
Pesta sudah lama usai. Pengantin baru kini duduk di meja makan bersama. Para penghuni panti yang kini sudah besar menyajikan makanan pesta tadi yang masih banyak tersisa.
"Tata ... poleh matan ayam dolen?" tanya Aminah.
"Boleh sayang," sahut Dinar langsung mengambilkan ayam goreng untuk bayi itu.
"Matasih bibu," ujar Aminah begitu manis.
"Sama-sama sayang," sahut Dinar dengan senyum lebar.
Aminah memiliki kursi khusus begitu juga dengan Alim. Herman menyumbangkan kursi khusus itu untuk para bayi seperti Lana, Leno dan Lino.
"Jadi besok, apa benar Adiba, Ajis, Amran dan Ahmad mau didaftarkan di pesantren dekat sini?" tanya Ibu Rahma.
"Iya, Bu. Nggak apa-apa kan jika Adibah mulai dari kelas satu?"
"Tentu tidak apa-apa, nanti biar saya katakan kenapa Adiba terlambat sekolah," ujar Rahma.
"Makasih ya Bu," ujar Azizah senang bukan main.
Keluarga Pratama, Triatmodjo, Dougher Young dan Starlight sudah pulang dari tadi. Begitu juga para pengawal.
Demian dan Lidya sudah sampai di huniannya. Dominic langsung pergi ke kamarnya. Ia tengah mengurus sedikit lagi akta tukar guling perusahaan.
Pria itu benar-benar jatuh cinta dengan negara menantunya itu. Terlebih dua putranya tak mungkin lagi datang ke Eropa. Maka ia menukar perusahaan utama berdiri di sini.
Pria itu begitu fokus mengerjakan semuanya. Demian yang tadi baru mengetahui rencana ayahnya begitu terkejut. Lidya mencium mertuanya itu. Ia senang sekali.
"Dad, jadi beneran perusahaan pusat dipindah di sini?" tanya Demian lagi.
"Iya sayang. Daddy mau tinggal di sini!" ujar pria itu mantap.
"Daddy sudah jatuh cinta dengan tempat ini," ujarnya lirih, "dan jatuh cinta dengan salah satu gadis asli sini."
"Hah ... apa dad?" tanya Demian tak mendengar apa perkataan ayahnya.
"Sudah tidak apa-apa. Daddy mau kerja lagi boleh?" Demian mengangguk sambil cemberut.
Ia pun meninggal ayahnya yang sibuk mengurusi kepindahan perusahaan. Lidya memanaskan makanan untuk dua putranya. El dan Al Bara sudah memakan makanan pendamping asi. Jadi wanita itu kini tengah menelepon Safitri untuk bertanya.
"Uma ... makanan pertama El dan Al apa?" rengeknya manja.
"Biskuit yang dibancur dengan air sayang," jawab wanita itu.
"Bertahap saja lalu satu minggu baru beri bubur saring," lanjutnya dari seberang telepon.
"Nggak bisakah yang instan itu kan ada ... pasti ...."
"Nggak boleh ... jangan malas kalau jadi ibu!" larang Saf langsung.
Lidya merengek manja, ia meminta kakak iparnya saja yang membuatkan bubur itu dan membawanya besok ke rumah sakit.
"Pokoknya Iya nggak mau tau. Titik!" wanita itu menutup sambungan ponselnya.
"Pelit ... masa buat anaknya nggak mau bikinin!" gerutunya sebal.
__ADS_1
Demian menghela napas panjang. Itu baru Lidya yang manja bagaimana jika nanti Nai, Arimbi, Dewi dan Kaila menikah nanti? pikirnya.
"Kasihan Uma, tangannya cuma dua loh sayang, bayinya tiga dan sekarang harus memikirkan Al dan El?" nasihat Demian.
"Ih ... jangan belain Uma. Sekarang dia hamil maunya baba terus yang anterin dia ke pasar beli buah!" gerutu wanita itu.
Demian garuk-garuk kepalanya yang memang gatal. Lidya sibuk mendinginkan makanan yang tadi dihangatkan untuk dua bayi kembarnya.
Sementara di hunian Safitri. Darren menatap istrinya yang tengah melihat ponselnya.
"Kenapa lagi sayang?" tanya pria itu.
"Ini adik kesayangan, besok minta buatin bubur saring buat Al dan El," jawab wanita itu.
"Lalu, kamu nggak mau buatin?" tanya Darren.
"Mana bisa nggak buatin?" Seru wanita itu dengan kesal.
"Bisa-bisa dia ngambek terus nggak mau dicium-cium!" dumalnya lagi.
