
"Alhamdulillah!" sahut semuanya lega.
"Kalau begitu biar saya urus semua surat-surat. Kamu bawa semua berkas kan?" tanya Deni.
"Saya bawa Paman," jawab pria itu.
"Bagus. Berikan pada saya. Insyaallah, jika tidak besok. tiga hari lagi kalian menikah. Untuk sementara bagaimana jika kalian dinikahkan secara siri dulu, biar besok jalan-jalan bisa gandengan secara halal?" tawar pria itu yang membuat semuanya terkejut termasuk Layla dan ibunya.
"Aa, apa ini tak terlalu cepat?" tanya Mutia masih berat melepas putrinya.
"Gini Teh, Saya yakin mereka semua akan menginap di sini. Untuk menghindari berkhalawat secara tidak sengaja, kita nikahkan saja Layla dan Juno sekarang," jelas Deni.
Mutia menatap putrinya yang kini sibuk mengusap air matanya. Gadis itu sama sekali tak menyangka jika ia secepat itu menjadi istri. Sedangkan pihak Juno tak keberatan sama sekali.
"Nak," panggil Mutia.
"Datangi Ibumu, Nak," perintah sang paman. "Berlututlah dan minta restunya. Kamu juga Nak Juno!"
Para perusuh diajak keluar oleh para bodyguard mereka bermain dengan anak-anak asuh Bart. Ternyata, Juno menyewa tiga bus besar. Adiba, Kean dan Satrio ada di bus kedua, sedang sisanya di bus yang ke tiga.
"Ayo kita ke rumah tempat kalian menginap, ada tiga rumah yang bisa ditempati," ajak salah satu petugas desa.
Dua rumah besar dengan gaya klasik khas hunian Belanda. Arraya dan Arion saling tatap. Keduanya saling bergandengan tangan, Azizah yang mengikuti semua anak-anak dan tak ikut serta dalam rapat keluarga di dalam mendapati keduanya yang seperti takut.
"Babies, kalian kenapa?" tanyanya.
"Ata' ... pa'a pisa pihat pa'a yan pita pisa pihat?" bisik Arion.
Azizah menggeleng, Bariana yang mengingat jika dua saudaranya itu bisa melihat hal lain langsung mendekat.
"Tamuh pihat punia walwah ladhi?" tanyanya.
Arion dan Arraya mengangguk. Bariana yang memang begitu penasaran dengan sosok kasat mata yang juga tidak bisa ia lihat itu.
"Alun, Azha!" panggilnya.
"Pa'a?" sahut dua batita tampan itu bersamaan.
"Yan beunel?" Bariana mengangguk.
Mereka masuk dan menempati kamar masing-masing. Azizah mengatur semua adik kandung, adik ipar dan adik angkatnya.
"Ini buat rumah anak-anak perempuan ya!" ujar wanita itu.
"Yang sedikit besar untuk anak laki-laki!" lanjutnya.
"Ayi halus pisah pama Aya?" tanya batita tampan itu.
"Sayangnya iya Baby," jawab Azizah.
"Kan ada Kak Sean, Kak Kean dan lainnya di sana,' lanjutnya.
__ADS_1
Sean menggendong adiknya Arion, Arsyad digendong oleh Satrio, Harun digendong Kean, mereka masuk ke rumah sebelah sedang Arimbi menggendong Arraya dan mengajak Bariana, Fathiyya, Aaima, Maryam dan Aisya yang diikuti Nai, Kaila dan Dewi.
Sedangkan di dalam rumah. Terjadi tangis haru antara Alya dan ibunya, Mutia. Wanita itu menangis ketika putrinya bersimpuh di hadapannya.
"Bu ... Layla minta restu pada ibu ... hiks ... hiks!'
"Ijinkan Layla menjalani ibadah menikah, restui Layla untuk melangkah ke jenjang pernikahan!'
Tangis Layla tumpah di pangkuan sang ibu. Terra dan lainnya sibuk mengusap air matanya.
"Bu, saya Juno. Memang saya bukan laki-laki yang baik tapi saya bersumpah pada ibu jika aku akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab juga setia pada putri ibu!" Juno tegas mengucap sumpahnya.
"Nak, sungguh berdosa jika Ibu menghalangi atau tidak merestui kalian untuk menikah!" ujar Mutia dengan suara serak.
Deni sudah memanggil beberapa warga untuk menjadi saksi ijab kabul antara keponakannya dengan seorang pria yang begitu berani langsung datang melamar. Di mana hal itu sangat jarang dilakukan anak-anak muda sekarang.
'Nggak pake resepsi?" tanya salah satu warga.
Padahal untuk menikah dalam agama Islam adalah, satu beragama Islam. Syarat calon suami dan istri adalah beragama Islam serta jelas nama dan orangnya.
Dua bukan mahram. Bukan mahram menandakan bahwa tidak terdapat penghalang agar perkawinan bisa dilaksanakan.
Tiga wali nikah bagi perempuan. Empat dihadiri saksi
sedang tidak ihram atau berhaji. Terakhir bukan paksaan. Terra tersenyum mengejek, ia berpikir sejak kapan resepsi jadi syarat mutlak untuk menikah.
