
Kean, Sean, Al, Daud, Satrio dan Calvin menangis setelah diberitahu oleh Kanya. Wanita itu sangat kesal pada yang lain karena membiarkan anak-anak remaja tak tau apa-apa.
"Oma ... jadi ... hiks ... hiks ... yang Kean hiks tiup itu alat bungkus burungnya Kean?" ujar remaja itu terisak.
Kanya mengangguk sambil menyembunyikan tawanya. Melihat wajah-wajah polos nan tampan kini menangis. Bahkan Kean langsung muntah, begitu juga Sean, Al, Calvin dan Satrio karena mereka meniup benda itu.
"huuwaaa ... Mommy ... i want my mommy ... hiks ... hiks!' tangis Kean begitu keras sampai terbatuk.
Puspita langsung memeluk putra-putranya itu. Daud yang baru ingat benda itu juga merasa bersalah terlebih Satrio. Karena rasa penasaran yang tinggi ia sampai mengajak semua saudaranya membeli benda pembungkus itu.
Sedang perusuh junior sudah senang dengan balon-balon yang panjang. Bart meminta manager cottagenya membeli balon yang ukuran dan bentuknya sama.
"Mama ... hiks ... hiks!" Sean, Al dan Daud mencari ibunya.
Terra mau ikut menangis tapi ia juga menahan tawa melihat betapa polos seluruh putranya. Satrio pun ikut mencari ibunya.
Kean kembali muntah, Kanya iba melihat cucunya jadi sakit. Tapi, kebenaran harus diberitahu agar semua anak-anak yang sudah Akil baligh itu tau. Bahkan, Affhan. Dimas dan Dewa diberitahu apa benda yang dibuat mainan oleh salah satu saudaranya itu.
Akhirnya keenam remaja bengal itu jatuh sakit. Bram memarahi Kanya karena membuat semua cucunya sakit.
"Tapi mereka jadi mengira itu mainan beneran Pa. Bahkan Rion dan Darren juga belum tau benda yang dimainkan oleh adik-adiknya. Dua pria menikah tapi masih polos itu malah ikut tertawa!" sahut Kanya kesal.
Bram hanya menghela napas panjang. Memang apa yang dikatakan istrinya benar. Bukan hanya Kean saja yang tidak tau benda apa itu. Bahkan wanita setua Sriani juga baru tau yang dimainkan anak-anak remaja itu adalah alat kontrasepsi.
Kini baik Kean dan lainnya harus diinfus. Keenam remaja itu kena dehidrasi karena muntah-muntah selama dua jam. Suhu tubuh mereka juga tinggi, enam remaja itu demam hingga menggigil. Kanya menangis melihat cucu-cucunya seperti itu.
"Babies,"
Hanya tatapan lemah dilayangkan, Kean, Sean, Calvin, Al, Daud dan Satrio. Seperti jaman dulu, mereka tak pernah mau dipisahkan satu dengan lainnya.
Sedangkan Saf dan Aini ingin sekali tertawa melihat enam jagoan itu langsung lemah karena tau benda yang dimainkan mereka adalah alat pembungkus agar tak terjadi kehamilan.
"Padahal Iya juga baru tau kalo itu domkon, Uma," bisik Lidya membalik kata asli benda itu.
Aini dan Safitri menatap dokter jiwa yang genius itu. Tatapan polos seorang Lidya membuat Saf tak percaya terlebih Aini.
"Kan kita belajar itu waktu jadi dokter umum," ujar Aini.
Putri menggeleng, ia sangat percaya jika Lidya sepolos itu.
"Iya nggak merhatiin pas pelajaran anatomi tubuh. Yang Iya perhatiin sih yang vital-vital aja. Kek jantung, ginjal, pangkreas, hati, limpa ....'
"Tapi alat reproduksi juga penting Baby!" seru Saf gemas pada adik iparnya.
"Uma yakin kalo, Nai dan Arimbi pasti tau apa alat itu!' lanjutnya.
__ADS_1
Namun ekspresi sama didapatkan Saf ketika bertanya pada dua dokter muda itu. Padahal, basis mereka tentang bayi dan kandungan pasti tau alat reproduksi pria.
"Alatnya tau, tapi pembungkusnya hanya denger nggak pernah liat," jawab Nai jujur.
Arimbi mengangguk mengiyakan Gadis itu juga tau bagian dari seluruh alat reproduksi wanita juga pria. Bahkan gadis itu tau satu titik agar pria langsung muncrat.
"Arimbi juga tau caranya pria langsung mencapai puncak dengan hanya satu titik saja!"
