
Maisya dipeluk oleh ibunya. Puspita lega anak gadisnya tidak apa-apa. Baik Dimas dan Affhan meminta maaf pada ayahnya.
"Maaf Daddy,"
"Sudah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya!" peringat Virgou tak menyalahkan dua pemuda itu.
"Mereka jarang keluar jadi pasti kaget kalau ketemu orang banyak. Jadi ya seperti itu," ujar Luisa mengerti.
Semua bayi sibuk dengan sepatu yang dibelikan kakaknya.
"Buwat pidat?" tanya Zaa pada Chira.
"Wuwat ... api tuh ndat tusta balnana!" ujar Chira melepas lagi sepatu lucu itu.
"Tuh au yan walna pilu!" lanjutnya melirik sepatu yang dipakai Faza.
"Terima apa yang diberi Baby!" peringat Azizah.
"Imih pidat pisa bipialtan!" protes Arsh.
"Teunapa tamih pidat pipelitan pespatu!" lanjutnya mengomel.
"Biya ... pa'a talna pita lati-lati?" protes Fatih ikut-ikutan.
"Kakak nggak sempet Baby, kan tadi kakak diselang olang jahat!" bela Della.
"Besok Dewi yang jagain Baby Mai deh!" sahut Dewi kesal.
"Tadi aku mikir gitu juga loh Bu'lek!" sahut Mai.
"Sudah, besok kalau mau ke mall bilang dulu. Biar kami sterilkan!" ujar Budiman.
"Oh ya, gimana apa Santo sudah selesai dengan polisi?"
"Belum, Santo diintrogasi karena menyerang orang lain," lapor Gio.
"Apa mesti dicopet dulu baru bisa dikatakan korban?" desis Remario.
"Membela diri kok nggak boleh. Apa mesti mati konyol baru ada hukum?" lanjutnya protes.
"Gomesh?"
"Sudah kami kirim pengacara ke sana Ketua!" ujar Gomesh.
Virgou mengangguk. Anak-anak heboh dengan makanan nasi lemang yang dibeli oleh kakak mereka.
"Mama ... yan item-item imi pa'a ma?" tanya Maryam.
"Oh itu tape ketan hitam sayang," jawab Maria.
"Enat?" tanya batita cantik itu.
"Tentu saja sayang. Itu enak!" jawab Maria.
"Buang airnya kak," pinta Terra.
Air tape dibuang, karena memang mengandung khamr.
"Justru enak airnya," celetuk Nai.
"Iya yang memabukkan itu enak sayang," sahut Langit.
__ADS_1
"Papa Mamit ... soba atuh dendon!" Aaima minta gendong pada Langit.
Pria itu gemas sendiri. Namanya berubah di mulut bayi. Buka puasa masih dua jam lagi. Semua memilih mengambil wudhu dan mengaji.
Domesh, Bomesh, Bariana, Fael dan Angel ikut duduk di sana. Mereka mendengarkan, tak ada yang melarang. Baik Maria dan Gomesh membiarkan anak-anak berbaur dengan siapa saja.
"Hueeek!" Arimbi mual.
"Sayang?" semua menoleh pada wanita itu.
"Huueek!"
Arimbi berlari ke wastafel dan muntah di sana. Wanita itu terpaksa membatalkan puasanya karena semua isi perutnya keluar.
"Kamu terlalu lelah sayang," ujar Reno mengusap punggung istrinya.
"Uma periksa ya!" ujar Saf.
Safitri memeriksa nadi Arimbi. Satu senyum terbit di bibirnya. Melirik Herman dan Khasya.
"Nanti kita periksa secara menyeluruh ya!" ujar Saf lagi.
"Rimbi tau Uma. Rimbi udah telat dua bulan," ujar wanita itu.
"Alhamdulillah ya Allah!" seru Herman.
Pria itu menangis, ia memeluk putrinya erat dan menciuminya.
"Aku jadi kakek ... aku jadi kakek!"
