SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BARAKALLAH FII UMRIK


__ADS_3

Hari ini ulang tahun Kean dan Calvin. Dua remaja itu kini sudah menjadi pemuda yang tampan dengan pesona luar biasa.


Mata biru dan dengan wajah polos, sangat mirip karena mereka berdua kembar identik. Satrio, Arimbi, Nai, Sean, Al dan Daud juga digabungkan jadi satu. Dari dulu mereka selalu merayakan bersama.


"Barakallah fii umrik Babies," ujar Darren mengecup kening semua adik yang mestinya keponakan itu, kecuali Satrio dan Arimbi.


"Makasih Abah," sahut mereka semua.


Reno dan Langit menghadiahkan cincin berlian di jari manis istri mereka. Keduanya memang belum mengenakan cincin kawin. Ketika pernikahan ulang kemarin keduanya sibuk mencari mahar, terutama Reno, Langit sampai ikut pusing mencari uang logam itu.


Semua difoto bersama ayah dan ibu mereka. Kean dan Calvin memang berwajah lembut seperti Terra. Sedang Arimbi dan Satrio mirip Khasya ibu mereka. Berbeda dengan Pratama's quarto jika yang anak laki-laki mirip Terra sedang perempuan mirip Haidar.


"Selamat ulang tahun sayang," ujar Luisa mengecup pipi menantunya itu.


Nai semakin cantik dan terlihat dewasa setelah menikah, begitu juga Arimbi. Walau usia mereka masih sembilan belas tahun keduanya sudah menjadi wanita karena telah bersuami.


"Semoga ada penerus secepatnya di sini," lanjut Luisa mengelus perut menantunya itu.


"Aamiin Mom," sahut Nai, yang juga ingin segera menimang bayi.


"Ata' mat uhan aun!" seru Arsh lalu minta gendong Kean.


Bayi itu tergelak ketika Kean menggelitik perut bulatnya. Begitu juga bayi-bayi lainnya. Semua mau minta gendong.


"Mom, kuenya taro bawah ya, biar diserbu perusuh!' pinta Al.


"Ja ...."


Belum selesai Puspita bicara. Satrio dan Daud mengangkat kue dua tingkat itu ke bawah dan dalam sekejap bayi-bayi yang baru merangkak sudah menghancurkan kue itu.


"... ngan ... hmmmm," Terra menghela napas panjang.


Semua baju baru yang dibelikan Virgou dan dikenakan pada bayi sudah kotor dengan krim kue.


"Apan ... Yiyah atan uwe anyat!" seru Firman menunjuk adiknya yang langsung memakan kue dengan membenamkan mukanya ke tart itu.


"Hahahaha!" Arsh tergelak melihat wajah Alia yang berbedak krim.


Arsh tak mau kalah, bayi itu malah menjatuhkan dirinya ke tart. Tak ada yang bisa mencegah. Gelak tawa tercipta.


"Kan jadi mubajir kuenya," keluh Khasya.


"Biar mereka bersenang-senang sayang," ujar Herman.


Khasya dan semua ibu yang kini membersihkan semua krim yang menempel di tubuh para bayi.


"Ganti baju sini!" ajak Layla, Dinar, Rahma, Sari dan Anyelir.


Kini ruang tengah mansion Virgou dipenuhi semua anak yang tengah berjoged dangdut. Azlan yang menggoyang semua bayi.


"Sel poha!" seru Fathiyya memutar pinggulnya.


Gisel membola, perutnya sudah mulai kelihatan bentuknya. Kini wanita itu bersender di dada sang suami yang mengelus perutnya. Gisel sangat manja saat kehamilan ini.

__ADS_1


"Alsh anyih!" pekik bayi tampan itu.


"Nyanyi apa Baby?" tanya Arfhan sebagai operator lagu.


"Anyih pa'a Ata'?" tanya Arsh menoleh pada Azlan.


"Liat kebunku?" tanya bocah itu.


"Dat au!" tolak Arsh sambil menggeleng.


"Balonku?" Arsh sedikit diam, lalu menggeleng lagi.


"Naik delman?" lagi-lagi Arsh menggeleng.


"Nyanyi apa dong Baby?" tanya Azlan gemas lalu mencium pipi gembul bayi itu.


"Banyi Palontuh aja Baby!" saran Azha.


"Ah ... ntuh!" angguk Arsh.


Azlan gemas sekali, Arfhan terkekeh lalu memasang lagu yang dimaksud. Semua harus menahan tawa, jika ada yang tertawa maka bersiap pada amukan bayi bossy itu.


