SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BERHASIL


__ADS_3

Operasi pencangkokan telah selesai dilakukan. Semua menunggu hasil.


"Kita hanya menunggu apa ada penolakan dalam diri pasien," ujar profesor Gilbert.


Prapto ditempatkan di ruang rawat exclusive. Hal ini membuat Vania tercengang. Bagaimana narapidana ini diperlakukan secara istimewa.


"Pasien masih ada kerabat dengan dokter Daud," Vania mendengar bisikan-bisikan para perawat.


Vania yang tadinya antusias ingin mendekati Daud. Langsung menjaga jarak. Ia tak percaya sosok tampan yang baru ia gandrungi berkerabat dengan seorang penjahat.


'Apa jangan-jangan rumah sakit ini hasil korupsi atau pencucian uang?' tuduhnya dalam hati.


'Sebaiknya aku resign cepat dari tempat ini. Aku nggak bersama orang-orang kotor!' lanjutnya lalu mengangguk pelan.


Vania langsung berstigma negatif pada Daud. Sosok tampan dan lembut itu tak risih menyentuh siapa saja yang membutuhkan bantuannya.


"Kukira tempat ini adalah rumah sakit elite!" gumamnya mulai merendahkan.


Mereka semua menunggu pemerikasaan lebih lanjut. Zhein datang bersama putranya, Raka.


"Bagaimana dia?" tanya Zhein pada Daud.


"Masih dalam pengembangan pa," jawab Daud.


"Kita harus menunggu, agar semua dapat diterima oleh tubuh," lanjutnya lagi.


Vania memilih menyingkir. Gilbert sangat tidak menyukai perilaku gadis itu.


"Dokter Vania!" panggilannya yang membuat Vania terkejut.


"Sedari tadi kamu hanya diam dan tidak mau melakukan apapun selama operasi berlangsung!" lanjutnya mulai mengkonfrontasi.


"Ikut saya ke ruangan!" perintahnya. "Dokter Daud ikut saya juga!"


Daud meminta ijin pada Zhein juga Raka. Keduanya mengangguk dan akan menunggu hasilnya.


Daud masuk ruangan. Gilbert memanggil dua dokter lain yang juga tadi ikut andil dalam operasi.


"Dokter Vania ... apa alasanmu jadi dokter spesialis?" tanya Gilbert mulai menginterupsi.


"Saya ... saya ...."


"Jika kau berharap agar dapat bayaran lebih dan status tinggi. Maka tanggalkan semua gelarmu itu. Jangan jadi dokter!" bentak Gilbert.


Vania diam, ia memang tak mau bersentuhan dengan kalangan rendah. Makanya setelah lulus dokter ia langsung mengambil spesialisasi penyakit yang dialami oleh para orang kaya.


Gadis itu enggan mengulurkan tangannya pada kaum miskin yang sakit jantung, hati atau ginjal. Makanya ia memilih melamar kerja di rumah sakit besar milik Daud.


"Saya sudah memperhatikan keengganan anda menyentuh pasien dari kemarin!" lanjut Gilbert masih emosi.


"Dokter Daud. Sebagai senior saya akan melaporkan dokter Vania pada penegak disiplin kedokteran. Sumpahnya harus dikaji ulang!" lanjut Gilbert mengambil keputusan.

__ADS_1


"Baik ... saya akan menonaktifkan sementara kerja ada di sini. Sebelum aduan kami ditelisik kembali oleh IDI!" sahut Daud setuju.


Vania terdiam, di tangannya ada surat peringatan tiga yang mengharuskan dirinya untuk tidak bekerja selama penyidikan dari ikatan profesinya.


"Dok ... pasien menerima dan mulai beradaptasi dengan organ baru!' teriak salah satu perawat.


Semua dokter bergerak kecuali Vania yang harus pulang lebih cepat.


"Kalau begitu akan kubuat rumah sakit sendiri yang hanya menangani orang-orang kaya!" tekadnya dalam hati.


Semua dokter memeriksa keadaan Prapto. Tidak ada penolakan jaringan. Semua diterima baik oleh tubuh respon yang didapat juga sangat positif.


"Alhamdulillah ya Allah!" seru Daud.


"Puji Tuhan!" seru Gilbert.


Semua dokter bersalaman, mereka bahagia karena operasi berhasil.


Sementara di mansion Bram tak ada yang antusias dengan kabar yang mereka dengar. Virgou sudah membawa pulang Lilo. Kini bocah itu harus banyak istirahat dan jangan bergerak.