"Baby ... tapi alat kontrasepsi pembungkus itu kan banyak iklannya di mading rumah sakit?!" seru Safitri gemas sendiri.
"Nggak pernah liat Uma," sahut kedua gadis itu santai.
"Lagian lebay amat sih sampe muntah gitu. Padahal kan dia pegang terus kalo mau pipis !" celetuk Nai yang diberi pelototan oleh Aini.
"Dok!" peringatnya.
"Baby!" peringat Saf juga.
"Kek kamu nggak muntah aja kalo tau benda yang kamu tiup itu tempat itu," sindirnya.
Nai langsung mual, ternyata ia juga ingin muntah mendengar hal itu. Kedua gadis itu terimbas oleh sakitnya semua saudara kembar laki-lakinya.
"Baby Nai juga anget nih," ujar Seruni ketika meraba kening Nai.
"Arimbi juga," ujar Widya.
Langit dan Reno begitu khawatir. Dua pria itu ingin sekali menggendong gadis-gadis mereka dan membawanya istirahat.
"Nona, berikan sakitmu padaku," gumam Reno lirih.
Langit ingin sekali mengusap keringat dingin yang keluar di dahi gadisnya. Nai memang menutup rambutnya begitu juga Arimbi.
"Kalian istirahat ya," suruh Lidya.
Arimbi dan Nai masuk ke kamar mereka. Terra dan Khasya menemani putrinya. Sedang para remaja pria ditemani ayah mereka.
"Mas Satrio kenapa Kak?" tanya Amran pada Adiba.
"Mas sakit sayang," jawab Adiba yang cemas pada pemuda yang telah mengikatnya itu.
Makan malam tiba, Kean menolak makan karena masih terbayang benda yang ditiupnya dan hal itu membuatnya muntah lagi.
"Baby ... makan ya, sedikit saja," pinta Puspita sedih.
"Mommy ... mual," tolak Kean.
__ADS_1
Sean, Al, Daud, Calvin dan Satrio juga tak bisa membuka mulutnya. Hal itu membuat semua ibu sedih dan Kanya makin bersalah.
"Maafkan Mama sayang," ujarnya pada Virgou.
"Sudah Ma, nggak apa-apa. Mama benar kok bilang ke mereka. Kami juga yang salah karena tak pernah memberitahu mereka awalnya," ujar Virgou.
Demian dan Jac sibuk membantu mengurusi para perusuh yang mulai ribut bertanya kemana kakak mereka.
"Ata'!"
Arsh mendatangi Harun. Bayi sembilan bulan itu masih aneh dengan balon-balon panjang yang diberikan Demian pada mereka.
"Pa'a?" sahut Harun.
"Alon edda!" ujar Arsh sambil memegang balon yang berbentuk pedang.
Harun memerhatikan balon itu. Balita itu mengangguk setuju jika balon yang dibelikan salah satu ayahnya itu berbeda dengan balon yang dipegang kakaknya.
"Udah eundat pa'a-pa'a. Yan bentin palon tan?" Arsh akhirnya mengangguk.
"Atuh palona pentut pedan!" sahut Al Fatih memainkan balonnya.
"Tuh apan ... dol ... dol ... dol!" seru Arsh.
"Papa ... palonna eundat pisa puat poneta ya?" tanya Aaima.
"Tukang balonnya nggak pinter baby," jawab Demian asal.
"Dem!" tegur Darren.
"Ih ... bener tau kak. Aku tadi minta dibuatin boneka untuk anak-anak cewe, tukangnya hanya senyum-senyum aja!" sahut Demian membela diri.
"Tanya Jac kalo nggak percaya!" Jac mengangguk membenarkan perkataan Demian.
Pagi harinya, kondisi Kean dan yang lain berangsur pulih, Terra menyuapi semua perusuh senior itu dengan bubur. Infus masih terpasang. Lidya, Aini memeriksa adik-adik mereka.
"Masih lemes baby?" Kean mengangguk.
Lidya mengecup sayang semua adiknya yang polos itu. Ia tak pernah malu jika semua saudaranya begitu polos.
"Tidak masalah Babies. Kalian sekarang tau, jadi lain kali jika melihat benda yang tidak kalian jumpai di luar sana jangan langsung dibuat mainan seperti tadi ya!" semua mengangguk.
Lidya tersenyum, Nai dan Arimbi pun sudah baikan, mereka sarapan dengan lahap. Langit dan Reno senang melihat nona mereka sehat kembali..
bersambung.
__ADS_1
Nah kan ... dikasih tau malah langsung drop. Dasar perusuh senior!
Next?