SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KAFE BAYI


__ADS_3

Senin pagi, hujan mulai membasahi bumi. Anak-anak susah dibangunkan karena cuacanya memang enak untuk tiduran.


"Mas Baby, bangun sayang," Azizah membangunkan suami dengan mencium bibirnya.


Rion menggeliat, menatap mata gelap milik sang istri. Pria itu tersenyum dan kembali memonyongkan bibirnya.


"Kiss again please," pintanya lirih.


Azizah mencium kembali anggota tubuh itu. Pagutan indah pun terjadi, Rion menarik selimut memilih bercumbu sejenak, hingga ....


"Apah!"


Arsh naik tempat tidur Rion. Bayi sepuluh bulan itu tak takut siapapun. Tadinya Azizah hendak membuka selimut yang menutupi keduanya. Tetapi, Rion yang usil menahannya.


"Mas Baby,"


"Ssshhh ... biar, aku mau tau, si kecil itu mau apa?" bisik Rion.


Arsh melihat dua orang ditutupi selimut, berusaha membuka lembaran kain itu. Rion memegang kuat agar selimutnya tak terbuka.


"Ck!' Arsh berdecak kesal.


Bayi tampan itu tak kehilangan akal. Arsh masuk selimut yang tidak ditahan, lalu terdengarlah gelak tawa dari balik selimut.


Haidar yang membangunkan semua anak berhenti di depan kamar yang pintunya terbuka. Pria itu masuk dan membuka selimut dengan paksa.


"Astaga kalian!" serunya kesal.


Azizah, Rion dan Arsh tengah bergulat dengan korban tentu manusia yang masih bayi. Arsh tergelak lagi karena Haidar ikut menindih mereka.


"Apah ... mpun Pah!" pekik Arsh mulai lelah.


"Ayo bangun!" perintah Haidar.


"Papa Ion mual ... hueeek!" ujar Rion mulai berdrama.


"Baby!" peringat Haidar.


"Kasihan Baby Sean sayang," lanjutnya.


"Kemarin dia nyaris melempar kepala divisi dengan asbak," lapornya.


"Baby berani lempar asbak ke Pak Tody?" tanya Rion tak percaya.


Haidar mengangguk dengan senyum kecut. Pria itu harus menenangkan putranya kemarin Jumat ketika laporan triwulan perusahaan.


"Baby Sean menemukan penumpukan laporan yang nyaris kadaluarsa pengerjaannya. Baby bertanya pada Pak Tody, tapi sepertinya Pak Tody menganggap remeh adikmu sayang," lanjut Haidar bercerita.


"Papa skor dong Pak Tody. Waktu Ion menjabat Pak Tody juga suka bikin naik darah," sungut Rion.


"Sudah, bagian HRD menemukan temuan Baby Sean kinerja Pak Tody. Rupanya ada beberapa oknum terlibat dengan pelambatan itu," jawab Haidar panjang lebar.


"Ya udah. Ion akan ke kantor tapi Baby ikut ya Pa," pinta bayi besar itu.


Haidar mengangguk, ia yakin Sean akan senang jika kakaknya menemaninya bekerja.


Usai sarapan, mereka semua berangkat kerja. Beberapa bayi kembali dititipkan pada Terra. Seruni, Maria, Layla, Dinar dan Rahma juga ada di sana.


Di rumah Nai, Remario datang menjemput Andoro untuk kepengurusan pembangunan shelter.


"Assalamualaikum!" salam pria itu ketika masuk rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam, masuk Dad!"


Nai membuatkan kopi untuk mertua dari bukleknya itu.


"Terima kasih sayang," ujar Remario ketika satu cangkir kopi terhidang di atas meja makan.


"Papa sarapan roti? Mau selai apa Dad?" tawar Nai.


"Tidak usah sayang, tadi Daddy sudah sarapan di rumah Arimbi," ujar pria itu.


"Daddy diantar siapa?" tanya Nai lagi.


"Daddy sendiri sayang, naik taksi. Tadi mau diantar cuma Daddy males kalo sama pengawal," jawab Remario.


"Astagfirullah, Daddy kabur dari pengawalan dong?" Remario hanya nyengir kuda.


Nai menggeleng sambil menghela napas panjang. Ternyata kesamaan keluarga yang berhasil lolos dari pengawalan juga dimiliki oleh Remario.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam!"


Tiga pengawal suruhan Virgou datang dengan muka sedikit kesal. Remario berdecak ketika melihat tiga pria itu.


"Tuan, jangan menyulitkan kami," pinta Andre, Divo dan Herdi.


"Dad, mereka yang akan dimarahi Daddy Vir jika Daddy kenapa-kenapa," ujar Nai lalu mengelus lengan Remario.


"Iya sayang. Maaf ya," Nai tersenyum.


