SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RIP


__ADS_3

Dewi baru selesai membasuh tubuh ibu dari Kanya. Wanita itu menciumi putri dari Herman itu berkali-kali. Setelah sekian lama mengamuk jika kena air, wanita itu begitu tenang ketika Dewi menyeka tubuhnya.


"Sayang, kau pasti lelah," ujar Kanya.


Dewi sedikit diam. Ia sering menggeleng ketika melihat tubuh tua yang terbaring di atas kasur. Matanya basah.


"Baby kenapa?" tanya Kanya.


Dewi menatapnya dengan mata basah. Gadis kecil itu tak mau membayangkan apa pun. Ia menolak keras, ayahnya masih sehat dan bugar.


"Ayah sehat kan Oma, beliau tetap akan sehat kan?" pintanya penuh harap.


Kanya sedih dengan pertanyaan gadis kecil itu. Ia juga sudah sangat renta jalannya menuju akhirat terbentang luas, walau usia semua di tangan Tuhan.


"Baby ingat Uyut Bertha kan?" gadis kecil itu mengangguk.


"Mintalah pada Allah agar Ayah, bisa sehat seperti Uyut Bertha," nasihatnya.


Dewi memeluk Kanya.


"Dewi juga belum mau ditinggal sama Oma dan Kakek, terus sehat ya Oma, jaga juga kesehatan kakek," pinta gadis kecil itu.


"Inshaallah baby, minta doanya ya," ujar Kanya dengan suara tercekat.


Bram mendengar kegelisahan dan permintaan Dewi. Pria itu juga belum mau ditinggal atau meninggalkan siapa pun. Tapi, jika Tuhan sudah berkehendak, manusia bisa apa? pikirnya.


"Istirahatlah sayang, jangan pikir apa-apa. Yang harus kau pikirkan adalah baby harus baik sama semua orang, oteh!" ujar Bram.


Dewi mengangguk. Ia pun berlalu dan masuk kamarnya. Kanya memilih tidur bersama ibunya. Begitu juga Bram.


"Mom, Je vous aime," (Bu, aku mencintaimu,) bisiknya.


"Je t'aime aussi ma fille, Kanya," (Aku juga mencintaimu putriku, Kanya!) sahutnya juga berbisik.


"Mom," Kanya bercucuran air mata.


Mata Keina membuka, ia memandangi sang putri penuh kasih sayang. Tangannya membelai lembut wajah putrinya yang masih saja cantik di usia senja.


"Kau mirip ayahmu sayang," ujarnya.


"Mommy ... hiks ... hiks!"


"Sayang, jangan menangis," pinta Keina sedih, "aku tak bisa pergi jika kau terus menangis."


"Mommy ... tolong jangan katakan itu," Kanya tergugu.


"Mana pria yang dulu belaga menolakmu padahal dia mencintaimu setengah mati?"

__ADS_1


"Aku di sini mom," sahut Bram.


Ya, Bram dulu menolak keras perjodohan dengan Kanya, siapa sangka wanita yang menjadi istrinya itu juga menolak keras perjodohan hingga wanita itu melempar semua berlian pemberian ibunya—Labertha. Bram langsung jatuh cinta dengan Kanya melihat sisi bar-barnya.


Setengah mati ia meluluhkan hati gadis itu bahkan, ia memaksa kembali perjodohan dengan Kanya melalui ancaman bisnis. Kanya akhirnya menikah dengan Bram dengan muka ditekuk.


Bram meluluhkan hati istrinya selama satu tahun pernikahan. Kanya luluh karena hamil putri pertamanya, Karina.


"Apa kau masih mencintai putriku?"


"Teramat sangat mom," jawab pria itu.


"Jaga dia ya," pinta Keina dengan tatapan penuh kepercayaan pada Bram.


"Yes i do mom!"


"Thank you and i love you all," ujarnya.


"Mom," panggil Kanya.


"Nyanyikan aku lagu Nina Bobo," pinta Kanya dengan air mata berlinang.


Keina membelai bahu putrinya sambil bernyanyi. Wanita itu terus bernyanyi hingga suara memelan dan kemudian hilang bersamaan dengan napasnya yang berhenti.


"Mom ... huuuu .... uuuu ... mommy ... hiks ... hiks!"