"Ntontuh ma, ma ... mpa, mpa nananana ... jojo, nin, auau ... elah, nda, aibu ... wewetus nton penjo ... pol! ntituh nat asau ... mpohtuh mpal mpal ... dan dan lalat lalat!"


Arsh begitu serius bernyanyi sampai mengences. Semua harus memalingkan muka agar tak tertawa. Ibu-ibu hamil harus berkali-kali mengusap perut mereka yang kram karena menahan tawa.


"Menbenshdbbsjajwnsbshssbab maa ... jdhdbdndhdbsnwhsuhdbwbwnjajauhsh ... jejdhshsuehehsh Dol!"


"Ape!" Arsh melempar miknya.


Beruntung Azlan menangkap mik itu. Bayi itu bosan dan melangkah menuju Remario dan menaiki pria itu. Tak lama Arsh tertidur dipangkuan Remario. Semua bayi terlelap, para pria membawa bayi-bayi itu ke kamar mereka.


"Biar Arsh tidur bersamaku," pinta Remario yang menggendongnya.


Gabe membiarkan putra bungsunya. Dalam gendongannya Ari terlelap. Ia mencium bayi itu dengan gemas.


"Ayo sayang, kita tidur dengan putra baru kita," ajak Gabe.


Widya mengangguk setuju. Wanita itu mengikuti langkah suaminya ke kamar.


"Kalian kalau mengantuk tidur saja sayang," suruh Kanya.


"Iya Oma," sahut lima puluh anak angkat Bart.


Semua masuk kamar, tinggal para remaja. Mereka masih betah bernyanyi ria.


"Eh ke kafe Sean yuk!" ajak Kean.


"Ayo!" sahut Sean.


Para remaja bangkit, Virgou menatap mereka. Kean memohon pada ayahnya itu.


"Daddy,"

__ADS_1


"Baiklah ... dengan pengawal!" sahut pria sejuta pesona itu tegas.


Semua mengangguk setuju, walau terpaksa. Jika mereka menolak, alamat Virgou meratakan usaha Sean yang dibangun tiga tahun lalu itu.


"Tumben Papa Raka dan yang lain nggak datang?" tanya Sean tiba-tiba mengingat ada yang kurang.


"Katanya sih, keluarga dari Kakek Zhein tengah menempuh jalur hukum meminta bagian dari perusahaan yang dibangun Papa Raka," jawab Al.


"Daddy lagi ngurusin itu," lanjutnya.


"Pasti seru tuh. Kita ke rumah Papa Raka yuk!" ajak Kean tiba-tiba berubah haluan.


"Eh ... kita udah pamit ke kafe Kak Sean loh?" peringat Affhan.


"Udah ... pasti Daddy setuju. Kita mending memberi semangat dan dukungan sama saudara yang sedang ditimpa musibah," ujar Kean.


Pemuda yang baru berulang tahun itu membelokkan mobilnya. Memang mereka semua menggunakan satu mobil. Maisya, Kaila, Rasya, Rasyid Dewa dan Dewi ikut bersama kakak mereka.


Kean menyetir, ia mau membawa semua saudaranya dalam satu mobil mini van. Semua memekik dan tertawa ketika Kean menancap gas. Para pengawal yang mengikuti mengejar.


"Anak-anak itu!" dumal Gomesh yang menyetir.


"Tenang ketua!" ujar Rio yang berada di sisi Gomesh.


Pria raksasa itu menekan gas mengejar Kean.


"Telepon Tuan muda!" titahnya..


Rio langsung melakukan panggilan menelepon Satrio. Remaja itu menjelaskan jika berubah haluan akan pergi ke tempat lain.


"Mereka ingin pergi ke kediaman Tuan Wijaya, Ketua!"


Sedang di mansion Raka. Zhein mengusir orang-orang yang datang ke kediaman putranya. Raka memang kurang tegas, pria itu terlalu halus dan tak enakan.


"Kok kamu yang sewot Zhein. Raka aja nggak keberatan!" sergah Weni, sepupu Raka.


"Raka jangan diam aja dong!" lanjutnya.


"Tapi ini Papanya Raka. Jadi Raka harus nurut Kak," sahut Raka.


"Ah ... emang dasar autis ya autis aja!" hina Weni.


"Jangan sampai aku menamparmu Weni!" bentak Zhein murka.


"Pokoknya kalian harus membagi hasil dari perusahaan Raka. Raka adalah Wijaya, kami juga Wijaya!" tekan Weni tak tau malu.


"Kami punya hak mendapat bagian dari saham perusahaan itu!" lanjutnya.


Bersambung.


Lah ... kok ngece?


Next?

__ADS_1


__ADS_2