Andoro turun bersama istri dan juga putranya. Mereka sarapan terlebih dahulu. Baru Andoro pergi bersama Remario. Sedang Luisa memilih ikut Nai dan diantar ke rumah Terra.


Sampai sana, Fery, Mia, Beny, Leni, Sriani juga sudah ada di sana. Hanya Basri dan Shama yang tidak ada karena putra mereka telah menjemput keduanya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam!"


"Netnet!" pekik Arsh, Aliya, Alia, Izzat dan Zizam.


Luisa tersenyum lebar. Kini ada bayi baru di sana. Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita juga menyambutnya dengan malu-malu.


"Assalamualaikum Babies," sapanya pada semua bayi.


"Wa'alaitum syalam Nenet!" sahut Harun, Azha dan Arraya.


Arion, Bariana, Della dan Firman tengah mengunyah sarapan mereka jadi tak menjawab.


"Nenet syudah salapan?" tanya Bariana setelah menelan makanannya.


"Sudah sayang," jawab wanita itu.


"Mama ... pita pe tafe don!" pinta Arion pada ibunya.


"Habis ini ya sayang, kan baru sarapan," ujar Terra.


"Sore saja ya," ujar Seruni.


"Pita bawu nontlon Mami!" ujar Azha sambil melipat tangan di dada.


"Piya Mi, janan beuntan-beuntan pita teusil tlus pita eundat pisa teumana-mana!" sungut Aaima dengan mulut cembetut.

__ADS_1


"Paypi ... eundat lada tafe buta padhi-padhi," ujar Della memberi pengertian pada semua saudaranya.


"Ata' jejdjdhdbdhsnajwnshdhdnejudjakqhwgsgshsuehshgdhdhdhbsushbusususus!" oceh Arsh.


"Butan bedhitu matsutna. Mama tan beunal, pita balu salapan," ujar Della lagi-lagi memberi pengertian.


"Ladhian tulun pujan lintit-lintit," lanjutnya.


Luisa gemas, ia mengangkat bayi cantik itu dan menciumnya. Della tertawa lepas, semua bayi ingin diperlakukan yang sama. Luisa tentu tidak keberatan melakukan itu.


Sore menjelang Terra menepati janjinya. Semua bayi dibawa ke kafe milik Adiba. Ada beberapa bayi lain juga datang ke kafe itu. Hujan baru saja berhenti dua jam lalu.


"Tuh esen nih ... nih ... nih!" tunjuk Arsh asal ke beberapa gambar.


"Oke Baby," sahut Adiba.


Gadis itu jadi pelayan para bayi khusus jika Keluarganya datang. Satu bayi tampak duduk termenung menatap jendela.


Della melihat anak lain yang tidak ceria memberanikan diri mendatanginya. Bayi itu naik ke kursi tepat di depan bayi murung itu.


"Hawo ... pa'a tabal?" sapanya dengan senyum cantik.


Bayi itu menoleh, satu titik bening jatuh dari pelupuk matanya. Della begitu khawatir, lalu menggenggam tangan bayi itu.


"Tamuh pisa selita syama Ata'," tawarnya lembut.


"Nama tamu spasa?" tanyanya.


"Ndo" jawab bayi itu lirih.


Sepertinya bayi itu lebih muda dari Della. Tampak baju kodok biru yang ia kenakan. Di sana tampak ada satu wanita berpakaian suster menatap anak itu dengan pandangan sedih.


Bariana ikut duduk di sana. Tugasnya mengartikan bahasa bayi belum satu tahun.


"Poleh selita Paypi," suruh Della lagi.


"Hiks .. bdyehebdhsbshuhusbsmabashsbshejajaajahaababaabaaa ... hiks!" rupanya bayi itu bercerita dengan bahasanya.


Bariana dan Della sama sekali tak menyela cerita yang keluar dari mulut bayi itu. Adiba merekamnya, ia gemas namun sekaligus sedih karena dua hal, tidak mengerti dan mimik yang dipancarkan bayi itu.


"Janan dithu Paypi ... pemua lolan puwa basti bunya pasalah seundili," ujar Della.


Adiba mendekati Bariana. Gadis itu tentu penasaran dengan apa yang diceritakan oleh bayi pelanggannya itu.


"Baby, dia bilang apa?"


"Janan tepo Ata' ... imi lahasyia," jawab Bariana juga berbisik.


"Baby, siapa tau Kakak bisa cari solusinya," ujar Adiba menawari bantuan.


"Paypi, pa'a poleh Ata'imi peumbantumu?" tanya Della.


Bayi tampan itu menatap Adiba. Gadis itu memberi keyakinan pada pelanggannya jika ia bisa dipercaya.


"Piya," jawab bayi itu mengangguk.


"Namanya siapa Baby?" tanya Adiba.


"Vildou," jawab Della dan Bariana bersamaan.


Bersambung.

__ADS_1


oh ... ada bayi curhat nih.


Next?


__ADS_2