"Apa kalian bersiap?" tanya Deni.
"Bertanyalah pada calon istrimu. Apalah ia ridho menikah seperti ini?!" suruh pria itu.
Juno menatap Layla, gadis itu harus menatap pria yang hendak meminta ijin menikahinya secara siri terlebih dahulu. Walau bukan kewajiban, tetapi sebagai keridhoan wanita dinikahi tanpa adanya pesta megah.
"Adinda Laylanazraa Arumi Syahreza. Bersediakah engkau kunikahi secara sirri?" tanya pria itu dengan penuh keyakinan.
Layla mengangguk. "Iya ... Layla ridho Mas."
"Alhamdulillah, siapkan maharnya!"
Juno merogoh sakunya. Sebuah cincin berlian memang ia persiapkan juga uang sebesar satu juta rupiah. Pria itu mengangguk dengan mahar yang diterima keponakannya itu.
"Jabat tangan saya Nak!" Juno menjabat tangan wali dari Layla.
"Ananda Juno Hamdani. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan keponakan saya yang saya sendiri wali sah dari Laylanazraa Arumi Syahreza binti Ahmad Syahreza almarhum dengan cincin berlian satu krat dan uang satu juta rupiah dibayar, Tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Laylanazraa Arumi Syahreza binti Ahmad Syahreza almarhum dengan mas kawin cincin berlian satu krat dan uang satu juta rupiah dibayar Tunai!"
Satu tarikan napas, Juno berhasil mengucap ijab kabul.
"Bagaimana para saksi, apa sah?" tanya Deni.
"Sah!" teriak para saksi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, barakallah ...!"
Kini sah lah Laylanazraa menjadi istri dari Juno Hamdani. Gadis yang sudah menjadi istri itu kini disematkan cincin berlian di jari manisnya. Layla mencium buku tangan sang suami dengan takzim. Juno mencium kening sang istri dengan lembut.
"Alhamdulillah, aku bisa menyaksikan sebuah pernikahan lagi. Semoga umurku panjang untuk melihat pernikahan selanjutnya," ujar Bart penuh harap dalam doanya.
"Aamiin!"
Kini Juno dan Layla bersimpuh di hadapan Mutia sekali lagi. Perempuan itu menciumi putrinya, ia telah melepaskan sang putri untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Usia Layla yang telah melewati masa remaja dan masa gadis mudanya. Tak banyak pria yang melirik ketika mengetahui usianya yang sebentar lagi mau kepala empat itu.
Kini mereka berada di hadapan Bart dan Bram juga Kanya. Juno menganggap mereka adalah orang tuanya. Tiga orang tua itu memberi restu mereka.
"Bahagia lah Nak. Aku pastikan Juno akan membahagiakan mu!' janji Bart.
"Aku juga pastikan hanya ada satu wanita yakni dirimu saja, Layla!' janji Kanya sambil melirik tajam Juno.
Layla begitu bahagia, ia masuk pada sebuah keluarga besar yang saling memiliki satu dan lainnya. Juno hanya pekerja, tetapi pria itu dianggap anak oleh Bart, Bram dan Kanya. Terra, Khasya, Puspita, Seruni memeluk gadis cantik itu.
"Kamu sekarang jadi bagian dari kami. Tolong bersabar ya, dan jangan takut!" seloroh Khasya.
Layla menganggu, kejadian Adiba kemarin telah mengajari satu hal. Tak ada yang lebih penting dari pada keluarga.
Akhirnya Juno bisa leluasa menggandeng bahkan memeluk istrinya. Layla sampai malu karena digoda oleh Virgou, Dav dan Darren. Bahkan Rion ikut menggodanya.
"Uhhh ... yang baru jadi suami istri!" ledek Darren.
"Saya pernah ingat, dulu ada yang baru aja nikah langsung cium bibir istrinya," sindir Juno melirik Darren.
"Daddy ... Om Juno tuh!" adu Darren.
"Jun ... kau bosan hidup?!" tekan pria dengan sejuta pesona itu.
"Maaf Tuan!"
Layla tersenyum melihat drama ini. Ia bahagia mendapatkan keluarga yang penuh kehangatan dan penuh cinta.
Sedang di tempat lain Arion mendatangi saudaranya. Arraya tengah menatap sosok wanita cantik berambut panjang dengan gaun ala noni Belanda.
"Ya!" panggil Arion.
"Ayi syini deh ... tenalan pama Ata' Biss Sarah!" ajak batita itu sambil menarik tangan dingin Noni Belanda bernama Sarah.
"hallo ... mijn naam is Sarah ... je zus zei dat je Arion heet !" (Halo ... Namaku Sarah. Adikmu bilang jika kamu namanya Arion!) ujar wanita itu.
"Juist mevrouw... ik ben Arion. Prettig kennis met U te maken!"(Benar Madam, namaku Arion. Senang berkenalan denganmu!)
Bersambung.
Eh ... Baby Arion bisa bahasa Belanda? 😱
__ADS_1
next?