
Acara maulid selesai, mereka memilih menginap di pesantren yang didirikan oleh Bart. Pria gaek itu juga menggandeng beberapa ulama dunia untuk mewujudkan pesantrennya.
"Di pesantren ada enam puluh anak didik. Yang diutamakan pendidikan di sana adalah Al Qur'an dan Al hadist. Aku juga mengambil beberapa pengajar dari Indonesia yang lulusan Kairo dan Madinah," ujar Bart.
"Apa Daddy mau mengembangkan pesantren agar murid bisa diterima di negara-negara itu?" tanya Herman.
"Benar Nak, Daddy sedang mengupayakan itu. Tetapi kau tau sendiri jika yang belajar di sini hanya sedikit. Kami masih berjuang untuk mewujudkan slogan Santri Eropa," jelas Bart sekaligus menjawab pertanyaan Herman.
"Makanya aku harap lima puluh anakku bisa mengajar dan membuat semua anak hasil didikan di pesantren ini mampu bersaing dengan para santri yang didominasi negara Arab, Asia terutama Indonesia," lanjutnya.
Sebuah mimpi besar Bart Sidiq Dougher Young, pria yang kini berusia sembilan pulu empat tahun itu berharap semua terwujud sebelum ia berkalang tanah. Jikapun sudah, ia harap semua keturunannya melanjutkan cita-citanya.
"Butuh kerja keras dan perjuangan sampai tetes darah penghabisan Dad," sahut Bram.
Bart mengangguk setuju. Ia sangat yakin usahanya tidak akan sia-sia, ia berharap semua ini dipermudah nantinya.
Reno, Dicky dan Dewo membantu nona mudanya mengemasi semua barang-barang miliknya. gadis itu memang membeli peralatan dokter di Eropa. Berkat Lidya. Nai dan dirinya bisa memberi bantuan.
Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young memang memiliki lisensi penanganan kejiwaan di Eropa. Wanita itu bisa membuka prakteknya di negara itu.
"Ini sudah semua Nona?" sahut Bambang.
Arimbi hanya mengangguk, ia sungguh kelelahan, bahkan Nai juga terduduk lemas di sana. Lidya sudah bersama suaminya, wanita itu terlelap setelah makan bakso dua mangkok dan balado jengkol. Demian yang menggendong istrinya karena juga kelelahan, begitu juga Aini dan Putri. Suami mereka langsung menangani para istri sedang anak-anak mereka ada di tangan Terra, Maria, Dinar dan yang lainnya.
"Nona, apa mau kugendong?" tawar Reno dengan suara pelan.
"Mau kuhajar kau?" ancam Arimbi galak.
Reno terdiam, netra pekat gadis itu menatap tajam, Nai memeluk bu'leknya. Gadis itu memang kelelahan.
"Bu'lek," rengeknya.
"Sayang, aku juga lelah, kita panggil Daddy ya?" Nai mengangguk.
"Panggilkan Daddy!" titah Arimbi galak.
Reno membungkuk hormat. Ia makin cinta dengan gadis itu, memang ia terkadang takut dengan Arimbi. Pria itu belum bisa menakar kekuatan gadis itu.
David dan Gomesh datang, dua gadis langsung merentangkan tangannya tentu saja dengan mudah keduanya menggendong Nai dan Arimbi.
"Aku sama Papa Gom!" ujar Nai.
Gomesh memang idaman Nai dari bayi, gadis itu selalu mengatakan jika dia pacar pria raksasa itu ketika masih bayi.
__ADS_1
"Kenapa mereka?" tanya Bart.
Baik Nai dan Arimbi menenggelamkan wajahnya di dada pria yang menggendong mereka.
"Kelelahan Tuan," jawab Gomesh.
"Bawa mereka ke kamar!" suruh Bart.
Gomesh dan David membawa keduanya ke kamar dibantu oleh Azizah. Tersisa Saf, wanita itu memang super woman. Entah dari mana kekuatannya, Darren sampai menyuruh istrinya untuk beristirahat.
"Sayang, istirahatlah,"
"Iya sayang," sahut Saf akhirnya menurut.
