
Hari Senin memang hari yang paling membuat orang sibuk. Terlebih bagi mereka yang masih bersekolah. Selesai subuh Azizah melarang adiknya untuk tidur lagi kecuali Aminah dan Ari.
Aminah yang berusia mau empat tahun dan Ari yang mau tiga tahun itu tidur di kamar Azizah dengan memeluk Rion.
"Sayang, ayo bangun," Azizah mencium pelipis suami dan dua adiknya.
Aminah dan Ari menggeliat, begitu juga Rion. Bayi besar itu mencium dua adiknya sebelum bangkit dan mandi.
Semua rapi dan sarapan di ruang makan, Ari dan Aminah setia memejamkan matanya. Padahal keduanya sudah rapi.
"Babies bangun sayang," Adiba mencium dua adiknya.
Lana, Leno dan Lino juga sudah siap dengan seragam mereka, sama dengan Ajis, Amran, Ahmad dan Alim. Mereka lebih dulu pergi ke sekolah, Aminah dan Ari ikut dengan Rion dan Adiba.
"Mas Baby, Izah bawa babies ke kantor ya," pinta Azizah.
"Jangan sayang. Mereka terlalu kecil untuk melihat layar komputer. Dulu Mas Baby lihat komputer di usia sembilan tahun. Mama jarang ngasih kita berhadapan dengan komputer," larang Rion.
Azizah pun menurut apa kata suaminya. Mereka mampir di rumah Terra dan menitipkan Ari dan Aminah. Kedatangan Rion bersamaan keluarnya Haidar.
"Assalamualaikum, Ma, Pa!' sapa sepasang suami istri muda itu.
Ari berada di gendongan Rion dan Aminah ada di gendongan Azizah. Terra dan Haidar langsung mengecup kedua bayi itu. Ari dan Aminah berada di gendongan Bahar dan Rahmat. Bodyguard baru Terra.
"Bawa mereka masuk ya,"
"Iya Nyonya!" sahut keduanya.
"Papa mau berangkat juga?" tanya Rion setelah dua adik iparnya masuk ke dalam rumah.
"Iya sayang,"
Rion memeluk manja pada Terra begitu juga Azizah. Tak lama Darren datang bersama istri dan empat anaknya. Lalu Budiman Gisel bersama semua anaknya.
"Assalamualaikum!" sahut semuanya.
"Ayo masuk anak-anak!" titah Terra.
"Baby Sean!"
"Udah siap Ma!" sahut Sean.
Rasya, Rasyid, Kaila, Dewa dan Dewi berangkat bersama enam pengawal mereka naik mobil ELF warna silver yang Terra beli untuk keperluan putra dan putrinya yang sudah SMA. Sean sudah rapi, Samudera, Benua, Sky Domesh dan Bomesh sudah siap. Mereka bersama empat pengawal. Kini Terra melarang Sean pulang lagi semenjak kejadian saudara Gomesh yang hendak menculik anak-anak.
"Takutnya nanti ada yang beneran culik adik-adikmu!' begitu peringat Terra.
Para pengawal pun kini berjaga lebih ketat dari biasanya. Nai, Daud dan Al pamit pada ayah dan ibunya. Mereka pun berangkat bersama.
Darren, Lidya, Gio dan Jac datang bersamaan. Mereka menitipkan putra dan putri mereka.
'Sini Baby!' sahut Terra pada bayinya Putri.
__ADS_1
Hal itu membuat Aaima sedih, bayi dua tahun itu langsung lari ke dalam.
"Mommy Balia ... hiks ... hiks ... Mama eundat sayan Mima ladh!' isaknya.
El dan Al Bara tak peduli, dua bayi kembar itu bersama tiga saudaranya karena pasti sang nenek terpaku dengan adiknya Izzat yang juga masih bayi.
"Pudahlah ... eundat busyah nayis," ujar Maryam menenangkan saudaranya itu.
Arsyad juga tak mau pusing dengan pada bayi yang mendominasi orang tua mereka. Kini semua duduk di kursi taman belakang. Gabe sudah berangkat bersama Darren. Ella, Bastian, Billy dan Martha sangat senang karena hanya sekolah online. Semenjak ada penembakan brutal seorang murid yang depresi. Gabe mengeluarkan semua anak dan memilih home schooling.
"Sayang, kalian sudah berkemas. Dua hari lagi kita pulang," ujar Widya pada anak-anaknya.
"Kita sekolah di sini aja sih Ma," pinta Ella.
"Iya, Mom. Di sana nggak aman," sahut Billy.
