
Usai perdebatan panjang para perusuh paling junior kini mereka akhirnya tidur. Puspita, Terra, Gisel dan ibu-ibu lainnya sangat gemas dengan ulah semua bayi tadi pagi.
"Mereka cerewet sekali ya," ujar Gisel mengecup semua anak.
"Ya, sangat cerewet," sahut Seruni gemas.
Sedang di kamar, Arimbi berdegup kencang. Masa siklusnya sudah lewat dua hari lalu. Gadis itu menggenggam erat tangannya sendiri.
"Bukankah ini adalah haknya Kak Reno? Jadi aku harus mengikhlaskannya," gumamnya lirih.
Reno sudah selesai dari kamar mandi, keningnya berkerut ketika melihat sang istri masih mengenakan bathrope nya.
"Kenapa belum ganti baju sayang? Apa masih ingin ke kamar mandi?" tanyanya.
Arimbi berdiri dan melangkahkan mendekati suaminya. Sungguh kakinya gemetaran untuk memulai semuanya. Reno makin mengerutkan kening.
"Sayang, kenapa?" tanyanya.
"Kak," panggil gadis itu nyaris tak bersuara.
Wajah Arimbi menunduk, Reno mengangkat dagu sang istri dengan jemarinya. Netra pekat Arimbi basah, tentu hal itu membuat Reno sedikit panik.
"Sayang ... ada apa?" tanyanya khawatir.
"Kakak tau kan kalo kita suami istri?" cicit Arimbi lirih.
"Ya, lalu?" sungguh Reno nyaris sama polosnya dengan para perusuh senior.
Arimbi membuka bathropenya. Mata Reno membuka lebar. Istrinya mengenakan lingerie warna merah menyala begitu kontras dengan kulit tubuhnya yang putih bersih.
"Sa—sayang?" cicitnya sambil menelan saliva kasar.
"Ambillah hakmu Kak, aku adalah milikmu," ujar Arimbi lirih.
Sungguh Reno sangat ingin menerkam istrinya sekarang dan mulai bercocok tanam dengan panas. Pemuda itu merengkuh bahu Arimbi. Gadis itu sedikit terjengkit kaget.
"Apa kau yakin sayang?" tanyanya penuh kelembutan.
Arimbi memejamkan mata dan mengangguk. Reno memperkecil jarak. Napas keduanya menderu, pemuda itu meniup wajah sang istri.
"Bukalah matamu sayang. Apa aku begitu menakutkan?" pinta sang suami lirih.
Arimbi membuka matanya yang sudah berkaca-kaca. Kemarin pagi ia kena marah sang ibu karena belum memberikan hak suaminya.
"Jangan sampai kau dilaknat oleh malaikat Baby!" tekan Khasya tegas pada putrinya.
Herman tak bisa membela Arimbi, karena memang itu salah. Pria itu pun memberikan nasihat yang sangat bijaksana pada putrinya yang sudah menikah itu.
"Nak, tugas seorang istri adalah melayani suaminya. Memberikan kenyamanan baik dalam rumah atau di kamarnya,"
Kini gadis itu bersiap untuk memberikan semua untuk sang suami, lelaki yang telah halal menyentuhnya.
__ADS_1
"Sayang, jika masih berat. Aku mau menunggu," ujar Reno begitu pengertian.
Sebenarnya Arimbi ingin sekali mengangguk dan tak jadi memberikan hak pada suaminya. Tetapi bayang-bayang ibu yang begitu kecewa padanya terlintas.
"Tidak Kak. Arimbi milik kakak sepenuhnya," ujarnya begitu yakin.
Reno pun mulai mengecup bibir sang istri perlahan. Arimbi meremas kuat piyama yang dikenakan suaminya. Perlahan, tubuhnya mundur dan kini sudah berada di atas ranjang.
"Aku akan melakukannya secara perlahan sayang," ujar Reno mulai berselancar di tubuh istrinya.
Arimbi terus menggenggam erat kemeja suaminya. Gadis itu terkejut ketika Reno merobek lingerie miliknya. Semua terpampang jelas. Reno menatap aset milik istrinya yang tak pernah disentuh oleh siapapun.
Sebelum melakukan penyatuan, Reno membaca doa terlebih dahulu. Ranjang mahal itu pun berderit kemudian dan kegiatan di atasnya begitu panas.
Arimbi mendesis dan menahan jeritnya ketika sesuatu robek di dalam sana. Kukunya mencakar punggung suaminya hingga Reno ikut mengerang.
Ayunan itu terhenti setelah tiga jam kemudian, tubuh keduanya basah bermandikan keringat. Reno ambruk di sisi istrinya, ia telah menanamkan bibit-bibit terbaiknya.
"Terima kasih sayang," ujarnya lembut lalu mengecup dan memeluk istrinya.