Izzat dalam gendongannya, bayi tampan itu sudah terlelap. Darren mengambil alih putranya. Jangan tanya triplet mereka. Baik, Maryam, Al Fatih dan Aisya sudah tidak ingin dianggap bayi. Begitu juga Al dan El Bara anak dari Demian. Dua jagoan tampan itu tidak mau dipisah dengan saudara mereka. Begitu juga yang lainnya, seperti Fathiyya, Aaima dan Arsyad. Harun, Azha, Bariana, Arion dan Arraya adalah panutan mereka.
"Hueeek!" semua menoleh pada Gisel.
Wanita itu menggeleng cepat. "Aku tadi telat makan."
"Istirahat sayang," pinta Budiman dengan pandangan curiga.
"Tadi Iya sama Aini mual kok nggak ada yang curiga?" tanya wanita itu kesal.
"Kalau jadi?" perlahan ia mengusap perut. "Ah ... nggak apa lah!"
"Apanya yang nggak apa-apa?" tanya Sriani.
Ferry dan Mia hanya diam saja, sepasang suami istri itu memang tidak pernah ikut menimbrung, mereka menikmati apa yang mereka jalani saja.
"Nggak ada apa-apa Ibu," jawab Gisel cepat.
"Sayang?" rupanya Sriani menuntut jawaban.
Gisel memilih membisikkannya pada ibu dari kakak iparnya. Hal ini membuat Budiman, Ferry dan Mia sedikit kesal.
"Gisel, kamu hamil?" tebak Mia tepat sekali.
"Ibu ...," rengek Gisel. "Masih telat belum bisa dibilang hamil kan?"
"Emang kenapa jika kamu hamil?" tanya Budiman sebal.
"Bang, aku sudah tiga puluh lebih, hanya beda dua tahun dari Kak Terra!"
__ADS_1
"Lalu?" tanya Budiman dengan sorot mata tajam.
Gisel akhirnya menghela napas. Wanita itu pasrah saja jika memang ia kembali diberi kepercayaan hamil anak lagi.
"Sayang jangan menolak jika memang rejeki itu datang," ujar Khasya..
Kanya dan Mia mengangguk setuju. Bart hanya tersenyum mendengar akan ada keturunannya yang akan menggoncang dunia. Pria itu benar-benar menolak program keluarga berencana.
"Jika kita mengarahkan anak-anak dengan benar. Mereka pasti punya masa depan dengan cara mereka sendiri!" ujar Bart beralasan.
Malam hari, semua berkumpul di halaman pondok pesantren, anak-anak angkat Bart bershalawat dengan suara pelan.
"Tidak masalah sayang, Papa sudah menyekat pagar dan tidak ada yang tau apa kegiatan di dalam karena ini adalah milik pribadi!" ujar Bart lalu menyuruh semua anak bershalawat.
"Grandpa kenapa kepikiran menjadikan ini badan usaha milik pribadi bukan organisasi?" tanya Virgou.
"Ya, karena aku tidak mau ada campur tangan siapapun. Aku ingin pesantren ini seperti pesantren kampung yang ada di Indonesia. Walau banyak berita buruk tentang pesantren, itu bukan salah dari tempat itu walau sebenarnya ada andil para guru dan dewan pembina akan hal itu!" jelas Bart panjang lebar.
Reno dan Langit menatap dua gadisnya. Keduanya hanya bisa menghela napas panjang. Mereka tak bisa mendekati Nai atau pun Arimbi karena para perusuh berkerumun di sana.
"Eh ... main gobak sodor malem-malem kek nya seru!" ide Samudera.
"Ayo, lagian lampu begini terang!" sahut Azlan setuju.
Kini beberapa anak membuat garis panjang dan membuat kotak. Azlan menatap dua pria yang memandang dengan pandangan putus asa.
"Kak Langit, Kak Reno mau main?" ajaknya.
"Boleh gitu?" tanya Reno.
"Ayo!" ajak Azlan lagi.
Reno menatap Virgou. Azlan menatap pria beriris biru itu hingga Virgou akhirnya mengangguk walau hatinya kesal bukan main.
"Oke, Kak Langit gabung di tim Kean dan Kak Reno di tim Sean!" ujar Kean.
Ketika melempar dadu, tim Kean menang. Tim Sean berjaga. Darren, Demian, Rion dan Jac menjadi wasit garis. Para perusuh sudah ramai. Arsh paling galak di antara semuanya.
"Ata' Mamit ... wawas alah!" ancamnya.
Bersambung.
Nah loh ... nama Langit berubah di mulut Arsh. ðŸ¤
__ADS_1
next?