SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH PERISTIWA


__ADS_3

Reno, Dicky dan Bambang berada di belakang Satrio. Remaja itu tengah pergi ke sebuah butik baju-baju khusus wanita.


"Baju seksi untuk cewe yang mana Mba?" tanyanya.


Pramuniaga hanya menatap Satrio dengan mulut ternganga. Remaja pria itu tampak mengedarkan pandangannya. Karena tak mendapat jawaban, Satrio melihat pramuniaga itu tengah menatapnya.


"Mba!"


"Eh ... iya Mas!" sahut gadis itu tergagap.


"Saya cari baju seksi Buat cewe. Apa itu namanya? Limjery!" sahut Satrio.


"Lingerie Mas," ralat gadis itu dengan rona di wajah.


"Nah maksudnya itu," sahut Satrio.


"Ini Mas, berbagai koleksi kami, ada Victoria's Secret, La Perla, Agent Provocateur, Frankly Darling dan Carine Gilson," tunjuk gadis itu pada rak-rak dengan berbagai model lingerie.


Satrio melihat tiga pria yang mengawalnya. Reno, Dicky dan Bambang membuang muka mereka. Ketiganya masih bujangan. Anak angkat Herman yang gadis, habis diambil pengawal-pengawal senior yang lebih dulu bekerja di rumah Terra.


Satrio membeli warna yang ia suka dari berbagai brand. Usai membayar, ia pun langsung pergi ke mansion orang tuanya.


"Dari mana Baby?" tanya Khasya.


"Dari jalan-jalan Bunda,"


"Apa yang ada di tanganmu?"


"Pinjeri, Bunda," jawab Satrio asal, ia selalu lupa apa nama benda itu.


Khasya hanya menggeleng, Satrio pergi ke kamarnya. Di sana ia melipat baju saringan santan itu dan meletakkannya ke sebuah kotak. Remaja itu memang telah mempersiapkan hantaran dan mahar jika ia menikah nanti.


"Mahar sudah, minjeri udah, skin care udah, peralatan mandi udah, mukena sajadah udah, tinggal beli buat yang pribadi bra sama CD nya. Duh, ukuran berapa ya?"


Satrio terkikik geli. Semenjak Azizah diperistri oleh kakak panutannya. Remaja itu mulai memikirkan kapan ia menikah, walau ia tak tau kapan.


"Aku nikah sama siapa ya?" tanyanya bermonolog.


Remaja itu pun terlelap, rupanya ia kelelahan. Khasya masuk kamar dan melihat kotak-kotak yang dihias indah. Wanita itu melihatnya.


"Ck ... dia sudah besar," gumamnya pelan.


Khasya mengulum senyum dan membereskan kotak-kotak itu. Perlahan ia mendekati wajah tampan putranya, ia mengusap butiran keringat di dahi Satrio, lalu mengecupnya lembut.


"Bunda," rengeknya dengan mata terpejam.


"Baby, sebentar lagi Ashar," ujar wanita itu membangunkan putranya.


Satrio membuka matanya, lalu tersenyum.


"Bunda peluk dulu dong," pintanya manja.


Khasya merebahkan dirinya di sisi sang putra, ia memeluknya. Satrio juga balas memeluk ibunya itu.


"Ketika nanti jodohmu datang. Jangan pernah sakiti dia, simpan semua keburukan istrimu nanti,"


"Iya Bunda," sahut Satrio.


"Ayo bangun, itu sudah adzan!"

__ADS_1


Keduanya pun bangkit dan langsung melaksanakan sholat.


Sore hari semua remaja pergi ke kafe milik Sean. Mereka memakai outfit terbaik. Wajah-wajah tampan dan cantik menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.


"Nai," panggil Arimbi.


Dua gadis itu duduk di dekat taman. Mereka meminum jus alpukat dan kentang goreng. Keduanya tampak berbicara serius.


"Nai, kamu udah punya cowok yang disenengin belum?" tanya Arimbi.


Nai menatap saudaranya, Arimbi adalah bibinya. Tapi karena seumuran, ia tak pernah memanggilnya Bibi. Terra dan Herman tak pernah mempermasalahkannya. Gadis itu menoleh ke sekitarnya, ia takut dengan jawabannya nanti ada yang mendengar. Nai memilih mengendikkan bahu.


"Kalo kamu?" tanyanya ulang.


Kali ini Arimbi melihat sekitarnya. Ia memajukan tubuhnya dan berbicara pelan.


"Ada dokter di rumah sakit nembak aku."


"Yang bener?!" pekik Nai.


"Sssshhh!" Arimbi meminta Nai memelankan suara.


"Sorry," bisik Nai menyesal.