Arimbi menenggelamkan tubuhnya yang polos dalam rengkuhan sang suami. Ia tak percaya jika kini sudah tak suci lagi dan ia telah mempersembahkan harta berharga miliknya pada sang suami.
Sementara di tempat lain, Langit menatap Nai yang berjalan dengan begitu seksi di hadapannya. Sang istri memakai lingerie warna kunyit.
"Jangan pakai sayang. Merusak pemandangan!" ujar Langit.
Lingerie pun robek dan menjadi bahan kain tak berguna yang sudah jatuh di lantai. Langit langsung menarik istrinya dan menguasai tubuhnya. Nai menjerit kesakitan dan hampir menendang suaminya.
"Sakit Kak!" teriaknya kesal.
Keduanya menyatu kembali setelah beberapa lama berusaha, akhirnya Langit mendapatkan apa yang ia mau. Lima jam ia berusaha masuk ke dalam lorong sempit dan basah itu.
"Aku suamimu sayang ... percayalah, aku bertanggung jawab atas semuanya!" ujarnya meyakinkan Nai.
Nai pun pasrah di bawah kukungan suaminya. Langit akhirnya menerobos penghalang itu.
"Aaahhh Kak!" pekik Nai tertahan.
"Maaf ... maaf!" ujar Langit menghentikan gerakannya.
"Hiks!"
Tangisan Nai berubah jadi erangan kenikmatan. Hingga mencapai puncak, keduanya langsung melenguh panjang.
Langit roboh di sisi istrinya. Keduanya dibanjiri peluh, hingga membuat tubuh mereka berkilat.
"Terima kasih sayang ... terima kasih!" ujar Langit mencium sang istri.
Malam panas ternyata tak dilalui oleh sepasang pengantin baru. Tetapi pengantin lawas juga tak mau ketinggalan. Semua kamar suami istri dilalui kegiatan panas.
Pagi menjelang, semua nyaris kesiangan. Beruntung Adiba dan anak-anak angkat Bart bangun awal dan langsung membuat sarapan.
__ADS_1
"Tumben Mama, Mommy, Bommy, Mami, Ibu, Bibu ... semua belum bangun?" ujar Lela melihat lantai dua di mana semua orang tuanya tidur.
"Udah nggak apa-apa. Mungkin mereka kecapaian. Kita aja yang bikin sarapan semuanya yuk!" ajak Adiba.
Lela mengangguk, lalu tak lama semua anak perempuan sibuk di dapur. Para maid hanya membantu sekedarnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya!" sapa Satrio keluar dari lift.
Remaja itu ada di lantai tiga. Virgou memang menambah bangunannya karena jumlah mereka yang tambah banyak.
"Pagi Mas!" seru semua adik-adiknya.
Satrio mengecup semua adik termasuk Adiba. Satu kebiasaan yang kini rutin ia kerjakan jika sudah bangun pagi dan ada Adiba di sana.
Tak lama, Kean, Dimas, Cal, Sean, Al, Daud, Maisya dan Affhan juga sudah turun lalu semua anak sekolah juga sudah bersiap.
"Astagfirullah ... kita kesiangan Mas!" pekik Khasya ketika bangun.
"Jam berapa ini Bunda," rengek Herman malas.
"Ayah ... ini sudah pukul 06.12!" teriak Khasya.
Herman langsung bangkit dari tempatnya.
"Ini hari Senin Ayah!" teriak Khasya lagi.
Wanita itu hanya mencuci mukanya. Terra, Lidya, Seruni, Safitri juga bangun kesiangan.
"Bangunkan Baby Nai dan Baby Arimbi!" suruh Khasya.
Saf melakukannya. Wanita itu mengetuk pintu dua adiknya itu.
"Baby bangun!" teriak wanita bongsor itu.
Nai yang merasakan tubuhnya sakit semua pun bangkit dengan malas. Ia membuka pintu, Saf yang masih mengantuk membuka mata lebar ketika melihat adik iparnya itu.
"Baby!" pekiknya tertahan.
"Apa Uma!" rengek Nai.
"Pakai bajumu! Kamu telanjang sayang!" bisik Saf heboh.
Nai mulai membuka matanya. Rambut gadis yang sudah menjadi wanita itu seperti surai singa. Belum lagi tanda-tanda cinta yang bertebaran di dadanya.
"Pakai baju dan sisir rambutmu!"
Saf mendorong pelan tubuh Nai dan menutup pintu. Wanita itu mengelus dada dan menggeleng. Ia menuju kamar Arimbi.
"Baby ... pakai bajumu!" teriak Saf lagi ketika mendapati Arimbi di depan pintu tanpa busana dengan banyak tanda cinta di tubuhnya.
bersambung.
__ADS_1
🤣🤭🤦
next?