
Darren dan Rion memeluk Lidya. Ketiga bertangisan. Darren dan Rion memang lebih cepat keluar dari trauma itu dibanding Lidya.
"Kak, terima kasih," ucap wanita itu lirih pada Darren.
"Untuk kalian, kakak pasti bertahan," sahut Darren tak kalah lirih.
Terra, Haidar dan Virgou memeluk ketiganya. Di hati Virgou tak ada yang bisa menggeser kedudukan Lidya bahkan Puspita sekalipun. Walau wanita itu menjadi pion utama Virgou untuk bertahan.
"Sayang sini!" panggil Herman.
Semua mengurai pelukan. Virgou lebih dulu memeluk pria tua itu dan menggodanya.
"Jangan sampai aku menjitakmu Vir!' sentak Herman kesal.
"Ayah!" peringat Terra melotot.
"Lihatlah saudaramu ini!" adu Herman yang cemberut.
Lidya tertawa melihatnya. Wanita itu memeluk pria kesayangannya juga. Herman menakup dua pipi Lidya yang sudah berisi.
"Kamu gendutan Baby!" selorohnya.
"Ayah," rengek Lidya.
Para bayi tampak saling tatap dengan keadaan yang begitu haru. Della jadi sasaran pertanyaan semua adik-adiknya.
"Ata' ... meuleta teunapa seupelti pelepatis?" tanya Aaima.
"Teletapis Paypi," ralat Della.
"Biya matsutna ipu," sahut Aaima.
"Meuleta teulhalu, tatana Mama Iya peumbuh," jawab Della.
"Mama syatit pa'a?" tanya Lilo bingung.
"Biya, talo syatit teunapa pidat te lumah syatit? Teunapa beulpeulutan?" cecar Firman.
"Sowal ipu Ata' pidat pahu paypis. Buntin lada peunyatit yan peumbuh balau pipelut!" jawab Della begitu bijaksana.
Gino mengangguk, ia yang paling tua dari semua bayi di sana. Tapi, Gino juga belajar banyak dari semua adiknya itu.
'Yut sepaitna pita beunjauh dawi wowan puwa yut!" ajak Gino.
Duo Bara digandeng oleh Harun. Balita itu diminta sang ibu untuk menjaga semua adiknya.
"Ata' Alsh awu enel selatapan Mama Papa!' protes Arsh yang ingin mendengar lebih lanjut percakapan orang tua.
"Baby ... nulut ya!' peringat Azha tegas.
Arsh menurut, bayi tampan itu digandeng Fathiyya. Kini mereka berkumpul di ruang tamu. Harun dan Gino membantu adik-adik bayi mereka naik dan duduk di sofa.
Arsh, Angel, Fael, Zizam, Izzat, Alia, Alya, Dita dan Verra duduk di sofa bersama Aminah dan Ari.
Della duduk bersama Bariana dan Arraya. Firman duduk bersama Gino dan Arsyad. Lilo duduk bersama Fathiyya, sedang Azha duduk bersama Aaima Arion. Bastian mencari semua adik bayinya.
"Loh, Babies mana?" remaja kelas dua SMP itu memutar tubuhnya mencari keberadaan bayi yang super aktif.
"Mungkin mereka ada di ruang depan Kak!" ujar Ditya.
"Oh, kalian nggak bosen gitu?" tanya Bastian pada Ditya.
__ADS_1
"Mau ngapain Kak. Di luar masih gerimis. Hari udah sore. Kita nggak bisa kemana-mana," jawab Ditya lemah.
"Ah, kamu bosan juga ternyata," Ditya mengangguk setuju.
"Mau jalan-jalan pasti nggak boleh," sahutnya lagi.
"Ngobrol apa kalian?" tanya Ella mendekati dua adik beda usia itu.
"Bosen Kak!" aku Bastian.
"Kakak juga bosen. Eh, biasanya Arfhan punya ide untuk keluar mansion!" tiba-tiba Ella kepikiran untuk kabur dari pengawasan.
Arfhan menggeleng lemah ketika ditanya perihal keluar dari rumah. Ia juga sedikit keberatan.
"Di luar hujan kak,"
"Bukan sekarang. Tapi nanti!" ujar Ella sedikit kesal.
"Pastinya para pengawal nggak bisa dikecoh dengan hal serupa!" ucap Billy ikut nimbrung.
"Jangan di sini kalau mau buat rencana," bisik Samudera.
Ella mengangguk setuju, mereka pun bergerak ke ruangan lain. Ella paling besar di antara para remaja tanggung, usianya di bawah Kaila, Dewi, Dewa dan duo R namun di atas Samudera.
Gabriela, Bastian, Billy, Martha, Samudera, Benua, Domesh, Sky dan Bomesh lalu Radit serta Ditya juga Arfhan bergabung jadi satu.
