
Mereka beranjak ke kantor utama meninggalkan para orang tua dan sepasang pengantin yang sibuk dengan urusan mereka. Rasya melihat pergerakan adik-adiknya.
“Eh ... kita ikutin mereka yuk!” ajaknya.
“Adiba!” panggil Rasya.
“Ya kak!” sahut gadis tanggung itu.
Rasya berusia empat belas tahun, beda dua tahun dengan Adiba.
“Kalian mau ngapain?” tanya Rasya.
“Mau rapat!” jawab Adiba.
“Ikut!” ujar Rasya.
Mereka pun masuk bersama menuju aula. Sedang orang tua yang seperti merasa hening menoleh. Bayi-bayi mereka hilang di sana. Semua pun panik, Rion yang melihat para orang tua mencari para perusuh ikutan panik.
“Mereka bukan nekat ke kafe Baby Sean kan?” tanya Rion gusar.
“Adiba juga nggak ada, Izah yakin mereka ada di kantor atau di aula,” terka Azizah.
mereka pun mendorong kereta bayi menuju kantor pusat di mana semua anak tengah berembuk membuat usaha bisnis baru.
Semua anak berkumpul di aula, mereka duduk di sana para bayi tentu dibantu Rasya dan lainnya untuk duduk di kursi mereka. Ada satu papan tulis besar di sana. Adiba memulai rapat dengan mendengar usulan para bayi.
“Jadi yang kita buat adalah tongkrongan para Babies, dari usia satu tahun hingga usia lima belas tahun atau bebas?” tanya gadis itu.
“Hmmm ... sepertinya batas usia mesti kita perjelas. Para bayi tentu tak mungkin nongkrong jika tidak dengan orang tuanya,” sahut Rasyid memberi pendapat.
Adiba mengangguk, ia menulis perbatasan usia ditiadakan. Ia menoleh pada semua yang duduk di sana.
“Lalu apa lagi selain dihilangkan batas usia?” tanyanya.
“Bagaimana jika ada ruangan terpisah?” usul Dewi.
“Ide bagus. Para bayi memiliki bahasa sendiri, mereka pasti ingin mengobrol tanpa mau diricuhi orang tua agar berbahasa yang benar,” sahut Kaila.
“Tapi seru juga jika ada penerjemahnya!” sahut Dewa memberi usulan.
“Kita tulis dulu ya,” ujar Adiba.
“Ruang pemisah dan penterjemah bahasa bayi,” ujarnya sambil menulis di papan putih.
“Penterjemah akan diberikan jika orang tua ingin mendengarkan percakapan para bayi, bagaimana menurut kalian?” tanya gadis itu lagi.
“Setuju!” sahut Kaila dan Dewi semangat.
“Baby apa ada usul?” tanya Adiba.
“Setalan pita inin binuman yang butan susu pati bitin sehat!” sahut Arraya.
“Jus buah?” tanya Adiba.
“Poleh judha,” sahut Arion.
__ADS_1
Maryam dan lainnya hanya mengangguk saja. Arsyad tampak menggosok dagunya, ia juga ingin menuangkan idenya. Para orang tua datang dan ikutan duduk bersama mereka. Virgou melihat tulisan di papan tulis.
“Matanan judha pita eundat bawu yan itu-itu saza!” sahut Arsyad.
“Mau coba salad sayur?” tanya Adiba.
“Endat pawu!” tolak El dan Al Bara.
“Pita bawu tue, spadeti, lasana, pitsa, buldel, pentan dolen ... tayat dithu!” ujar El Bara melanjutkan.
“Tapi itu nggak sehat, Baby,” ujar Kaila mengingatkan.
“Pati banya setali-setali Ata’!” sahut dua bayi kembar itu bersamaan.
“Bagaimana kalau kita ciptakan kue dengan bahan-bahan sayuran. Sepertinya Kakak harus menciptakan bagaimana nuget dan sosis sayuran,” sahut Adiba. Semua tampak mengangguk setuju.
“Minuman selain susu aneka rasa, apa ada tambahan?” tanya Adiba, “selain jus ya!”
“Badhaipana talo miltset?” sahut Aisya.
“Ide yang bagus,” sahut Adiba.
“Susu lasa puah judah badhus,” sahut Bariana menimpali.
Adiba menulis semua ide yang terlintas di otak anak-anak.
“Janan matanan ban pinuman aja, badhaibana denan bainan?” tanya Al Fatih.
“Ya, itu hampir lupa. Kita harus buat konsep kafenya,” sahut Adiba kembali menulis.
“Lukisan pelangi, awan atau UFO pasti sangat menarik anak-anak!” sahut Dewa.
