SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KERIBUTAN


__ADS_3

Aksi para remaja yang berebut jadi suami Azizah membuat para ayah marah. Haidar memarahi Sean, Al dan Daud. Sedang Virgou memarahi Kean, Calvin dan Satrio juga Affhan. Hanya Rion, Dimas, Rasya dan Rasyid juga Dewa yang santai.


"Kalian masih kecil, baru saja dapat KTP!" sengit Haidar.


"Emang papa nggak mau Kak Azizah jadi menantu papa?" tanya Sean penasaran.


"Ya mau lah!" jawab pria itu lalu menutup mulutnya.


Virgou berdecak kesal. Sedang Dav tak ambil pusing dengan putranya yang kini menggombali Azizah.


"Ata' pahu tah euntau peuldebaan banas pan bujan?" ujar Azha.


Dav merekamnya. Seruni menempel pada suaminya ikut mendengarkan gombalan putranya yang baru dua tahun itu. Sedang Azizah tampak tersenyum mendengarnya.


"Kakak nggak tau baby," jawab gadis itu.


"Beulpedaanna badalah pila banas ipu tayat Ata' yan pidat beulseyum dan jita bujan ipu beupelti Ata' yan beunayis," jawab Azha.


Azizah terkikik geli. Semua remaja masih dimarahi ayahnya. Para ibu akhirnya datang dan membela putranya.


"Biar Azizah memilih saja," sahut Terra menengahi.


"Mereka masih kecil sayang!' sahut Haidar dan Virgou gusar.


"Ya ... Azizah juga baru berusia delapan belas besok," sahut Khasya.


"Eh ... kak Azizah besok ulang tahun?" tanya Satrio antusias.


"Mau apa kalian?" tanya Haidar gusar lagi.


Herman hanya duduk di tengah membatasi Dominic dan juga Dinar. Mereka setia menonton dengan para anak gadis yang lain. Sedang Harun ikut-ikutan menggombal Azizah.


"Ata' pahu tah euntau peulpamaan buna dan Ata' Lijah?" Azizah menggeleng dengan pipi keram karena kebanyakan tersenyum.


"Pama-pama bindah pan halum," jawab Harun.


"Ah ... beustina atuh pilan beditu padhi!" decak Azha kecewa.


Seruni tertawa di bahu suaminya. Ia tak tahan dengan pola tingkah lucu semua perusuh.


Arion tak mau kalah. Bayi tampan itu ikut menggombal dengan puisi indah nya.


"Ata' Lijah tuh yan syantit lupawan ...


Jita bujan pembasahi pumi pelus belenus ... pijintan atuh memelut dilimu ... eh ... pijintan atuh beundadhi payun beulindun mu!"


Azizah menakup pipinya yang sudah keram. Perutnya juga mulai kaku karena dari tadi menahan tawa. Tiba-tiba Ajis bernyanyi di sela-sela puisi Arion.


"Engkaulah permata ... buah cinta apah dan amak ... Senyum indahmu laksana matahari yang cerah ... engkaulah pelangi ketika badai berhenti ... engkau lah melodi saat puisi cinta berbunyi ...,"


"Ata' Pajijah!" tiba-tiba Harun berdeklamasi.

__ADS_1


Azizah langsung terbahak. Suara tawa gadis itu sangat renyah dan begitu enak didengar. Semua tersenyum mendengar tawa gadis itu. Harun masih berdeklamasi.


"Entau latsana pulan yan lada pi lanit pindi-pindi seutali ...."


"Pili tanan pulilat laja ... banat Polon celana aaa ... pili panan bulilat laja banat bolon celana!" sahut Arraya tiba-tiba melanjutkan deklamasi saudaranya dengan lagu naik ke puncak gunung.


Harun menggaruk kepalanya. Akhirnya Azizah ikut bernyanyi lagu Arraya.


"Naik, naik ke puncak gunung ...,"


"Ata' Pijah!" seru Harun marah.


Azizah melipat bibirnya. Gadis itu gemas sekali dengan bayi tampan yang marah padanya itu.


"Alun tan bawu paca suipi puat Ata' Lijah!" sahut Harun kesal.


"Pusisi ... eh, puisi baby," ralat gadis itu.


"Biya matsutna ipu!' sahut Harun ketus.


Sementara para remaja berembuk ingin membuat kejutan di hari ulang tahun Azizah. Satrio ingin membuat semua aula di susun oleh bunga mawar aneka warna. Remaja itu ingin membuat kesan romantis pada kejutannya.


"Aku setuju jika begitu. Nanti aku belikan gaun untuk kak Azizah biar Mama yang kasih untuk dipakai besok!"


"Aku siapin kue deh di toko mami Seruni ... eh kak Azizah suka kue apa?" tanya Al.


