SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CINTA BUKAN YA?


__ADS_3

Rion melarikan diri setelah mengatakan iya tadi. Pemuda itu belum dua puluh tahun, pikiran dan pencapaiannya masih panjang dan belum memutuskan untuk menikah cepat.


"Tapi, kalau Azizah diambil orang ya sayang juga sih," ujarnya bergumam.


Rion memilih tak perduli. Jikapun nanti gadis kuat dan pemberani itu jodohnya, ia tak masalah sama sekali. Walau sepasang mata hijau kembali mengusik pikirannya.


"Ck ... ngapain mikirin. Lagian dia jauh," gerutunya kesal.


Sementara itu di tempat lain. Rahma kini berada di rumah sewanya. Ia memang tinggal sendiri, tak memiliki keluarga, ayah ibunya sudah meninggal dunia.


"Ini hunian sewa saya, mas," ujarnya meminta pria itu duduk di kursi kayu. Satu cangkir kopi dihidangkan oleh sang gadis.


"Rahma!" panggil seseorang dari luar.


"Iya!" sahut sang empunya nama lalu membuka pintu.


"Eh, Natalie. Ayo masuk," ajak gadis itu.


"Yuk kenalan dulu," ujar Rahma.


"Dahlan Erlangga!"


"Natalia Christiani," sambut gadis itu menjulurkan tangan.


Keduanya saling berjabat tangan. Rahma memperkenalkan Dahlan sebagai pria yang menolongnya semalam.


"Kalau nggak ada Mas ini, mungkin uang hasil sumbangan akan raib digondol preman Nat," jelas Rahma.


"Wah ... makasih ya Mas," ujar Natalie bersyukur.


"Puji Tuhan, kita nggak harus nombok. Memang Uang selalu Rahma yang megang, karena ia bendahara perkumpulan anak-anak muda sekitar wilayah ini," jelas Natalie.


Dahlan hanya mengangguk. Ia menatap istrinya tajam. Dari tadi sang istri seperti enggan memperkenalkannya. Pria itu hanya mengikuti apa keinginan gadis itu.


"Oh, aku tinggal sebentar ya," ujar Rahma, "aku lupa bawa catatannya."


Gadis itu meninggalkan teman dan juga pria yang berstatus sebagai suaminya. Bukan maksud lain, ia hanya ingin pria itu juga sadar akan kesalahpahaman ini.


Terjadi obrolan ringan di antara keduanya. Natalie adalah sosok yang ramah dan pandai bergaul. Tentu sedingin apapun pria di sisinya. Gadis itu mampu mencarikan suasana.


Bahkan tak lama terdengar suara tawa lirih dari bibir Dahlan akibat guyonan Natalie. Rahma mengintip dari sela tirai penyekat antara dapur dan ruang tamu.


"Ssshhh!" ia menekan dadanya yang terasa ngilu tiba-tiba.


Ia menggeleng dengan apa yang baru saja terbesit di hatinya. Semakin ia ingin melepaskan, semakin sakit yang ia rasakan.


"Ssshhh ... sakit sekali," ujarnya lirih sekali.


Satu titik bening menetes di pipinya. Sebuah tawa keluar dari mulut Dahlan, Natali benar-benar berhasil mencairkan kebekuan pria itu.


Rahma sadar diri, pria yang kini tengah bersenda gurau dengan sahabatnya hanya sesekali tersenyum dan berbicara padanya.

__ADS_1


"Memang apa yang bisa diharapkan?" kekeh Rahma dalam hati. "Kami baru bersama dua hari ini."


Kembali ia melirik ke arah ruang tamu. Dahlan ikut menatapnya dengan senyum indah. Rahma tertegun dengan senyum itu.


"Rahma, kau sudah di sana?" panggil pria itu menyadarkan sang gadis.


Rahma buru-buru menetralkan hatinya. Ia mengambil catatan yang terselip di pintu kemudian membawanya keluar bersama satu cangkir teh hangat untuk temannya.


"Silahkan Nat," ujar Rahma lalu meletakan cangkir di atas meja.


"Duh ... jangan repot-repot sih!' sahut Natalie tak enak hati.


Namun gadis itu akhirnya meneguk habis teh yang disajikan. Rahma menjelaskan pembukuannya dan menyerahkan kresek berisi uang pada temannya itu.


"Makasih ya, mas, senang kenalan sama kamu," ujar Nat pamit.


Dahlan mengangguk. Rahma berdiri mengantar temannya begitu juga Dahlan yang ikut berdiri.


"Eh tak usah seperti ini," ujar Natalie tak enak hati.


"Mas, boleh minta nomornya?" pinta Natalie lalu menyodorkan ponselnya.


Dahlan merengkuh bahu Rahma.


