang mereka itu beda Daddy ...


Next to.


THE BIG FAMILIES?



soon yaa!

__ADS_1


ba bowu 😍❤️❤️❤️


__ADS_2