SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BANJIR


__ADS_3

Bariana duduk sambil bersenandung. Balita itu bernanana saja. Ia memang suka bernyanyi, Arraya yang mendengarnya bertanya.


"Bal ... tamuh banyi pa'a?"


"Ladhu yan pipi seulin punyitan," jawab Bariana.


"Ladhu pa'a?"


"Tata Pipi Ninih ladhu tudha didhit pesi," jawab Bariana.


"Seujat tapan tudha didhit peusi?" tanya Arion tiba-tiba ikut nimbrung.


"Ipu tata pipi Ninih," jawab Bariana. "Yan teulja pi lumah pita."


"Oh ... ladhu wawas," sahut Arion.


"Atuh pahu peupelapa ladhu wawas!" sahut Azha.


Maryam, Aaima, Fathiyya, Al Bara, El Bara, Fatih, Arsyad, Ari, Aminah, Della dan Firman ikut nimbrung.


"Man nah teunel ladhu wawas," ujar Firman dengan suara kecil.


"Janan tatut pisala Paypi Miman ... tamuh nomon, nomon laja ... pita eundat lada yan palah tot!" ujar Fathiyya.


"Man pahu ladhu wawas ... peutanda mumah Pulu suta pasan. Piya tan Ata'Del?" Della mengangguk.


"Ladhuna tayat dhimana?" tanya Harun.


"Timana ... atan tuh sali ... atuh beunanyis ... selolan dili ...." Firman menyanyikan lagu lawas berjudul "Ayah" buah cipta Rinto Harahap.


Zhein dan Karina mendengar betapa suara Firman yang jernih, membuat hati mereka sakit bukan main. Kanya dan lainnya sampai menitikkan air mata. Sedang bayi lain begitu serius mendengarkan.


"Puntut ... Yayah teulsinta ... atuh ... ninin peulpanyi ... wawau ... ail pata ... bitipituh ... huuuu ... Yayah ... deunal tan lah ... atuh ... ninin peultemu ... wawau ... panya dayam ... bimpi ... hiks!"


"Oh ... sayang," Kanya memeluk Firman yang tiba-tiba menangis.


Della dan Alia ikut sedih, bayangan ayah dan ibunya tiba-tiba melintas.


"Mamak ... hiks ... hiks ...!" Alia mengingat sang ibu.


"Mama ... teumpalilah padatuh ... anyalah dilimu ... halapantuh ... hiks ... hiks ... Mama ... ooo ... Mama ... papalah laltinah ... pidup panpa ... tasyih sayan .... hiks ... hiks!" Della menyanyikan lagu Mama juga ciptaan orang yang sama.


Khasya langsung menggendong Alia. Bayi delapan bulan itu tentu masih suka disusui ibunya. Nai sempat takut Alia terpapar narkoba yang dikonsumsi sang ibu karena wanita itu ditemukan meninggal karena overdosis.


"Alhamdulillah, ternyata. Ibunya baru memakai narkoba malam itu dan langsung tewas akibat kecanduan berlebihan terhadap psikotropika," jelas Nai ketika memeriksa Alia waktu itu.


"Sayang ... ini Bunda, Nak ... ini Mama kamu ya," ujar Khasya.


Puspita mendekati Khasya dan menyodorkan tangannya. Alia langsung ingin digendong Puspita, wanita yang sudah tiga minggu tidur bersamanya.


"Mamak," panggilnya lirih.


"Mommy sayang ... panggil Mommy," pinta Puspita.

__ADS_1


"Ommy," panggil bayi cantik itu.


Harun memeluk Della dan Firman. Balita tampan itu mengusap jejak basah di pipi dua adik barunya.


"Janan syedih ladhi ya ... ada Ata' Alun pisyimi ... Ata' atan meunjadha talian!" janjinya.


"Biya ... butan Alun ajha ... tapi Atuh judha!" sahut Azha.


"Atuh judha!" Bariana ikut berjanji.


"Atuh judha!" sahut Arion.


"Pemua atan jadha talian ... sadhi janan tuwatil!" ujar Arraya meyakinkan Della dan Firman.


Zhein menutup mulutnya. Semua masihlah terlalu kecil untuk mengerti apa kata menjaga itu. Namun jika dilihat dari ekspresi semua bayi mengatakan jika apa yang mereka janjikan itu benar dan sungguh-sungguh.


"Masyaallah ... kalian mengajari mereka bagaimana Mommy?" isaknya tertahan.


Karina yang dari dulu sudah tau kini sangat bersyukur dikembalikan pada keluarga yang saling menyayangi itu.


Maria menenangkan anak-anak terutama Della dan Firman. Ari ikut ditenangkan karena ia sama sekali tak mengenal ibu dan ayahnya.


"Atuh Mama papa atuh spasa?" tanyanya lirih.


