SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

Selasa pagi semua sibuk dengan pekerjaan mereka. Virgou harus mempercepat pekerjaan, Bart telah mendaftarkan seluruh keluarga untuk berangkat haji. Kecuali ibu-ibu hamil dan suami mereka tentu tak bisa beribadah haji.


"Tahun depan nggak apa-apa nyusul," ujar Bart.


Andoro pun tak bisa meninggalkan istrinya. Ia belum melaksanakan ibadah haji. Padahal kekayaannya melimpah ruah.


"Dulu yang aku pikirkan hanya dunia," sesalnya.


"Sudah tidak apa-apa. Insyaallah tahun depan kau ikut," ujar Bart menenangkan Andoro.


Bram dan Kanya tentu sudah berhaji. Tetapi mereka tak mau kehilangan kesempatan ini.


"Mumpung gratis!" kekeh pria itu.


Bart berdecak kesal. Terra dan Haidar pun tidak mau melewatkan kesempatan ini. Keduanya memang sudah lama ingin berangkat haji namun masalah silih berganti. Membuat keduanya juga tak bisa menunaikan rukun Islam itu.


"Ma, kita nggak pake biro ya ke sana?" tanya Haidar.


"Kurang tau. Kak Dahlan yang ngurus," jawab Terra tak acuh.


"Biasanya kalo pake travel kita dapat koper khusus," ujar Haidar.


"Mungkin nanti ketika menjelang keberangkatan baru dapat Pa," jawab Terra tak peduli.


Sementara itu Dahlan melaporkan semua hal perihal haji ini. Ternyata, anak-anak sekolah tak bisa ambil. Mereka tidak mendapat libur.


"Jadi duo R, duo De, Kaila, Ella, dan lainnya nggak bisa ikut?" tanya Bart kesal.


"Iya, mereka hanya dapat libur tiga hari," jawab Dahlan.


"Ah ... sayang sekali!' seru Bart kecewa.


"Oh ya, hubungi anak yang kemarin menang ketika lomba dengan Adiba!" perintah Bart.


"Sudah Tuan, orang tua mereka siap naik haji bersama," jawab Dahlan.


Bart mengangguk. Pria itu cukup sedih tak bisa membawa semua keturunannya untuk ibadah haji bersama.


"Horee ... jadi Kak Sam nggak bisa ikut ya!" sorak Domesh melompat riang.


Walau Samudera sedih, tapi ia mengulas senyum. Remaja menginjak dua belas tahun. Ia kelas enam SD. Gabriella yang langsung menangis ketika dirinya tidak bisa naik haji.


"Umi minta ijin aja sih, bilang ada keperluan keluarga," rengek gadis itu pada Layla.


"Sayang nggak bisa," jawab Layla lalu memberi kecupan pada pipi gadis cantik itu.


Ella tua satu tahun dengan Samudera. Sedang Bastian tua setahun dari Benua, Billy seumuran dan Martha tua setahun dari Sky.


Semua anak jadi sedih. Arsh marah-marah, bayi itu tak peduli yang penting ia mau naik haji.


"Pial Alsh pipandhil Saji Paypi!' ujarnya begitu emosi.


"Haji Baby," Demian tentu selalu gemas dengan bayi satu itu.


"Aku ingin putra lagi dan harus sepertimu baby!' pintanya penuh harap.

__ADS_1


"Papa ... ini cewe loh!' teriak Lidya mengingatkan.


"Hah?"


"Ini cewek Papa ... kalo cewe kek Baby Arsh ...."


Lidya tak bisa melanjutkan kata-katanya, perutnya langsung bergerak seakan mengaminkan perkataan papanya. Arsh mengelus perut Lidya.


"Paypi ... banti tamuh halus tayat Ata'Alsh ya!' perintahnya.


Perut Lidya pun kembali bergerak, wanita itu sampai meringis ngilu. Demian sebenarnya cemas. Tetapi malah senyum yang terbit di bibirnya.


"Tenang Baby, ada Papa Baby di sini!' Rion mengelus perut kakaknya yang buncit itu.


Perut Lidya makin keras dan menonjol. Wanita itu sampai menjerit kecil akibat janinnya yang antusias bergerak.


"Sayang!'


Demian mengelus perut istrinya. Barulah janin itu tenang, peluh di kening Lidya diusap lembut oleh Demian.


"Papah, Mamah anah?' tanya Arsh pada Rion.


"Itu!" tunjuk Rion pada istrinya yang sedang menjahili Gino.


"Mama!" pekik balita itu mulai kesal.


"Sayang," peringat Zhein pada Azizah.


