SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RUMAH BARU


__ADS_3

Akhirnya, Leon, Frans, Gabe, Langit dan Reno mendapat hunian baru mereka. Semua memilih di satu tempat yang sama. Berdekatan hanya berjarak sekitar satu hingga dua kilometer. Demian juga sudah membeli rumah atas nama Lidya begitu juga Dominic.


"Satu komplek rumahnya kita beli semua ya?" kekeh Dominic.


"Aku belum bisa beli rumah di sini," keluh Remario.


"Tunggu lima atau sampai sepuluh tahun, Sanz," sahut Bram.


Kini mereka berada di hunian Dominic. Tiga putranya yang baru tiga bulan tampak terlelap bersama empat bayi lainnya. Sedang Angel, Fael, Aliyah, Izzat dan Zizam mulai menaiki boks mereka.


"Aaahhh!" pekik Fael yang tak bisa memanjat boksnya.


"Paypi ... talam pots laja ya ... janan sulun-sulun!" larang Maryam.


"Tah ... lun!" tolak Fael ingin turun.


"Pah ... lulun!" pekiknya marah-marah.


"Paypi ... talam pots!" larang Arsh galak.


"Pecahapenalvdhshaisnnshwjwnshshsnsjsusuwhkbshsuu!" oceh Fael.


"Bisnbdbjsuhwbsbshduwooenshuaoaowndhdhdhsbkaiaiauausususu!" sahut Arsh dengan nada tinggi.


"Teunapa talian palah beulamteum!" sentak Bariana marah.


Dua bayi yang hanya beda empat bulan itu terdiam. Sedang bayi lain tampak santai melihat dua saudaranya dimarahi.


"Wawowoh!" ejek Angel, Aliyah, Izzat dan Zizam sambil bertepuk tangan.


"Baby Alsh pasut talam pots!" titah Bariana tegas.


Arsh memanjat boks di mana Fael berada. Mereka berdua duduk di dalam sambil berpegangan pada penyanggah.


Tak ada yang memarahi Bariana. Memang dari semua kakak, Bariana paling tegas pada semua adik-adiknya.


"Janan malah-malah Bal ... panti tamuh sepet puwa tayat Oma woh!' sahut Arraya memperingati.


Kanya yang mendengar itu berdecak kesal. Ia gemas sekali dengan cucunya paling bungsu itu.


"Baby sini kamu!" Kanya mengangkat Arraya dan menyembur perutnya.


Gelak tawa terdengar, Kanya mengeluh tak bisa mengangkat lama semua bayi.


"Ternyata aku memang sudah tua,"


"Oma peulum puwa tot ... pasih puda ... talo puwa didhina pindal buwa tlus benslot pi sendela," kikik Azha meledek Kanya.


"Astaga ... ada bayi belum lima tahun meledekku!" Kanya benar-benar gemas.


Semua orang tua pasti tertawa mendengar hal itu. Seruni sampai memijit pipinya yang kram akibat kebanyakan tersenyum.


"Hei ... katanya mau oke-oke!" ujar Kean mengingat.


"Mawu!" pekik semua bayi.


Akhirnya, semua bayi turun dari boks mereka. Semua diletakkan di atas karpet tebal. Kean memasang alat karaoke. Dominic memang membuat ruang khusus bernyanyi di rumah barunya. Lampu sedikit di redupkan pria itu menyalakan lampu disko.


"Wah ... telap-pelip!" seru semua bayi ketika lampu disko berputar dan memantulkan cahaya warna-warni.


"Baby Fat bawu puluan!" teriak Fathiyya.

__ADS_1


Mik berada di tangan bayi cantik itu. Kean menyalakan lagu "balonku".


"Apontuh dada pima ... supa-supa nananana ... jijo, nin, lempau ... lelah, ludah san pipu ... emetus salon lijo ... sol!"


"Dol Baby! Putan sol!" ralat Harun.


tatituh pamat asau ... apontuh sindhal embat ... tulepan wewat-wewat!" Fathiyya mengangguk dan melanjutkan nyanyiannya.


Jangan tanya wajah para orang dewasa. Senyum lebar membingkai wajah mereka. Nai dan Arimbi milih tiduran di karpet bersama Baby Zaa, Nisa, Chira, Sena, Alvan, Aaric dan Aarav. Bayi-bayi mau empat bulan itu masih enak memejamkan mata tak terganggu sama sekali dengan nyanyian kakak mereka.


Lagu Fathiyya selesai, semua bertepuk tangan heboh. Bayi cantik itu membungkuk hormat, lalu mik berpindah tangan pada Al Bara.


"Mau nyanyi apa Baby?" tanya Kean.


"Pa'a lajah Ata'!" sahut Al Bara sudah bergoyang tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Pulun patat puwa ... puwaa silelenda ... benet dudah puwaa ... didhina pindah tuwaaa!"


"Mpprhrrh!"


Semua nyaris tersedak mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Al Bara. Semua bayi meloncat kesenangan sambil bergoyang pinggul.