"Lilo mau banget kue sus Mami," rengeknya pada Seruni.


"Amih ... Alsh judha mawu tue sus!" angguk Arsh.


"Mami buatin sayang," ujar Seruni tersenyum menyanggupi keinginan semua anak.


"Kue pie juga dong Mi," pinta Kaila manja.


"Ketua, pengadilan meringankan hukuman Prapto," lapor Gomesh dengan nada sangat pelan.


Virgou mengeratkan kepalanya. Ia benar-benar tak suka dengan berita yang ia dengar.


"Tenang Vir!" sahut Remario.


"Biarkan dia menikmati kesembuhannya dulu. Lalu ... kita buat dia melakukan kesalahan dan menambah hukumannya," jelasnya lagi.


"Ah ... kau benar ... aku setuju kalau begitu!" ujar Virgou tercerahkan.


"Gomesh!"


"Baik Ketua!" Gomesh juga senang dengan ide Remario.


Remario adalah mafia, tentu otaknya sama licik dengan Virgou. Rupanya sang pria dengan sejuta pesona ini kehilangan jiwa mafianya akibat banyaknya keturunan yang hadir.


"Sudah lama aku tak ke markas mafia," gumamnya.


"Astaga ... apa dua tahun lalu itu kau lupa?" tanya Remario memutar mata malas.


Aksi Azizah dan semua adiknya yang datang ke markas tentu belum hilang dari ingatan. Terlebih Azizah mendapat julukan "KillerWife" dari para mafia.


Siapa sangka data yang ditanam Azizah di komputer milik Virgou menjadi buruan para mafia untuk membelinya.

__ADS_1


"Azizah lupa rumusnya Daddy!" ujar wanita beranak satu itu polos.


Rupanya data buatan yang ia letakkan di sana adalah ciptaan spontan otaknya. Virgou akhirnya menyembunyikan data menantunya itu dengan sebuah data lagi.


"Baby Faza!" Dian melompat ke dalam kolam.


"Huahahahaha!" gelak bayi cantik itu berhasil mengerjai salah satu pengawal.


Dian tercebur dan basah kuyup. Gadis cantik itu nyaris menahan napas ketika Faza merangkak cepat dan hendak terjun ke kolam.


Kelincahan dengkul bayi itu menang adu taktik dan kecepatan dengan para bodyguard terlatih di sana.


Terra mengelus dada. Itu baru satu bayi yang berulah. Arsh yang harus digendong Exel karena ingin memasak kue. Bayi itu nyaris memegang oven panas karena ia ingin merabanya.


"Mama talo voven banas ditomples batalan dinin eundat?" tanya Maryam pada Maria.


Maria hendak menjawab, wanita itu seperti buntu. Karena apapun perkataannya pasti akan menjadi pertanyaan ulang anak-anak yang baru tiga tahun itu.


"Mereka panas bukan karena sakit Baby," jawab Rahma.


Jangan tanya di mana bayinya. Meghan sedang asik bergelayut di sebuah mainan ketangkasan di halaman Bram. Ada sang ayah yang menungguinya.


"Addy sisat ... sisat!" teriak Zaa lalu mengejar binatang itu hingga naik ke atas buffet.


Michael menangani bayi cantik itu. Fael mengajari Nisa benda-benda di sekitar mereka.


"Mereka nggak ngaruh dengan keadaan ayah mereka?" Remario menatap Gino dan adik-adiknya.


"Baguslah. Biar saja, tak usah bawa kabar yang membuat mereka sedih dan mengingat trauma mereka!" ketus Virgou.


"Apah ... atuh lolosot!" pekik Ryo yang menaiki pegangan tangga dan meluncur ala perosotan.


"Baby!" teriak semua orang dewasa.


"Hap!" Fio berhasil mengambil alih bayi itu sebelum terjungkal ke lantai.


"Apah ... velehshsbdysianehsshbauenshsbdbs!' oceh Ryo tak jelas.


Luisa menatap berbinar semua keributan bayi-bayi itu. Putrinya Zora juga tak kalah rusuh di sana.


"Baby ... lihat itu Tinti Grace diam saja!" tunjuk wanita itu memprovokasi bayinya.


Lima bayi merangkak cepat ke arah para pengawal yang sepertinya menganggur itu.


"Babies!" teriak para pengawal yang harus mengejar para bayi yang berjalan dengan dengkul mereka.


Luisa tertawa melihat semua orang kesusahan menjaga bayi-bayi super lasak itu.


Bersambung.


hadeuh ... bayinya malah dikompori! 🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2