
Sky dan Bomesh berlari mengikuti Arfhan. Ketiga bocah itu dikejar sedemikian rupa oleh para preman.
"Kalian harus sembunyi!" teriak Arfhan yang mulai panik.
"Bom, jalan buntu!" teriak Sky.
"Kita panjat!" teriak Bomesh lalu berlari cepat dan melompat dengan menggunakan tumpukan kayu sebagai landasan.
Bomesh naik di atas tembok. Sky mengikuti cara saudaranya melompat. Dua tangan kecil saling menggenggam. Sky nyaris terpeleset, Bomesh menariknya kuat sampah Sky duduk di atas tembok pembatas.
"Ayo Arfhan!" bisik Bomesh.
Arfhan mencoba melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan oleh dua temannya. Sayang, bocah itu tak bisa melompat.
"Aku nggak bisa!" teriak Arfhan sambil berbisik.
Suara gaduh dari kejauhan memanggil nama. Arfhan membuat ketiga bocah panik. Sky yang tidak mau meninggalkan temannya itu memilih turun, diikuti Bomesh.
Ketiganya memilih sembunyi diantara selipan rumah-rumah bambu.
"Ada gang kecil," bisik Sky.
Ketiganya berjalan berhimpitan dan perlahan lalu sedikit lega karena menemukan jalan yang longgar.
"Sembunyi di sini!" bisik Arfhan keras lalu menempelkan tubuhnya dan merentangkan tangannya agar dia temannya melakukan hal yang sama.
Delapan orang berpakaian preman melewati celah yang ada tiga anak bersembunyi. Arfhan, Bomesh dan Sky menahan napas mereka.
"Mana tiga anak itu!" seru Jono kesal.
Jono tiga puluh tiga tahun adalah paman dari Arfhan. Pekerjaan pria itu serabutan dan doyan judi. Arfhan harus ikut tiap pulang sekolah untuk menjadi pesuruh, uang yang didapat oleh Arfhan dirampas untuk berjudi.
"Ini jalan buntu, tapi jika mereka berhasil naik, maka mereka selamat!" ujar salah satu pria.
"Kita pergi dari sini!' ujar yang lain.
Kedelapan pria itu pergi, Arfhan menghela napas lega. Ia mencoba mendengar suara langkah yang makin lama makin jauh.
Arfhan mengintip, memang para preman itu pergi dan mencari keberadaannya.
"Mereka pergi!" ujarnya lega.
"Apa kau yakin?" tanya Sky.
"Iya, ayo!" ajak Arfhan keluar dari persembunyiannya.
Ketiganya melangkah keluar celah. Lalu perlahan dari jalan buntu itu. Arfhan sudah tidak melihat delapan orang pria yang sangat ia kenal itu.
"Kita harus mengambil jalan yang berbeda arah dari mereka!" ajak Arfhan.
Sedangkan Deno dan Ardhan kehilangan jejak ketiganya. Dua pria itu menggunakan BraveSmart ponsel. Melacak sensor panas yang sesuai dengan tubuh tuan muda mereka.
"Subhanallah!" pekik Deno ketika menemukan ketiga anak itu.
__ADS_1
"Mereka sudah sejauh tiga kilometer dari kita?" desisnya tak percaya.
"Jangan bercanda ketua!" seru Ardhan ikutan tak percaya.
"Sepertinya kita yang tersesat di jalanan kampung ini!" ujar Deno melihat lokasi sekitar.
Sementara Gomesh nyaris berteriak karena ia tak berhasil mencari jalan masuk daerah pemukiman kumuh itu jika saja Satrio tak menenangkannya.
Virgou, David, Fabio dan Pablo ikut-ikutan stress, ponsel canggih di tangan mereka jadi tak berguna sama sekali.
"Tenanglah Papa, Daddy, Papi, Kakak!" seru Satrio marah.
"Kita nggak akan bisa mencapai Babies jika hanya marah-marah!" lanjutnya kesal.
"Sekarang, tak perlu pakai BraveSmart, tapi pakai insting!"
Akhirnya mereka menenangkan diri. Gomesh, Virgou dan David tentu mengenal bocah paling aktif di rumah itu. Anak paling rusuh dari bayi karena keduanya paling suka menghilang.
"Jika Satrio jadi Bomesh dan Sky. Satrio sekarang ada di salah satu pos petugas keamanan!"
Satrio bergerak, ada delapan pos petugas keamanan di sana. Pablo memindai ada pergerakan tiga anak kecil di salah satu pos.
"Jaraknya ada sekita dua kilometer dari sini!" seru Pablo.
