
Daud turun dari mobilnya, remaja berusia sembilan belas tahun enam bulan lagi ini. Daud yang manis dengan iris mata coklat terang dan rambut kemerahan, sangat mirip ibunya, begitu juga dengan empat saudara laki-laki sekandung lainnya.
Sedang sang ayah hanya mirip dengan Nai dan Arraya. Daud selalu menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya dengan senyum ramah.
"Selamat pagi Pak, bagaimana keadaannya?" tanyanya pada salah seorang pasien yang tengah menggerutu.
"Aku mau mati, mereka baru datang seolah-olah peduli denganku!" jawab pria tua itu mendumal.
Seorang pria dan wanita di sebelahnya hanya menghela napas panjang. Daud tersenyum menyabarkan sepasang suami istri itu.
"Mari Pak, saya masuk dulu ya," pamitnya tak mengindahi gerutuan pria itu.
Daud berjalan ke ruang kerjanya, sebagai kepala rumah sakit miliknya sendiri membuat ia harus fokus.
"Selamat pagi Dok!' sapa salah satu perawat membawa banyak berkas untuknya.
"Pagi Sus. Apa jadwalku hari ini?"
Perawat itu meletakkan berkas di meja lalu membaca job desk dokter muda nan tampan juga rupawan di depannya.
"Apa kondisi Pak Heru sudah stabil?" tanya Daud.
"Belum Dok. Setiap jadwal operasi ingin dilakukan. Pasien selalu ngedrop," jawab perawat itu.
"Lalu Pak Santo?"
"Sama Dok, terlebih anak-anaknya yang selalu meratapi ranjang pasien, hingga membuat pasien tak bisa melakukan pemulihan mandiri," jawab Perawat itu. lagi.
Daud sedikit menggaruk pelipisnya. Ia menemui banyak karakter manusia di tempatnya bekerja. Pemikirannya jauh lebih dewasa dibanding Sean, Al, Satrio, Calvin terlebih Kean.
Kean yang masih polos nyaris sama polos dengan para perusuh paling junior. Satrio, Sean, Al dan Calvin sama polosnya.
Perawat yang bernama Lania Saraswati menatap remaja yang usianya tiga tahun di bawahnya. Gadis itu begitu mengagumi sosok yang begitu dewasa ketika mengahadapi seluruh pasiennya.
"I like you," ungkapnya sangat lirih seperti angin yang berembus.
"Pardon me?" tanya Daud seperti mendengar perawatnya mengatakan sesuatu.
"Nothing Doc!" jawab gadis itu cepat.
Daud mengambil stetoskop dan menggantungkannya di leher. Remaja itu melangkah keluar. Lania tentu tau kemana tujuan mereka. Menyambangi para pasien yang bermasalah tadi.
Ketika sampai pada sebuah pintu, terdengar suara tangisan dari dalam. Daud menghela napas panjang. Santo Herawan, enam puluh delapan tahun, mendapat serangan jantung ringan. Tetapi ratapan seluruh keluarga membuatnya terkena serangan jantung berat.
Daud masuk, menatap kesal lima orang yang menangis di sisi ranjang pria yang tampak tak berdaya.
"Apa anda ingin pasien benar-benar mati?" tanyanya kasar.
"Dok ... kenapa berkata seperti itu. Kami tidak ingin kehilangan ayah kami ... huuuu ... uuuu!" jerit salah satu wanita muda.
"Justru perbuatan kalian yang membuat ayah kalian cepat mati!" sentak Daud marah.
__ADS_1
"Hentikan tangisan drama kalian!" lanjutnya berapi-api.
"Dok!" peringat Lania mengelus lengan dokternya.
"Keluar kalian dari ruangan pasien saya!" usir Daud dengan nada tegas.
"Ini ayah kami. Anda tidak berhak atas itu!' bentak seorang pria bertubuh besar di sana.
"Sekarang Pak Santo berada di bawah pengawasan saya. Sebagai dokter yang menanganinya dan menginginkan kesembuhannya!" seru Daud dengan muka memerah.
Kelima orang dewasa itu terdiam. Daud melakukan panggilan pada beberapa sekuriti dan membawa semua orang itu pergi dari ruangan itu.
"Terima kasih Dok," ujar Santo lega.
"Sama-sama Pak. Selamat Natal ya, maaf terlambat," ujar Daud lalu memeriksa kesehatan pasiennya.
Setelah mengecek, remaja itu keluar dari ruangan. Lima orang hendak masuk, lalu ditahan oleh Daud.
