
Hari senin tiba, semua kembali pada aktifitasnya. Pekerjaan menumpuk dan anak-anak yang sudah sekolah.
Di rumah Terra, wanita itu kini dititipi cucu-cucunya.
"Mama ... mama tan pasih puda ... tot pudah bipandhil Nenet?" tanya Bariana bingung.
Terra mencium gemas bayi cantik dan pintar itu. Maria bersamanya, ikut menjaga para bayi. Kehamilannya kini sudah menginjak empat bulan.
"Nyonya ... apa ini sudah cukup?" tanyanya ketika memotong beberapa wortel dan kentang. Mereka ingin membuat pastel rebus dan goreng sesuai keinginan anak-anaknya.
"Mama pita setolah tapan ya?" tanya Harun.
"Masih lama baby," jawab Terra.
"Talo setolah setalan bemana pita eundat pisa?" tanya Harun lagi.
"Memangnya mau ngapain baby?" tanya Maria.
"Ya pelajan lah!" jawaban Harun membuat Maria cemberut.
Terra terkekeh mendengarnya. Bicara saja mereka belum bisa sudah mau belajar.
"Belajar sama mommy Mar saja baby," sahut Terra.
"Bilang merah aja masih pelah, biru masih biwu ... gimana mau belajar," keluh Maria.
"Mommy, banana judha belajan ... basti banat yan zalah!" sahut Harun santai.
Maria benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Ia kalah adu debat dengan bayi usia dua tahun setengah itu.
"Baby Malyam!" pekik Arraya pada adik sepupunya itu.
"Pa Ta'!" sahut Maryam juga tak kalah keras suaranya.
"Janan pedhan-pedhan pesi banti tamu tena putul woh!" larangnya.
"Yam ndan-ndan ja!" sahut bayi tujuh bulan itu.
"Bental tamu te ...."
Belum sempat selesai Arraya mengatakan apa yang ia katakan. Besi yang dipegang Maryam sudah nyaris mengenai kepalanya jika saja Azha tak menepis besi itu.
"Huwwwaaa ... mama ... si tal!" pekik Maryam.
Padahal tangan Azha memerah karena menepis besi itu. Terra heran dari mana cucunya mendapatkan besi itu.
"Andre, Setya!" pekiknya.
"Nyonya!" sahut kedua pria datang.
"Kenapa bisa ada besi di tangan putriku?" pekik Terra.
"Biar kami cari dari mana besi itu nyonya!" sahut Andre.
Dua pria menyisiri halaman belakang itu. Azha dielus tangannya oleh Terra sedang Maryam ditenangkan Maria.
"Baby ... tadi ambil besi itu dari mana?" tanya Maria.
"Li mah ... hiks ... mommy," jawab bayi cantik itu.
"Oh berarti Maryam sudah pegang besi dari rumah ya?" bayi itu mengangguk.
__ADS_1
Para bodyguard tak menemukan besi di mana pun. Terra akan menanyakan hal itu pada menantunya.
Sedang di perusahaan Darren menugaskan Azizah ke kantor Herman. Pria itu juga ingin ditangani komputer error. Kean juga tak mau menangani komputer itu.
"Kean males yah!" kilah remaja itu.
"Astaga, anak ini!" geram Herman gemas.
Azizah datang dan langsung menangani komputer error itu. Hanya butuh dua jam, komputer error selesai. Herman sampai berdecak kagum akan Kegeniusan gadis itu.
"Udah beres kak?" tanya Kean tak percaya.
"Beres Tuan muda, lain kali kalo mau nge-prank itu jangan pakai virus bohongan ya," ujar Azizah.
"Apa katamu, prank?" tanya Herman tak suka.
Kean nyengir kuda. Herman menjewer telinga remaja itu sampai meringis.
"Anak nakal!'
"Kan biar Kak Azizah ke sini yah!" sahut remaja itu.
"Kamu masih kecil!" sahut Herman.
"Kan siap-siap yah. Nanti pas udah gede, Kak Zah tinggal pilih deh, Kean, Cal, Sean, Satrio, Al atau Daud," sahutnya lagi.
Azizah hanya menggeleng mendengar perkataan tuan mudanya itu. Gadis itu masih menganggap perkataan tentang perjodohan para tuan muda dengan dirinya itu hanya mimpi belaka.
"Tuan muda pasti akan mendapat gadis yang jauh lebih baik dari saya," ujarnya.
"Kau cantik dan genius nak. Aku tak keberatan jika kau jadi menantuku," ujar pria itu.