Pagi hari seisi rumah gempar. Berita meninggalnya Keina Ruitz mengagetkan semuanya. Baru saja mereka bahagia karena Keina banyak tersenyum dan tertawa setelah sekian lama diam dan marah-marah. Beberapa kerabat langsung berdatangan mengurus jenazah. Kanya tak bisa memandikan ibunya karena telah berbeda keyakinan. Wanita itu memeluk Islam ketika satu minggu menikah dengan Bram.


Kerabat Kanya berdatangan dan memeluk wanita itu.


"Kau sangat jarang berkumpul, tinggallah di sini, kami sangat merindukan dan membutuhkanmu," pinta salah satu kerabat.


Kanya memiliki dua kakak laki-laki, tapi semuanya meninggal ketika masih remaja. Saudara ayah atau keponakannya saja yang tinggal beberapa karena anak mereka hanya satu atau bahkan ada yang tidak memiliki anak sama sekali. Garis keturunan Luigi sudah habis.


"Tidak bisa, hidup dan matiku ada di negara keduaku yakni Indonesia," tolak Kanya.


Semua pun tak memaksa wanita itu. Kanya duduk dengan balutan putih. Keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight begitu terpukul terlebih para perusuh yang hanya diam membisu.


Satu peti warna putih menjadi tempat Keina berbaring. Wanita itu memakai gaun pengantin warna putih, wajahnya dirias cantik.


"Selamat tinggal mom!" ujar Kanya lalu tersedu.


Bram memeluk istrinya. Dewi menangis dalam pelukan Satrio.


Empat keluarga mundur ketika kerabat Kanya menggelar kebaktian. Pastur didatangkan dan memberikan doa-doa persembahan. Kidung-kidung suci dinyanyikan.


Tak ada yang bersuara. Para perusuh juga tenang duduk bersama kakak mereka.

__ADS_1


"Kanya, apa ibumu langsung dikebumikan?" tanya kerabat.


Kanya mengangguk, ia tak bisa mengatakan apapun. Wanita tua itu sudah lemas. Labertha juga hanya diam dan duduk bersama Rion.


Semua bergerak menuju bus. Peti mati diberangkatkan dengan mobil khusus. Tadinya, mau di doakan bersama di gereja terdekat. Tapi karena turunan utama menolak, maka jenazah itu langsung dibawa ke pemakaman keluarga.


Peti Keina Ruitz di makamkan di sebelah makam suami dan juga ayahnya. Pastur lagi-lagi memberikan doanya.


"From the dust to the dust!"


Peti diturunkan ke liang lahat. Kanya menangis memanggil ibunya.


"Mommy ... mommy!!"


Bram memeluk sang istri dan ikut menangis. Virgou, Leon dan Frans menenangkan suami istri itu. Herman juga ikut menenangkan Bart yang ikut sedih.


"Aku ingat istriku," ujarnya tergugu.


"Tenanglah dad," ujar Herman ikut sedih.


"Maisya ... aku merindukanmu sayang," ujar pria itu.


Herman memeluk pria itu. Semua akhirnya pulang ke mansion mewah milik Keina. Kanya adalah satu-satunya pewaris hunian senilai triliyunan euro, seribu akre lahan anggur juga mesin pembuat wine. Seribu akre lahan gandum. Tiga mansion di kota berbeda dan saham sebesar 45% milik mendiang ayahnya.


"Ini adalah harta warisan milik Nyonya Kanya Leonora Luigi!" ujar sang pengacara.


"Wah ... banyak juga hartanya," bisik Virgou.


"Hush!" Bertha memukul lengan pria dengan sejuta pesona itu gemas.


"Ayah ... aku dipukul nenek," rengeknya manja.


Bertha sangat terkejut mendengar rengekan monsternya Dougher Young itu.


"Tenanglah sayang," ujar Herman mengusap penuh kasih sayang Virgou.


Bertha menghangat. Ia bersyukur monster itu sudah ada penjinaknya. Pengacara pulang. Semua dalam keheningan.


"Pita piem-bieman aja nih?" celetuk Azha tiba-tiba.


"Baby!" rengek Kanya dan Bram bersamaan.


"Pa'a syih Oma ban Tate!" sahut Azha bingung.


Bersambung.


Rest in peace Keina Ruitz!

__ADS_1


next?


__ADS_2