"Slep tun ... slep dun ... slep dun lalalalala ... slep dun ... slep dun lalalalala ... pulun Yayah puwaaaa!"


"Bwahahahahaha!" Kean terbahak.


Semua bayi langsung menerjang remaja itu. Al Bara yang paling semangat sampai menggigit tangan Kean.


"Adoow!" pekiknya kesakitan.


"Mama ... Kean digigit!" pekik remaja itu.


"Baby!" peringat Lidya.


Gigitan Al membekas di lengan Kean. Remaja itu pura-pura menangis, semua bayi langsung menenangkan kakak mereka itu.


"Sup ... sup .. sup ... nan ayis Ata'," ujar Arsh.


Maryam memeluk Kean. Al Bara merasa bersalah.


"Cukup Baby!' tegur Virgou.


"Adikmu sudah mau nangis itu!' lanjutnya.


Kean akhirnya berhenti berdrama. Mereka kembali bernyanyi. Hanya makan siang bersama. Dominic dan lainnya memutuskan hari minggu nanti akan mengundang seratus anak yatim-piatu.


"Jadi kita adakan di salah satu hotel saja atau bagaimana?" tanyanya.


"Salah satu rumah kita dengan empat nama rumah yang hendak didoakan," ujar Frans memberi saran.


"Ide yang bagus. Aku setuju!" sahut Gabe.


"Oke ... sepertinya begitu saja. Kita pilih rumah Kak Frans saja ya, gimana?" tanya Dominic meminta pendapat.


Semua mengangguk setuju, mereka memilih catering yang dimiliki oleh Lastri. Wanita itu tentu menyambut antusias rejeki itu. Sedang snack diambil dari milik Seruni.


"Kean ... atur acaranya!' titah Frans pada cucunya itu.


"Oteh Grandpa,"


Mereka terus bernyanyi hingga kelelahan dan tertidur di karpet. Arsh berada di atas tubuh Kean. Bayi itu tampak lelap bersama kakaknya.

__ADS_1


"Kalian istirahat lah," suruh Frans pada para wanita.


Semua wanita mengangguk dan membawa bayi-bayi mereka dibantu oleh para maid.


Sore menjelang halaman jadi tempat semua anak bergerak. Mereka kembali main tak jongkok. Arsh memilih duduk diam mengamati permainan.


"Bun Alsh, jita pita pihat peultandinan tuwa lawan seatan-atan eundat lada yan mawu meunalah!' ujar Arsyad menjadi reporter bola.


"Tuh ndat eulti Ata' ... Ata' momon pa'a?" tanya bayi itu.


Arsyad menghela napas panjang. Bayi satu setengah tahun mencari lawan bicara. Sean ingin jadi pemandunya.


"Bung Arsyad ... bisa sama saya saja!" pinta Sean.


"Oh ... paitlah!" angguk Arsyad.


"Bagaimana Bung Arsyad, sepertinya pertandingan ini akan berakhir imbang?" tanya Sean mendahului percakapan.


"Peunel banet ... meuleta meulupatan tim yan tuat. Teduana meumiliti teusalian masin-masin!" sahut Arsyad.


"Bisa Bung Arsyad jabarkan tim mana saja yang bertanding hari ini?" tanya Sean.


Demian dan Darren sudah merekam aksi tanya jawab ala sepak bola yang ada di televisi itu. Semua jadi ikut menonton, sedang yang lain mulai serius.


"Jita pita pihat pim Pe beulawan pim A," sahut Arsyad sok tau.


"Huruf bukan A dulu ya baru B?" tanya Sean gemas sendiri.


'Oh ... matsud atuh bedithu Bun Sean!' ralat Arsyad.


"Siapa ketua tim A?" tanya Sean.


"Tetua pim A Apan Papan talo tim Pe tetuana Apan Lalan!" jawab Arsyad.


"Meuleta setalan atan peulsuwit pida tali!" lanjutnya.


"Nan sulan Apan!" pekik Arsh.


Arfhan mengangkat tangannya, ia tidak curang.


"Yayo ... Apan!" teriak Della memotivasi kakaknya.


"Apan ... Apan!" seru Firman sambil bertepuk tangan.


Alia sedang disuapi kudapan oleh Layla. Wanita itu juga menyuapi Ari dan Aminah.


"Ya ... suwit dimenangkan oleh Arfhan ternyata saudara-saudara. Kita akan saksikan pertandingan tap jongkok!"


"Hitungan sepuluh lari sesuai garis ya!" teriak Azlan.


"Satu ...!"


Tak lama halaman itu ramai dengan suara gelak tawa. Mereka berkejar-kejaran. Arsh seperti pelatih yang marah-marah.


"Nan ituh Ata' ... anah!" teriaknya menunjuk arah.


"Kena!" Arfhan menepuk ketua tim B.


"Anta zatu puntut Apan Papan!" seru Arsyad.


"Ah!" decak Arsh kesal sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


Bersambung.


Atur aja Arsh! 🤭🤦


__ADS_2