"Biar kamu bicaranya sama istri saya saja ya," ujar Dahlan.


"I—istri?" cicit Natalie terkejut.


'Iya, ini Rahma istri saya, kami baru saja menikah," jawab Dahlan.


"Mas ... kenapa bilang begitu?" tanyanya.


"Loh ... kita memang suami istri kan?" sahut Dahlan lalu kembali duduk di kursi yang membuat bokongnya sedikit kebas itu.


"Ah duduk di sini sakit," keluhnya.


Pria itu berdiri, hanya ada satu kamar tidur di sana. Ia pun masuk ke kamar itu dan diikuti Rahma.


Pria itu memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur busa yang menempel di lantai.


"Mas ... Natalie itu penyanyi gereja loh," jelas Rahma duduk di lantai.


"Lalu?"


"Mas ... aku serius!" ujar gadis itu.


"Kau pikir aku tak serius menikahimu Rahma?" tanya Dahlan lalu menatap istrinya.


Pria itu belum melihat wujud sang istri Rahma setia dengan balutan hijabnya. Padahal Dahlan telah halal melihatnya.


Pria itu duduk dan menghadap istrinya. Ia menatap dalam netra hitam milik gadis itu.

__ADS_1


"Aku sudah mengucap syahadat dan mengucap sumpah dihadapan Tuhan menjadikanmu istriku," ujarnya.


"Lalu kau ingin aku mengubah apa yang telah aku ucapkan hanya karena menurutmu kita menikah karena salah paham?"


Rahma tak segan untuk mengangguk. Gadis itu yakin jika pria matang di hadapannya tak memiliki rasa cinta sedikit pun. Tetapi hanya karena rasa tanggung jawab saja.


"Rahma dengar aku," ujarnya lalu menakup dua pipi istrinya.


Begitu halus dan wangi. Dahlan baru sadar jika istrinya ternyata cantik. Gadis itu sedikit terkejut ketika pria itu menakup dua pipinya.


"Aku bisa saja membayar semua orang kemarin dan melepaskan kita berdua agar tak dinikahkan," akunya jujur.


"Tapi aku memilih untuk dinikahkan padamu, karena mungkin ini jawaban dari semua doa-doaku," lanjutnya.


"Jujur Rahma, aku percaya jika jalanku memeluk agama ini karena menikah denganmu," ucapnya lagi.


"Jadi aku mohon. Tolong bimbing aku, apa kau mau?"


Satu titik bening menetes di pipi gadis itu. Dahlan segera menghapusnya. Ia mengecup mesra kening istrinya.


"Oh ya ... ada yang harus kukatakan," ujar pria itu.


"A—apa mas?" tanya Rahma gugup.


"Jauhi Natalie!" tekannya.


"Ke—kenapa? Nat gadis baik," ujarnya.


"Karena aku nggak mau sakit hati dan cemburu," jawab Dahlan.


Rahma tertegun. Dahlan melihat semua yang istrinya kerjakan di balik tirai pemisah. Ia bisa melihat ketika Rahma mengintipnya, lalu termenung dan mengelus dada. Dahlan juga tau jika istrinya itu menekan semua rasa yang tiba-tiba muncul.


"Aku ... aku nggak cemburu kok ...," ujar gadis itu salah tingkah.


Dahlan mengecup bibir istrinya. Hal pertama yang ia lakukan pada perempuan. Dua-duanya sama-sama terkejut. Netra Rahma membesar karena itu ciuman pertamanya.


Dahlan kembali mencium bibir istrinya, tadinya hanya sekedar menempel. Lalu, dengan mengandalkan instingnya sebagai lelaki, Dahlan memagut pelan bibir Rahma. Hingga lambat laun pria itu mahir memainkan bibirnya.


Rahma meremas kemeja sang suami. Ia kehabisan napas, berusaha mendorong dada Dahlan untuk menghentikan ciumannya. Pria itu akhirnya melepaskan tautannya.


Napas keduanya menderu. Rahma menghirup udara dengan rakus. Dahlan membuka hijab yang menutupi kepala istrinya.


Rambut hitam legam dan ikal, wajah bulat dengan kulit kuning langsat. Rahma memang cantik. Dahlan mengajak gadis itu untuk mengarungi bahtera cinta.


"Awalnya memang sulit sayang, namun jika kita bersabar, kita bisa melewatinya," ujar Dahlan sebelum memulai semuanya.


Hari belum terlalu siang, keduanya melebur menjadi satu dalam mengarungi ombak gairah.


"Ah ... tau nikah enak gini ... dari dulu aku nikah!' teriaknya ketika melepas semua bibir unggulnya.


bersambung.

__ADS_1


wah ... pagi-pagi Om Dahlan ngapain tuh? Othor kan masih volos 🤭


next?


__ADS_2