"Maaf sayang. Abis gemes amat sih mau sekolah TK. Udah kek mau kuliah aja," kekeh wanita itu.


"Mamah Paypi!"


"Subhanallah!" pekik Azizah.


"Paypi lalus tayat Ata' Alsh ya!' ujar Arsh pada janin dalam perut Azizah.


Kandungan Azizah dan lainnya sudah mau tujuh bulan. Tiga bulan lagi mereka akan melahirkan bersamaan.


"Uma!" teriak Azizah karena janinnya seperti mengaduk perutnya.


"Baby, sini!" Darren mengambil Arsh dari pangkuan adik iparnya.


Saf mengelus perut Azizah. Rion mendatangi ikut mengelus baru lah janin di dalam perut tenang. Semua ibu hamil didatangi Arsh. Semua pun harus melenguh karena bayi mereka bergerak begitu antusias.


"Ah ...!" pekik Luisa padahal Arsh baru hendak mendatanginya.


"Netnet ... Alsh pelum pedhan!' sungut bayi itu protes.


Saf buru-buru mendatangi mertua dari Nai. Ia meraba bagian perut wanita itu. Lalu ia pun menggendong Luisa.


"Sayang!" teriak Andoro kaget ketika melihat betapa Saf sangat kuat.


"Siapkan mobil. Kita harus bawa Mama ke rumah sakit!" teriak Saf..


Semua heboh, mereka pun panik seketika. Andoro sampai berteriak tak karuan. Nai dan Arimbi menenangkan semuanya. Darren segera menyiapkan mobil, Budiman langsung ikut.

__ADS_1


Saf membawa lari Luisa ke mobil. Kendaraan roda empat itu bergerak, Budiman yang menyetir.


Andoro bengong, Bart sampai memarahi pria itu.


"Anak sialan kenapa kau diam saja bodoh!'' teriaknya.


Hal tersebut membuat semua bayi heboh. El Bara makin kesal dengan keberadaan Nanat sisilan yang disebut buyutnya itu.


Terra yang panik tak mendengar umpatan kakeknya. Wanita itu segera mengambil dompet begitu juga Haidar.


"Kak Mar jagain anak-anak!' perintahnya.


"Iya Te," jawab Maria juga khawatir.


Nai menangis, Langit menenangkan istrinya begitu juga Arimbi. Reno tengah berada di perusahaannya. Pria itu belum pulang.


Tak lama di rumah sakit. Mobil yang membawa Luisa berhenti. Darren langsung turun dan membuka pintu mobil. Giliran dia yang menggendong Luisa.


"Tolong ... ibu saya mau melahirkan!" teriak Darren.


Beberapa petugas medis berdatangan. Tubuh Luisa dibaringkan. Semua berlarian di sisi brangkar yang di dorong oleh para perawat.


"Siapa yang memeriksa dan bertanggung jawab?" tanya salah satu petugas medis.


"Saya bidan yang mencatat kehamilan Nyonya Luisa, Dok!" jawab Saf.


"Ayo masuk!" Saf masuk.


Darren diminta menunggu di luar. Tak lama Andoro datang bersama Bart dan Remario. Mereka berwajah tegang.


"Bagaimana, apa sudah melahirkan?" tanya Remario.


"Aduh!" pekik pria itu karena Bart memukul bokongnya.


"Daddy!" rengeknya.


"Dia baru masuk bodoh!" teriak Bart makin kesal.


Tak lama Terra dan Haidar pun datang. Mereka menunggui di ruang tunggu. Remario langsung mengajak Haidar untuk mempersiapkan kamar untuk Luisa.


Sedang di rumah Terra. Terjadi kericuhan para bayi soal perkara nanat sisilan yang dikatakan Bart pada Andoro.


"Teulnyata meman peunal talo semua Papa kita adalah nanat sisilan!" pungkas Azha menyimpulkan.


"Beunal!' angguk Arion setuju.


"Beulalti Ata' Dhino nanat sisilan judha?" tanya Lilo.


"Butan hanya Ata' Dhino. Pati Ata' Syamudla, Ata' Penua, Ata' Domesh, Ata' Pomesh, Ata' Sty, Apan Fafan," sahut Harun mengangguk tanda setuju.


"Oteh ... pidat pa'a-pa'a!' sahut Arsh tak masalah.


"Semama peumua Papa nanat sisilan, Alsh tat sasalah sadhi nanat sisilan judha!' lanjutnya santai.


Bersambung.

__ADS_1


Loh kok gitu Nak! 🥲😅🤦


next?


__ADS_2