
Dengan perlahan-lahan Lucy merebahkan tubuh Mbah Sukma yang sekarat.Darah merembes dari sudut matanya dan telinga. Lucy terus saja menangis.
"Kenapa Mbah bisa begini Lucy? " Laras bertanya ingin tahu, ia membelai rambut putih gurunya itu.
“Ini salahku Mbak ini salahku"Lucy tertunduk sambil tergugu menangis.Tangan Mbah Sukma yang lemah meraih tangan cucunya itu.Ia menggeleng pelan seperti sebuah isyarat. "Kalau aku langsung membawa topeng itu, Nenek pasti tidak akan menyusulku." Isak tangis Lucy makin menjadi.
Mbah Sukma menggeleng lagi sambil tersenyum. Laras yang sedari tadi menahan gelombang air yang menggenang disudut matanya, akhirnya menangis juga."Mbah,, sudah jangan terlalu banyak bergerak "
"Mbak aku akan menyalurkan tenaga spiritualku kepada Nenek, Mbak tolong pegang tubuh Nenek agar tidak jatuh" Titah Lucy kepada Laras, Laras mengangguk setuju.Keduanya bekerja sama mengangkat tubuh Mbah Sukma yang sudah tak berdaya.
Mbah Sukma terbatuk-batuk dan menyemburkan darah segar dari mulutnya.Dengan posisi duduk bersila Lucy berhadapan dengan Neneknya. Ia menekan dada Mbah Sukma dengan kekuatan spiritual yang ia miliki. Untuk kedua kalinya Mbah Sukma menyemburkan darah segar. Tubuhnya terkulai lemas menimpa Laras yang duduk dibelakang Mbah Sukma.Laras merangkul tubuh yang sudah ringkih itu. Ia membaringkan tubuh Mbah Sukma dengan sangat hati-hati.
"Lu-cy" Suara Mbah Sukma terdengar lemah. Lucy duduk dilantai tepat disamping Neneknya. Ia menggenggam erat tangan keriput yang sudah memucat. "Mungkin ini sudah saatnya Nak"
Lucy menggeleng cepat,air matanya berjatuhan dengan derasnya. "Tugas Nenek menjaga kamu sudah selesai"
"Nek tolong jangan tinggalin Lucy ya,, Lucy masih butuh Nenek. Apa Nenek tidak ingin menggendong anak-anakku kelak?Bukankah itu yang Nenek selalu ceritakan padaku"
Laras sesenggukan, tubuhnya bergetar hebat.Tangannya terus membelai rambut Mbah Sukma. Mbah Sukma tersenyum tipis, Ia membelai tangan Lucy dengan sisa-sisa tenaganya.
__ADS_1
"Nenek sangat bahagia bisa punya kesempatan menjagamu Nak" Mbah Sukma terbatuk-batuk lagi. "Tolong jaga dia untukku Laras" Mbah Sukma beralih menatap muridnya itu. Laras mengangguk disela isak tangisnya. "Dan tolong jaga Lisa, Dia yang terlemah diantara kalian"
"Nek,, aku yakin Nenek akan sembuh.Aku akan melakukan apapun agar Nenek bisa sembuh lagi. Meskipun aku harus kehilangan kekuatanku." Lucy menciptakan harapan terbesarnya.Mbah Sukma menggeleng pelan.
"Tidak ada yang bisa bertahan hidup jika sudah memakai topeng itu Nak, Kecuali kamu"
"Aku akan memakai kekuatan topeng ini untuk membuat Nenek bisa bertahan"Lucy tetap kekeuh dengan keinginannya.
" Itu mustahil, Topeng itu adalah iblis pembunuh bukan menciptakan kehidupan "
"Tapi Nek"
Lucy terpana dengan suara tegas Mbaknya itu. Selama ini Laras tidak pernah meninggikan suaranya.Apalagi membentak nya seperti itu.
Mbah Sukma terbatuk-batuk lagi, dan kali ini batuknya terus menerus. Laras panik, ia melompat dari atas kasur guna mengambil air untuk Mbah Sukma."Mbah, minum dulu ya"
Mbah Sukma hanya mampu menggeleng di sela-sela batuknya yang tak berhenti. Darah terus keluar hingga bertebaran dimana-mana.Lucy mengerahkan tenaganya lagi dengan ditekankan ke dada sang Nenek. Tapi tak membuahkan hasil.Tiba-tiba Mbah Sukma membeliak dan nafasnya tertahan.
"Mbah"Wajah Lucy menegang, ia beradu pandang dengan Laras. Laras segera mendekatkan diri ke telinga Mbah Sukma.
__ADS_1
“Asyhadualla ila Ha illallah" Laras membimbing Mbah Sukma menghadapi sakaratul maut.Terlihat dari gerak bibirnya yang keriput, Mbah Sukma mengikuti ucapan Laras."Waasyhaduanna Muhammadarrosulullah"
Selesai mengucapkan kalimat terakhir, Dada Mbah Sukma seperti tertarik ke atas dan tarikan nafasnya begitu panjang.Setelah itu ia melemah dengan nafas yang terhela perlahan.
"Neneeeeek" Lucy menjerit histeris, ia merangkul tubuh yang sudah tak bernyawa itu.Laras menangis sejadi-jadinya. Beberapa penghuni rumah yang mendengar suara orang menangis segera berdatangan ke kamar Mbah Sukma.
"Lucy" Zulkarnain menghampiri putrinya yang terlihat menangis seperti orang gila.Lucy mengangkat wajahnya.
"Ayah, Nenek sudah meninggal“Ucap Lucy sendu.Zulkarnaen nampak tak percaya. Ia meletakkan jarinya ke ujung hidung Mbah Sukma. Benar, sudah tak ada lagi udara yang terhela.Zulkarnain mengelus punggung putrinya, tanpa bisa berkata apa-apa.
" Mbak,,, Nenek kenapa?"Lisa datang dengan wajah masih maimai karena baru bangun tidur.
"Mbah sudah meninggal Lisa"Laras menjelaskan dengan hati yang hancur.
" Hah??"mulut Lisa menganga, ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.Matanya menatap sekitar, Lucy yang menangis meyakinkan hatinya bahwa apa yang diucapkan Laras itu benar.
Lisa melompat naik ke atas kasur dan merangkul mayat orang yang sangat ia sayang."Nek... bangun Nek"Suara tangisan Lisa langsung pecah. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Mbah Sukma.
"Kenapa tidak ada yang memberi tahu ku kenapa?! " Lisa menjerit-jerit seperti kesurupan.Ia menangis menyayat hati. "Tega kamu Lucy!! aku juga cucu Nenek" Tangan Lisa meronta-ronta lengan baju Lucy. Lucy tergugu, ia tak merespon apapun dari sikap saudara kembarnya.
__ADS_1
"Lisa, tenang Nak" Zulkarnain memegang tangan Lisa yang menyerang Lucy.Tangis Lisa semakin menjadi-jadi.