Mereka tengah merencanakan sesuatu. Hal itu membuat perusuh paling senior, Kean mencari keberadaan pada bayi. Setelah menemukan mereka, ia mencari keberadaan para remaja tanggung.
"Ngapain kalian Babies!?" tanyanya menyelidik.
"Kakak ... kita mau buat sesuatu!' bisik Ella.
Kean begitu antusias mendengar ide cemerlang yang diutarakan adik perempuannya itu. Sean, Calvin, Satrio, Al dan Daud mencari keberadaan semua saudaranya.
"Kak Raffhan, liat Kean nggak?" tanya Sean.
"Nggak Baby," jawab Raffhan yang usianya beda satu tahun di atas Sean.
"Zheinra liat di ruang depan ada Babies, kalo yang lain di ruang itu!" tunjuk Zheinra pada ruang tengah yang lain.
"Kakak mau kemana?" tanya Ajis.
"Ngobrol sama Kak Kean?" jawab Setya.
Semua anak akhirnya berkumpul bersama Kean. Ella menghela napas panjang. Akan sulit merencanakan semuanya jika seluruh saudaranya ikut.
'Kita berpencar saja!" usul Amran.
"Wah ide bagus itu!" sahut Devina setuju.
"Jadi kita pecah dari beberapa kelompok. Dengan syarat setiap kelompok harus ada Kakak paling tua menjaga?!" lanjut Alim ikut memberi saran.
"Para bayi jangan dilupakan Kak!' ujar Ahmad mengingatkan.
'Oke kita pecah kelompok!" seru Kean tertahan.
"Gini aja, kita juga nggak usah semua berdiskusi. Biar nggak ada yang curiga," kini Adiba ikut serta memberi idenya.
"Jadi Kak Kean, Kak Calvin dan kakak yang lain yang putuskan kita berkelompok sama siapa saja. Kita harus setuju, bagaimana?" lanjutnya.
"Oke, aku bawa Baby Arfhan karena dia tau bagaimana mengecoh pengawal!" ujar Al kini.
__ADS_1
Ella dan lainnya mengangguk setuju. Mereka berpencar. Jika Sean mengajak seluruh saudara seumuran ke kamarnya plus Arfhan. Sedang yang lain memilih mengganggu para bayi.
"Kak!" Terra begitu gelisah melihat pergerakan semua anak-anaknya.
"Kenapa?" tanya Virgou polos.
"Oh really?" desis Terra tak percaya.
Virgou terkekeh, ia menenangkan adik sepupunya itu. Ia menatap lima puluh adik angkatnya yang tenang melihat mereka yang tengah merayakan kesembuhan Lidya.
"Selama mereka anteng ... aku tenang," tunjuknya pada lima puluh anak.
Terra melihat, ia sedikit tidak percaya dengan ucapan kakak sepupu tampannya itu.
'Kakak ... ingat, mereka itu bersaudara!' tekan Terra lagi.
Virgou berdecak, ia melupakan jika semua anak jadi ikut terkontaminasi dengan para perusuh keturunan asli. Azlan begitu tenang di sana duduk.
"Astaga ... aku lupa mereka putra siapa!" dengkusnya tertahan.
Bart kini memeluk Lidya yang bermanja pada pria itu.
"Gomesh ... Gomesh!" panggilnya berkali-kali.
Tak biasanya pria raksasa itu sedikit kurang peka. Kesembuhan cinta pertamanya membuat Gomesh sedikit terlena.
"Nanat sisilan itu!' gerutu Virgou yang ditimpali tawa Terra.
"Kakak ih!" kekeh wanita itu geli.
"Iya, nanat sisilan, tulanajal, pansat!" lanjut pria sejuta pesona itu mengumpat.
Terra tertawa terbahak-bahak. Semua menoleh padanya. Wanita itu terdiam sesaat.
"Sayang?" tanya Haidar.
"Istrimu gila!" terang Virgou yang membuat Terra kesal.
"Daddy spasa yan dila?"
"Aish ... kenapa anakmu satu itu Terra!" geram Virgou gemas.
"Sukurin!" ledek Terra.
"Nggak ada yang gila sayang. Tadi Daddy sedang kesal sama orang lain," jawab Virgou yang membuat semua bayi mengangguk percaya.
Perusuh paling senior turun. Virgou menebak dengan hanya melihat wajah dari semua putranya yang terbilang usil dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata itu. Terlebih ada perencana paling ulung bersama mereka.
"Te ... sepertinya titisan mafia akan terus berjaya," bisiknya dengan begitu bangga.
Terra menatap apa yang dipandang kakak sepupunya itu. Wanita itu mengangguk.
"Kali ini, apa lagi yang mereka rencanakan?"
Virgou mengendik bahu. Haidar kesal karena tidak dipedulikan Ia ngambek tapi urung melihat ekspresi semua putranya yang begitu misterius.
Bersambung.
Ah ... rencana apa lagi bersaudara itu?
Next?
__ADS_1