
Azizah menyiapkan dirinya. Ia sudah menyiapkan barang bukti untuk menuntut paman dan bibinya yang serakah itu.
Makan siang pun tiba. Tak ada tanda-tanda kedatangan pria-pria yang kemarin datang itu. Azizah sedikit bernapas lega. Gadis itu menyantap makan siang dengan tenang. Baru saja dua suap makanan masuk ke mulutnya. Dinda datang memberitahu jika pria yang kemarin datang kembali.
"Suruh mereka menunggu di ruang tunggu!" titah gadis itu.
Usai makan siang. Gadis itu pun keluar dan menemui empat orang yang sudah menunggunya itu.
"Zah ... Nak, kamu kemana saja!" Razak menyambutnya dengan derai air mata palsu.
"Sudah hentikan drama kalian!" sentak Azizah menolak dipeluk oleh Razak.
"Nak, apa maksudmu. Kamu benar-benar kehilangan kalian. Bagaimana kabar enam adikmu?" tanya Razak seperti peduli.
"Oh kalian ingat adik-adikku?" tanya Azizah.
"Tentu Nak," jawab Handi dengan senyum indah.
"Siapa nama mereka?" tanya Azizah.
Keempat pria itu menelan saliva kasar. Tentu mereka tak ingat siapa nama keenam adik Azizah.
"Adikmu terlalu banyak Nak. Kami sudah tua, mana kami ingat lagi," ujar Tohir gugup.
"Nama adik-adik ku gampang kok diingat," ujar Azizah sinis.
"Nak ... kedatangan kami di sini merindukan kalian dan ingin mengajak kalian kembali ke rumah," ujar Ahid menyudahi pertanyaan nama adik-adik Azizah.
"Rumah ... rumah siapa?" tanya gadis itu masih setia berdiri.
"Rumah kami Nak," jawab Tohir berani.
"Rumah kalian? Apa tidak salah, kalian tak memiliki apapun hingga mengambil rumah Apak dan Amak?" desis Azizah.
"Sudah cukup Azizah. Kalian memang tak berhak memiliki harta itu, karena semua atas nama ibumu!" sentak Razak mulai murka.
"Lalu apa tujuanmu kemari?" desis Azizah.
"Kami sudah hidup bahagia walau tinggal di panti!" lanjutnya lagi.
"Kalau begitu kami akan menempuh jalur hukum agar semua adikmu hak asuhnya jatuh di tangan kami!" ancam Ahid.
"Silahkan. Kalian tak memiliki pertalian darah dengan kami, kalian hanya benalu yang ingin mengeruk harta anak yatim!" sentak Azizah.
Gadis itu pergi meninggalkan empat pria yang berteriak memanggilnya. Lima satpam langsung mengusir mereka karena membuat keributan.
Keempatnya mengumpat dan menyumpahi gadis itu karena dianggap durhaka.
"Kau tau doanya orang tua itu sangat makbul Azizah. Langit akan mendengar sumpah kami yang membuatmu hidup menderita!" teriak Tohir.
Keempatnya dilempar keluar pagar perusahaan. Lima satpam bertubuh besar mengusir mereka dengan kasar.
__ADS_1
"Jangan ganggu Nona kami! Dasar benalu!"
"Berengsek kami bukan benalu!" teriak Ahid tak terima.
"Lalu apa kalau bukan benalu?" tanya satpam menyeringai.
"Ah kalian parasit mematikan!" lanjut salah satu satpam.
Keempat pria itu mengumpat. Mereka lalu berjalan kaki dengan kesal. Razak tak percaya dengan apa yang tadi dia lihat.
"Azizah terlihat sudah kembali berjaya," ujarnya pada tiga saudaranya.
"Iya, bajunya mahal dan ia memakai cincin berlian," sahut Ahid.
"Bagaimana kalau kita ke panti dan mengambil enam anak itu dengan mengaku saudara dari Azizah?" saran Handi mendapat ide cemerlang.
"Oke, kita ke sana!" sahut Razak.
Keempatnya naik angkutan umum untuk pergi ke panti di mana Azizah tinggal bersama enam adiknya. Mereka mengira dapat dengan mudah untuk mengambil enam anak itu.
Mereka harus naik tiga kali angkutan kota lalu sampai di sebuah jalan besar menuju panti.
"Nggak ada ojek ke dalam gitu?" keluh Razak.
"Lihat tempat Bang, ini adalah kawasan elit," jawab Ahid.
"Ini ke dalam sepertinya jauh," ujar Tohir menanggapi.