"Kalau dilihat makannya sih dia suka coklat, jika buah dia suka semua,"


"Ada kue itu baby," jawab Seruni.


"Disiapin buat besok ya mi," pinta remaja itu.


Seruni mengangguk. Ia akan menyiapkan yang fresh besok untuk ulang tahun Azizah.


Semua anak akhirnya pulang. Malam menjelang. Ke enam adik Azizah kembali diboyong kali ini Virgou membawa mereka sedang Lana, Leno dan Lino dibawa oleh Seruni atas permintaan putranya. Harun, Arion, Arraya dan Bariana juga menginap di rumah Azha.


Terra kesal karena bayi kembar sepasangnya menolak pulang dan ingin menginap bersama Azha.


Akhirnya Terra pulang bersama putra dan putrinya yang lain the quarto dan duo R juga Rion.


Darren memilih pulang bersama istrinya begitu juga Lidya. Dominic tadinya mau menginap di panti. Tapi Herman langsung ingin menendangnya jika saja pria itu tak melarikan diri dengan tawa besar.


"Anak kurang ajar!" pekik Herman kesal.


Dinar sampai memeluk ayah angkatnya itu. Ia juga kesal dengan Dominic yang selalu berhasil membuatnya tersipu malu.


"Aaima ... yuk bobo sama kakek!' rayu pria tua itu.


Bart akhirnya menginap di mansion Bram. Pria itu menjemputnya dan menculik Arsyad yang tak mau lepas dari gendongan Kanya. Aini menyerahkan storage khusus berisi lima puluh kantung susu yang ia peras dari gundukan nya sendiri. Haidar menaruh storage itu bersama popok Aaima.


"Nggak usah bawa baju, di sana banyak baju bayi!" ujar Kanya sibuk menciumi bayi tampan yang telah terlelap di gendongannya itu.

__ADS_1


Aini menatap putranya yang sudah pergi dengan mobil mewah. Radit dan Ditya juga diajak oleh Dav untuk memenuhi rumahnya.


"Kita berdua bikin lagi sayang," ajak Gio.


Aini hanya cemberut. Wanita itu masih ingin Arsyad memilihnya tadi ketimbang Kanya. Tapi bayinya tak mau walau wanita itu menawari bantal kesukaannya.


Putri dan Jac juga pulang hanya berdua saja. Sama dengan Gio dan Aini. Hanya anak-anak Demian dan Darren yang aman dari penculikan kakek neneknya. karena mereka lebih dulu pulang.


Rion menatap kaca besar di kamarnya. Ia memandang langit dari sana. Seraut wajah cantik dan mata hijau ada di antara kumpulan bintang. Rion meraba hatinya.


"Kok gini ya?" bayangan wajah itu berganti pada wajah yang selama ini mengisi hatinya.


"Beda dong sama mama," monolognya lagi.


Pemuda itu merebahkan diri. Ia terusik dengan hebohnya para remaja yang ingin menarik perhatian Azizah. Pemuda itu berdecak kesal melihat adik-adiknya yang mulai genit.


"Masih kecil udah mau ngajak anak gadis nikah!" gerutunya.


"KTP aja baru buat," lanjutnya mendumal.


Rion mulai memejamkan mata dan terlelap. Ia lupa menutup tirai jendela. Terra membuka pintu bayi besarnya perlahan. Ia melihat tirai masih terbuka. Wanita itu menggeleng.


"Kebiasaan!" kekehnya.


Terra menutup jendela dengan tirai dengan gerakan perlahan. Ia mengatur suhu ruangan dan juga cahaya lampu. Kemudian mengecup pipi Rion.


"Selamat tidur sayang," bisiknya.


Haidar masuk dan tersenyum menatap istrinya yang masih saja memperlakukan Rion seperti bayi. Ia juga sama dengan sang istri.


"Baby sudah tidur?" tanya pelan.


Pria itu mendekat dan. mencium kening bayi besarnya itu. Entah mengapa, harum tubuh bayi masih tercium pada badan Rion. Haidar masih belum tau bagaimana bisa terjadi.


Keduanya keluar kamar dengan menutup pintu perlahan.


"Aku penasaran dengan siapa bayi besar kita akan berjodoh?" ujar Haidar.


"Siapapun itu. Mama akan mendukung asal dia gadis baik dan dekat dengan seluruh keluarga," ujar Terra ditanggapi anggukan suaminya.


Kedua juga telah mendatangi kamar semua putra dan putri kembar mereka. Keduanya kini berbaring di kamar mereka yang hangat dan penuh cinta.


"Ba bowu my wife,"


"Ba bowu pu my sweet husband," sahut Terra.


bersambung.


ba bowu readers ❤️❤️❤️❤️❤️


next?

__ADS_1


__ADS_2