Azizah hanya tersenyum menanggapinya. Gadis itu kembali ke perusahaannya. Ia kembali mendapat bonus dari hasil kerjanya. Rion tengah mendatangi perusahaan milik sang ibu yang kini dikelola oleh kakaknya.
"Jadi ini sudah beres semua kan kak?" tanya Rion.
"Sudah baby, kerjasama sudah diperbarui," sahut Darren.
Keduanya keluar dari ruangan bersamaan dengan datangnya Azizah.
"Kau sudah selesai Zah?"
"Memang dia dari mana?" tanya Rion.
"Tadi komputer ayah error," jawab Darren.
"Loh bukannya sudah diberi sistem sama dengan milik kita kemarin? Kok masih error?" tanya Rion bingung.
Darren menatap Azizah. Gadis itu langsung menjawabnya.
"Tuan muda Kean yang membuang virus mainan di komputer tuan,"
"Ck, anak itu!" dumal Darren.
"Apa hanya itu?" tanyanya lagi.
"Saya sudah menguatkan sistem dan akan memblok jika ada virus yang masuk," jelasnya lagi.
Darren mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering, ia mengerutkan dahinya.
"Assalamualaikum tuan muda,"
__ADS_1
"......?"
"Ya saya sudah sampai," jawab gadis itu lagi.
"......!"
Azizah langsung merona mendengar perkataan Kean di seberang telepon. Gadis itu lalu menutup telepon setelah mengucap salam. Ia membungkuk hormat pada Darren dan Rion, lalu pergi ke ruangannya.
Darren melirik adiknya yang berwajah datar. Pria itu masih menunggu ekspresi kesal itu. Ia yakin jika Rion memiliki perasaan pada salah satu karyawatinya itu.
'Kita makan siang bareng yuk," ajak Darren.
"Sama Kak Saf?' Darren mengangguk.
Rion langsung setuju. Keduanya kini menuju rumah sakit di mana Saf dan Lidya bekerja. Sedang Dominic mulai mengurus berkas-berkas untuk pernikahannya dengan Dinar. Herman yang menyuruh pria itu untuk segera melangsungkan pernikahan.
"Ayah yakin menyuruh saya menikahi Dinar?" tanya Dominic setengah tak percaya.
"Ya kalau kau mau harus cepat, jika tidak tunggu saja sampai aku mengijinkan kalian menikah!" sahut pria itu santai.
Dominic langsung meminta maaf pada Herman agar tidak memperlama pernikahan mereka.
"Dik, apa sudah dapat ijin dari RT setempat?" tanya Dominic via sambungan telepon pada Dinar.
"Sudah Mas!" sahut gadis itu.
Dominic bernapas lega. Dinar juga tak berpangku tangan untuk ikut mengurusi berkas pernikahan mereka.
"Oh ya tanggal yang paling disarankan adalah pertengahan bulan depan sayang, apa kau setuju?" tanya Dominic.
"Aku setuju mas, jangan terlalu mewah ya," pinta Dinar.
"Iya sayang," sahut pria itu lagi.
Dinar selalu merona dengan perkataan mesra dari pria itu. Hubungannya dengan kedua orang tuanya juga sudah lebih baik. Walau keduanya tetap menolak diajak tinggal bersama.
Herman masih belum membicarakan masalah perusahaan milik Hardi itu karena kesibukannya. Terlebih beberapa hari lalu Dewi sempat diculik.
"Ayah, kata Papa Gomesh penculik itu sudah diserahkan pada yang berwajib," ujar Kean melaporkan.
"Ya, terima kasih nak," ujar Herman.
Pria itu tak ambil pusing, penjahat telah ditangkap dan dipecat dari kesatuan pencak silat. Empat pria juga sudah diberi ganjaran oleh Gomesh dengan hadiah pukulan. Setelah mereka sembuh luka pukulan, mereka baru diserahkan pada pihak polisi.
"Ayah, boleh ajak Azizah nonton nggak?" tanya Kean.
"Kau mau kupukul?" desis pria itu.
"Bareng Nai sama Arimbi,"
'Nggak!" larang Herman.
"Ayah ... kan kita mau pedekate!" sahut remaja itu.
"Kalau ayah bilang tidak ya tidak!" bentak Herman makin kesal.
Kean memeluk pria itu. Ia memang suka sekali dengan kemarahan Herman. Itu menandakan jika dia sehat-sehat saja.
bersambung.
ih ... dasar Kean!
__ADS_1
next?