"Sayang, Kan kalian sudah home schooling jadi pasti aman," ujar Widya tentu melarang anak-anaknya.
"Nenek kok jarang ke sini sih Mom?" tiba-tiba Martha bertanya.
"Tadi Mommy sudah telepon, Nenek. Katanya hari ini mau datang," jawab Widya.
Memang Sriani jarang datang ke rumah Terra, alasannya ia sudah tua. Tak lama wanita itu datang dan disambut oleh semua anak-anak.
"Nenek!"
"Babies!"
Wanita itu mencium semua bayi. Ia membawa banyak kue sus dan juga risoles mayonaise. Semua anak tentu menyerbu makanan itu.
"Masih banyak Baby," sahut Sriani dengan senyum lebar.
"Bu," sapa Widya yang langsung manja pada ibunya.
"Te juga mau!" rengek Terra.
"Sini sayang," Sriani merentangkan tangannya.
Terra masuk ke dalam pelukan wanita itu. Maria dan Seruni hanya tersenyum melihatnya.
"Kemari lah kalian semua!" sahut wanita itu.
Seruni dan Maria pun ikut memeluk Sriani. Wanita itu mengecup kening semua wanita hebat itu.
"Kalian luar biasa," pujinya.
"Ibu juga," sahut Maria balas memuji.
"Mana bayi kalian?"
Maria menunjuk bayi kembarnya yang sudah merangkak, begitu juga Aliyah. Sedang Izat masih asik tidur.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumusalam!" sahut semuanya.
"Rahma!" panggil Terra.
"Nyonya, saya disuruh Mas Dahlan kesini," ujar wanita itu menggendong putranya.
"Uh ... baby ... sini sayang," Terra mengambil alih bayi yang baru lahir satu bulan lalu itu.
Ia menciuminya dengan gemas, hingga merengek. Harun hanya menghela napas panjang melihat kelakuan semua ibu-ibu.
"Meuleta sepeultina peman suta payi," sahutnya kesal.
"Dulu kalian bayi Mama juga begitu," sahut Ella tersenyum lebar.
"Kita main yuk!" ajak Billy.
"Yut!' seru semuanya.
Sedang di pesantren. Adiba banyak mendapat banyak pertanyaan karena menolak ikut lomba lagi.
"Kenapa kemarin ditolak, Nak?" tanya wakil kepala yayasan.
"Udah nggak semangat Bu Ustadzah," jawab gadis tanggung itu.
"Kan kamu bisa mupukin lagi semangat kamu. Ini demi nama pesantren!" ujar wanita berkerudung itu.
"Gimana caranya Bu?" tanya Layla gusar.
"Anak kita menang lomba, tetapi mereka menyatakan tak lulus tanpa alasan apa-apa. Kemudian seenaknya meminta anak kita lagi untuk ikut lomba. Apa itu realistis?" tanyanya.
Layla tentu membela Adiba. Muridnya baru tiga belas tahun, tentu memupuk semangat bukan hal mudah di usia labil seperti Adiba.
"Kemarin pihak televisi mengatakan ada kesalahan tentang tidak diperbolehkannya Adiba untuk ikut serta. Pihak promotor memutuskan sepihak," terang wakil kepala yayasan.
"Bu ... maaf, saya bukan menentang sekolah. Tetapi, ini masalah sikap dan juga profesionalitas. Anak didik kita baru berusia tiga belas tahun, bukan gadis dewasa yang bisa mengambil sikap. Saya juga tak mau Adiba ikut hanya sekedar ikut saja tapi ia tak mendapat apa-apa di sana!" tukas Layla.
"Adiba ... pihak televisi masih memberi kamu waktu untuk berpikir, Ibu bukan untuk menekanmu. Tetapi, demi nama pesantren kita Nak!" pinta wakil kepala yayasan.
Adiba diam, Layla pun tak mau memberi dukungan atau pembelaan lagi. Ia meminta Adiba berpikir baik dan buruknya.
"Sepertinya saya harus tanya pada keluarga saya dulu, Bu," jawab Adiba.
"Nak," paksa wakil yayasan.
"Maaf Bu. Saya masih punya wali, semua harus ada persetujuan wali saya," sahut Adiba.
"Kamu sudah dewasa. Sudah saatnya kamu memutuskan jalan hidupmu tanpa ketergantungan pada walimu. Terutama Kakakmu pasti ikut suami. Kau harus mandiri dan keluar dari rumah itu," ujar wakil kepala yayasan lagi.
bersambung.
__ADS_1
Bu ... kalau keluarga Dougher Young itu berbeda dengan keluarga lainnya..
Next.