"Lewat sini!" ujar Satrio melihat jalan kecil yang sedikit bau.
Mereka pun menyusuri jalan itu. Beberapa orang tengah menatap pada laki-laki bertubuh besar dan berwajah tampan.
"Eh ... ada artis tah?" tanya mereka berbisik.
Memang tempat kumuh itu seperti labirin yang sangat unik. Lokasi dengan area seluas 128.000m² yang sangat padat karena ditempati oleh lebih dari 200juta jiwa penduduk.
Sementara itu Sky, Bomesh dan Arfhan tengah mendatangi pos pengamanan terdekat. Ketiganya bergandengan tangan.
"Hei itu mereka!" teriak Jono.
Ketiganya kaget, lalu berlari menuju pos pengamanan berharap ada petugas di sana. Banyak orang tak peduli dengan tiga anak itu, suasana juga sepi karena nyaris seluruh penduduk bekerja sebagai tukang sampah dan pemulung jadi lokasi sedikit sepi.
"Kalian mau kemana!" kekeh Jono lega karena pos pengamanan sepi.
Sky dan Bomesh bersiap. Arfhan yang merasa dua temannya tak bersalah langsung merentangkan dua tangannya..
"Jangan ganggu temanku!" ujarnya dengan pandangan menusuk.
"Hahahaha!" gelak tawa terdengar dari mulut para pria dewasa itu.
"He ... anak kecil, kau itu harus membayar utang judiku!" ujar Jono.
"Kau yang berjudi kenapa menyuruh Arfhan yang membayar!" sentak Sky berani.
"Eh, eh ... kau berani sekali bocah!" seringai salah satu pria itu.
Sky dan Bomesh adalah anak Budiman dan Gomesh. Wajah ayah mereka jauh lebih sangar jika marah ketimbang delapan orang yang kini hendak memperundung mereka.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak basa-basi, kita ringkus ketiganya lalu kita jual sama Tuan Sniper!" ujar yang lain menggerakkan kepalanya.
Jono maju, Arfhan yang bersiap mulai menendang tangan pria itu dengan kuat. Beruntung tadi dia makan roti pemberian Sky, makanya tenaganya ada.
Bomesh mengambil beberapa batu kecil, dengan sekuat tenaga ia melempar kepala para preman itu.
"Aarrggh!" teriak Jono dan salah satu diantara mereka.
Pelipis mereka menancap batu kecil hingga mengeluarkan darah.
"Anak kurang ajar!" teriak Jono murka.
Tiga pria langsung menyergap ketiganya, Bomesh dan Sky masih melakukan perlawanan kecuali Arfhan. Tenaganya yang lemah membuat ia tertangkap.
"Arfhan!" teriak Sky.
"Berhenti, sebelum aku membantingnya!" ancam salah satu teman Jono yang bertubuh besar.
Pria itu mencengkram kemeja seragam sekolah Arfhan hingga bocah itu terangkat ke atas. Bomesh melirik, satu buah batu masih ada digenggamnya. Bocah itu dengan cepat melempar arah mata pria besar itu.
"Aarrggh!" teriaknya.
Sky menendang lengan besar yang hendak merengkuhnya dengan dua kali putaran. Tenaga bocah itu memang sangat kuat, tubuh Arfhan yang terangkat tadi terjatuh cukup keras ke tanah.
"Anak sialan!" teriak pria besar itu murka.
"Dia membutakan mataku!" lanjutnya berang. "Bunuh mereka!"
Baru saja mereka bergerak, tiba-tiba tubuh mereka terpental karena tendangan Satrio dan Pablo.
"Papa, Daddy, Papi!" teriak Sky dan Bomesh senang.
Arfhan yang masih lemah karena jatuh. Segera hendak ditolong Sky. Pergerakan bocah itu terbaca oleh Jono. Pria itu langsung bergerak hendak menerjang keduanya.
"Huuuwwaaaa!" pekik Jono yang tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara.
Gomesh menarik baju pria itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Beberapa orang sudah menggelepar kesakitan, hanya dalam waktu sedetik tubuh Jono terlempar jauh dan masuk semak-semak.
"Babies!" Gomesh memeluk dua bayinya.
Salah satu masih bisa bergerak, ia paling dekat. Virgou, Satrio. Pablo dan Fabio asik berkelahi dengan beberapa preman yang masih kuat melawan.
Pria itu mengambil pisau dari dalam sakunya. Lalu dengan kekuatan terakhirnya, ia berteriak.
"Mati kau!"
"Arrggghhh!"
"Arfhan!"
bersambung.
Eh ... kok?!"
__ADS_1
Next?