Arimbi tertawa. Perkataan Herman membuat perusuh junior mengerutkan keningnya.
"Pa'a peulama imi tamih butan susu Tate?" tanya Arsyad melipat tangan di dada.
"Maksud Kakek mungkin akan jadi kakek lagi!" bela Della pada pria tua itu.
"Iya benar sayang, Kakek senang karena akan jadi kakek kembali," ujar Herman lega.
Semua pria dewasa berdecih melihat kelakuan Herman. Tapi memang, Arimbi adalah anak pertama Herman yang menikah. Tentu seorang cucu pertama lahir sebentar lagi.
"Ayah ... Te ngerti kok," ujar Terra lalu memeluk pamannya itu.
"Kalau gitu Nai juga hamil lah ... biar Mama punya cucu pertama!" sahut Nai yang membuat Terra kesal.
"Cucu Mama banyak!"
"Ingat Ma ... Darren, Lidya dan Ion itu adik Mama!" kekeh Darren menggoda Terra.
"Kalian!" Terra mengerucutkan bibirnya.
Haidar tertawa melihat istrinya yang menolak tua. Padahal di sana dia adalah yang paling muda.
'Kak Kean dinikahkan saja sih!' pinta Terra pada Virgou.
"Ih ... nggak mau!' tolak Kean langsung.
"Biar Paklek aja yang nikah dulu!" lanjutnya.
"Tuh, kamu denger sendiri kan?" ledek Virgou pada adik sepupunya itu.
Terra yang gemas mengigit bahu Virgou sampai meringis.
__ADS_1
"Ayah ... anakmu ini!" adunya kesal.
"Terra!" peringat Herman.
"Bunda," Terra merengek ke Khasya.
Semua perlakuan mereka dilihat secara langsung di depan para perusuh.
"Ata' Momesh ... inih!' panggil Faza pada Domesh.
Domesh mendekat, bayi itu langsung mengigit bahunya. Domesh menutup mata dan mengepal tangan erat menahan sakit.
"Baby!" Lidya mengambil putrinya.
"Mama ... hiks!"
Domesh terisak, gigitan Faza benar-benar membuatnya kesakitan. Aini memberi obat di bahu Domesh.
"Sayang, Nenek nggak gigit beneran loh ke Opa Vir," ujar Lidya pada putrinya itu.
"Minta maaf sama Kak Domesh!' perintah Demian pada Faza.
Faza yang merasa bersalah hanya menunduk. Hal ini membuat Gomesh tak tega.
"Nggak apa-apa, Kak Dom itu laki-laki harus kuat ... bener kan Baby!" tekannya pada Domesh.
"Gomesh ... jangan membela yang tidak baik ya!" peringat Herman.
"Mamap Ata' Momesh ... hiks!'
"Nggak apa-apa Baby," jawab Domesh.
"Sudah-sudah ... ayo nanti mau buka puasa!" ujar Najwa.
Tak lama, Gio mengumandangkan adzan. Semua anak bersorak. Mereka puasa full semua kecuali yang baru berjalan dan merangkak.
"Lemang katanya enak makan pake rendang. Mami buatin rendang dong," pinta Mai.
"Iya sayang," ujar Seruni.
"Besok Mami buatkan!" lanjutnya.
Setelah membatalkan puasa. Semua menjalankan ibadah sholat maghrib.
"Rapatkan shaf!" seru Rio.
Istrinya juga ada di sana membawa banyak mukena lucu untuk anak-anak perempuan. Semua memakainya.
"Bariana nggak dapet ya?" tanya bocah cantik itu sedih.
"Sayang ...,"
"Ma ... boleh nggak?" cicit Bariana.
"Nanti kalo sudah besar ya," ujar Maria.
Bariana mengangguk, Maria dan Gomesh juga tak pernah memaksa keimanan putra dan putrinya. Berkerja bersama Virgou yang notabene semua beragama Islam.
"Yang penting kalian bertanggung jawab atas semuanya!" ujar pria itu.
bersambung.
__ADS_1
Next!