Adiba mengangguk dan menuliskan rencana itu. Kaila juga menyarankan taman bermain yang tidak biasa dan aman bagi semua umur.
“Ayunannya ada yang pakai pengaman itu loh yang seperti kursi bayi,” sahut Kaila.
Dewi sibuk menggambar beberapa untuk dekorasi kafe balita itu. Setelah mendapat garis besar usaha baru itu. Kini tinggal namanya. Para orang tua hanya mengamati anak-anak, meraka cukup menjadi pendukung saja.
“Namanya apa nih?” tanya Adiba.
“MilkTime?” sahut Ajis yang dari tadi diam.
“pide yan badhus!” sahut Harun tampak puas.
“MilkTime Out Babies!” sahut Amran melengkapi nama usaha baru mereka.
“MoB ya, singkatannya!” sahut Dewi langsung menggambar logo usaha baru.
“Ini dia nama kafe kita!” serunya memperlihatkan benner kafe.
“Wah ... badhus setali!” puji Maryam dan Aaima bersamaan.
“Kak ... bagaimana jika kita juga mengadakan konseling kesehatan para bayi?” usul Amran berani.
“Ide yang bagus!” celetuk Virgou antusias.
__ADS_1
“Kita juga adakan hari mendongeng,” sahut Ahmad.
“Jangan lupa hari kreasinya!” sahut Ajis juga menuangkan idenya. “Jadi kita bukan hanya sekedar hang out tanpa memberikan manfaat.”
“Kalian pinter amat sih!” puji Bram begitu bangga.
“But we have fun if we get out!” sahut Kaila.
“Kita masih bayi kak ... mana bisa membedakan kesenangan dan bermain. Yang kita kedepankan adalah kebahagiaan anak-anak yang datang,” sahut Ajis memberi tanggapannya.
Haidar, Bram dan Bart bertepuk tangan dengan tanggapan Ajis. Mereka setuju dengan adanya edukasi pada semua anak jika mereka pergi keluar untuk nongkrong.
“Kita buat tongkrongan bonafid,” sahut Ahmad menimpali.
“Bagaimana dengan kami yang remaja usia tanggung nih?” sahut Dewa.
“Kita di suruh minum susu juga?” lanjutnya bertanya.
“Baby ... kan ada menu dan waktunya. Para bayi juga nggak mungkin nongkron seharian kan?” sahut Adiba.
“Ah .. iya juga ya,” sahut Dewa.
Akhirnya rapat selesai. Anak-anak sangat puas dengan apa yang mereka diskusikan para orang tua begitu bangga dengan kecerdasan mereka. Virgou menyambangi Adiba.
“Kamu mau buka usahanya kapan Baby?” tanyanya.
“Mungkin setelah hari pernikahan kak Ion Daddy,” jawab gadis tanggung itu.
“Kau sudah mendapatkan tempatnya?” tanya Virgou lagi.
"Sudah Daddy. Lokasinya juga sangat aman dari bus-bus atau mobil-mobil. Tapi sangat strategis dan terlihat,”
“Di mana itu?” tanya Virgou lagi sambil mengerutkan kening.
“Di jalan xxx, dekat pesantren Adiba. Di sana ada bangunan bekas sekolah yang disewakan, kemarin Adiba sudah bayar Dpnya. Jadi tinggal pelunasan,” jawab gadis kecil itu.
“Kamu uang dari mana sayang?” tanya Azizah.
“Uang hadiah menang juara hafal al-qur’an kemarin Kak. Dari pada ditabung tidak menghasilkan apa-apa. Adiba mencoba membuat usaha yang lain dari biasanya,” jawab Adiba menjelaskan.
Virgou mengusap kepala anak yatim piatu itu, Azizah menatap bangga adiknya.
“Jika butuh bantuan, bilang saja ya,” ujarnya.
“Iya Daddy,” sahut Adiba dengan senyum manis.
Akhirnya para orang tua kembali ke hunian mereka masing-masing, begitu juga Rion yang membawa istri dan semua adiknya ke hunian mereka. Azizah langsung memasak dibantu para maid. Tak lama mereka makan malam bersama. Setelah makan mereka shalat isya berjamaah, Rion yang menjadi imamnya.
Di kamar, sepasang suami istri muda itu saling berpelukan. Entah berapa kali Rion memagut mesra bibir sang istri hingga membuat indera bicara itu bengkak. Pemuda itu sangat candu dengan kegiatan mesra itu.
“Ba bowu sayang,”
“Ba bowu pu, Mas Baby,”
Lalu keduanya pun melakukan ritual suami istri dengan panas. Rion terus menyemai bibitnya agar sang istri lekas hamil dan melahirkan buah cinta mereka.
__ADS_1
Bersambung.
hajar terus Baby!