"Ck ... kebiasaan!" sungut Arimbi pelan.


"Kamu terima?" tanya Nai dengan nada pelan.


Arimbi menggeleng, ia belum tau dengan perasaannya. Gadis itu mengaduk jusnya.


"Kok ditolak?" tanya Nai lagi.


"Duh, apa kita jadi perawan tua ya?" lanjutnya bertanya.


"Ih ... kamu aja itu, aku enggak!" sahut Nai.


"Emang kamu udah punya calon?" sindir Arimbi.


Nai hanya nyengir kuda, ia tentu tak memiliki kekasih apa lagi pria idaman. Ayahnya merobek poster Lee Min Ho dan Cha Eun Wu ketika gadis itu baru saja mendapat idola baru.


"Nggak boleh mengkhayal laki-laki yang bukan apa-apamu! Itu dilarang! Dosa!"


"Kan cuma buat senang-senang aja Pa," kilah Nai waktu itu.


"Nggak ada. Kalau kamu ngotot Papa aduin sama Daddy kamu!" ancam Haidar.


Nai memang takut dengan Virgou. Ia tak akan bisa berkutik jika pria sejuta pesona itu marah. Virgou akan mendiamkan Nai lama dan hal itu membuat Nai akan merasa bersalah.


"Kalau kita tiba-tiba punya pacar, apa ortu nggak bakalan ngamuk dan disuruh cepet-cepet nikah?" tanya Arimbi membuyarkan lamunan Nai.


"Keknya sih gitu," sahut Nai lemas.


"Nai, Kak Reno menurut kamu gimana?"


"Eh ... kenapa?" tanya Nai.


Arimbi mencondongkan lagi tubuhnya. Ia berbisik pada gadis yang mestinya keponakannya itu.


"Yakin?" tanya Nai.

__ADS_1


"Iya," jawab Arimbi mengangguk pelan.


Jika Nai dan Arimbi tengah bergosip salah satu pengawalnya. Lain lagi yang terjadi pada Sean, Al, dan Daud.


Empat remaja ini masih terbilang polos. Perebutan Azizah kemarin hanya ingin mengganggu kakaknya, Rion. Beberapa gadis melambai pada mereka. Sean yang usil membalas lambaiannya.


"Ya Tuhan ... dia balas melambai!' pekik gadis itu kegirangan.


"Ngapain kamu Sean?" bisik Daud.


"Iseng gue," jawab Sean.


"Dimarahin Daddy loh, baperin cewe!" sahut Daud menakuti Sean.


"Ck ... mumpung nggak ada Daddy," sahut Sean.


"Mata Daddy banyak loh?" sahut Al kini menakuti.


Sean berdecak dan menatap malas saudara kembarnya itu. Al dan Daud melipat bibirnya ke dalam.


"Halo Kakak," tiba-tiba gadis yang tadi dibalas lambaiannya mendekati mereka.


Al dan Daud hendak melarikan diri, tapi Sean langsung mencekal lengan keduanya. Wajah ketiganya mendadak pucat.


"Loh kalian kenapa pucat?" tanya gadis cantik itu.


"Aduh maaf ya, tiba-tiba aku kebelet nih!" sahut Al.


Al berhasil lolos, Daud pun beralasan sama. Sean pun menoleh pada Lorry meminta bantuan asistennya itu.


"Boss, ada yang pesan kopi tuh!" ujar pria itu menyelamatkan Sean.


"Ah ... mari Mba," ujar Sean pamit.


Gadis itu terbengong-bengong. Lalu menghela napas kasar, ia mereview jelek tempat ini karena tidak sopan dengan pelanggan.


"Sialan!" makinya pelan.


"Hanya modal tampang tapi nggak ada atitude!" lanjutnya menggerutu.


Bintang satu ia berikan untuk kafe ini. Gadis itu pun pergi menuju tempat lain. Tempat di mana banyak pria tampan.


"Sean ada yang kasih bintang satu nih!" lapor Satrio.


"Biarin aja!' sahut Sean cuek.


"Eh ... nggak boleh gitu. Pengaruh loh sama kafe kamu," peringat Al.


"Terus aku mesti gimana?" tanya Sean.


"Aku yang nanggapin ya?" sahut Satrio lalu mengetik review bintang satu itu.


"Kamu bilang apa?" tanya Sean.


"Maaf ya Kak, jika pelayanan kami kurang memuaskan. Terima kasih telah mampir di Sibling Kafe!" jawaban Satrio memuaskan Sean.


Bersambung.


eh ... masih pada bocah, dideketin cewe keringat dingin. 😅

__ADS_1


next?


__ADS_2