"Satpam, larang mereka semua untuk mengganggu pasien!" perintahnya.
"Baik Dok!"
Tiga petugas berjaga di depan kamar pasien. Lima orang saling tatap.
"Kita pulang saja," ajak salah satunya.
"Tapi Papa ...."
"Sudah lah ... biar Papa dirawat dengan baik. Mahal tau dirawat di sini!" sentak pria itu lagi.
"Pak, jangan mau dioperasi Pak. Nanti kalo Bapak mati ring yang menempel di jantung dada Papa loh!" peringat sang istri.
"Iya Pak, pasrah aja ya Pak. Hidup dan mati itu sudah di tangan Tuhan!" lanjut sang anak.
"Kata siapa penanaman ring tidak diperbolehkan? Apa anda benar-benar menginginkan kematian cepat pada suami dan ayah anda?" tanya Daud yang datang.
Tatapannya tajam. Dua orang terkejut ketika seorang dokter yang terlihat belia mendatangi mereka.
"Tapi kata ustadz ...."
"Ustadz siapa, mana dalilnya. Ini untuk kehidupan dan kesehatan pasien ini!" tekan Daud lagi.
"Jika kalian memang melarang itu. Bawa pasien pulang dan biarkan ia mati perlahan!" lanjut Daud tenang.
Ibu dan anak terdiam. Heru dalam kondisi lemah tak bisa berbuat apa-apa.
"Dok," panggilnya pelan.
"Saya Pak!' sahut Daud.
"Cabut saja semuanya, biar saya mati di depan mereka. Agar mereka puas. Mungkin ingin cepat menikmati harta warisan saya,'' ujar pria itu lagi lirih.
__ADS_1
"Pak ... bukan begitu ...."
Pria lemah itu tiba-tiba mencabut alat yang menempel di dadanya. Daud segera menekan kembali alat pendeteksi detak jantung itu.
"Biar saya mati Dok! Biar saya mati!" teriak pria itu.
Tiit ... tiiit ... tiiit! Pergerakan monitor menandakan jika pasien dalam keadaan bahaya.
"Lania ... cepat bawa alat pacu jantung!" teriak Daud.
Tiiit ...!
Satu garis lurus menandakan jantung pasien tak berdetak lagi. Daud melakukan CPR. Ia menekan cepat dada pria itu dnegan dua telapak tangan yang menumpu. Alat pacu jantung datang.
"Full!" titah remaja itu.
Lania memutar daya kejut pada maksimal. Daud menghitung. Gerakan tubuh terlontar ke atas terjadi setiap benda itu menekan dada.
"Satu, dua tiga!"
Tubuh pasien kembali terlontar sedikit di udara. Detak jantung masih sama, nol. Daud melakukan kejut jantung yang terakhir kalinya.
Jedug! Deg! Deg! Deg! Pergerakan monitor terdeteksi jantung yang kembali berdetak. Daud menyingkirkan alat itu jauh-jauh. Lania bergegas menarik alat itu sejauh mungkin. Sedang dua manusia terdiam, orang yang mereka sayangi nyaris saja hilang nyawanya. Daud menatap keduanya dengan pandangan dingin.
"Terserah kalian!" lanjutnya, lalu meninggalkan pasien.
"Dok ... saya bersedia Dok!" ujar sang istri tiba-tiba menahan laju Daud.
"Maaf, saya tidak bisa melakukan itu. Karena semua terlambat!" jawab Daud tegas dan sangat menyesal.
"Silahkan temani suami ibu hingga malaikat maut datang menjemput," lanjutnya lalu melepas cengkraman tangan wanita itu pada lengannya.
Wanita itu tertohok, lalu tubuhnya merosot ke lantai. Sang putra langsung menghampiri ibunya.
"Mungkin ini sudah takdir Bu!" ujarnya.
"Diam!" bentak sang ibu marah.
"Pergi kau! Pergi!" usirnya.
Beruntung mereka ada di ruangan vvip, jadi tak ada orang lain di sana. Daud memilih meninggalkan mereka dan tak peduli lagi. Sebagai dokter ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
"I like you Dok!" pekik Lania terkagum-kagum.
Daud menoleh, Lania menutup mulutnya.
'Nggak mungkin Dokter tau aku teriak apa dalam hatiku kan?' tanyanya gelisah yang juga dalam hati.
"Ada apa Sus?" tanya Daud dengan pandangan polos.
Bersambung.
__ADS_1
Ah ... Daud gitu loh!
Next?