Mereka akhirnya berjalan kaki menuju panti. Jarak sekitar lima ratus meter baru mereka menemukan dua bangunan bertingkat mengapit satu bangunan sedang.
"Silahkan Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Ratna kepala pengurus panti.
"Kami ke sini untuk mengambil kembali keponakan kami yang dibawa lari oleh kakaknya sendiri, Azizah!" ujar Tohir langsung.
Ratna bukan tidak tau kisah Azizah dan enam adiknya. Ia dan tiga rekannya sudah tau. Maka perkataan salah satu pria yang mengaku paman dari Azizah dan enam adiknya perlu dicurigai.
"Maaf, Bapak siapanya Azizah?" tanya Bu Erna.
"Saya pamannya Azizah, Tohir!" jawab Tohir.
"Apa ada bukti jika Bapak berempat adalah paman dari Azizah dan enam adiknya?" tanya Ratna lagi.
"Ah ... itu dia, kami lupa membawanya. Tapi kami akan menyerahkannya besok. Jadi kami ingin menjemput enam keponakan kami!" ujar Razak santai.
"Maaf Pak, kami tentu akan melarang Bapak membawa mereka!" tolak Ratna langsung.
"Loh anda tidak bisa seenaknya dong Bu. Mereka adalah keponakan saya, anda bisa dijerat hukum menyandera anak di bawah umur!" sahut Razak sok tau.
"Dan anda bisa saya laporkan dengan dakwaan penculikan dan juga pemaksaan!" tekan Ratna balik.
"Penculikan bagaimana. Mereka adalah keponakan kami. Tentu kami berhak mengambil darah kami secara paksa!"
__ADS_1
"Anda tak memiliki bukti jika anda adalah keluarga dari mereka!" sahut Ratna lagi.
"Panggil mereka. pasti mereka memanggil kami paman!" tantang Handi sambil berkacak pinggang.
"Siapa yang mau dipanggil?"
Herman datang bersama Kean, dua pria beda usia itu hendak memberikan uang belanja pada panti.
"Ini Pak, mereka mengaku paman dari Azizah dan enam adiknya!" sahut Ratna.
"Siapa kalian?" tanya Herman langsung berwajah sangar.
Herman adalah momok pebisnis yang paling menakutkan setelah Virgou dan Terra juga Haidar. Pria uzur itu menatap empat pria sok jago.
Kean berdiri di sisi sang ayah. Siap untuk menghajar empat pria itu jika mengganggu.
Razak, Handi, Ahid dan Tohir tak mampu menatap mata tajam milik Herman, terlebih mata biru Kean yang ikut-ikutan memandang mereka sinis.
"Kami adalah paman dari Azizah. Kami berhak mengambil enam anak agar tidak diprrjual belikan di panti ini!" pekik Tohir untuk menghalau ketakutannya.
"Bangsat ... pergi kalian sebelum aku memasukkan kalian ke penjara!" teriak Herman mengusir empat pria itu.
"Pergi!" teriak Herman.
Empat pengawal yang menjaga Kean masuk ke dalam ketika mendengar teriakan pria itu.
"Bapak-bapak, silahkan pergi sebelum kami memanggil polisi!" pinta Hendrik.
"Kami akan laporkan tempat ini!" ancam Tohir berani.
"Silahkan, aku akan memenjarakan kalian dengan dakwaan tuduhan palsu!" teriak Herman lagi.
Keempat pria itu diusir keluar panti. Razak marah luar biasa. Ketika itu kebetulan, Adiba, Ajis, Amran, Alim, Ahmad, Leno, Lino dan Lana pulang dari pesantren tempat mereka menimba ilmu.
Adiba mengenali empat pria itu. Ajis, Ahmad, Amran dan Alim menggandeng kakaknya erat-erat. Sedang Tohir dan tiga lainnya lupa dengan wajah enam adik Azizah.
Mereka melewati empat pria yang berjalan keluar. Adiba bernapas lega. Hingga ketika sampai pagar.
"Bang, tadi aku lihat salah satu adiknya Azizah jalan deh?" ujar Tohir melihat delapan anak yang baru saja masuk. Lalu anak-anak juga masuk ke dalam panti.
"Apa kau yakin?" tanya Razak.
"Iya, aku yakin!" sahut Tohir.
"Ck ... siapa sih namanya?" lanjutnya berdecak kesal.
"Adi ... Ah .. Adiba!" sahutnya mengingat sebuah nama.
"Adiba!" teriaknya memanggil gadis kecil itu.
bersambung.
__ADS_1
Waduh ...
next?