"Tadi kamu juga dapet pelukan baru kan?" tanya Darren.
"Ah ... iya sama. Bibu Dinar!" serunya dengan mata berbinar.
"Mas ... kok bibu enak banget dipeluk ya ... digigit juga," ujarnya gemas.
Darren terkekeh. Ia juga tadi gemas dengan perempuan yang dulu sering mengacak rambutnya.
"Dulu, bibu selalu bilang, dia dibuang karena tubuh gemuknya," ujarnya dengan suara berat.
"Bibu bilang, sering berdoa pada Tuhan agar benar-benar lupa dengan kakek dan nenek yang membuangnya," ujar Saf sedih.
"Uuummmaaa!" teriak Maryam.
Makanannya menggantung di udara sedang bayi itu sudah membuka mulutnya.
"Ah ... maaf baby," ujar wanita itu.
"Hanevnejjehshebeuwmjwjsnbsbwnqjajswjsisnmjjdib!" omel Aisya pada ibunya.
"Maaf baby ... maaf oteh?"
"Hmmm!" ketiganya mengangguk.
Fatih ikut mengoceh tak jelas. Darren begitu terhibur dengan bahasa ketiga bayi itu.
"Hanya Baby Bariana yang mengerti ucapan kalian babies!"
Safitri tersenyum simpul. Lalu ia mengingat sesuatu, tadi ia memergoki dua pria menatap dua gadis berbeda.
Para pengawal telah mendapatkan tambatan hatinya di pesta tadi.
"Anak-anak ayah memang luar biasa ya?" celetuknya.
"Kenapa, tadi aku lihat Om Hendra melirik mba Anyelir, terus Om Juan melirik Dinda," jawabnya.
__ADS_1
"Biar saja. Menghadapi ayah itu sama seperti menghadapi daddy," ujar Darren.
"Kalau Arimbi juga ada yang melirik loh tadi sama Nai," sahut Saf lalu ia menutup mulutnya.
"Spasa yang berani-beraninya melirik dua adik cantikku!' seru Darren tak suka.
Saf hanya diam ketika Darren memaksanya.
"Uma!"
"Apa Abah ... udah deh!' sahut Saf lebih galak.
Darren akhirnya diam. Ia tak akan memaksa istrinya. Tapi, pasti ia akan mengadu pada baba, ayah, daddy juga papanya!
"Papi juga pasti akan mencari siapa yang berani melirik putrinya!" sungutnya kesal.
"Abah!" peringat Safitri.
Darren berdiri dan meninggalkan istrinya jika sudah begitu, Safitri akan kalah. Ia paling tak bisa ditinggal begitu saja oleh suaminya.
"Sayang!" rengeknya mencebik.
Darren melipat tangannya di dada. Ia memang paling bisa menyiksa istri dengan aksinya yang seperti itu.
Saf buru-buru meletakkan makanan tiga anaknya dan hal itu membuat Darren yang kalah. Ia mendekati istrinya dan begitu juga Saf mendekati suaminya.
"Maafkan aku," ujar keduanya.
Baik Saf dan Darren tersenyum. Keduanya pun saling mengecup bibir. Maryam, Aisyah dan Fatih mengoceh kembali tak jelas.
"Maaf babies!" sahut keduanya baikan lagi.
Sementara malam makin larut. Dominic baru saja selesai membaca Alquran. Pria itu sedikit bisa membaca kitab suci itu.
"Demi dia, apa aku harus meningkatkan diri?" tanya pria itu.
Ia lalu menggeleng. Rasanya tak tepat karena cinta pada makhluk, ia baru mengupgrade diri agar pantas.
"Lebih dekat pada sang maha pemilik hati, Allah," gumamnya ikhlas.
"Jika cinta ini mendekatkan diriku pada-Mu ya Robb. Maka ujudkanlah. Jika tidak, segera jauhkan!" pintanya penuh harap.
Ia menatap layar ponsel. Sebuah foto hasil bidikan candid ia dapatkan. Senyum dengan lesung pipit kecil. Pipi chubby dan tubuh gempal. Dominic menggeleng tak percaya cinta datang secepat itu.
Perlahan ia menekan lama pada gambar. Ada tulisan hapus di sana. Ia pun langsung menekan tulisan itu.
"Tidak baik menyimpan foto yang bukan muhrim!" ujarnya bermonolog.
Sedang di tempat lain. Sosok pemuda tampan menatap bulan. Hatinya juga sudah mulai gundah. Ia menghela nafas panjang.
"Belum waktunya," monolog pemuda itu.
bersambung.
wah ... spasa tuh?
__ADS_1
next?