
Lucy melihat Pak Hans sendirian duduk ditepi taman.Ia melihat sang Kakek begitu menikmati suasana malam disana.Lucy jadi tergoda untuk menemani sang Kakek.
"Hay Kek"Lucy menyapa sambil duduk di kursi kosong disamping Kakeknya.Pak Hans menoleh,ia mengulum senyum ketika tahu itu adalah Lucy."Kok aku perhatikan Kakek lebih senang menyendiri dari pada ngumpul-ngumpul gitu"
"Kakek memang begini Nak, sendirian dan selalu bermonolog dengan bintang "Jawab Pak Hans.
"Lucy juga begitu Kek, disaat Lucy merindukan Ibu.Kalau kakek merindukan Nenek ya"terka Lucy.Pak Hans tersenyum penuh arti.
"Bisa dibilang begitu,tapi lebih ke rasa menyesal karena kesalahan dimasa lalu "
"Masa lalu jangan disesali Kek, karena masa lalu bagian dari terciptanya masa depan "Lucy mengukir kata-kata bijak.
"Benar, Benar sekali "Pak Hans tertawa renyah.Baru kali ini ada seseorang yang bisa memahami beban pikirannya.
"Papa"Sebuah suara terdengar,Pak Hans dan Lucy sama-sama menoleh kearah suara."Jadi ini alasan Papa sudah tidak mau pulang ke Paviliun"Terka Andika.
"Papa lebih senang disini Andika, bersama cucu-cucu Papa"Pak Hans memberikan jawaban.
"Ya tapi tidak meninggalkan aku juga,aku kan jadi sendirian di Paviliun"
__ADS_1
"Loh Mama kemana?"
"Mama jarang di Rumah Pa, pulang cuma ganti baju jalan lagi.Tak tahulah pergi kemana ?"Andika menjelaskan apa yang terjadi di Paviliun.
"Terus kamu kesini mau jemput Papa?atau gimana ?"
"Aku mau tinggal disini juga Pa"
"Hah??Apa kamu sudah minta izin sama Zulkarnain ?"
"Dia pasti ngijinin lah Pa"Andika menjawab dengan tenang.Ia tidak menyadari kalau ia sedang diperhatikan oleh Lucy.
"Hey,kamu pasti salah satu si kembar ya.Kenalin aku pamanmu,Adik dari Ayahmu"Andika mengulurkan tangannya.Inilah yang Lucy mau, dengan senang hati Lucy menyambut uluran tangan dari Andika.
"Saya Lucy Om"Dengan sekejap Lucy langsung tahu apa niat tersembunyi dari Om nya ini."Kalau Om ingin tinggal disini, nggak apa-apa"
"Lucy"Pak Hans memanggil cucunya seperti memberi kode.
"Nggak apa-apa Kek,Ayah pasti setuju"
__ADS_1
"Bener kan Pa,apa yang aku bilang"
"Tapi..."
Belum selesai kalimat yang akan diucapkan oleh Pak Hans,Lucy sudah menarik tangan Andika masuk ke dalam Rumahnya.
__Zulkarnain pun tidak bisa mengatakan apapun disaat Lucy memperbolehkan Andika menginap.Dengan percaya dirinya, Andika masuk ke kamar yang Mumun sediakan.Dia merasa beruntung karena Lucy bisa percaya padanya.
Malam sudah melewati sepertiganya,Semua penghuni Villa milik Zulkarnain tengah terbuai mimpi.Andika membuka pintu kamarnya perlahan.Ia mengendap-endap keluar dari kamarnya.Kini ia bersiap menggasak harta Zulkarnain.Ditangannya sudah siap pistol yang ia beli secara ilegal.
Baru saja ia berjalan melewati dapur, dalam kegelapan ia melihat sesosok wanita sedang memunggunginya.Andika merasa itu adalah Mumun.Pistol ditangan yang sudah disiapkan beserta peredam suaranya siap memakan korban.
kretek kretek seperti suara tulang patah, wanita itu memutar kepalanya tanpa berbalik.Andika terperanjat,ia terjerembab ke lantai yang dingin.Pistol ditangannya tak sengaja terlepas.
Sosok wanita itu menyeringai dengan wajah yang mengerikan.Ia mendekati Andika tanpa berjalan menapak lantai.Dari mulut wanita itu terdengar seperti mengeram.Andika semakin pias, wajahnya pucat pasi.Tapi ia tidak bisa bergerak sedikitpun.Hingga wanita itu semakin mendekatinya.Wajah wanita itu mendekat sampai tak berjarak.Andika tercekat,bernafas pun ia merasa Sulit.
Tiba-tiba saja wanita itu melesat cepat ke atas,Ia merangkak di atap seperti laba-laba.Tapi tatapannya tetap tertuju ke arah Andika.Tubuh Andika bergetar hebat, nyalinya ciut tapi ia seperti dipaksa menyaksikan adegan menyeramkan itu.
Wanita itu cekikikan melihat Expresi wajah korbannya.Ia melompat turun kebawah.Kali ini ia berdiri tegap dibawah kaki tangga.
__ADS_1
Kretek kretek kretek suara tulang patah terdengar lagi, wanita itu merangkak dengan posisi perut di atas dan kepala menjuntai ke bawah.Ia terus merangkak mendekati Andika, kali ini Andika sudah tidak tahan lagi.Ia jatuh pingsan karena ketakutan.