Maria menangis mendengar pertanyaan Ari. Semua tersedu, anak-anak ikut menangis. Mereka berpelukan. Para bayi ikut sedih, semua ibu menenangkan bayi mereka. Zhein memeluk Ari.


Virgou, Herman dan Haidar pulang bersama putra-putra mereka. Mendengar di rumah semua menangis tentu mereka panik.


"Hei ... kalian kenapa?" tanya Herman gusar.


"Apa Ali lahin eundat bunya Papa Mama?" tanya bayi tampan itu.


"Kamu punya Nak ... punya banyak!" seru Zhein.


"Ada Papa Zhein ... hiks ... huuuuu ... uuu!" pria itu tak sanggup lagi berkata-kata.


Terra yang mestinya paling kuat juga tak mampu berkata apapun. Ia menangis tersedu-sedu mendengar pertanyaan Ari. Begitu juga Dinar dan Seruni. Dinar walau dibuang ketika menginjak remaja, lalu kembali pada ayah dan ibunya. Juga sangat mengerti apa perasaan Ari.


"Sayang, Bibu dulu juga sama sepertimu," ujar wanita itu.


Ari menoleh pada wanita bertubuh subur itu. Dinar merentangkan tangannya. Ari turun dari pelukan Zhein yang menangis, Karina menenangkan suaminya. Semua pria menenangkan anak-anak yang sedih.


"Bibu juga dulu dibuang dan diberi obat pelupa agar tak ingat sama keluarga," ujar Dinar berkisah.


"Sayang ... dengar Bibu. Ari kini banyak memiliki Mama dan Papa. Nggak ada anak yang punya Mama dan Papa sebanyak Ari," lanjutnya.


"Ari seneng nggak punya banyak mama dan papa?" tanyanya kemudian.


Bayi dua tahun itu mengangguk. Ia tentu sangat suka dengan punya banyak ayah dan ibu.


"Sudah ... sudah jangan ingat yang sudah melupakanmu. Tapi lihat siapa yang ada bersama kalian sekarang," ujar Herman lalu mengusap matanya yang basah.


"Kita oke-oke yuk!" ajak Kean dengan suara bindeng dan ingus yang keluar dari hidung.

__ADS_1


"Ih ... Ata'solot!" teriak Harun menunjuk hidung sang kakak.


Kean bukannya membersihkan ingusnya dengan tisu malah ia bangkiskan di jari-jarinya. Seringai jahil tercetak di bibirnya.


"Kean!" peringat Haidar.


"Papa!' rengek remaja itu.


"Jangan jorok!" seru Haidar melotot.


"Papa juga ingusan!" sahut Kean.


Haidar malah memeper lendir yang keluar dari hidungnya dengan lengan kemejanya. Hal itu membuat sang istri berteriak.


"Papa jorok ih!"


Kini semua anak kembali ceria, Kean, Sean, Al dan Satrio menghibur adik-adiknya. Tak lama Daud datang disusul Calvin, Demian dan Jac. Lalu Dominic. Darren bersama Saf dan Budiman. Tak lama mansion Herman penuh dengan manusia segala usia.


Tawa dan canda terdengar di sana. Lidya, Aini dan Gisel yang tengah trimester pertama mereka sangat sibuk mengunyah apa saja makanan yang ada di meja.


"Mas Dem ... kalo Iya gendut nggak papa ya!" ujar wanita kecil itu.


"Iya sayang ... nggak apa-apa. Malah enak meluknya," sahut Demian.


"Mommy Mar siapin!" seru Aini manja.


Maria menyuapi dokter cantik itu. Tak ada yang membedakan status atau apapun. Zhein masih belum berhenti dari isaknya. Karina sampai bingung bagaimana menenangkan suaminya itu.


"Zhein ... lama-lama Papa pukul kamu!" ancam Bram.


"Mama ... Papa jahat!" adu pria itu sampai keluar ingusnya.


"Ih ... Papa Zhein jorok!" teriak Rasya jijik.


Remaja itu menyodorkan tisu. Zhein mengucap terima kasih dengan wajah malu. Bram menertawai menantunya itu.


"Emangnya enak makan ingus!" ledeknya.


"Papa ... lagi makan ini!" teriak Aini kesal.


"Oh ... maaf sayang," sahut Bram menyesal.


"Mama ... hiks!' rengek Aini mau muntah.


"Papa ini ah ... nggak bisa jaga bicara!" seru Kanya sengit.


Kanya menenangkan Aini. Memang tiga wanita hamil itu yang paling sensitif adalah Aini. Wanita hamil itu paling tak bisa mendengar hal-hal seperti itu.


"Piana ... Piana teutasyih tuh ... pilan pada wowan puwamu!" Azha bernyanyi lagu lawas.


"Sinsin beulmata seli ipu ... panda sinta tasyihtuh!"


Bersambung.

__ADS_1


Ah ... udah banjir air mata belum?


next?


__ADS_2